Gadis Dewa

Gadis Dewa
bab 21


__ADS_3

Jangan lupa klik jempolnya sebagai penyemangat update. Makasih....


*****


"Kalian?? kenapa bisa...."


Melihat keempat teman Dewa yang sudah berada di depan pintu dengan wajah terkejutnya, membuat Gadis menggeser tubuhnya tepat dibelakang punggung Dewa, seolah bersembunyi. Rasa terkejut dan takut, membuat Gadis mencengkram kuat ujung kaos bagian belakang Dewa.


Keringat dingin begitu saja membanjiri tubuh Gadis.


Bagaimana ini? kalau sudah seperti ini, bagaimana Gadis akan mengelak??


"Kalian ngapain kesini gak bilang-bilang??" ujar Dewa dengan raut tidak sukanya.


Keempat teman Dewa kian semakin mengerutkan keningnya bingung.


"Memangnya kita kalau mau kesini harus lapor dulu?" Edo bertanya dengan ekspresi herannya. "Biasanya juga gak kan?!"


"Tau. Aneh banget lo." cibir Bastian, lalu melirik tepat ke arah Gadis yang masih menyembunyikan wajah dibelakang punggung Dewa. "Oh.. gue paham nih. Lo pasti ngomong gitu, gara-gara lo sekarang ketauan ada main sama ceweknya kembaran lo ya, Wa?" tebaknya, membuat Gadis kian semakin erat mencengkram ujung kaos belakang Dewa.


"Ngaco lo." Dewa mulai melangkahkan kakinya, berniat menerobos keempat temannya yang masih bergerombol didepan pintu. "Udah-udah, awas! Gue mau anter dia ke bawah."


Tapi keempat teman Dewa tidak bisa begitu saja membiarkan dan malah menahannya ditempat.


"Eiits! Lo gak bisa pergi sebelum lo jelasin ke kita, mengenai alasan Gadis bisa ada di apartemen lo." Ujar Rama, menahan satu bahu Dewa disana.


Rasa ingin tahu Rama yang begitu besar, juga dirasakan Gerry, Bastian, dan juga Edo.


"Entar gue jelasin. Sekarang minggir dulu. Ada taksi yang udah nunggu dia dibawah." Kata Dewa, sembari kembali mencoba menerobos keempat temannya itu, namun gagal karena tangan Gerry yang menahan.


"Wa, jangan bilang kalau lo sama dia itu ada hubungan. Dan kalian berdua udah...." ⸺Gerry.


"Lo ngomong apa'an?! Gak ada yang kayak gitu, gak ada!" Tekan Dewa kesal, sembari menggandeng tangan Gadis. Menariknya pergi secepat mungkin, untuk menghindari introgasi yang dilayangkan beberapa teman Dewa tersebut.


"Wa! Jawab pertanyaan kita dulu. Main pergi aja lo. Dewa!!" Teriak Edo, namun Dewa dan Gadis malah semakin mempercepat langkah berusaha tidak perduli.


"Gue yakin, mereka berdua ada apa-apa." Bastian menyerukan keyakinannya. Apalagi dengan sikap Dewa yang selama ini terkesan acuh dan bahkan bisa dibilang tidak begitu dekat dengan Gadis. Ya walaupun memang selama ini Dewa dan Gadis sekelas. Tapi yang mereka tau, tidak pernah sekalipun Gadis dan Dewa terlihat dekat sampai seperti ini.


Kalaupun iya mereka berdua dekat tanpa sepengetahuan mereka, tidak seharusnya juga Gadis dan Dewa berada di apartemen hanya berdua seperti ini. Apalagi dengan Gadis yang masih berstatus pacar Juna.


****


⸺Diluar gedung apartemen⸺


Dewa memperhatikan Gadis yang sedari tadi hanya diam dengan memasang raut wajah khawatir dan ketakutannya.


Gadis benar-benar terlihat tidak tenang, terbukti dengan Gadis yang sedari tadi memilin jari-jarinya tanpa henti. Dewa tau, jika Gadis sudah seperti ini, tandanya Gadis tengah dalam keadaan hati yang tidak tenang, takut, gelisah, atau pun cemas.


Tangan Dewa tergerak pelan, menyentuh dan menghentikan pergerakan kedua tangan Gadis yang tengah memilin jari. "Dis, gak perlu khawatir. Mereka gak akan---"


Gadis menarik tangan dari genggaman Dewa. Menolah cepat ke arahnya dengan ekspresi yang masih sama, "Gimana aku nggak khawatir?! Baru aja mereka liat aku ada di apartemen kamu, dan kita cuman berdua. Mereka pasti langsung bisa menyimpulkan apa saja yang kita lakukan didalam sana. Dan sebentar lagi, semuanya akan kebongkar. Sesuatu yang selama ini mati-matian aku tutupi. Hidupku akan tamat!" lagi, air mata Gadis kembali terjatuh membasahi kedua pipinya tanpa bisa ia bendung.


Jujur saja, Dewa tidak bisa melihat air mata Gadis terjatuh seperti ini. Entah sejak kapan, tapi yang jelas.. Dewa tidak menyukai Gadis yang cengeng dan lemah seperti ini.


"Hey! Mereka itu temen-temen deket gue. Gak mungkin lah mereka nyebarin gosip mengenai gue dan lo disekolah."


"Memangnya kamu bisa ngejamin itu?" tanya Gadis, sembari menghapus jejak air mata⸺yang lagi-lagi membuat basah pipi mulusnya.


"Mereka temen-temen gue Dis. Dan gue percaya sama mereka." Yakin Dewa pada Gadis.

__ADS_1


Entah kenapa biarpun Dewa sudah meyakinkan Gadis, tetap saja Gadis tidak bisa begitu saja mempercayainya.


"Mereka memang temen-temen kamu. Tapi mereka bukan temen-temenku! Kamu yang selalu negancem aku dan bilang, akan kasih tau anak satu sekolah mengenai siapa aku yang sebenarnya. Gimana bisa aku percaya sama kamu dan juga mereka??"


Dewa tidak menjawab dan hanya diam dengan netra saling menatap satu sama lain. Rasa tak percaya terlihat begitu jelas di netra Gadis. Dan Dewa mengetahui itu.


Hingga Gadis memutus pandangan, saat ada sebuah mobil taksi yang berhenti tepat didepannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Gadis segera membuka pintu mobil dan menutupnya saat sudah masuk.


Taksi itu melesat pergi, sementara Dewa masih tetap berdiri disana tanpa melepas pandangannya pada mobil taksi yang semakin menjauh hilang dari pandangan.


Gue emang selalu ngancem lo, Dis. Tapi jujur, gue gak pernah ada niatan buat ngasih tau ke anak-anak, mengenai siapa lo yang sebenarnya.


*****


Juna memilih meninggalkan meja tempat makannya, untuk pergi ke toilet. Tentunya ini hanyalah sebuah alasan untuk menghindari pembicaraan yang menurutnya mulai membuatnya tidak nyaman.


Apa maksud papa tadi? Kenapa juga papa mesti nyuruh gue buat deket sama Sesil?!


Juna tidak henti-hentinya membatin bingung saat dirinya memasuki toilet tersebut. Menatap dirinya disebuah cermin persegi dengan raut wajah kesalnya.


Jujur saja, Juna sebenarnya sudah ingin pulang sedari tadi. Tapi papanya malah terlihat semakin betah mengobrol dengan orangtuanya Sesil.


Juna menghela napas berat. Sejak kapan papa bisa berteman baik dengan orangtuanya Sesil?!


Lalu memutar keran untuk mencuci tangan dan keluar dari sana.


"Juna." Sapa Sesil, yang sedari tadi sengaja menunggu diluar toilet.


Juna melihatnya dengan kening berkerut. "Lo ngapain Sil, disini? didepan toilet cowok lagi."


"Nunggui kamu." Kata Sesil, tersenyum.


Sesil melingkarkan tangan di lengan Juna. "Habisnya aku bosen dengerin pembicaraan bisnis orang tua kita. Mangkanya aku nyusulin kamu kesini."


Tentu saja apa yang dilakukan Sesil itu membuat Juna risih setengah mati. Ia lantas melepas lingkar tangan Sesil dengan hati-hati. Tidak mau juga jika sampai membuat gadis itu tersinggung. "Ya udah, kita balik kesana barengan."


Perlakuan Juna itu membuat Sesil berwajah murung. "Kenapa mesti buru-buru balik sih?! padahal kan kita bisa habisin waktu berdua buat ngobrol-ngobrol bareng."


"Gak enak kalau misalkan kita terlalu lama meninggalkan meja makan." Ujar Juna beralasan. Padahal yang sebenarnya, dia rela kembali ke meja makan asal tidak hanya berdua bersama Sesil seperti ini.


"kenapa kamu selalu seperti ini? selalu ngehindarin aku. Kamu nggak pernah menghargai perasaan dan perhatian yang selama ini aku kasih ke kamu." Sesil menundukkan wajahnya penuh kesedihan.


Ah! Lagi-lagi Sesil seperti ini...


Mengatakan hal-hal bodoh yang justru membuat Juna seakan terpojok dan menjadi serba salah.


"Sil, gue ini udah punya cewek. Harus berapa kali gue ingetin lo soal itu."


"Aku cuman pengen kamu menghargai perasaanku sedikit aja, Jun. Maksudku, mumpung kita sekarang bertemu diluar kayak gini, kita kan bisa habisin waktu sebentar buat ngobrol-ngobrol. Lagian, apa yang kamu takutin? Disini juga gak ada Gadis. Dia nggak akan tau, walaupun kita habisin waktu bareng sampai larut malam."


Juna tersenyum tipis. "Buat apa juga gue harus habisin waktu sampai larut malam cuman berdua sama lo?! Sil, ucapan lo barusan seakan-akan lo pengen ngajakin gue supaya selingkuh dari Gadis."


"Kalau iya kenapa?? aku nggak masalah, asal itu kamu."


Juna menggelengkan kepala tak percaya atas apa yang didengarnya barusan. "Lo gila?! Gue gak akan mungkin hianatin Gadis. Gue sayang sama dia. Jadi gak perlu repot buat pengaruhi gue. Karena gue gak akan pernah tertarik."


"Kamu lupa, apa yang dikatakan papa kamu tadi?? Papa kamu pengen supaya kita berdua itu deket." Sesil mencoba mengingatkan.


"Gue gak masalah harus deket sama lo, asal itu gak mempengaruhi hubungan gue sama Gadis."

__ADS_1


Sesil tersenyum sinis. "Segitu sukanya kamu sama Gadis?! Memangnya apa sih bagusnya dia? Semua anak satu sekolah juga udah tau, kalau dia itu cuman cewek kampung yang gak sebanding sama kita! Bahkan banyak anak-anak yang bilang, kalau Gadis itu gak pentes dapetin kamu."


"Gue gak peduli!" tekan Juna, lalu berusaha mengabaikan ocehan Sesil dengan melewatinya pergi begitu saja.


Tentu saja sikap Juna itu membuat Sesil kian semakin kesal dan akhirnya suaranya meninggi berusaha memberitahu Juna apa yang dilihatnya saat pulang sekolah tadi didepan gerbang. "Kamu pasti nyesel udah suka sama dia! kamu bahkan nggak tau kan dengan siapa Gadis pulang sekolah tadi?!"


Juna menghentikan langkah, membuat Sesil tersenyum miring. "Dewa!! Aku liat sendiri Gadis tanpa ragu naik motor Dewa buat pulang bareng! Kalau kamu gak percaya, kamu bisa tanyain hal itu ke temen-temennya Dewa."


*****


⸺Diskotik⸺


Tangan kirinya merayap ke area belakang punggung Gadis yang terekspose bebas. Sementara satu tangannya yang lain memegang sebuah gelas berisikan alkohol. Tidak henti-hentinya lelaki berusia hampir kepala empat itu memaksa Gadis untuk meminum-minuman tersebut.


"Ayo sayang, minum satu gelas saja. Hanya satu gelas, tidak akan membuatmu mabuk."


Gadis yang sedari tadi dipaksa, akhirnya pasrah dan menuruti permintaan lelaki yang memang harus dilayaninya malam ini. "I-Iya udah. Tapi sedikit saja ya, om?"


Lelaki yang dipanggil Gadis om Beni itu, akhirnya mengangguk mengiyakan. Membantu meminumkan minuman memabukkan itu pada Gadis. Gadis berusaha menenggaknya sebanyak mungkin, walaupun memang pada akhirnya Gadis hanya mempu meneggaknya separuh gelas.


Gadis memejamkan rapat matanya, seusai menenggak minuman memabukkan itu. kepalanya menggeleng cepat, tanda tidak ingin lagi meminum itu.


"Lagi ya? sedikit lagi."


"Udah om, udah. Aku nggak kuat minum banyak, om."


Beni akhirnya memaklumi. Menaruh kembali gelas itu diatas meja. Tangannya yang tadinya merayap nakal di punggung Gadis, beralih mengaitkan anak rambut Gadis ke belakang telinga. "Om nggak nyangka, kamu benar-benar masih muda dan juga cantik. Mungkin om akan jadi langganan kamu. itupun... kalau pelayanan ranjang kamu nanti bisa memuaskan om."


Gadis hanya diam dengan wajah menunduk. Bahkan saat Beni mulai menciumi lehernya cukup lama, Gadis hanya mendiamkan tanpa ingin memprotesnya sama sekali.


Dimeja bar, nampak seorang cewek berpakaian seksi memesan minuman, dan mulai mengambil rokok. Menyalakannya.


Asap putih nan pekat mengepul. "Thank's." Ucapnya pada seorang bartender yang baru saja menyajikan minum yang dipesannya.


Menenggaknya sebentar, ia tiba-tiba kembali mengingat bagaimana perlakuan Juna padanya saat diresto tadi.


"Sil!"


Panggilan itu membuat Sesil menoleh. "Cindy! Lama banget sih?! si Melly mana? Lo sendirian?"


Memang sebelumnya Sesil sudah janjian datang ke tempat itu dengan dua temannya, yakni Melly dan Cindy. Tadinya Sesil curhat melalui telfon bersama dua temannya itu mengenai sikap acuh Juna padanya. Suasana hati Sesil yang sedang dalam keadaan tidak baik, membuat Cindy mencetuskan ide untuk pergi ke tempat hiburan malam dan ngedugem bareng. Sesil dengan senang hati menerima ajakan itu.


Tanpa memperdulikan pertanyaan Sesil, Cindy seketika menarik tangannya untuk menunjukkannya sesuatu yang menurutnya penting. "Gak penting lo nanyain si Melly. Sekarang ada hal yang lebih penting yang mesti lo liat."


Sesil mengerutkan kening bingungnya. "Hah?! apaan sih? hal penting apa yang lo maksud?? Cin! Jelasin dulu, jangan narik-narik tangan gue!"


"Kalau jelasin sekarang, nanti keburu dia pergi." Ucap Cindy, masih tetap menarik tangan Sesil dan berhenti, melepas tangan⸺memperlihatkan apa yang sedari tadi dimaksudnya. "Tuh, lo liat. Siapa dia."


Sesil mengikuti arah pandang Cindy, netranya membelalak saat melihat Gadis yang hanya diam saat seorang om-om hidung belang menjamah tubuhnya di tengah keremangan.


"I-itu si Gadis kan?" cetus Sesil dengan nada tergagap saking terkejutnya. Bahkan rokok yang terselip dijemarinya tanpa sadar sudah terjatuh.


"Seperti yang lo liat."


"Gila! Gue gak nyangka. Dibalik sifatnya yang sok polos itu, gak taunya dia sebejat ini. Bitch!"


****


[BERSAMBUNG]

__ADS_1


__ADS_2