
Day terlihat sumringah melihat Davina yang sedang menyiram bunga sambil menyanyi sangat asik sendiri, Day hanya menatapnya dari jendela tersebut.
"Baru pagi sudah lihat seperti ini" gumam Day senyum-senyum sendiri.
"Nak cantikkan,?" ucap seorang perempuan membuat Day sangat kaget bukan main, wajahnya seperti habis di sembur darah, dia ketangkap basah apalagi mengingat kata-kata nya yang barusan.
"Sejak kapan,?" tanya Day berbata-bata.
"Hahahaha jangan malu, ayo makan," ucap Ibu Davina segera melangkah pergi.
"Ahhg...! Bodoh..bodoh..bodoh" gumamnya mengutuk dirinya sendiri.
Singkat cerita hari sudah semakin cerah, Day menatap Davina yang hanya berbaring disofa memainkan ponselnya, terlihat jelas kulit putih kaki Davina yang sangat putih dan mulus, Day hanya bisa mencuri-curi pandang ke arah kaki tersebut.
"Astaga Davina! apa kamu baru saja mempermainkan Nak Day," ucap Ibunya yang datang membawa secangkir kopi untuk Day.
Day menjadi semakin salah tingkah, dia kembali ketahuan oleh Ibu Davina, dirinya ingin sekali cepat pergi dari sana.
"Ini minumlah, biar ludah mu tidak kering kamu tekan terus-menerus," ucap Ibunya sedikit tertawa kecil.
"Ah! aku sebaiknya minum di luar saja sambil menikmati udara," ucap Day buru-buru pergi membawa kopinya keluar, sangat malu jika sudah melihat ibu Davina yang terus muncul secara tiba-tiba.
Day melihat ada pohon mangga, daunnya sangat lebat dan hijau, Day dengan cepat ke arah pohon tersebut dan duduk di rerumputan hijau, meletakkan kopinya di tempat paling aman agar tidak tumpah.
"Ahg sejuk sekali, kenapa disini bersih sekali, bahkan daun kering pohon mangga ini bisa aku hitung jumlahnya," ucap Day.
Day menatap kopinya yang seperti sangat kurang, dia mengingat rokok Gavin yang pernah Gavin titipkan padanya saat di hotel, dengan cepat ia masuk pelan-pelan agar tidak bertemu dengan ibu Davina.
Day menatap Davina yang dengan santainya bermain hp tanpa sadar Rok yang dikenakannya sudah tidak menutupi kalinya, hingga setengah paha Davina terlihat sangat jelas lagi Dimata Day.
"Ahg! tahan Day," gumam Day langsung mengalihkan matanya ke depan namun siapa sangka dirinya kembali dibuat kaget oleh Ibu Davina yang juga sudah didepannya menatap ke arah Davin, lbu Davina menatap Day dan mengedipkan matanya.
__ADS_1
"Muluskan,?" tanya Ibu Davina dan dengan refleks Day mengangguk.
"Eh! Bu..bu..bu..ka..nn" ucap gugup Day sadar apa yang ia lakukan barusan.
"Davina jangan buat pacarmu ini terus menekan salivanya," tegur ibunya membuat Davina menoleh ke arah mereka.
Davina mengangkat hpnya dan melihat roknya sudah memperlihatkan sor yang dia kenakan, dengan cepat Davina berdiri dengan wajah sangat malu.
Day menjadi semakin malu, dia langsung pergi dengan wajah pura-pura tidak tau apa-apa, saat dia sudah mengambil barangnya, dia dengan wajah ramah yang dipaksakan keluar dan segera berlari setelah menutup pintu.
"Ahhgg... kenapa Ibu mu sungguh sangat manakutkan, aku bahkan sudah seperti tidak punya harga diri lagi didepannya" gumam Day dengan tangan tanpa sadar mencabuti rumput hijau tersebut.
Day melihat kopinya, dan ternyata masih utuh, dia dengan segera mengambil sebatang rokok nya dan mulai membakarnya, menyisitnya dengan sangat penuh hayatan.
"ahhg! sangat nyaman," ucap Day menghembuskan asap rokok nya.
Day melihat Davina yang sedang melangkah ke arahnya, dirinya hanya duduk santai menikmati rokoknya terus menatap Davina yang semakin mendekat ke sana.
"Udaranya jadi rusak" sindir Davina.
"Segar kok, sangat sejuk sekali" ucap Day tidak mengerti apa maksud Davina.
"Astaga, pohon mangga ku bisa kena paru-paru kalau menghisap asap rokok, dan takutnya nanti mati, dan tidak ada lagi tempat ku berbaring jika siang hari, apalagi rumput yang ku tanam dan kurawat dicabut-cabut, padahal sangat hijau," sindir lagi Davin membuat Day langsung mengerti apa yang dimaksud Davina.
"Tidak akan mati jika aku merokok, kecuali jika aku menebangnya," saut Day.
"Dan rumputmu yang hijau ini memang sedari tadi seperti ini," ucap Day.
"Hummm..."
Davina menjadi sedikit kesal melihat Day yang terus merokok, dia langsung merebut rokok Day dan menginjak-injak nya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan? ucap Day kesal.
"Kenapa? tanya Davina dengan suara menantang.
Day kembali diam dan mengambil satu batang lagi, ingin menyalakannya namun dia tidak menemukan koreknya.
"Dimana korekku? ucap Day meraba-raba sakunya.
"Ini," ucap Davina dengan santainya melemparnya sangat jauh.
"Astaga, apa kamu sudah gila? kamu sungguh merusak suasana" ucap Day sungguh sangat kesal.
"Apa kamu mau mati merokok trus,?" tanya Davina dengan suara tegas.
"Terserah ku saja, jika kamu istriku baru bisa mengatur ku," ucap Day membuat jantung Davina seketika berdegup kencang mendengarnya.
"Kenapa diam? cepat Carikan korekku, kalau tidak kamu keluar dan belikan aku korek baru," pinta Say.
"Tidak mau," saut Davina.
"Kamu sudah membuangnya, jadi harus menggantinya," ucap Day.
"Bukankah aku akan menjadi istrimu? jadi tentu saja aku akan mengaturmu sesukaku" ucap Davina langsung berdiri dan pergi begitu saja.
angin segar lewat begitu saja, Day masih sulit mengeluarkan suaranya mendengar ucapan Davina barusan.
"Apa dia ingin menikah denganku? apa itu adalah kode? gumam Day langsung lompat lompat disana sangat senang, dia bahkan langsung memeluk pohon mangga tersebut membuat.
"Awas Nak, pohon mangga ku nanti hamil, Ibu sudah capek membersihkan daunnya," ucap Ibu Davina di arah selatan.
Day menoleh dengan wajah nya yang kembali sudah sangat merah menahan rasa malu, reputasi dan harga dirinya hancur, dirinya yang sudah percaya diri barusan menjadi down, mentalnya turun seketika, dia sudah tidak yakin Ibu Davina akan mengizinkannya menikah dengan Davina, dia seringkali di tangkap basah oleh Ibunya Davina.
__ADS_1