Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda

Gadis Bar-Bar Pemikat Hati Duda
Really?


__ADS_3

Day menarik tangan Davina ke pohon mangga, Davina hanya bisa pasrah ditarik olehnya, Davina meronta dilepaskan oleh Day dengan wajah kesalnya.


"Apaan sih," ucap Davina kesal.


"Davina, menikahlah denganku, hanya aku yang mau sama kamu!" ucap Day.


"Hah? apa kamu sudah gila? banyak laki-laki yang mengantri jika aku membuka lowongan mencari suami, dan apa apaan paksaan kamu itu," ucap Davina.


"Ayolah, jangan malu-malu," ucap Day membuat Davina sungguh sangat kesal.


"Kamu ajak mantan istri mu menikah dulu seperti apa? apa seperti ini?" ucap Davina kesal. Day terdiam mengingat-ingat masa lalunya.


"Aku tidak mengajaknya menikah, dia yang mengajakku menikah hari tuh," saut Day dengan nada santai.

__ADS_1


Davina hanya bisa menganga mendengar ucapan Day, dia baru pertama kali mendengar wanita melamar Pria.


"Maka dari itu ayo lah menikah, aku sungguh lelah sendiri" ucap Day.


"Kamu gak suka sama aku,?" tanya Day menunjuk dirinya sendiri dan mendapat gelengan kepala dari Davina menahan tawanya, pertanyaan Day sungguh sangat tidak masuk akal.


"Apa kurangnya aku coba, aku sudah tampan, manis, baik, suka menabung dan lain-lainnya dah," ucap Day.


"Mau tau kurangnya kamu,?" tanya Davina dan di angguki oleh Day.


"Kalau soal itu kan gampang untuk merubahnya, dan Duda hanya bisa di ruba olehmu," ucap Day.


"KAGAK...!" ucap Davina.

__ADS_1


"Davina kamu tau? aku ini sudah jatuh hati sejak kapan padamu,?" ucap Day membuat Davina menatapnya serius, dia sebenarnya sangat penasaran, pikirannya juga terarah pada candaan Day, takut jika Day hanya bercanda.


"Aku sudah lama tidak melirik wanita, hanya fokus pada putra dan pekerjaan ku, tiba-tiba kamu datang membuatku sangat kesal tapi entah mengapa saat aku memecatmu pekerjaan ku tidak ada yang beres, penyesalan sangat dalam didalam diriku, aku bahkan sangat susah tidur memikirkan mu," ucap Day membuat Davina hanya bisa terdiam, menatap wajah Day yang nampak serius.


"Jika kamu benar-benar tidak ingin menikah denganku, fine! aku tidak memaksamu untuk hal itu, apalagi aku sudah mempunyai putra yang pasti akan merepotkan mu, dan setelah ini aku akan mengatakan pada ibumu jika aku batal untuk datang kesini, dan aku akan berusaha untuk melupakanmu, fokus kembali pada pekerjaan, semoga aku bisa melupakanmu saat-saat itu juga, dan semoga kamu bisa mendapatkan laki-laki yang baik" ucap Day tersenyum manis ke arah Davina dan melangkah pergi begitu saja, Davina mematung di tempatnya masih memikirkan perkataan Day, dirinya masih meragukan perkataan nya takut jika hanya candaan semata, namun wajah Day terlihat sangat serius.


"Dylan" ucap Davina duduk dibawah naungan pohon mangga dari panasnya terik matahari.


Davina masuk kedalam rumahnya dia mengecek kamarnya yang di tempati oleh Day tidur, tapi sudah tidak menemukan Day, Davina menjadi panik.


"Kamu kenapa,?" tanya Ibunya yang sedang menyapu ruangan tamu.


"Day dimana Ibu,?" tanya balik Davina.

__ADS_1


"Dia sudah pergi, katanya kamu belum siap menjadi istrinya, apalagi statusnya yang Duda, jadi dia sudah pergi barusan," ucap Ibunya membuat Davina segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Day. nihil sekali Day sudah memblokir nomor nya yang menandakan kata-kata Day untuk berusaha melupakannya benar-benar serius.


__ADS_2