Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda

Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda
Perpisahan


__ADS_3

Dengan air hujan yang semakin deras mengguyur, Gavin terus melangkah tanpa arah tujuan. dia tidak peduli dengan suara perempuan yang terus berteriak padanya. Langkah Gavin terhenti setelah mendengar suara yang tidak begitu asing, dia berhenti membuat perempuan yang mengejarnya menabraknya hingga terjatuh.


"Aduh.!" pekik perempuan tersebut.


"Astaga, baju ku basa," ucap perempuan tersebut berusaha bangkit berdiri, menatap Gavin dengan wajah sangat kesal.


"Kenapa kamu berhenti tiba-tiba sih? aku cuma mau bantu nolongin kamu loh," ucap perempuan tersebut menatap Gavin, mereka berdua bertatap ditengah hujan lebat.


suasana semakin terasa sangat canggung hanya ada suara hujan yang terdengar, Davina yang tadinya berniat kesana menghentikan langkahnya melihat adegan romantis dimatanya tersebut.


"Cepat sana, nanti dia kabur lagi,!" pinta Ayyan dan di angguki oleh Davina.


Davina yang mendengarnya tanpa banyak pikir langsung berlari dengan cepat ke arah sana, dia tidak memikirkan siapa perempuan yang bersama Gavin.


"Kak Gavinnnn...!" teriak Davina membuat dua pasang mata tersebut secara bersamaan menoleh.


Gavin yang melihatnya segera melangkah pergi dengan cepat, Davina yang melihatnya seketika menumpahkan air matanya, dia duduk di jalan dengan lemas.


"Kakak maafkan Ibu...!" teriak Davina namun Gavin tidak menghiraukannya.

__ADS_1


"Sialan bocah satu tu, calon istriku dibuat menangis," ucap kesal Day berlari ke arah Davina, Ayyan melihat sekilas mereka dan berlari pergi mengejar Gavin.


Day langsung menggendong Davina, dan mengangkat nya pergi, Davina menatap perempuan tersebut sekilas, dia ingin berbicara dengan perempuan tersebut namun Day sudah lebih dulu mengangkat nya.


Ayyan terus berlari dengan sekuat tenaga, wajahnya sungguh emosi entah kenapa, dia menatap Gavin yang sudah berjalan dengan pelan, menendang bekas minuman kesembarang arah.


"GAVINNN...!" teriak Ayyan.


Ayyan melangkah saat Gavin sudah menghentikan langkahnya dan berbalik arah menatapnya, Ayyan tau jika Gavin pasti tidak mungkin menghindarinya, sedari kecil Gavin tidak pernah merahasiakan apa-apa kepada Ayyan, dibandingkan dengan Day dan Mami Papi.


"Bodoh," ucap Ayyan menarik kerah baju Gavin.


BUKK..


Ayyan meninju pipi Gavin dengan cukup keras, Ayyan menatap Gavin dengan tajam, tatapan yang dulu ada di mata Ayyan sebelum menikah dengan Aila.


"Apa katamu? jika kamu tidak punya orang tua bagaimana kamu bisa lahir? Ingat Gavin kita keluargaaa... dan kamu sudah bertemu keluargamu saat ini, Aku mendengarnya sekilas jika dirimu dulu diculik bukan di buang, dan apa kamu ingin membuat Mami masuk rumah sakit lagi karenamu? Mami sangat khawatir padamu, jangan bertingkah anak kecil lagi, kamu sudah besar, ******** mu sudah berbulu bodoh," ucap Ayyan dengan wajah sangat geram.


"Maaf, aku tidak bisa, aku lebih baik pergi dari pada menerima kenyataan pahit, aku tidak pernah diinginkan, apa kamu tau selama aku bekerja denganmu aku terus mencari-cari orangtuaku tanpa sepengetahuan mu, menyuruh orang suruhan ku mencari tahu tentang ku, dan menyuruh mereka mencari tahu siapa orang tuaku, menyuruh mereka mencari informasi apa aku pernah dicari oleh keluargaku, tapi Tidak! tidak ada sama sekali informasi tentang itu, mereka bahkan tidak pernah mencariku jika memang aku di culik." ucap Gavin tak kalah keras.

__ADS_1


"Apa salahnya bertemu dan meminta penjelasan lebih dulu kepada Ibumu, tidak ada masalah yang akan selesai jika tidak mendengar penjelasan lebih dulu, jadi jangan bertingkah bodoh, ayo ikut aku, ingat Mami ku jika dia sakit lagi maka aku yang akan lebih dulu membunuhmu, dan ingat Kakak ku, jika benar kamu kakaknya Davina, tanpa dirimu Day gak bakal bisa menikah dengan Davina, kamu yang harus jadi wali." ucap Ayyan.


"Aku menolak, lebih baik dibunuh daripada mengingat penyiksaan yang sangat kejam," ucap Gavin membuat Ayyan menatapnya serius.


"Siapa yang menyiksamu, jangan bersikap cengeng seperti ini..." ucapan Ayyan terpotong oleh Gavin.


"Aku yang tau bukan kamu, aku yang tersiksa bukan kamu, apa kamu tau jika aku bahkan hanya pernah makan nasi ditempat sampah, minum air kotor, makan roti kadaluarsa yang sudah dibuang, tidur dijalanan, dipukuli oleh orang dewasa? aku memang selalu menceritakan rahasia ku padamu, tapi tidak dengan rahasia kepedihanku," ucap Gavin dengan mata yang sudah memerah.


Ayyan terdiam, selama ini yang dia tau Maminya mengadopsinya Gavin dari panti asuhan.


"Ada orang yang dulu memasukkan ku ke panti, dan aku baru beberapa hari disana hingga Mami mu datang, menyumbangkan dana untuk panti tersebut, aku tidak sengaja menabraknya hingga aku terjatuh, dan saat itu aku yang sangat trauma akan kekerasan langsung bersujud meminta maaf sebesar-besarnya kepada Mami. Mami dengan wajah sangat baik malah menggendong ku dan mencium pipiku, hanya Mami yang berperilaku baik seperti itu padaku, saat itu aku masih berusia sekitar 5-6 tahun, entah berapa lama aku hidup dijalanan." ucap Gavin menatap Ayyan.


"Dan sampaikan kepada Mami dan Papi, Maafkan Gavin karena sudah sangat merepotkan dan terimakasih kasih sayang yang kalian berikan hingga Gavin bisa merasakan kasih sayang orangtua, maafkan aku juga telah membuat kalian kerepotan selama ini, aku tidak akan muncul lagi." ucap Gavin berusaha tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Ayyan pelan.


"Apa yang kamu katakan,?" ucap Ayyan.


"Aku mulai sekarang akan memulai hidupku sendiri, kamu tidak perlu mengejar aku lagi, cukup sampai disini saja, aku akan merindukan anak-anakmu dan semoga anakmu yang akan hadir bisa membuat keluargamu tambah harmonis, jangan pernah berubah lagi, tetaplah jadi Ayyan yang dulu kukenal," ucap Gavin langsung pergi begitu saja.


"Aku belum jelas anak mereka, jadi aku tidak berhak menjadi wali siapa-siapa, dia punya paman," ucap Gavin langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


"GAVINNN...! teriak Ayyan namun Gavin hanya mengangkat tangannya dan di lambai-lambaikan membelakangi Ayyan. Ayyan hanya bisa diam masih sangat kaget dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Gavin.


__ADS_2