Gadis Dewa

Gadis Dewa
bab 10


__ADS_3

jangan lupa tekan jempolnya :)


*****


"A-aku mau kita putus." Gadis mengucapkan kalimat itu dengan nada bergetar dan tangan memilin jari. pandangannya terarah pada meja diruang tamu dan sama sekali tidak berani menatap Juna sedikitpun.


Gadis akhirnya menyuruh Juna masuk, setelah tadi cowok itu tetap bersikeras untuk meminta penjelasan akan sikap Gadis yang tiba-tiba menjadi seperti ini.


Sumpah demi apapun. Kalimat yang barusaja dilontarkan Gadis padanya, benar-benar sebuah kalimat yang teramat sangat menyakitkan untuk didengar Juna. Hatinya seakan tersayat bercampur dengan luapan emosi yang tengah berusaha keras ditahannya.


Juna sadar. Jika saat ini Juna menyelesaikan masalahnya dengan emosi hanya karena sebuah kalimat yang diucapkan Gadis barusan, tentunya itu akan membuat masalah diantara keduanya tidak akan selesai dengan baik. oleh sebab itu Juna lebih memilih meredam emosi sebisa mungkin, biarpun sesungguhnya amarahnya serasa ingin meledak sekarang juga.


"Apa maksud kamu? kenapa kamu bilang pengen putus, disaat aku ngerasa hubungan kita baik-baik saja." Tanya Juna dengan ekspresi marah yang coba ditahannya. Tangannya bahkan sudah mengepal kuat saking kesalnya saat mendengar Gadis mengucapkan kata putus padanya.


"Ini lebih baik, dari pada aku harus terus-terusan merasa bersalah sama kamu." Kata Gadis lagi, dengan tatapan sendunya.


Juna mengerutkan kening tak mengerti. "Maksudnya?"


Gadis yang masih menunduk dan tidak berani menatap Juna, kembali berkata, "Jangan pura-pura nggak tau. Dewa pasti udah bilang semuanya kan ke kamu?"


Juna kian semakin bingung dengan perkataan Gadis yang tiba-tiba membawa nama Dewa di pembicaraan keduanya ini. "Kenapa mendadak kamu jadi bahas Dewa? Apa alasan kamu mutusin aku karena emang ada hubungannya sama dia?"


Gadis diam membatin. Jadi, Dewa nggak bilang apapun ke Juna? Tapi.. kenapa?


"Dis, Jawab! Jangan diem! Kamu minta putus karena Dewa? Kalian berdua ada hubungan??"


Gadis mengangkat wajah⸺menatap Juna cepat. "Enggak! Bukan itu. Mana mungkin aku ada hubungan sama dia." bohongnya. Padahal jelas-jelas ia sudah melakukan itu dengan Dewa.


"Ya terus kenapa tiba-tiba minta putus sambil bawa-bawa nama Dewa. Sebenarnya kamu tuh kenapa sih? kamu merahasiakan sesuatu dari aku?"


Kembali menundukkan wajah. Gadis benar-benar kesulitan untuk menjelaskan. "I-itu..." Gadis menghela napas beratnya sejenak. "Aku ngerasa, kamu terlalu baik buat aku."


Juna tertawa hambar. "Alasan kamu, bener-bener gak logis."


"Terserah kamu mau menganggapnya gak logis atau apapun itu. Yang jelas, aku pengen kita udahan."


"Gak! Aku gak mau, Dis! Aku gak terima kamu mutusin aku dengan alasan gak logis kayak gini. Kita gak akan putus! nggak akan pernah!"


Gadis menatap Juna dengan tatapan memohonnya. "Juna, please.. ngertiin aku. untuk kali ini, buang sifat keras kepala kamu itu. Aku gak pantes buat kamu. Kamu bener-bener terlalu baik buat aku."


"Enggak Dis. Aku gak mau kita putus. Aku udah terlalu sayang sama kamu."


"Justru itu, sebelum kamu semakin terluka karena perasaan kamu ke aku. Kita lebih baik berhenti sampai disini. Aku gak mau terus-terusan berbohong dan akhirnya bikin kamu makin sakit."


"Bohong apa? kamu bohong ke aku soal apa?? tolong jelasin, biar aku ngerti." Kata Juna, sembari menggenggam erat tangan Gadis. Genggamannya seolah menyiratkan jika Juna benar-benar tidak ingin kehilangan Gadis hanya karena sebuah kata putus.


"Aku.. Gak bisa jelasin itu." lirihnya dengan kepala tertunduk dan air mata yang sudah terjatuh.


Melihat itu, Juna yang sedari tadi duduk berhadapan dengan Gadis, akhirnya mendekat⸺beralih tempat duduk tepat disampingnya. Memberi Gadis sebuah pelukan hangat nan menenangkan. "Kalau kamu gak bisa jelasin, kamu juga gak berhak minta putus dari aku."


Gadis bisa merasakan nyaman, saat tangan Juna mengusap pelan rambutnya disela pelukan. "Dis, aku gak akan tanya kamu bohong ke aku soal apa. Tapi aku mohon, jangan lagi bilang putus kayak gini. aku gak suka dengernya."


"Tapi, Juna---"


"Sstt...! aku gak mau denger alasan apapun lagi dari kamu. Yang jelas, aku gak mau putus, dan kita nggak akan pernah putus. titik!"


"Ngeselin!" cetus Gadis disela pelukan.


"Kamu lebih ngeselin lagi!" Balas Juna, lalu semakin mengeratkan pelukannya ditubuh Gadis dengan berkali-kali mendaratkan kecupan sayang dikeningnya.


*****


Esoknya, pukul 06.30

__ADS_1


Gadis menenteng sepasang sepatunya ke teras rumah. Duduk dikursi kayu reot untuk kemudian memakai sepatunya.


Saat Gadis tengah sibuk mengikat tali sepatu, ayahnya yang baru bangun tidur itu, berjalan ke arah pintu rumah yang terbuka dengan menguap lebar tanda masih mengantuk.


"Sekolah lagi lo?" cetus Arman, saat mendapati anaknya yang kini sudah berseragam lengkap dengan tas di punggungnya.


"Iya, yah." Jawab Gadis, singkat.


"Gue pikir lo mau berhenti sekolah." Ujarnya, dengan menggaruk perut tambunnya yang gatal. "Kenapa gak berhenti sekolah aja sih?! fokusin tuh nyari duit yang banyak. Sekolah tinggi-tinggi juga gak akan bikin lo kaya mendadak." Arman mendekat duduk, lalu mulai menyalakan rokok miliknya. Asap seketika menguar dari dalam mulutnya.


"Dari pada lo nyia-nyiain waktu lo buat sekolah, mending lo gaet om-om kaya buat jadi istri simpanannya. Itu lebih berguna. Dan kita juga gak akan hidup miskin kayak gini. Enak kan, lo juga gak perlu capek-capek kerja jual diri tiap malam." Lanjut Arman memberi saran.


Gadis diam-diam menarik napas berusaha bersabar akan perkataan ayahnya barusan. Ia berusaha tidak menjawab dan lebih memilih diam mengabaikan.


"Berangkat dulu yah," kata Gadis, yang seketika berdiri. Mengacuhkan ayahnya dengan melangkah pergi tanpa memberi salam atau sejenisnya.


"Ck! Nih anak. Di ajak ngomong orang tua bukannya dengerin, malah asal main pergi gitu aja. Dasar anak gak tau diri!" kesalnya akan sikap Gadis yang seperti itu.


Gadis yang masih sempat mendengar, hanya diam dengan semakin mempercepat langkahnya. Percuma juga jika Gadis meladeni. Itu hanya akan memperburuk keadaan.


Ia tentunya tidak ingin membuat kejadian dua hari yang lalu terulang. Saat dimana Gadis harus rela menerima pukulan dari ikat pinggang ayahnya, karena sepulangnya dari apartemen Dewa, Gadis sama sekali tidak membawa uang sepeserpun. Sehingga membuat ayahnya marah besar dan kembali memukulinya tanpa ampun.


Untungnya waktu itu ada tetangga sekitar yang mendengar suara kesakitannya, sehingga Gadis bisa terbebas dan tidak sampai pingsan. Jika saja tetangganya itu telat sedikit saja, mungkin Gadis akan berakhir dirumah sakit saat ini.


Gadis melangkah seiring lamunannya. Memikirkan ucapan ayahnya tadi yang benar-benar membuatnya kesal.


"Dari pada lo nyia-nyiain waktu lo buat sekolah, mending lo gaet om-om kaya buat jadi istri simpanannya. Itu lebih berguna. Dan kita juga gak akan hidup miskin kayak gini. Enak kan, lo juga gak perlu capek-capek kerja jual diri tiap malam."


Emang siapa yang udah bikin aku sampai jadi seperti ini. Tiap malam harus kerja dan pura-pura senyum didepan cowok bejat yang ada diluar sana. Itu juga karena ayah yang udah memaksaku! Aku benci ayah! Aku benci! Benci! Benci!! Batin Gadis, yang terus menerus mengucapkannya dalam hati.


Hingga tiba-tiba saja ada yang membekap mulutnya dari belakang. Gadis meronta tidak karuan. Dan reflek melayangkan pukulan diperut cowok itu menggunakan sikunya.


Erangan cowok itu membuat Gadis menoleh kebelakang untuk mencari tau. Pantas saja suaranya terdengar cukup femiliar. Rupanya cowok itu adalah pacarnya.


"Duhh! Perutku.." Juna meringis dengan tangan memegangi perutnya. Gadis yang melihat menjadi khawatir dan bersalah.


"Kamu nggak papa kan? Maaf ya, tadi aku bener-bener takut. Aku fikir kamu orang jahat. Mangkanya aku ngerahin seluruh tenaga buat mukul kamu."


"Tega kamu, masak pacar sendiri dikira orang jahat."


"Salah kamu juga. Ngapain becandanya kayak gitu coba?!"


Juna yang membungkuk dengan memegangi perutnya itu, akhirnya berusaha menegakkan tubuh. "Habisnya, kamu dari tadi aku perhatiin jalan sambil ngelamun gitu. Ya udah aku kerjain aja. Lagian kamu lagi mikirin apa sih? emang kamu gak liat aku disana nungguin kamu??" Juna menunjuk ke arah motornya yang terparkir didekat tiang listrik.


Tadinya Juna memang menunggu Gadis di atas motor sportnya yang terparkir di gang tersebut dan berniat mengajaknya berangkat sekolah bersama. Namun Gadis malah tidak menyadari keberadaannya, dan hanya melewatinya begitu saja dengan sebuah pandangan kosong.


Gadis menggeleng. "Aku gak sadar kalau kamu ada disana."


"Ya jelas lah. orang kamu aja jalan sambil ngelamun gitu." Kata Juna, "Kamu lagi ada masalah?"


Gadis menggeleng lagi. lalu berusaha mengalihkan topik. "Kamu kesini ngapain? Bukannya kesekolah. Mau bolos ya?"


"Nuduh sembarangan. Mana pernah aku bolos. Aku kesini tuh mau jemput kamu buat berangkat bareng."


"Kenapa gak ngasih tau dulu."


"Kan biar surprise."


"Padahal gak perlu jemput pun, aku bisa berangkat sendiri."


"Gak papa. Aku pengen berangkat bareng sama kamu. Habis gimana, kalau aku jemput dirumah, takutnya gak di bolehin sama kamu. Ya udah aku tungguin di gang ini aja." Juna lalu mengajak Gadis menghampiri motornya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka bicara saat ini. Lalu memberikan helm yang satunya untuk Gadis. "Nih, helm buat kamu."


Gadis memakai helm tersebut dibantu oleh Juna. Lalu setelah itu baru memakai helm miliknya.

__ADS_1


"Kok gak meluk?" kata Juna, saat mendapati gadis yang sudah naik, namun sama sekali tidak melingkari pinggangnya.


"Meluk?"


"Iya, meluk. Kayak gini." dari depan, Juna meraih tangan Gadis. Menuntunnya untuk melingkari pinggangnya.


Kembali menarik tangan dengan cepat, Gadis lantas berucap. "Ish! Jangan gitu, nanti ada tetanggaku yang liat."


Juna berdecak, lalu berkata pada Gadis untuk memeluknya saat keluar dari gang tersebut dengan alasan keamanan.


*****


"Gadiiiiiisss.....!!"


Suara melengking itu muncul dari arah belakang. Gadis menoleh dan tiba-tiba saja Aurel sudah menubruknya dengan sebuah pelukan erat, sampai membuat Juna tersingkir minggir.


"Akhirnya lo masuk juga, Dis. Gue kangen tau gak sama lo."


"Kangen sih kangen. Tapi gak gitu juga kali." sinis Juna, sembari kembali mendekati gadis dan berjalan beriringan seperti tadi.


Aurel memutar bola matanya pada Juna. Berusaha mengabaikan. "Eh, Dis. Lo kenapa sering banget gak masuk kayak kemarin sih. Alasannya selalu gak enak badan mulu. Emangnya lo sepulang sekolah ngapain sih?! nguli?" cetus Aurel seenak jidat.


"Mulut lo, Rel." Sahut Juna atas alasan tidak masuk akal Aurel.


"Becanda kali, Jun. Serius banget lo jadi orang." Lalu beralih pada Gadis. Memberitahunya sesuatu mengenai Dewa kemarin. "Eh, Dis. Gue baru inget nih. kemarin pas pulang sekolah, si Dewa nanyain lo ke gue."


Gadis melebarkan matanya sejenak akibat terkejut. sementara Juna mengerutkan kening lalu berkata, "Becanda lagi lo? Buat apa si Dewa nanyain Gadis. Deket aja enggak."


"Ish! Dibilangin gak percaya." Cetus Aurel meyakinkan. Lalu mulai menceritakan detail dari kejadian kemarin sewaktu pulang sekolah. "Jadi kemarin pas gue lagi nungguin supir buat ngejemput, si Dewa tiba-tiba aja nyamperin gue. Terus nanyain alasan kenapa lo gak masuk sampai dua hari. Ya, gue bilang aja gak tau."


"Lo gak nanya kenapa?" sahut Juna dengan ekspresi tak sukanya.


"Lah, ngapain gue mesti kepo?! Lagian nih ya, terlalu lama ngobrol sama kembaran lo itu, bikin gue jantungan tau gak. Dia nyamperin gue aja, gue udah takut duluan. Gue fikir gue ada salah apa sampai si Dewa kegelapan kayak dia nyamperin gue. Udah nanyanya sambil masang tampang nyeremin lagi. Siapa juga yang gak takut digituin."


"Tapi bener juga sih ya, ngapain juga si Dewa nanyain lo masuk apa enggak. Kan, kalian berdua emang gak deket. Sebenarnya ada apaan sih Dis? Apa gara-gara itu ya? waktu kejadian pas lo nolongin si Beni kemarin-kemarin. Jangan-jangan dia masih kesel sama lo." Aurel menerka-nerka dengan mulut bawelnya. "Dis, ngomong dong. masak dari tadi diem mulu. Berasa ngomong sama tembok gue."


"Aduh, aku ke toilet dulu ya? kebelet pipis." Cetus Gadis yang sebenarnya hanya beralasan. Dan begitu saja pergi meningalkan mereka berdua dengan raut wajah Juna yang sudah berubah kesal.


Entah kenapa Juna menjadi kesal waktu dengar Dewa menanyakan alasan tidak masuknya Gadis kemarin. Seolah mereka ini pernah dekat. Padahal setahunya tidak sama sekali. Apalagi saat Gadis kemarin ingin putus dengannya juga menyinggung nama Dewa. Sebenarnya diantara mereka berdua ada apa? batin Juna bertanya-tanya.


Sementara itu. Gadis yang baru saja memasuki toilet, dikejutkan oleh kehadiran Dewa yang tiba-tiba juga ikut masuk dan menutup pintu⸺sekaligus menguncinya dari dalam.


"Dewa?? Kamu ngapain masuk sini?? Ini kan toilet cewek." Kedatangan Dewa benar-benar membuat Gadis ketakutan. Apa Dewa lagi salah masuk toilet?? Batin Gadis.


"Menurut lo, gue ngapain ngikutin lo kesini??" tersenyum miring.


Biarpun Dewa juga memiliki wajah tampan seperti Juna, tetap saja Gadis takut saat melihat Dewa tersenyum seperti itu.


"Ka-kamu ngikutin aku? tapi kenapa?" langkah kaki Gadis mulai mundur selangkah demi selangkah saat Dewa mulai mendekatinya.


Hingga Gadis benar-benar terpojok dengan punggungnya yang sudah membentur dinding, diikuti kedua tangan Dewa yang menempel di dinding⸺mengurungnya.


Gadis tak berani menatap netra Dewa, dan selalu mengalihkan pandangan dari cowok itu.


"Dewa.. jangan kayak gini." lirih Gadis, berharap Dewa akan melepaskannya.


"Lain kali, angkat telfon gue." cetus Dewa tiba-tiba.


Gadis mengerutkan kening bingungnya dan membatin. Telfon? Kapan dia nelfon coba?! Emang dia punya nomer hapeku? Batinnya penuh tanya. Lalu kemudian Gadis teringat dengan sebuah nomor tak dikenal yang sering menghubunginya sejak kemarin, namun tak pernah diangkat Gadis. A-apa jangan-jangan nomor yang waktu itu?


Gadis kian semakin dibuat terkejut lagi, saat Dewa tiba-tiba mendaratkan ciuman disertai hisapan dileher kirinya. "Dewa! Kamu apa-apaan sih?! Lepas!!" Rontanya, berusaha melepaskan diri dengan susah payah.


****

__ADS_1


[bersambung]


__ADS_2