
Jangan lupa klik like sebagai penyemangat update saya ^_^
****
Netra Gadis mengerjap, seiring cahaya mentari pagi yang masuk melalui celah jendela apartemen tersebut.
"Udah bangun?!"
Gadis tersentak sedikit terkejut, saat mendengar suara itu. Ia menoleh⸺mendapati Dewa yang baru saja datang dengan semangkuk bubur hangat di tangannya.
Dewa mendekatinya, lalu duduk di tepi ranjang, "Lo harus makan ini, supaya lo bisa minum obatnya."
Semalam saat Gadis pingsan dan selesai mengganti pakaian Gadis dengan yang lebih kering, Dewa segera menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Gadis. Dokter memberikan beberapa resep obat yang langsung ditebus oleh Dewa diapotik terdekat.
Gadis mengerutkan kening. "Minum obat? Memangnya aku sakit?"
Dewa justru bertanya balik, "Lo nggak inget? Semalam kan lo pingsan waktu baru sampai sini."
Gadis berusaha mengingat, dan hal itu berhasil membuat kepalanya didera rasa pusing yang teramat sangat. Badannya juga baru disadarinya terasa lemas. Sekelibat ingatan tentag kejadian semalam pun mulai menyeruak satu-persatu. Dimana saat ia meminta bantuan Dewa untuk menolongnya kabur dari kurungan sang ayah, hingga Dewa membawanya ke apartemen dan ia merasa tubuhnya limbung terjatuh akibat rasa pusing dikepala.
Sekaligus juga... saat ia terbangun ditengah malam karena mimpi buruknya yang lagi-lagi datang, Dewalah yang memberi dekapan erat penuh ketenangan untuk dirinya. Mengingat itu.. membuat Gadis merona malu.
Bagaimana bisa dia memeluk Dewa dan menangis seperti itu?? Gadis merasa dirinya begitu bodoh. Apalagi saat itu Gadis merasa begitu nyaman dipelukan Dewa, sampai-sampai ia tidak sadar jika dirinya memeluk Dewa cukup lama. Gadis sangat berharap jika Dewa sudah melupakan kejadian itu.
"Kenapa?" tanya Dewa, saat melihat tingkah Gadis yang sedikit aneh. Cewek itu tiba-tiba menarik selimutnya hingga menutupi separuh wajah, seusai terdiam cukup lama.
Gadis tidak menjawab dan hanya menggeleng cepat. Bibirnya tersenyum paksa di bawah selimut yang menutupi separuh wajahnya.
Lalu mendadak Gadis membuka selimut⸺menelisik pakaian yang dikenakannya. Bajuku!!
"Kamu.....!!" Gadis melotot ke arah Dewa.
Dewa yang mengerti segera bersuara, membela diri. "Terpaksa gue yang ganti baju lo, waktu lo pingsan. Badan lo semalam panas banget. Gue gak mungkin biarin lo mati kan?!"
Gadis hanya mendengus, tidak berusaha mendebat ucapan Dewa akibat tenaganya yang memang melemah karena demam.
Tiba-tiba Dewa menaruh mangkuk bubur itu dinakas, ia mendekatinya dengan sedikit membungkuk. Gadis sempat terkejut dan sempat berprasangka buruk mengenai apa yang akan dilakukannya. "A-apa yang kamu⸺"
Gadis terdiam, saat mengetahui ternyata Dewa hanya ingin membantunya duduk untuk menyuapinya bubur yang dibawanya tadi. "Udah gue bilang kan, lo harus makan supaya lo bisa minum obatnya." Ucapnya, sembari mengambil mangkuk dan mulai menyuapinya seperti bayi.
Gadis terpaku dengan perlakuan Dewa. ia seolah membutuhkan waktu lebih untuk mencerna kebaikan dan sikap perhatian yang diberi Dewa padanya.
"Ma-makasih..." Nyatanya Gadis dibuat terharu dengan perlakuan Dewa. bukannya apa-apa. jika mengingat bagaimana kejadian ayahnya menyekapnya, hingga akhirnya Dewa menyelamatkan dan sampai memberinya tumpangan sementara di apartemen yang menurut Gadis sangat bagus ketimbang tempat tinggalnya, Jelas saja tidak ada alasan dirinya untuk masih berfikiran buruk mengenai Dewa.
Biarpun selama ini ia sering menganggap Dewa mengerikan dan mengesalkan. Nyatanya, Dewa memiliki sikap perduli dan baik juga seperti ini.
Tanpa sadar, Gadispun tersenyum disela makannya. Dan Dewa menyadari itu.
"Kenapa senyum-senyum?"
"Enggak." Gadis menyangkal disela gelengan dikepala.
"Enggak apanya? Gue liat banget lo barusan senyum sambil liatin gue." Dewa lalu menyentuh kening Gadis. Mengukur suhu tubuhnya dengan perasaan khawatir. "Kayaknya demam lo makin parah deh." Cetusnya, yang seketika mendapat tepisan tangan dari Gadis.
"Apaan sih?! jangan suka nyumpahin." Peringat Gadis, dengan suara lemah yang masih kentara.
"Bukannya nyumpahin. Habisnya lo senyum-senyum nggak jelas gitu. gue kan khawatir."
"Kamu... khawatir sama aku?"
Pertanyaan Gadis, membuat Dewa terdiam salting dan merutuk diri.
"Kamu kalau gini, jadi mirip banget sama Juna." Celetuk Gadis, membuat Dewa menatapnya tak suka.
"Gue Dewa. Bukan Juna. Jangan samakan gue sama dia." peringatnya tidak suka. Lalu begitu saja menaruh mangkuk yang masih berisi bubur itu di pangkuan Gadis. Menyuruhnya memakan sendiri karena kesal. "Habisin!"
Gadis memanyunkan bibir, merasa tidak enak. Sementara Dewa sudah beranjak dari kasur untuk mengambil obat dan segelas air untuk diminum Gadis sehabis makan.
"Jangan lupa habis itu minum obatnya." Cetus Dewa, sembari menaruh bungkusan keresek berisi obat dan segelas air yang dibawanya ke atas nakas. Lalu berbalik dan memilih duduk di sofa panjang tak jauh dari Gadis, dengan memainkan ponsel miliknya.
Gadis tidak menyahut, ia Masih tetap tenang memasukkan sesendok demi sesendok bubur ke mulutnya. Hingga ia mulai melontarkan tanya akibat rasa penasaran yang cukup tinggi.
"Buburnya enak. A-apa kamu sendiri yang bikin?"
Dewa yang tadinya mulai fokus ke layar persegi di tangannya, mengalihkan sebentar pandangannya ke arah Gadis, sebelum akhirnya ia menjawab dengan kembali memainkan game di ponselnya seperti tadi. "Itu bikinan bibik dirumah."
"Ohh.. jadi kamu tadi sempet pulang?"
__ADS_1
"Hmm.. waktu lo masih ngorok."
Gadis mencuramkan alis, melayangkan kalimat protes tidak terimanya. "Aku nggak ngorok!"
"Di bilangin."
"Itu nggak mungkin."
"Lo kan nggak tau. Yang tau kan cuman gue. Lagian.. yang sebelum-sebelumnya juga gitu kok."
"Hah?! yang sebelumnya? Apa maksud kam⸺" Gadis segera mengatupkan rapat bibirnya, saat tau apa maksud ucapan Dewa barusan.
Rupanya Dewa tengah mengungkit saat awal pertama kali mereka tidur seranjang bersama pada waktu itu.
Gadis merutuk diri. Dia malu, dan akhirnya lebih memilih diam tak memperpanjang.
sepuluh menit kemudian...
"Udah?"
Gadis mengangguk, dan Dewa menaruh ponselnya dimeja. Ia berdiri mendekat ke arah nakas. Membereskan mangkuk bubur dan gelas yang sudah kosong. menaruhnya di dapur tanpa mencucinya, Lalu kembali dan menyimpan obat milik Gadis didalam laci nakas.
"Maaf..." cetus Gadis bersuara.
Dewa yang sudah akan berbalik itu, akhirnya urung dan menoleh ke arah Gadis yang masih dalam posisi duduk di atas ranjang.
"Maaf kenapa?"
"Maaf, karena aku udah repotin kamu. Aku waktu itu hanya... nggak tau lagi harus berbuat apa. Aku... bener-bener nggak mau melakukan apa yang disuruh ayah. Terus.. pas aku tau kamu nelfon, tiba-tiba aja aku reflek minta tolong kamu buat datang. aku bener-bener nggak bisa berfikir jernih, karena yang aku fikirin waktu itu cuman gimana caranya agar aku bisa keluar dari rumah."
Dewa yang masih berdiri itu, akhirnya memilih duduk di tepi ranjang. "Gue nggak merasa keberatan sama sekali buat nolongin lo. Jadi lo nggak perlu minta maaf."
"Tapi... aku tetep ngerasa nggak enak sama kamu, Wa."
"Dari pada lo mikirin hal gak penting kayak gitu, mending lo mikirin gimana hidup lo kedepannya."
"Ya, kamu benar. Aku juga harus cepet-cepet nyari pekerjaan paruh waktu yang cocok."
"Kerja paruh waktu? Tapi kan, lo udah punya pekerjaan."
Gadis menatap Dewa dengan serius. "Aku mau berhenti, Wa. Aku... nggak mau terus menerus kerja sebagai wanita malam. Lagipula, dulu aku terpaksa mau melakukan itu juga karena bunda. Karena aku pengen ngumpulin uang buat kesembuhan mata bunda yang memang butuhin biaya gak sedikit. Terus kan sekarang kamu juga udah tau kalau bundaku udah nggak ada. Jadi... buat apa lagi aku kerja kayak gitu?"
Gadis mengangguk yakin. "Aku serius."
****
Juna yang tadi pagi sama sekali tidak melihat Gadis masuk sekolah, memutuskan untuk mencari tau saat istirahat tiba.
Langkahnya tergesa menuju kelas Gadis.
"Rel,"
Aurel mendongak, saat menyadari ada yang memanggil namanya. "Ada apa?"
"Gadis gak masuk hari ini?"
"Seperti yang lo liat."
"Lo tau alasan kenapa dia nggak masuk?"
Aurel mengedikkan kedua bahu. "Gue nggak tau." Aurel lantas memberi saran, "Dari pada lo sibuk nyari tau kenapa Gadis nggak masuk, mending lo nyari tau alasan nggak masuknya Dewa hari ini. Itu lebih baik, ketimbang lo nanyain Gadis. Lagian... lo sama Gadis kan udah putus." Aurel mengingatkan, dengan sibuk memasukkan buku-buku pelajarannya ke dalam tas. Ia berdiri dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan Juna keluar kelas.
Dewa nggak masuk? Batin Juna, sembari melihat ke arah bangku Dewa. Sama sekali tidak ada tas Dewa disana. Kenapa mereka nggak masuknya barengan gitu?! ini cuman kebetulan kan?!
****
⸺rumah⸺
"Bibik lagi bikin apa?" Juna bertanya, apa yang di masak pembantunya saat ini, ketika dirinya melewati untuk mengambil minuman di kulkas dapur.
"Eh, den Juna, ngagetin aja. Ini bibik lagi disuruh den Dewa bikin bubur."
"Dewa lagi dirumah?" tanya Juna lagi, karena memang sedari tadi ia sama sekali tidak melihat Dewa dirumah besar itu.
"Iya den. Barusan banget." Jawab bibik, sembari tetap mengaduk bubur yang belum matang itu diatas kompor yang menyala.
Juna meminum sebentar botol air mineral yang baru saja diambilnya tadi, dan mengembalikannya lagi di kulkas. Ia mendekati bibik lagi untuk mengamati bubur yang dibuatnya. "Bukannya itu bubur yang pernah dibuat bibik waktu aku lagi sakit?"
__ADS_1
"Den Juna tau aja." Katanya dengan tawa ringan. "Iya den, soalnya tadi kata den Dewa, bubur ini buat temennya yang lagi sakit."
"Temannya yang lagi sakit?" ulang Juna, dan bibik menganggukinya. "Siapa bik?"
"Bibik juga nggak tau den. Soalnya nggak nanya juga."
Juna terdiam membatin, temennya siapa? Perasaan tadi semua teman dekatnya pada masuk sekolah. Gak ada yang sakit.
"Udah jadi bik?"
Suara Dewa membuyarkan lamunan Juna.
"Bentar lagi den."
Dewa bahkan mengabaikan keberadaan Juna disana. Ia berjalan melewati untuk membuka pintu kulkas⸺mengambil sekaleng minuman soda untuk mengaliri kerongkongannya yang kering.
"Lo kenapa bolos tadi?" celetuk Juna, melontarkan tanya.
"Gak ada kerjaan lain lo, selain mata-matain gue disekolah?"
"Gue cuman nanya, jawab baik-baik bisa kan."
"Aduh den, udah. Jangan berantem lagi. Bibik kan jadi takut.." peringat sang pembantu, saat menyadari ketegangan antar kedua anak majikannya. Ia lalu buru-buru memasukkan bubur yang kebetulan sudah matang, kedalam sebuah wadah berbentuk kotak⸺yang biasa digunakan untuk bekal makanan. Lalu memberikannya pada Dewa. "Ini den, buburnya udah jadi."
Dewa menerima. "Makasih ya bik." Lalu segera pergi begitu saja meninggalkan Juna yang entah kenapa mulai berpikir curiga mengenai kembarannya.
Jangan-jangan Dewa....
Juna lalu ikut bergegas pergi untuk membuktikan sendiri kecurigaannya pada Dewa.
****
Juna sudah seperti penguntit saja. Ia mengikuti Dewa yang kembali pulang ke apartemennya.
Disaat Dewa sudah akan membuka pintu dengan membawa bungkusan keresek hitam berisi bubur di tangan kirinya, Juna yang sedari tadi mengikuti diam-diam, segera menghampirinya cepat.
Membuat Dewa mengurungkan niat untuk membuka pintu tersebut. "Lo ngapain disini?" tanya Dewa, dengan tatapan tidak suka.
"Emangnya ada yang salah, kalau gue pengen main ke tempat apartemen kembaran gue sendiri?"
"Gue nggak akan ngizinin lo masuk!" ucap Dewa penuh ketegasan.
"Kenapa? lo nyimpen cewek didalam?" Juna menuduhnya telak. Sementara tangan Dewa masih berada di gagang pintu, berjaga jika Juna memaksa masuk seperti waktu itu.
"Apa maksud lo?"
"Gadis! Dia lagi ada didalam kan?!"
"kenapa lo bisa punya fikiran gak jelas kayak gitu? Gue disini sendiri! Nggak ada Gadis didalam! Jadi lo mendingan pergi sekarang dari sini!"
Juna yang merasa yakin dengan kecurigaannya, mengabaikan ucapan Dewa dan tetap kekeh ingin masuk. "Gue akan pergi setelah gue liat langsung!"
Sepulang sekolah tadi, Juna menyempatkan diri ke tempat Gadis, untuk mencari tahu alasan kenapa Gadis tidak masuk. Tentu saja ia melakukan itu karena khawatir. Walaupun Juna tau jika yang merusak hidup Gadis adalah ayahnya, Juna berusaha untuk tetap tenang dengan menanyakan tujuan awalnya. Tapi kedatangannya malah mendapat amarah dari Arman, dan mengusirnya pergi. Arman memberitahu pada Juna jika Gadis sudah pergi dan tidak akan kembali lagi ke rumahnya itu. tentu saja dengan nada bicara yang begitu buruk untuk didengar.
"Ck!" Dewa berdecak kesal. "Kenapa lo masih aja repot ngurusin Gadis? Lo lupa, kalau lo udah mutusin dia?!"
"Itu bukan urusan lo! lagipula.. nggak seharusnya lo manfaatin keadaan Gadis dengan pekerjaannya yang seperti itu! Sampai kapanpun, gue gak akan bisa terima!"
Dewa mengerutkan keningnya dalam dan tertawa, saat mengerti apa maksud yang dikatakan Juna barusan. Rupanya Juna sedang menuduh dirinya menyewa tubuh Gadis seperti waktu itu.
Apa diotaknya hanya ada hal buruk seperti itu mengenai dirinya??
Tawa Dewa, nyatanya kian menyulut amarah Juna. Tanpa banyak bicara, Juna segera membuka pintu dan dihalangi mati-matian oleh Dewa.
"Lo itu budek ya?! gue kan udah bilang kalau Gadis gak ada didalam!"
"Gue bukan bocah, yang akan langsung percaya dengan omong kosong lo itu!"
Juna tetap kekeh memaksa untuk masuk. Terjadilah kegaduhan didepan pintu, dimana Juna yang memaksa masuk dengan mendorong pintu yang sudah terbuka sedikit, sementara Dewa masih bersikeras menarik pintu untuk kembali menutupnya rapat.
Hingga....
BRAKK!!
Pintu berhasil terbuka, dan Juna terdiam mematung ditempatnya.
****
__ADS_1
BERSAMBUNG!