
Day sudah tidak bisa lama-lama disana, wajahnya saat melihat ibu Davina langsung memerah tanpa sebab, apalagi ibu Davina yang terus menggodanya dengan mengedipkan matanya sebelah dan senyuman mengejek.
"Ah! seperti nya aku akan segera pulang" ucap Day.
"Cepatlah" saut Davina tanpa menoleh ke arah Day.
"Davina! yang sopan." ucap ibunya tegas.
"Yah" saut Davina ketus, entah mengapa dirinya masih kesal mengingat Day merokok.
"Jadi kapan kalian akan menikah,?" tanya Ibu davina langsung pada intinya, Day dan Davina kaget bukan main mendengar ucapan sang Ibu.
"Bukankah Nak Day kesini untuk membatalkan pernikahan putriku, agar kamu bisa menikahinya, segera lah Ibu tidak mau lama-lama, nanti ibu sudah mati baru dapat cucu jika kelamaan" Lanjutnya.
Day menoleh ke arah Davina yang mengangkat kedua bahunya tanda tidak mengerti akan menjawab seperti apa. dengan senyuman yang terukir manis Day menatap Ibu Davina.
"Lusa orang tuaku akan datang kemari, dan aku akan pulang hari ini menjemput mereka," ucap Day membuat Davina membulatkan matanya, dirinya seakan tidak tau cara bernafas.
__ADS_1
"Baiklah," saut Ibu Davina dengan senyuman manisnya.
"Eh! ja..ja..ja.." ucapan Davina terpotong oleh Ibunya.
"Ja ja ja ja, jangkrik? sudahlah kamu tidak perlu malu sama ibu, Ibu yang harusnya pamer ke tetangga jika anak Ibu akan menikah" ucap Ibu Davina.
"Tapi sebelum itu, saya ingin bertanya pada Ibu, apa Ibu tau status saya saat ini?" ucap Day membuat Ibu Davina menatapnya dengan serius.
"Yah saya Duda dan saya mempunyai satu putra, alasan saya duda karena tidak punya istri hahahaha," ucap Day membuat Ibu Davina ikut tertawa.
"Hei tengil, katakan tanpa candaan mu itu" ucap Ibu Davina menghentikan tawanya.
"Kemana istrimu,?" tanya Ibu Davina penasaran.
"Ibu sudah, jangan dibahas" ucap Davina khawatir jika Day akan memperlihatkan wajah menyedihkannya.
"Istriku entah kemana, dia meninggalkan ku dengan putraku, sampai saat itu aku belum pernah melirik perempuan tapi Davina datang membuat hatiku mencair, Lebih tepatnya aku bodoh mencari istri, saat sudah tidak ada apa-apa dia pergi begitu saja meninggalkan putranya yang masih berumur kurang 1 Minggu" ucap Day membuat Ibu Davina menatap Day dengan sangat serius.
__ADS_1
"Ibu bodoh amat lah, intinya Anakku bisa menerimamu dan anakmu" ucap Ibu Davina.
"Kamu dekat dengan Dylan kan,?" tanya Day ke Davina dan di angguki olehnya.
"Dia selalu mencari mu" saut Day.
"Apa nama putramu Dylan? tanya Ibu Davina dan hanya di angguki oleh Day.
"Baiklah Ibu setuju, cepatlah lakukan yang terbaik," ucap Ibu Davina.
"TUNGGGUUU..! kenapa Ibu seperti yang akan menikah langsung menerimanya langsung, dan apaan pembicaraan kalian seperti sedang membeli sayur dan menawar-nawar, Kalian tidak melihat Davina kah? harusnya Davina ditanya mau atau tidak," ucap Davina sangat pusing melihat ibunya dan Day yang seperti pedagang dan penjual.
"Hahaha kamu sudah pasti akan menerima nya, jadi Day pintar tanya ibu, karena Day belum tau bagaimana pendapat ibu, mau atau tidak." ucap Ibu Davina.
"Davina mau kan,?" tanya Day memperlihatkan layar ponselnya yang tertulis ketemu si kembar.
Davina refleks mengangguk dengan semangat membaca tulisan tersebut, Day yang melihatnya langsung memencet tombol power off, agar ibunya tidak melihatnya.
__ADS_1
"Nah kan sangat semangat sekali dia Nak Day," ucap Ibunya tertawa berbahak-bahak, sedangkan Davina menjadi sangat panik, dia menyadari jika Day hanya memancingnya saja.