Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda

Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda
Misi


__ADS_3

Di perjalanan Gavin mau tidak mau harus menyendiri menyetir, Gavin yang berharap bisa gantian dengan Day hanya bisa menghembuskan nafas nya kesal melihat Day yang sudah sangat terlelap tidur, Gavin memutar lagu tapi semua lagu di mobil Day semuanya lagu galau.


"Duda sungguh meresahkan," ucap Gavin kesal.


Karena Gavin yang sudah sedikit ngantuk dan lapar, ia memilih memberhentikan mobilnya di sebuah warung yang masih buka di pinggir jalan tersebut.


"Hei bangunlah, kita belum makan," ucap Gavin.


"Makanlah sendiri, aku kenyang," ucap Day dengan mata yang masih tertutup.


Setelah meminum kopi dan makan, Gavin langsung kembali ke mobil, tak lupa ia membawakan makanan untuk Day, walaupun dia jomblo tapi perhatiannya begitu tulus kepada siapapun.


"Makanlah sedikit," ucap Gavin membuat Day mengangguk pelan dengan mata yang masih terpejam.


Sudah tengah malam mereka baru memasuki kota dimana Davina tinggal, Gavin terus menginjak tali gas ke hotel untuk menginap sementara.


"Day, bangunlah, kita sudah sampai," ucap Gavin membuat Day langsung membuka matanya lebar-lebar.


"Mana rumahnya,?" tanya Day dengan wajah panik.


"Kita istirahat dulu di hotel, kumpulin tenagamu untuk besok, aku sungguh lelah," ucap Gavin.


"Baiklah, kamu memang bisa di andalkan," ucap Day.

__ADS_1


Keesokan harinya Gavin bangun sudah hampir jam 10 pagi, dia segera membersihkan badannya dan keluar dari kamarnya, ingin ke kamar sebelah dimana Day tidur.


Gavin beberapa kali mengetok pintu dan memencet bel namun sangat lama baru di buka oleh Day yang terlihat baru bangun.


"Apa kamu memang niat melaksanakan misimu,?" tanya Gavin.


"Misi apaan, aku ngantuk," ucap Day ingin melangkah masuk namun di tahan oleh Gavin.


"Terserah mu, aku sudah capek membantumu, kita datang hanya percuma jika seperti itu, Davina akan menjadi milik orang lain hanya dalam hitungan hari," ucap Gavin yang sontak membuat Day terkejut.


"Astaga, aku lupa," ucap Day buru-buru masuk untuk membersikan badannya lebih dulu, tidak sampai 5 menit Day sudah keluar dari dalam hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.


"Hei, kamu mandi bebek,?" tanya Gavin.


"Diamlah, intinya badan sudah basah dan sudah pakai sabun serta sampo," ucap Gavin langsung memakai pakaian nya.


Setelah mereka mengisi perutnya, Day dan Gavin menuju ke alamat rumah yang di tunjukkan Aila.


"Apa kamu tidak tau rumahnya,?" tanya Day dan mendapat gelengan kepala dari Gavin.


"Dulu aku hanya di rumah adik iparmu, ya kali aku ke rumah Davina," ucap Gavin.


"Seharusnya disini tempatnya, tapi rumahnya yang mana ya,?" ucap Gavin bingung.

__ADS_1


"Lihat nomor rumahnya," ucap Day.


"Apa kamu ada melihat nomor rumah disini, hanya ada nomor RT nya sialan," ucap Gavin membuat Day dengan kesal turun dari mobil di ikuti oleh Gavin.


"Apa kamu tidak punya nomor Davina,?" tanya Day.


"Buat apa aku minta, yang seharusnya bertanya seperti itu aku, kamu sebagai bosnya harusnya punya," ucap Gavin.


Mereka pun debat disana tanpa henti saling menyalahkan satu sama lain.


"Maaf, apa ada masalah, saya memperhatikan tadi kalian ribut-ribut disini,?" tanya orang yang mungkin seusia Ayyan.


"Tidak, kami hanya diskusi," ucap Gavin.


"Apa kalian berdua baru disini,?" tanyanya lagi.


"Yah, kami baru datang ingin mencari seseorang," ucap Day dengan wajah tanpa ekspresi apapun.


"Apa boleh saya tau, siapa yang kalian cari? siapa tau saya bisa membantu kalian," ucap laki-laki tersebut.


"Tidak perlu, kami akan mencarinya sendiri," saut Day dan hanya mendapat anggukan darinya.


"Kalau begitu saya permisi, jika ada yang mau saya bantu bisa panggil saya di rumah itu, kebetulan saya disana ingin bertamu ke calon istri saya," ucapnya dan mendapat anggukan dari mereka berdua.

__ADS_1


"*Dia mau pamer atau gimana," Gumam Gavin


"Sialan, dia menyuruhku ke rumah orang lain untuk memanggil nya," gumam Day kesal*.


__ADS_2