
biasakan klik like sebelum membaca ^_^
******
Selama masa berkabung, cukup banyak dari teman-teman sekelasnya begitu juga beberapa guru yang datang kerumahnya, untuk mengucapkan rasa bela sungkawa terhadap Gadis.
Banyak dari mereka yang menatap kasihan dengan kondisi Gadis. Apalagi kabar mengenai ibunya yang memiliki gangguan jiwa sekaligus buta, tersebar cukup cepat.
Biarpun begitu, jujur saja Gadis tidak menyukai jika kekurangan ibunya menjadi bahan perbincangan seperti itu. Apalagi bukan hanya satu yang membicarakannya. Gadis tidak butuh orang-orang yang menatapnya kasihan, namun dibelakang menggunjingkan kekurangan ibunya tanpa henti.
Hal seperti itu hanya semakin membuat hatinya tersakiti.
Dan ini sudah beberapa hari berlalu semenjak kematian ibunya, nyatanya hati Gadis masih diselimuti oleh kesedihan yang teramat sangat dalam. Ia masih sulit menerima kenyataan pahit ini.
Seseorang yang paling penting dihidupnya pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Gadis bahkan belum bisa merealisasikan keinginannya mengenai kesembuhan mata ibunya.
Nominal uang yang ia kumpulkan dengan susah payah untuk donor mata ibunya selama ini, seakan seperti tumpukan lembaran kertas tak berharga ditempatnya.
Gadis seakan terpuruk oleh kesedihan yang mendalam. Ia merasa... hidupnya tidak memiliki tujuan dan juga motivasi seperti dulu lagi. satu-satunya orang yang menjadi alasannya untuk kuat menjalani kehidupan yang begitu kejam ini sudah pergi untuk selamanya.
Dan Gadis.... benar-benar merasa sendirian....
"Dis, mau kemana? kita ngantin bareng ya?" tanya Aurel, saat melihat Gadis yang sudah berdiri dari duduknya, ketika bunyi bel istirahat pertama terdengar.
Tiga hari sudah Gadis masuk sekolah, tapi Aurel masih mendapati kesedihan di wajah sahabatnya itu.
"Aku lagi nggak pengen ke kantin, Rel."
"Terus lo mau kemana? emangnya lo gak laper?"
Gadis menggeleng. "Enggak." Jawabnya. Jangankan lapar, untuk menatap makanan saja rasanya Gadis tidak berselera sama sekali. "Kamu ke kantin aja duluan, aku mau ke perpus buat baca buku."
"Tapi, Dis⸺"
Belum sempat Aurel menyelesaikan kalimat, Gadis sudah lebih dulu pergi keluar Kelas meninggalkan Aurel yang kini berwajah murung. Nyatanya, Aurel sangat merindukan sosok Gadis yang seperti biasanya. Tanpa kesedihan dan selalu terlihat kuat.
Dewa yang sedari tadi memperhatikan dikejauhan pun, juga merasakan hal yang sama. Ia akhirnya beranjak dari tempat duduk untuk mengikuti.
Langkah kaki Dewa dikoridor itu terhenti, saat melihat Juna yang mendekat menghampiri Gadis. Pada akhirnya Dewa memilih diam dan hanya melihat dikejauhan.
"Dis,"
Gadis terpaksa menghentikan langkah saat mendengar sapaan dari mantannya yang beberapa hari ini mulai bersikap baik terhadapnya.
"Ada apa?"
"Aku perlu bicara sama kamu, berdua."
Gadis menarik napas sejenak. "Bukannya kemarin aku udah bilang, nggak ada yang perlu dimaafin. Disini aku yang salah. Buat apa kamu yang minta maaf." Kata Gadis yang mengira jika Juna masih ingin membahas soal permintaan maaf yang di lontarkannya kemarin.
Dan ya, perkiraan Gadis memang benar. Nyatanya sikap dingin Gadis membuat Juna merasa belum cukup jika hanya meminta maaf saja. Walaupun Juna begitu marah dan kecewa ketika mengetahui Gadis berada didalam kamar apartemen Dewa beberapa hari yang lalu, tetap saja kenyataannya rasa benci Juna terhadap Gadis, kalah oleh perasaan sayang yang masih tersimpan rapi dihatinya sampai saat ini.
Terkadang hal itu membuatnya tersiksa. Sikap benci yang ia tunjukkan pada Gadis selama ini hanyalah bentuk luapan emosi kekecewaan atas semua kebohongan yang dilakukan Gadis mengenai siapa dia sebenarnya.
Tapi... saat Aurel bercerita mengenai keadaan Gadis yang sebenarnya, entah kenapa Juna merasa sikap dan perkataannya selama ini terhadap Gadis, sangatlah keterlaluan.
Ini benar-benar sulit dijelaskan oleh kata-kata, dibalik rasa kecewa, benci dan amarah yang menguar, sejujurnya tersimpan perasaan sayang yang masih terlampau tinggi untuk Gadis. Dan Juna mengakui itu.
"Dis, Aurel udah cerita semuanya sama aku. Dan... aku merasa semua perkataan buruk yang aku lontarkan ke kamu, udah sangat keterlaluan."
"Kamu nggak perlu merasa bersalah. Aku emang cewek murahan seperti yang kamu bilang. Nggak ada yang salah sama perkataan kamu waktu itu." ucap Gadis dengan wajah datarnya. Langkahnya sudah akan terayun, namun Juna menahan lengannya dengan cepat.
"Dis⸺"
"Juna! Please... aku nggak mau ada yang liat dan akhirnya salah faham sama kita. Jadi tolong, lepas tangan kamu!" pinta Gadis dengan nada begitu tegas. Sorot mata penuh permohonan itu, disadari oleh Juna, yang akhirnya membuat cowok itu melepas tangan dengan perlahan.
"Kenapa.. apa perkataanku selama ini udah sangat nyakitin hati kamu, mangkanya kamu⸺" lagi-lagi Gadis menyela ucapan Juna.
"Bukan. Aku cuman nggak mau pacar baru kamu salah faham. Jadi lebih baik, kamu tetap bersikap seperti waktu itu. Saat kamu melihat aku dengan sorot mata penuh benci. itu lebih baik... untuk aku, dan juga kamu."
Kali ini Juna tidak menahan kepergian Gadis seperi tadi. Ia hanya diam menunduk penuh sesal.
__ADS_1
Dis, seandainya kamu tau alasan kenapa aku bisa jadian sama Sesil. Ini semua nggak seperti yang kamu fikir.
"Sebaiknya kamu kasih aku penjelasan mengenai alasan kamu yang tiba-tiba bisa bicara sama pelacur rendahan seperti dia!" Sesil tiba-tiba datang dan melontarkan perkataan tajam penuh curiga pada Juna.
"Jaga omongan lo!" Juna menunjuk tepat didepan wajah Sesil. "Bukannya kita dari awal udah sepakat, lo nggak akan ungkit apapun mengenai profesi Gadis, apalagi saat disekolah?!"
Itu memang benar. Demi menjaga nama baik Gadis disekolah, Juna sampai harus menerima persyaratan yang diajukan Sesil sebagai ganti tutup mulut, Yakni dengan menjadi pacarnya. Itulah sebabnya, selama ini Sesil masih diam dan tidak menyebarkan berita mengenai Gadis yang seorang pelacur.
Nyatanya dari awal ketika Juna mengetahui soal pekerjaan Gadis, membuat Juna mengambil tindakan cepat. Mengabaikan rasa marah, kecewa dan bencinya. Ia meminta Sesil untuk tidak menyebarkan gosip yang tidak-tidak mengenai Gadis, pada teman-teman satu sekolah. Hingga sesil menyanggupi dengan memberikan syarat yang akhirnya terpaksa diterima oleh Juna.
"Ya, aku ingat. Ingat banget malah. Tapi aku juga nggak bisa cuman hanya diam liat kamu bicara berdua sama dia! ingat ya Juna, kamu udah janji buat lupain dia dan belajar mencintai aku. Kamu lupa, sekarang ini kita udah pacaran. jadi tolong jauhin Gadis, atau aku nggak akan segan buat sebarin ke temen-temen satu sekolah, siapa Gadis yang sebenarnya. Kamu tau kan, apa yang akan terjadi kalau aku bener-bener lakuin itu?"
Juna mengepalkan tangan kuat-kuat. Nyatanya ia tau betul bagaimana sifat Sesil. Cewek seperti dia tidak akan main-main dengan ucapannya. Ancaman yang didengarnya barusan, bukan hanya sekedar bualan omong kosong.
Brengsek! Kenapa gue harus terjebak dengan cewek licik seperti dia!
****
Gadis berjinjit⸺berusaha meraih sebuah buku yang letaknya berada di rak paling atas perpustakaan tersebut. Ukuran tubuh yang mungil dan tidak terlalu tinggi, membuatnya kesulitan menggapai buku yang diinginkannya.
Hingga sebuah tangan dari belakang lebih dulu mengambil buku tadi, berbarengan dengan hembusan napas serta wangi maskulin yang menyeruak indra penciumannya.
Gadis memutar tubuh, iris matanya bertemu pandang dengan sosok lelaki yang memiliki wajah serupa mantannya. Jarak yang begitu dekat, membuat cowok itu terdiam mengagumi paras indah didepannya.
"Dewa.. ma-makasih." Gadis berucap gugup, dengan menerima buku pemberian Dewa yang baru saja diambilnya.
"Sama-sama." Dewa mengucapkan kalimat itu tanpa beranjak sedikitpun.
Tinggi dan postur tegap yang dimiliki oleh Dewa, membuat Gadis harus mendongak saat melihatnya. Gadis mengalihkan pandangan saat menyadari jarak yang begitu dekat dari keduanya. Ia lantas bergerak ke sisi kiri untuk lepas dari kungkungan Dewa.
Tentu saja Dewa tidak begitu saja membiarkan dan malah menghalangi dengan mengulurkan satu tangannya pada rak buku tersebut. Gadis sampai terkejut dibuatnya.
"Ka-kamu⸺" Gadis menoleh dengan suara lirih. Membuat netra mereka saling bertemu seperti tadi.
"Gue... cuman pengen tau secara langsung, gimana keadaan lo sekarang. Apa lo masih sering mimpi buruk saat tidur?" tanya Dewa dengan suara pelan. Mengingat saat ini mereka tengah berada di perpustkaan sekolah.
"ka-kamu tau darimana kalau aku sering mimpi buruk??" Karena yang Gadis ingat, ia hanya bercerita pada Aurel mengenai dirinya yang sering bermimpi buruk semenjak ibunya meninggal. Mimpi itu selalu membuatnya terbangun saat tengah malam.
"Gue gak sengaja denger, waktu lo lagi ngomong sama Aurel dikelas."
"Nggak sengaja denger! Bukannya nguping." Ralat Dewa membenarkan.
"Sama aja."
"Beda. Dari segi kalimat aja udah beda."
Gadis mendengus tak ingin memperpanjang. "Terserah." Cetusnya, dengan kembali bergerak ke sisi yang lain, dimana tidak ada lengan tangan Dewa yang menghalangi jalannya.
Dewa ikut duduk di meja kosong bersama Gadis dengan posisi berhadapan.
"BTW, lo udah gak pergi kerja di tempat biasa lagi?" tanya Dewa penasaran. Pasalnya, ia sudah berulang kali datang ke tempat klub malam yang dikelola mami untuk mencari tahu, tapi Dewa tidak sekalipun mendapati Gadis disana.
"Kamu... nyariin aku disana?" tanya Gadis dengan alis mengkerut. Ia bahkan menghentikan sejenak buku yang mulai dibacanya tadi.
"PD. Ngapain juga gue nyariin lo. Gue..." Dewa menggantung sebentar kalimatnya, untuk mencari alasan yang tepat. "Cuman lagi pengen main aja kesana. Bukan berarti gue nyariin lo."
Gadis mengangguk mengerti.
"Jadi lo udah gak kerja lagi ditempat itu??"
"Aku juga gak tau."
"Kok gak tau?"
Gadis menghela napas beratnya. Sejujurnya Gadis ingin sekali berhenti bekerja ditempatnya mami. Tapi Gadis yakin jika ayahnya pasti tidak akan semudah itu membiarkan.
****
"Kapan lo mulai kerja lagi?" tanya Arman, saat melihat Gadis yang baru saja pulang dari sekolah dan memasuki kamar untuk menaruh tas dan berganti pakaian.
"Belum tau." Jawab Gadis singkat, sembari membenarkan ikat rambutnya yang longgar dan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Arman.
__ADS_1
"Enak banget lo jawabnya. Lo tau gak, tiga hari ini mami udah nelfonin gue terus-terusan. Dia pengen supaya lo secepatnya kerja lagi di tempatnya! Dia bilang banyak pelanggannya yang udah nanyain elo!"
Gadis memutar tubuh berhadapan dengan ayahnya. "Yah, tolong ayah ngertiin aku sedikit aja. Ayah kan bisa kasih alasan apa gitu ke mami. Lagipula, selama aku nggak kerja kan, ayah juga tetap dapat jatah uang dari aku."
"Uang apa?? uang ini yang lo maksud??" Arman mengeluarkan beberapa lembar uang milik Gadis yang sempat diambilnya saat Gadis tengah bersekolah tadi. "Pantesan ya, lo bisa ngasih duit gue tiap hari biarpun lo gak kerja. Ternyata diam-diam lo udah nyimpen duit hasil kerja lo tanpa sepengetahuan gue!"
Gadis benar-benar tidak menyangka, bagaimana bisa ayahnya mengetahui tempat ia menyimpan uang tabungannya selama ini.
"Yah, aku mohon, kembalikan uang Gadis. Itu uang simpanan yang kemarin mau aku pakai buat donor mata bunda."
"Tapi kan sekarang si gila itu udah mampus. Jadi uang ini buat gue aja. Kebutuhan gue itu jauh lebih besar tiap harinya. Ngerti nggak?!"
"Tapi yah... u-uang itu mau aku pakai buat biaya sekolah kedepannya. Setelah lulus SMA nanti, aku pengen lanjutin buat kuliah yah.."
"Gaya banget lo, pakek pengen kuliah segala. Gue kasih tau ya, orang-orang yang lanjutin kuliah itu biasanya pengen dapetin kerjaan enak yang gajinya gede. Lah elo kan udah punya kerjaan enak yang bisa dapetin duit banyak. Ngapain mesti repot pengen kuliah segala?! Buang-buang duit itu namanya!"
"Tapi aku nggak mau terus menerus kerja kayak gini, yah!"
"kalau lo nggak mau kerja kayak gini, terus lo mau kerja apa? hah??" bentak Arman, sembari menggebrak pintu kamar Gadis. Rupanya hanya berbicara dengan bocah SMA, sanggup membuat emosinya tersulut naik seperti ini. Entah kenapa Arman merasa putrinya itu selalu pintar memancing keluar kemarahannya.
"A-aku⸺"
"Hahh! Udahlah! Gue gak mau berdebat panjang lebar sama lo." ujar Arman berusaha meredam emosi. "Rian tadi pagi nelfon gue, katanya dia pengen booking lo lagi. Gue udah terima uangnya, dan lo harus layanin dia malam ini!"
Gadis menggeleng cepat. "Nggak yah! Aku nggak mau! mending ayah balikin aja uangnya ke om Rian."
"Apa?? balikin?? Enak aja! Itu namanya nyari mati! Pokoknya gue gak mau tau, lo nanti malam harus tetep layanin dia. titik."
BRAKK!
Arman membanting pintu dengan kencangnya. Ia bahkan mengunci pintu kamar Gadis dari luar untuk berjaga agar Gadis tidak melarikan diri.
"Yah! Ayah!! Aku mohon buka pintunya yah! AYAH!!"
****
Pukul 19.00
Dewa yang terbaring diatas ranjang dengan satu tangan yang ia gunakan sebagai bantalan, nampak menyunggingkan senyum saat mengingat interaksi antara dirinya dan Gadis yang begitu dekat saat berada di perpus sekolah ketika jam istirahat tiba.
Jujur saja saat itu lagi-lagi Dewa merasakan detak jantungnya yang terpacu lebih cepat dari biasanya. Selama ini ia tidak pernah merasa seperti ini ketika berhadapan dengan seorang cewek sekalipun.
Dewa bahkan sampai bertanya pada teman-temannya mengenai apa yang dirasakannya saat itu. Bodoh memang. karena teman-temannya justru menertawakannya tanpa henti. Untungnya dia tidak memberitahu nama cewek yang membuatnya seperti ini. Bisa-bisa temannya itu akan lebih parah mengoloknya.
"Apa hari ini... dia akan datang ke klub malam lagi?" cetus Dewa bertanya-tanya.
Ia mengambil ponsel dan memandangi layar persegi itu cukup lama. tangannya lantas tergerak menggulir dan berhenti saat nama Gadis terlihat dilayar ponselnya.
Dewa mulai berpikir untuk menghubunginya atau tidak.
"Ck! Masa bodoh lah!"
Tuuuutt...! tuuuttt!!
Terdengar nada menyambungkan.
Sementara ditempat berbeda, Gadis yang masih terkurung dikamarnya sendiri dengan rasa panik dan takut yang mulai menyelimuti diri, meraih ponsel yang kebetulan berada tepat disampingnya.
Ia beringsut duduk untuk segera menerima panggilan yang ternyata dari Dewa.
"Ha-halo, Dis..."
"Dewa! Dewa aku mohon tolongin aku!"
Dewa tentu saja panik mendengar Gadis meminta tolong sambil menangis seperti itu.
"Ada apa Dis? apa yang terjadi? Kenapa lo nangis??"
"Aku mohon Dewa. Jemput aku dan bawa aku kabur dari sini. Ayahku... dia maksa aku buat layanin om Rian malam ini. Aku udah nolak, tapi ayah malah mengurungku di kamar. Please Dewa, tolongin aku.... aku nggak mau layanin om Rian. Dia itu menakutkan."
"Apa?! I-iya. Lo tenang dulu. Gue akan jemput dan keluarin lo dari sana."
__ADS_1
****
BERSAMBUNG