
Day yang ingin keluar makan siang berjalan ke arah mobilnya, ia membulatkan matanya saat melihat mobil nya yang sudah kehilangan ban belakang.
"Loh, kok bisa ilang,?" tanya Day pada dirinya sendiri.
"Pak, sini," ucap Day sedikit berteriak ke arah satpam.
"Kenapa mobilku lepas bannya, siapa yang melakukannya,?" tanya Day.
"Maaf pak, saya kurang tau," ucapnya.
"Kenapa seperti ini, kalian bisa jalankan tugas kalian gak sih,?" ucap Day sungguh kesal.
"Cepat pasangkan bannya, ada ban seret di garasi," ucap Day dan di angguki oleh mereka berdua.
"pak, semua bannya bocor," ucap salah satu satpam membuat Day melihat ban mobilnya, memutari nya dengan wajah yang sungguh sangat kesal.
"Ahhhgg, siapa yang melakukannya Sialannn,!" teriak Day kesal menendang ban mobil yang tak bersalah.
"Kasihan bannya pak gak bersalah di tendang," ucap Davina yang keluar dengan keringat yang masih bercucuran di wajahnya.
"Jangan-jangan kau yang melakukannya,?" tanya Day berjalan ke arah Davina.
"Kenapa Bos bisa menuduh saya, saya bahkan habis membersihkan lantai didalam, dan saya baru keluar untuk mau makan," ucap Davina.
"Telfon bengkel didepan sana," ucap Day pada kedua satpam tersebut.
Davina berjalan lebih dulu meninggalkan Day yang sungguh sangat kesal, Davina sungguh sangat bahagia di atas penderitaan Day.
"Mampus, kau bahkan menghukumku tanpa merasa bersalah sama sekali, aku tidak mungkin terlambat jika bukan kau yang melakukannya," ucap Davina.
Dengan kebetulan dia berpas-pasan dengan tukang bengkel dimana ia tempati meminjam alat.
"Pak, nanti ambil aja dongkraknya, kalian mau ke sana kan perbaiki mobil Bos perusahaan ini,?" tanya Davina dan di angguki oleh mereka.
"Jangan kasih tau kalau saya yang meminjamnya ya pak," ucap Davina dan hanya di angguki oleh mereka.
Saat selesai melakukan tugasnya tukang bengkel tersebut membersihkan alat nya, Day bingung melihat dongkrak yang tadi terpasang ingin di bawa oleh mereka.
"Itu punya siapa,?" tanya Day.
"Punya kami pak," saut nya.
"Tadi kepasang disini, jangan-jangan kalian yang melakukannya,?" tanya Day membuat mereka menggelengkan kepalanya cepat.
__ADS_1
"Tadi ada perempuan yang meminjamnya tadi pagi pak, dan belum di kembalikan, tapi kami bertemu tadi katanya dongkrak kami di pakai disini," ucap nya membuat Day sungguh sangat geram.
"Siapa perempuan itu,?" tanya Day dengan suara tegas.
"Kami tidak tau siapa namanya pak,"
"Apa ciri-ciri nya,?" tanya Day yang sudah mulai curiga pada Davina.
"Orangnya cantik pak," sautnya cengengesan membuat Day dibuat sungguh sangat kesal.
"Katakan baju apa yang dia pakai,?" tanya Day dengan suara tegas.
"Merah pak, rambutnya panjang gelombang, dan tinggi nya se gini pak," ucap nya membuat Day kembali menendang bannya.
"DAVINAAAAA....!" teriak Day sungguh sangat kesal.
"Kalian pergi, PERGIIII..! ucap Day langsung menaiki mobilnya.
Day masuk ke kafe dengan wajah kesal melihat langsung melihat ke arah tempat biasa Davina makan tapi tidak ada siapa-siapa disana membuatnya meremas rambutnya sangat kesal.
Di lain tempat Davina makan di seberang jalan, dia sudah tidak punya cukup uang untuk makan di tempat biasanya, uangnya sudah habis digunakan untuk mengerjai Day.
"Kenapa aku rela membuang uangku demi dia," gumam Davina sungguh sangat menyesal.
"Kenapa barangku seperti ini,?" tanya Davina dengan wajah panik.
"Maaf Bu, Pak Day menyuruh kami membereskannya, menyuruh kami untuk memberitahu jika mulai hari ini ibu dipecat," ucap salah satu karyawan disana membuat Davina membulatkan matanya.
"Kenapa bisa,?" tanya Davina tapi mereka semua menggeleng kan kepalanya tanda tidak tau.
Davina langsung pergi begitu saja, Davina menaiki lift ingin ke ruang Day.
Ketukan pintu serta bel beberapa kali membuat Day begitu kesal, Day sudah tau siapa yang mendatanginya, Day langsung membuka pintu dengan wajah datarnya.
"Ada keperluan apa,?" tanya Day berdiri di pintu.
Davina langsung mendorong Day masuk dan menutup pintunya begitu keras, Day hanya bisa menetap Davina dengan ekspresi kaget.
"Kenapa kamu memecatku,?" tanya Davina langsung pada intinya.
"Apa aku masih perlu menjelaskan, tapi sepertinya tidak perlu, kamu sudah tau," ucap Day tersenyum kecut.
"Aku tidak melakukan kesalahan dalam pekerjaan ku," ucap Davina.
__ADS_1
"Tapi kamu selalu membuat Bos disini marah, etikamu padaku tidak senonoh sama sekali, kamu bahkan mengerjaiku beberapa kali," ucap Day ikut kesal.
"Itu masalah pribadi pak, jangan bawa-bawa ke dalam hal yang berhubungan dengan pekerjaan," ucap Davina.
"Itu terserahku, kamu mengerjaiku saat masih di kantor, etikamu di kantor tidak baik, sudah wajar bagiku untuk memecatmu," ucap Day lagi.
"Cepat keluar atau aku panggilkan satpam," ucap tegas Day membuat Davina menggelengkan kepalanya.
"Keluar atau aku panggil satpam.!" ancam lagi Day dengan suara tegas membuat Davina langsung pergi begitu saja, air matanya entah mengapa lolos begitu saja, banyak penyesalan yang ia sesalkan.
Day yang melihat nya membulatkan matanya, dia sungguh tidak berfikiran Davina akan pergi beneran.
"Kenapa aku merasa bersalah, tidak, tidak, tidak, memang harusnya dia harus diberikan pelajaran dan pengalaman agar lebih baik," gumam Day.
Davina dengan air mata yang sesekali menetes mengambil barang-barangnya dan berlalu begitu saja, Davina pulang ke kontrakannya langsung membereskan semua pakaiannya ingin berniat pulang lagi ke kampung halamannya.
Davina membaringkan tubuhnya sangat lelah, dan tanpa dia sadari matanya tertutup begitu saja, terlelap dalam sebuah mimpi.
Di lain sisi Day tidak karuan bekerja, entah mengapa pikirannya terus terarah pada Davina, dia melihat Davina meneteskan air matanya sekilas, hatinya entah mengapa sangat tidak tenang, terus gelisa, dan merasa bersalah.
"Ahhgg.. kenapa aku yang menyesal, jangan, jangan, dia tidak perlu dikasihani, dia yang buat onar duluan," gumam Day.
Hari sudah soreh, Day pulang dengan wajah kusut, masih terus memikirkan Davina, dia masuk dan langsung duduk di sofa.
"Kak Day kenapa,?" tanya Aila.
"Tidak, aku baik-baik saja," ucap Day.
"Ayah, Dylan dapat ranking 1 loh," ucap Dylan yang baru datang menghampiri nya membuat Day menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Sejak kapan kamu selesai semester,?" tanya Day.
"Dia tidak memberitahu kesiapa-siapa rupanya," ucap Aila membuat Day menatap Aila dengan serius.
"Apa benar dia ranking 1 Aila,?" tanya Day merasa sangat tidak percaya dan di angguki oleh Aila.
"Dylan kamu tidak berbohong kan, siapa yang mengambil kan raport mu,?" tanya Day.
"Aku yang mengambilnya tadi, dan dia memang ranking 1," ucap Aila membuat Day mengambil putra nya mencium pipinya.
"Anak pintar Ayah," ucap Day membuat Dylan tersenyum manis.
"Nanti Ayah akan kasih hadiah ya," ucap Day dan di angguki oleh Dylan dengan semangat.
__ADS_1