
Sempatkan waktu untuk pencet like sebentar ya guys ^_^
***
Keributan kecil di kantin yang terjadi antara Juna, Gadis dan juga Dewa, nyatanya diketahui betul oleh Sesil yang sedari tadi melihat dikejauhan bersama dua orang sahabatnya, yakni Cindy dan Melly.
Melihat sang pacar Juna yang terang-terangan menunjukkan sikap masih perduli dengan Gadis, jelas saja membuat hati Sesil terbakar api cemburu.
Rasa kesal menyelimuti diri. Ditambah lagi lontaran kalimat mengompori yang ia dengar dari Cindy dan Melly, semakin menambah kekesalannya terhadap Juna saat ini.
Itulah yang membuat Sesil akhirnya memutuskan mengejar Juna yang kini dilihatnya sudah beranjak pergi keluar kantin.
"Juna! Aku mau ngomong sama kamu!" Sesil menarik lengan Juna, menghentikan langkah kakinya.
Ekspresi Juna terlihat malas menanggapi. "Apa? gue lagi males berdebat, apalagi sama lo."
Raut wajah Sesil berubah kesal sekaligus geram. "Kamu tuh kenapa sih masih aja deketin si Gadis. Apa kamu udah lupa sama yang aku bilang kemarin? Kamu fikir aku main-main soal ancamanku buat nyebarin siapa diri Gadis yang sebenarnya, kalau kamu masih aja terus-terusan bersikap kayak gini!"
"....Ingat ya Juna, aku bisa dengan mudah membuat Gadis dikeluarkan dari sekolah, kalau kamu masih seperti ini terus!"
".... Aku ini pacar kamu! dan dia MANTAN kamu! harusnya kamu lupain dia dan lebih perhatiin aku! bukannya malah sibuk ngurusin mantan kamu yang udah jelas-jelas jadi SAMPAH masyarakat itu!"
BRUKK!
Sesil dibuat bungkam, saat Juna tiba-tiba menekan kedua pipinya dan mendorong tubuhya hingga membentur dinding. Sorot mata Juna terlihat begitu tajam menatapnya. Membuat Sesil tertegun takut lantaran sikap Juna ini tidak seperti Juna yang selama ini dikenalnya.
Juna seakan menjelma seperti pribadi yang lain. Sikap kasarnya ini justru lebih mirip seperti... Dewa.
"Udah berapa kali gue bilang, jangan lagi lo hina Gadis, ataupun berbicara buruk tentang dia." Juna kian menekan kuat kedua pipi Sesil. "Satu lagi. Berhenti ngancem gue dengan ancaman murahan lo itu. Karena gue bener-bener muak ngedengernya!" Juna melepas kasar tekanan tangannya di pipi Sesil. Ia berlalu pergi begitu saja meninggalkan Sesil yang kini sudah dalam keadaan kesal setengah mati.
"Gadis sialan!! Awas aja lo. Gue akan balas!!" kesalnya, sembari menahan rasa nyeri di kedua pipinya.
****
Dijam pelajaran akhir yang tengah berlangsung, Gadis yang sedari tadi tengah fokus mendengarkan keterangan sang guru didepan kelas, dikejutkan oleh getar ponsel disakunya.
Diam-diam Gadis mengeluarkan ponselnya dari saku, lalu membuka sebuah pesan masuk yang ternyata dari Dewa.
Nanti pulang bareng gue!
Kening Gadis mengkerut. Ia menoleh sebentar ke arah Dewa⸺yang kini justru tengah memfokuskan pandangannya ke depan⸺sok menyimak apa yang guru terangkan saat ini.
Gadis tidak membalas, dan memilih mengabaikannya. Dilihat dari tulisan yang diakhir kalimatnya terdapat sebuah tanda seru, sangat menjelaskan jika pesan yang dikirim Dewa bukanlah sebuah ajakan, melainkan sebuah paksaan yang harus wajib dituruti.
"Siapa, Dis?" Aurel yang sedari tadi memperhatikan akhirnya bertanya dengan suara pelan dan berbisik ingin tau.
"Bukan siapa-siapa." Jawabnya singkat, lalu kembali menatap depan⸺mendengar apa yang sang guru terangkan sedari tadi.
Mengenai pernyataan Dewa beberapa jam yang lalu, jelas membuat Gadis sampai sekarang masih tidak mempercayainya.
Bagaimana mungkin Dewa bisa menyukai dirinya? Maksud Gadis, bukankah Dewa sudah sangat jelas mengetahui seperti apa kehidupan Gadis?! Lalu.. bagaimana bisa Dewa menaruh hati terhadap perempuan kotor seperti dirinya.
Apa Dewa mengatakan itu semua hanya karena ingin mempermainkannya saja?
Tapi.. jika difikir lagi, tatapan Dewa saat mengutarakan perasaannya beberapa jam yang lalu, terlihat begitu tulus dan serius. Gadis bahkan sempat terbuai. Namun.. Gadis lebih memilih menulikan kata hatinya.
Dua puluh lima menit berlalu, akhirnya bel pulang sekolah terdengar juga. para murid terlihat antusias memasukkan buku-bukunya kedalam tas, begitu sang guru sudah meninggalkan kelas. Suara Gaduh dari para murid yang berebut keluar kelas mulai terdengar. Seolah begitu senang bisa terlepas dari penatnya mata pelajaran yang barusan mereka terima.
__ADS_1
"Rel, beneran mama kamu ngizinin aku buat tinggal dirumahnya beberapa hari?" Gadis bertanya, sembari memperhatikan Aurel yang masih sibuk memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas.
"Iya Dis, beneran. Ya ela, lo udah nanya berapa kali coba?! Atau.. lo mau ngomong sama nyokap gue langsung melalui telfon? Kali aja lo bisa sedikit tenang."
"Eh, nggak perlu, nggak perlu. Ya udah, kalau gitu nanti pulang sekolah aku langsung beres-beresin bajuku."
Aurel mengangguk.
"Ngapain beres-beres baju?"
DEG!
Suara berat dari seorang cowok yang cukup femiliar, membuat Gadis menolehkan kepala ke samping. Mendapati sosok Dewa yang kini sudah berdiri tepat disampingnya dengan raut wajah dingin dan tatapan mengintimidasi.
"Dewa?!"
"Lo mau pergi dari apartemen gue?" lanjut Dewa melontarkan tanya. "Ck! Orang nanya tuh jawab!" Dewa menaikkan nada bicara diikuti oleh satu kali tendangan di kaki meja, lantaran Gadis hanya diam tidak menjawabnya.
Tentu saja apa yang dilakukan Dewa barusan, membuat dua perempuan itu tersentak.
"Iya, Wa. Aku mutusin buat pindah dan tinggal sementara di tempatnya Aurel." Kata Gadis menjelaskan dengan berdiri menyamai Dewa. "Kamu... jangan salah faham dulu. Bukannya aku gak mau ngasih tau kamu. aku sebenarnya udah niat mau ngasih tau, cuman... aku gak sempet bilangnya. Jadi---"
"Lo berusaha ngehindarin gue ya?" tebak Dewa, membuat Gadis yang tadinya menunduk, seketika menatap Dewa dengan cepat lantaran ucapan Dewa yang memang diakuinya tepat sasaran.
Bukannya tanpa alasan, Gadis melakukan itu karena tidak ingin membuat dirinya canggung. Apalagi jika Gadis tetap memutuskan tinggal di apartemen Dewa hanya berdua. Ia juga tidak ingin merepotkan Dewa terlalu lama.
"Bukan, Dewa. Aku bukannya mau ngehindari kamu. aku cuman nggak mau aja repotin kamu terlalu lama."
"Siapa bilang lo ngerepotin gue?" pertanyan Dewa, membuat Gadis seketika bungkam.
"Gue yang akan tanggung jawab! Lagian, siapa murid disekolah ini yang berani macam-macam sama gue?!" Dewa bertanya angkuh. Membuat Aurel membatin kesal. Ish! Nih cowok ngeselin banget sih! tangan gue jadi gatel pengen njitak.
"Pokoknya, gue gak ngizinin lo pergi. Dan lo tetap tinggal diapartemen gue!" kata Dewa, tak ingin dibantah.
"Emangnya siapa elo, sampai larang-larang Gadis seenak jidat!" Aurel segera membungkam mulutnya rapat dengan kedua tangan, saat menyadari kebodohan dirinya dengan melontarkan kalimat semacam itu. Aduh! Bego banget sih gue. ngapain coba gue ngomong begitu tadi. rutuk Aurel dalam hati.
Dewa menajamkan mata pada Aurel, membuat nyali Aurel kian semakin menciut. "Gadis udah setuju buat jadi pacar gue. Jadi apapun yang gue larang, dia nggak boleh ngebantah! Karena gue gak suka dibantah!"
Lalu Dewa menarik tangan Gadis begitu saja keluar kelas.
Aurel terperangah tak percaya mendengar itu semua. "What?! Gadis setuju buat jadi pacarnya?? Gue nggak salah denger kan?!"
****
"Dewa, lepas!"
Dewa menulikan telinga, sama sekali tidak mengindahkan keinginan Gadis dan malah tetap terus menarik lengan tangan Gadis menuju parkiran. Memaksanya pulang besama.
"Aku bilang lepas, Dewa!" dengan tenaga ekstra, Gadis menyentak cekalan tangan Dewa hingga terlepas begitu saja.
"Kamu tuh kenapa sih?! suka banget maksa aku kayak gini?! Tadi juga, apa maksud kamu bilang ke Aurel, kalau aku setuju buat jadi pacar kamu?"
"Emang lo udah setuju kan?!"
"Kapan aku ngomongnya? Aku nggak pernah bilang iya."
"Tapi lo udah nyium gue waktu di kantin. Itu gue anggap persetujuan." Dewa menjawab santai
__ADS_1
"Kamu gila ya! Itu nggak ada hubungannya! Waktu itu kan aku cuman---"
Cup!
Gadis bungkam, bola matanya membulat lantaran terkejut, saat Dewa lagi-lagi melayangkan sebuah ciuman singkat di bibirnya. Dan Dewa melakukannya di parkiran! DI PARKIRAN!! Apa dia sudah gila?!
Bagaimana jika ada sepasang mata yang melihat apa yang dilakukan Dewa barusan padanya?! Gadis heran, apa Dewa sedikitpun tidak memiliki rasa malu, atau... urat malunya benar-benar sudah putus?
"Kamu udah gila ya??" pekik Gadis, dengan suara tertahan. Ia menutup bibir menggunakan punggung tangan sekaligus menatap horor ke arah Dewa. Gadis tidak menyangka, dalam sehari, Dewa sudah menciumnya sebanyak tiga kali.
"Mangkanya, jadi pacar jangan bawel." Cetus Dewa, sembari memasangkan helm di kepala Gadis. Dewa hanya membawa satu helm, dan dia lebih memilih Gadis yang memakainya.
"Cepetan naik!" titah Dewa, membuat Gadis hanya bisa pasrah dan menurut untuk menaiki motor Dewa.
Selama perjalanan, hanya keheningan yang menyelimuti. Sama sekali tidak ada obrolan. Yang membuat Dewa kesal adalah, saat Gadis tidak sedikitpun berpegangan pada pinggangnya. Ck! Apa hal seperti ini saja Dewa harus menyuruhnya?!
"Gue mau ngebut." Cetus Dewa memberitahu Gadis, yang sayangnya tidak cukup jelas didengar cewek itu.
"Apa?"
Tanpa menyahut, Dewa sudah menambah kecepatan laju motor, dan membuat Gadis reflek melingkari pinggang Dewa cukup erat.
"Pelan-pelan Dewa! nggak usah ngebut! Aku takut." Gadis memperingatinya dari belakang.
"Pegangan yang kenceng, kalau takut." sahut Dewa, dengan tersenyum miring.
Gadis mencuramkan alisnya sebal, saat menyadari sesuatu. "Kamu sengaja ya, biar aku peluk kamu."
"Lo juga seneng kan bisa meluk gue?!" balas Dewa dengan entengnya. Dan Gadis memilih diam tidak menaggapi. Menurutnya, menanggapi Dewa hanya akan membuatnya kesal sendiri. Jadi Gadis lebih memilih diam. Biarlah Dewa bertindak semaunya.
Dan ya, pada akhirnya Dewa menormalkan kembali laju motornya. Melintasi sebuah jalanan yang memang lengang.
"WOI!! BERHENTI!"
Teriakan itu berasal dari dua orang pengendara motor berboncengan. Dewa menoleh sekilas dua orang berpenampilan preman tersebut. Lalu mendahului mereka dan sama sekali tidak meperdulikannya.
Gadis berusaha memperingati, "Dewa, mendingan kamu ngebut lagi kayak tadi."
Ciiiiittt!!
Belum sempat Dewa menyahuti perkataan Gadis, motor yang dinaiki dua orang preman tadi, sudah berhenti didepan⸺menghadangnya. Untung saja Dewa sigap menarik rem tangan untuk berhenti.
"Woi! Turun lo berdua!" ucap salah seorang preman yang baru saja turun dan menunjuk ke arah Gadis dan Dewa.
Gadis mencengkram kuat jaket dibagian pinggang Dewa.
Dewa yang menyadari ketakutan Gadis, lantas melontarkan tanya memastikan.
"Lo kenal mereka, Dis?"
Gadis mengangguk sekali, dengan ekspresi takutnya.
"Me-mereka anak buahnya mami."
****
BERSAMBUNG
__ADS_1