
Saat mereka mengobrol, tiba-tiba beberapa orang datang bersama Riyan, yah itu adalah kedua orang tuanya dan anak buah Ayahnya.
Davina yang melihatnya segera maju untuk menghadang nya dengan tangan yang disilangkan didada, tidak gentar sama sekali dengan beberapa anak buah Ayah Riyan tersebut.
"Mau apa lagi datang kesini,?" tanya Davina.
"Siapa yang buat anakku seperti ini, dan apa maksud kalian membatalkan pernikahan,?" ucap ayah Riyan dengan suara tinggi membuat Ibu dan Paman Davina keluar dari dalam setelah mendengar suara tersebut.
"Memang sudah pantas dia mendapatkan nya, dan aku gak bakal mau menjadi istrinya, aku gak bakal Sudi," ucap Davina membuat Ayah Riyan ingin melayangkan tamparan, namun Day lebih dulu menepisnya.
"Jaga tanganmu laki-laki tua," ucap Day dingin.
"Kamu siapa? apa kamu mau ikut campur,?" tanya Ayah Riyan.
"Maaf juragan, kami meminta maaf karena tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, saya tidak mau putri saya jadi tumbal karena ini," ucap Ibunya sopan.
"Hei..! apa kamu sudah lupa dengan perjanjian kita, apa kamu mau tidur dipinggir jalan sana, jika kamu berani mempermalukan ku maka aku akan tidak segan menyita semua harta kalian," ucapnya tegas membuat Ibu Davina menunduk ketakutan.
"Maaf juragan, tapi beri kami waktu untuk membayarnya, kami tidak bisa melakukannya pernikahan, kami tidak bisa memberikan masa depan Davina pada putra anda," ucap pamannya.
"Apa kamu baru saja mengejek keluargaku? apa maksudmu tidak percaya pada putraku,?" tanya juragan tersebut.
"ADUH.. RIBUT SEKALI, AKU BAHKAN BARU MAU MINUM KOPI," ucap Gavin yang baru keluar dan langsung melangkah ke depan juragan tersebut, sedangkan Day menarik Davina agar mundur.
"Apa kamu ayahnya,?" tanya Gavin dengan suara mengejek.
__ADS_1
"Apa kamu yang membuat Anakku seperti ini,?" tanya nya dengan mata melotot.
"Bukan, dia yang melakukannya," ucap Gavin menunjuk ke arah Day dengan santainya.
"Jangan suruh anak buah mu maju, jika kalian masih mau hidup normal, atau aku akan mengembalikan kata-kata kalian," ucap Day dengan suara dingin.
"Apa maksudmu,?"
"Kalian pilih tidur di jalan atau pergi dari sini dan jangan pernah mengganggu keluarga ini lagi,?" tanya Day melangkah dengan wajah yang menyeramkan.
"Hahahaa, hentikan lelucon mu anak muda, kamu bahkan baru lahir kemarin soreh, jika kami mau, kami bisa membuatmu menyesal dengan kata-katamu barusan," ucap Istri nya.
"Nenek lampir, keluargamu sungguh Iblis semua," ucap Gavin membuat suaminya yang tidak terima melayangkan tinjuan ke wajah Gavin, namun Gavin menghindar tapi Day yang berdiri di sampingnya tidak menyangka akan terkena pukulan tersebut.
"OOH, gawat," ucap Gavin langsung menarik Davina menjauh dari sana, Duda pasti akan murkah.
"Apaan sih kak," ucap Davina.
"Duda akan meledak, menjauhlah," ucap Gavin.
Day mengangguk-anggukkan kepalanya tersenyum kecut ke arah mereka, seraya meludah ke arah mereka.
BUKKK
BUKKK
__ADS_1
2 dua pukulan membuat juragan tersebut terjatuh ke tanah dengan hidung yang sudah mengeluarkan darah.
"Habisi mereka,!" teriak istrinya membuat ke 4 anak buahnya langsung menyerbu Day.
Day tersenyum seperti merasa sangat puas, dia dengan wajah yang sudah merah dibakar api emosi melawan ke 4 orang tersebut.
"Kak DAYYY..! teriak Davina ingin melangkah ke sana membantu namun Gavin menghalangi nya.
"Om, jangan ikut-ikutan," ucap Gavin pada paman Davina.
"Lepaskan Gavin..!" ucap tegas Davina dengan air mata yang sudah menetes.
"Aku bilang jangan, kita tonton saja dulu, sudah lama aku tidak lihat dia emosi seperti itu hahahaa," ucap Gavin membuat Davina membulatkan matanya.
"Lihatkan mereka berempat bahkan tidak sanggup menandinginya," ucap Gavin tersenyum ke arah Davina.
"KAK...!" teriak Davina saat melihat Riyan mengambil kesempatan untuk memukulnya balok.
"AHHGGGGGGGG....!" teriak Day memegang kepalanya yang sudah berdarah, dia dengan wajah yang sudah di aliri oleh darah menendang Riyan dengan keras, mengambil balok tersebut dan membalasnya memukul menggunakan balok, ke empat anak buahnya yang melihat hal tersebut langsung berlari pergi, mereka sudah sangat bonyok.
"RIYANNN...!" teriak ibunya.
"GAVIN CEPAT,!" ucap Davina sangat panik.
Gavin dengan cepat mendendang Day, tangannya dengan cepat mengambil balok di tangannya, dan melemparnya ke sembarang arah.
__ADS_1