
Gavin dengan cepat mendendang Day, tangannya dengan cepat mengambil balok di tangannya, dan melemparnya ke sembarang arah.
"SIALANNNNN...!" teriak Day langsung menyerang Gavin, Gavin dengan senang hati meladeninya.
Davina dan keluarga nya yang melihatnya membulatkan matanya sempurna.
"Loh kok malah kelahi," ucap Ibu nya panik.
"Davina, tenangkan lah Duda mu ini," teriak Gavin di selah pertarungan mereka.
Davina langsung berlari ke arah Day dan melompat ke atas punggungnya seperti anak kecil.
"Kak sudah" ucap Davina.
"Woi Duda Sadar," ucap kesal Gavin memperbaiki bajunya.
Day menoleh ke arah mereka bertiga, suami istri dan anak.
"Gavin perlihatkan pada mereka siapa penguasa sebenarnya, aku muak dengan nya," ucap Day tegas.
"Ahg, padahal aku masih mau latihan," ucap Gavin mengeluarkan dompetnya dan melemparkan kartu nama.
"Jangan ganggu mereka lagi Nona juragan, uruslah anak dan suamimu yang pingsan itu, apalagi anakmu yang seperti nya sudah koma," ucap Gavin dengan santainya.
"Kalian Iblis," ucap Nona juragan memeluk putranya.
__ADS_1
"SIAPA YANG IBLIS? HAH..? SIAPA..?" teriak Day dengan sangat keras ke arahnya membuat Nona juragan gemetaran.
"JANGAN GANGGU MEREKA LAGI, ATAU KALIAN AKAN MENGHILANG DI DUNIA INI," ucap lagi Day tegas.
"Kak, darahmu terus mengalir," ucap Davina namun tidak didengarkan oleh Day.
"Maaf tuan, kami tidak tau siapa kalian sebenarnya, saya baru tau, maaf atas kelancangan kami, tolong jangan sakiti kami, kumohon tuan, mohon," ucap nya berjongkok memohon.
"Gavin siapkan cek buat mereka, bayar hutang keluarga Davina, aku sungguh muak dengan semua ini," ucap Gavin sungguh sangat emosi.
"Davina siapkan kamar buatnya, sebentar lagi dia akan tewas," ucap Gavin.
"Pamannya Davina tolong angkat dua nanti jika terjadi apa-apa, aku ingin menghabiskan kopiku," ucap Gavin langsung melangkah pergi.
Keluarga Davina hanya diam mematung mendengar ucapan Day yang akan membayarnya.
"Aku bayar, aku...." ucapan nya terhenti karena kesadarannya hilang seketika, Davina sangat kaget dan berteriak memanggil Day.
"Dia sudah tau duluan," ucap Pamannya langsung menopang tubuh Day.
"Paman, bawa ke rumah sakit, darahnya sungguh banyak, kepalanya bocor," ucap Davina sangat panik.
"TIDAK PERLU..! DIA AKAN MURKAH JIKA DO BAWA KE RUMAH SAKIT... RAWAT SAJA DIA DAVINA...!" teriak Gavin dari dalam.
"Apa orang itu memang punya ilmu ilmu, kenapa dia seperti peramal, tau semua, bahkan hal yang kita bicarakan," ucap pamannya sangat kebingungan.
__ADS_1
"Ayo paman, bawa cepat," ucap Davina dengan suara sangat panik.
"Bawa kemana,?" tanya Pamannya.
"Ahhg... di kamar Davina Paman," ucap Davina dan hanya di angguki oleh pamannya.
Davina membantu pamannya menopang tubuh Day, saat mereka membuka pintu, terlihat Gavin menikmati kue yang ada didalam toples.
"Ini sudah gak dimakan kan? sudah gagal pernikahannya,?" ucap Gavin dengan wajah seperti dirinya pemilik rumah itu.
"Hahaha kamu sungguh sangat langkah," ucap Paman Davina membuat Gavin hanya mengedipkan matanya sebelah.
"Cepatlah bawa dia, dan kita ngopi disini Om," ucap Gavin.
"Itu sungguh hal yang luar biasa Nak," ucap Paman Davina.
"Kenapa kalian sangat santai, cepatlah paman, jika terjadi apa-apa padanya nanti gimana, kamu juga Gavin kenapa bisa sesantai ini, tidak peduli dengannya," ucap Davina.
"Aku malas jika bajuku kotor oleh darahnya," ucap Gavin.
"Kenapa tidak ke ruang sakit aja coba, gimana kalau luka di kepalanya parah,?" ucap Davina sungguh sangat panik.
"Apa kamu mau di lemparannya jika sadar, dia paling anti rumah sakit, bahkan dia bilang lebih baik mati sakit di rumah dari pada jika dia ke rumah sakit," ucap Gavin.
"Paman ayo," ucap Davina.
__ADS_1
"Iya, kamu sungguh sangat khawatir padanya," ucap pamannya.