
Ketiga laki-laki duduk di sofa dengan layar tv didepannya, Day nampak sedang sibuk mengunyah jajan milik kembar.
"Apa benar kamu akan menikah dengannya Day,?" tanya Ayyan tanpa menoleh ke arahnya.
"Yah tentu saja, bagaimana laki-laki yang masih muda seperti ku tidak menikah lagi," saut Day dengan nada sombongnya sedangkan Gavin yang duduk di sampingnya merebut jajan ditangan Day dengan sangat kesal.
"Santai bro, aku tau kamu belum bertemu jodoh mu," ucap Day menahan tawanya.
"Hei! apa yang kalian lakukan? itu jajan anakku, kenapa malah kalian yang memakannya, bagaimana jika mereka mengamuk nanti," ucap Ayyan baru menyadari saat Gavin mengambil jajan dari tangan Day.
"Nih" ucap Gavin memberikannya ke Ayyan takut jika Aila akan ikut mengamuk.
"DADDYYY...! teriak si kembar yang datang bersama Mommy dan Dylan.
"Uncle, kenapa balu datang,?" tanya Zean menatap Day.
"Ayahku pergi cari istri kata Uncle Gavin," saut Dylan membuat Gavin tertawa berbahak-bahak.
"Mommy, itu makanan Adek," ucap Dean menunjuk ke arah tangan Ayyan.
"Apa kalian memakannya,?" tanya Aila dan mendapat gelengan kepala dengan cepat oleh Gavin dan Day.
__ADS_1
"Kenapa kamu memakannya Mas, ahg..! aku sungguh capek membeli untuknya, apa kamu tau aku sudah pulang tadi tapi mereka marah karena tidak membelikan mereka jajan itu, aku harus keluar lagi membelinya," ucap Aila membuat Ayyan panik menatap kedua orang yang memasang wajah pura-pura tidak tau.
"Aku sudah mengatakannya tadi padanya Adik ipar," ucap Day lagi-lagi membuat Ayyan membulatkan matanya sempurna.
"Intinya saya tidak ikut-ikutan," saut Gavin mengambil jalur aman.
"Daddy...! pelgi belikan lagi, Adek belum ada makan," ucap Dean.
"Ini masih ada sayang," ucap Ayyan namun mendapatkan gelengan kepala dari Dean.
"Adek mau makan sama kak Zean dan Kak Dylan Daddy," ucap Dean dan dengan pasrah Ayyan harus keluar lagi.
"Baik dan sehat," saut Day santai.
"Bagaimana perjuangan mu,?" tanya lagi Aila.
"Berjuang dari mana, pertanyaan mu itu harusnya ke aku Nona," ucap kesal Gavin.
"Aku sangat tersiksa membantunya, bahkan sangat tersiksa, bolak balik dari sini ke sana, tidur di luar menunggu dia, menghajar calon Davina yang datang ke rumah," ucap Gavin.
"Apa sesakit itu Gavin,?" tanya Aila menahan tawanya.
__ADS_1
"Bahkan melebihi yang kamu bayangkan," ucap Gavin.
"Ayah, siapa ibu baru Dylan,?" tanya Dylan.
"Davina dong," saut santai Day membuat mata Dylan membinar.
"Yey Aunty Davina akan jadi Ibu Dylan, tapi Uncle Gavin belum punya istri, Kak Dylan jadi sedih melihat Uncle," ucap Dylan membuat Gavin menarik tangannya dan menggelitiknya.
"Wuahahaha Ampun uncle hahahhaha," teriak Dylan.
"Makanya jadi anak jangan seperti Ayahmu," ucap Gavin melepaskan Dylan.
"Kan ada Aunty Naya Uncle, tapi Aunty Naya sudah punya pacar loh Uncle," ucap Dylan membuat Gavin menatap Dylan serius.
"Benarkah,?" tanya Gavin sedikit panik membuat Day dan Aila tertawa berbahak-bahak, Gavin yang sadar dengan ucapannya langsung mengalihkan pembicaraan.
"Jadi kapan kalian ke sana,?" tanya Gavin sangat malu.
"Kenapa kamu mengalihkan pembicaraan, jelaskan lah kenapa kamu sangat panik tadi,?" ucap Day menahan tawanya.
"Sudahlah aku mau tidur, berbicara denganmu tidak membuat ku sehat," ucap Gavin segera melangkah pergi.
__ADS_1