
Klik like sebelum membaca...
Happy reading...
****
"Kenapa lo nggak pernah cerita apapun soal masalah lo ini ke gue, Dis?? Bukannya kita udah sahabatan lama?" tanya Aurel, saat baru saja mendengar keseluruhan alasan Gadis bisa melakukan pekerjaan semacam ini, apalagi diusianya yang masih sekolah.
"A-aku.. malu kalau nyeritain hal beginian ke kamu, Rel." Kata Gadis, dengan menunduk memainkan jari-jari tangannya. "Bukannya ini merupakan aib, yang harusnya memang kututup rapat dari siapapun juga, termasuk kamu."
Keduanya kini berada diluar klub malam, menjauh sebentar dari keriuhan dan kerasnya musik DJ yang menghentak dari dalam sana.
"Tapi sebagai sahabat, harusnya lo ngasih tau semua masalah yang menghimpit kehidupan lo ke gue, Dis! Siapa tau gue bisa bantu kan?! Tapi lo malah milih rahasiain semua ini dari gue."
Jujur saja, Aurel sebenarnya sangat kecewa dengan yang dilakukan Gadis. Ia juga masih tidak percaya dengan kenyataan bahwa sahabat dekatnya selama ini bekerja sebagai seorang cewek panggilan. Jangankan mempercayainya, membayangkannya saja tidak.
"Maaf... aku cuman nggak pengen kehilangan sahabat terbaik seperti kamu."
Aurel menatapanya tak percaya. "Kehilangan?? Lo takut gue nggak mau temenen sama lo lagi, setelah gue tau siapa lo yang sebenarnya, iya??"
Gadis mengangguk takut-takut.
"Jadi lo menilai pertemanan gue ke elo serendah itu??"
"Bu-bukan---"
"Dis, lo tau... gue sebenarnya kecewa banget sama lo. Apalagi setelah kita sekian lama temenan, lo baru cerita dan ngasih tau semua ini ke gue, itupun karena udah ketahuan. Gue pikir.. diantara kita gak ada rahasia sekecilpun. Tapi nyatanya gue salah."
Gadis kian semakin menunduk dalam. "Sekarang kamu udah tau semuanya kan. Jadi... silahkan kalau kamu mau pergi dan memutuskan untuk nggak berteman lagi sama aku. Aku bakalan ngerti."
Air mata Gadis sudah menggenang dipelupuk dan bersiap akan terjatuh. Didetik itu, gadis bisa merasakan tubuhnya dipeluk erat oleh...
Aurel.
"Sekali lagi lo ngomong begitu, gue pastiin gak akan ada kata maaf kedua kalinya buat lo. ngerti nggak?!"
Gadis tidak menjawab. Ia hanya menangis haru dengan membalas pelukan Aurel.
"Gue bukan Juna, Dis. Pertemanan kita nggak akan berakhir cuman karena hal seperti ini."
****
Gadis pulang ke rumah tepat dijam tiga pagi. Saat ia membuka pintu rumahnya, ia terkejut karena rumahnya dalam keadaan tidak terkunci.
Walaupun ini bukanlah kali pertama ia pulang dan mendapati rumah dalam keadaan tak terkunci, tetap saja Gadis tidak bisa mentolerir sikap teledor ayahnya yang lagi-lagi seperti ini.
"Kebiasaan banget, ayah. Padahal aku udah bilang berkali-kali buat ngunci pintu kalau keluar."
Gadis melangkah masuk dan menutup pintu, ia menaruh tas secara asal di kursi ruang tamu. Tubuhnya terasa lelah. Ingin sekali ia merebahkan tubuhnya segera diatas ranjang. Tapi rasa lapar diperut, memaksanya untuk mengurungkan niat awalnya tadi. Ia lantas berjalan kedapur, membuka tudung penutup makanan. Sama sekali tidak ada apapun disana. Nasi juga sudah habis. Padahal perutnya sangatlah lapar.
"Apa aku beli mie instan aja ya ke warung kopi yang didepan? Perasaan tadi masih buka." Katanya berbicara sediri.
Ia lalu mengambil sedikit uang miliknya didalam tas yang diletakkan di kursi ruang tamu. Keadaan rumahnya begitu sepi, tadi dia sempat melihat ke kamar ayahnya yang terbuka sedikit. rupanya ayahnya tidak sedang dirumah.
Gadis tidak memperdulikan keberadaan ayahnya. Biasanya jika jam segini ayahnya tidak dirumah, itu berarti ayahnya pasti tengah mabuk di tempat biasa dia main judi.
Saat sudah mengambil uang, Gadis berjalan masuk ke kamar untuk menaruh tas miliknya itu didalam sana. Namun saat sudah keluar, netranya membelalak saat mendapati pintu kamar ibunya sudah dalam keadaan tidak digembok seperti biasanya.
"Bunda..." segera saja Gadis bergegas menghampiri untuk mencari tau. Ia semkain panik saat melihat ibunya sudah tidak ada di dalam kamar tersebut. Yang ia lihat hanyalah rantai kaki yang teronggok begitu saja di lantai.
"Bunda! Bunda!" Gadis berteriak memanggil-manggil ibunya, dengan mengedarkan matanya ke sekeliling ruangan. Lalu ia segera keluar, memeriksa tiap sudut ruangan dirumah kecilnya, termasuk didalam kamar mandi. Tetap saja ibunya tidak ada dimanapun.
Gadis mulai panik setengah mati. Ia terlihat khawatir dan takut jika ibunya pergi keluar rumah. Karena pasti itu akan menyulitkannya untuk mencari.
"BUNDA......!!"
"Bunda dimana, jangan bikin Gadis khawatir kayak gini." racau Gadis, mulai frustasi.
****
Pukul 06.29
__ADS_1
Gadis terlihat sangat kacau. Sudah berjam-jam Gadis mencari-cari ibunya, tapi belum juga ketemu. Ia lelah sekaligus pusing. Rasa kantuk coba diabaikannya.
Entah sudah berapa orang tetangganya yang ia tanyai, tapi tidak ada satupun yang mengetahui atau melihat keberadaan ibunya.
"Kenapa tuh muka? Udah kayak orang yang punya utang banyak aja lo." Arman baru saja pulang dengan kondisi sedikit mabuk, namun lelaki itu masih bisa mengontrol tubuhnya untuk bisa berjalan dengan benar. Dan pertanyaan itu tercetus, kala ia melihat Gadis yang hanya duduk diam di kursi ruang tamu dengan raut pucat dan wajah sembabnya.
Suara itu membuat Gadis menoleh cepat, lalu berdiri. "Ayah sebenarnya dari mana aja?? Kenapa telfonku nggak ayah angkat??"
"Ck! Gue sibuk. Lagian lo ngapain nelfonin gue mulu? Kurang kerjaan banget."
"Bunda hilang, ayah! Aku udah nyariin bunda kemana-mana, tapi bunda gak ketemu."
"Oh.. gue kirain apaan." Respon Arman, sembari berjalan masuk melewati Gadis begitu saja ke kamarnya.
Gadis melihatnya dengan ekspresi tak percaya sekaligus kesal. "Ayah!! Aku bilang kan tadi, Bunda hilang! Apa ayah gak denger??" tanyanya, saat sudah mengikuti Arman di ambang pintu.
"Gue denger. Gak usah teriak bisa gak!"
"Kalau gitu kenapa ayah gak coba nyari Bunda??"
"Nyari kemana emangnya?? Lo ajalah yang nyari. Gue capek baru pulang."
Gadis mengepalkan tangan menahan rasa kesal didalam diri. "Kenapa ayah nggak bisa sedikit aja perduli sama bunda. Dia itu kan istrinya ayah. Harusya ayah panik dan ikut nyari. Bukannya malah tenang-tenang begini!"
BRAKK!
Arman menendang pintu lemari pakaian, akibat jengah mendengar ocehan putrinya itu. "Bisa diem nggak?! Orang tua baru pulang bukannya disuruh makan, ini malah ngoceh nggak jelas. Mau gue gampar lo. hah??"
Gadis diam. Ada sedikit rasa takut saat ayahnya mengatakan hal itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, Gadis berbalik keluar. Tidak mau mendapat amukan dari sang ayah. Lagipula percuma juga ia berdebat dengan ayahnya yang memiliki watak seperti itu.
"Heh, mau kemana lo?" tanya Arman, membuat langkah Gadis terhenti.
"Nyari bunda." Jawabnya singkat tanpa menoleh.
Arman mendekat menghampiri, "Sebelum lo pergi, bagi duit dulu." Ucapnya, sembari menadahkan tangan dan menggerakkan jari tangannya dua kali, supaya Gadis segera memberinya uang yang dimaksud.
Gadis menatap ayahnya dengan perasaan kesal setengah mati. Masih sempat-sempatnya ayahnya itu memikirkan uang di situasi genting seperti ini?!
"Buruan! Malah melotot. Gue congkel mata lo baru tau rasa!" katanya sembari mendorong bahu Gadis, tidak sabar.
"Nah... gitu dong. ini namanya anak yang berbakti." Ujarnya, sembari mencium aroma beberapa lembar uang ditangannya, lalu pergi memasuki kamar untuk memejamkan mata akibat rasa kantuk yang mendera. Arman bahkan tidak mau repot memikirkan istri gilanya yang memang sengaja dia buang ke jalanan tanpa sepengetahuan Gadis.
Bunyi ponsel milik Gadis yang dia taruh didalam tas, segera diangkatnya.
"Kenapa Rel?"
"Dis, lo bilang tadi nyokap lo hilang kan?"
"Iya. Dan sampai sekarang belum ketemu."
"Dis, coba lo liat TV sekarang!"
"Liat tv?? Buat apa?"
"Udah, gak usah banyak nanya. Pokoknya liat aja! Buruan!"
"I-ya."
Gadis menyalakan TV tanpa menutup panggilan telfonnya.
"Semalam, sebuah truk bermuatan kayu yang melintas dijalan xxx menabrak seorang wanita buta yang diperkirakan memiliki gangguan kejiwaan. Sang korban tewas di tempat, sementara sang supir truk menyerahkan diri dari amuk masa ke kantor polisi. Hingga kini polisi masih mengidentifikasi korban di...."
Lutut Gadis seketika lemas, ia bahkan sampai jatuh bersimpuh, saat mendengar ciri-ciri korban tabrakan yang sama persis seperti ibunya.
"Dis! Gadis! Halo! Dis, lo masih disana kan?"
"Rel, bilang kalau yang diberita itu bukan bundaku." Kata Gadis, dengan tangis yang mulai pecah.
"Sabar ya Dis, gue juga berharapnya begitu. Tapi kita baru tau kalau udah mastiin sendiri ke rumah sakitnya. Lo tungguin gue ya, gue akan jemput lo ke rumah. kita berangkat ke rumah sakit sama-sama. Sabar ya Dis..."
****
__ADS_1
*Rumah sakit*
Setelah mengetahui letak dimana kamar jenazah yang di Maksud, Gadis dan Aurel segera berlari menuju ruangan, guna mengenali dan mencari tau sendiri siapa korban tersebut.
Pintu jenazah yang terbuka separuh, membuat Gadis dan Aurel masuk begitu saja. Rupanya didalam sana sudah ada seorang suster dan juga dua orang cowok berseragam sekolah yang cukup dikenalnya.
"Dewa, Juna? Kalian.. kenapa bisa ada disini??" Tanya Gadis dengan raut bingungnya.
Kedua cowok tersebut hanya diam, saling melempar pandangan pada Aurel. Menyadari sesuatu, Gadis menoleh pada Aurel dan bertanya, "Rel, Jangan bilang kamu..."
"Maaf Dis, pas lo bilang nyokap lo hilang, gue juga ngasih tau Juna buat bantu nyari." Yang dikatakan Aurel memang benar. Bahkan ia juga memberitahu semuanya pada Juna, mengenai alasan Gadis bisa bekerja sebagai cewek bayaran selama ini.
Tentu saja tidak mudah bagi Juna untuk memahami semua hal yang menimpa Gadis. Tapi Aurel dengan usaha kerasnya, mencoba meyakinkan Juna untuk tidak membenci Gadis. Menyuruh Juna membayangkan diri berada di posisi Gadis yang seperti itu. Jelas diakui Juna memang sangatlah sulit.
Dan Juna sadar, bahwa perkataannya selama ini sudah sangat keterlaluan.
Sementara alasana Dewa yang juga berada disana, tentu saja karena tidak sengaja mendengar obrolan Juna di telfon bersama Aurel, ketika tengah sarapan bersama dimeja makan rumahnya.
Jadi Juna juga ikut nyari bunda? Batinnya penuh tanya, sembari sejenak mengarahkan pandangan pada Juna, lalu segera teralih saat pandangan keduanya saling bertemu.
Karena sudah terlalu lelah dengan semua ini, Gadis tidak lagi mempermasalahkan kehadiran Dewa dan Juna di ruangan tersebut. ia hanya ingin cepat-cepat mengetahui siapa korban tabrakan yang ia lihat diberita tadi.
"Suster, saya mau lihat korban tabrakan yang semalam. A-apa benar korbannya itu.. buta?" tanya Gadis pada sang suster yang berdiri tepat disampingnya.
"Oh, iya. Korbannya memang buta, dan jenis kelaminnya perempuan. Usianya diperkirakan sekitar 40 tahunan lebih. Ini jenazahnya, silahkan melihatnya sendiri untuk memastikan." Sang suster menunjuk seorang jenazah yang keseluruhan tubuh dan wajahnya tertutup kain putih.
Gadis mendekat ragu. Jantungnya seakan berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia berharap... jenazah itu bukanlah ibunya.
"Dis, lo yakin mau ngelihatnya sendiri?" tanya Dewa sembari menahan lengan Gadis yang sudah bersiap menyingkap kain putih tersebut.
"Memangnya kenapa?"
"Sebaiknya kamu gak membuka penutup kain itu, Dis." Kali ini giliran Juna yang bersuara.
Gadis mengernyit. "Kenapa kalian berbicara seolah-olah udah melihatnya duluan?" tanyanya, "Apa kalian udah..."
"Dis, jangan buka kainnya. Gue gak yakin kalau lo akan---"
"Lepas!"
Tatapan tajam yang dilayangkan Gadis pada Dewa, membuat cowok itu akhirnya melepaskan cekalan tangannya dari Gadis.
Gadis menggerakkan turun kain yang menutupi bagian kepala dengan perlahan dan juga gemetaran. Bahkan hanya membuka kain saja, keringat dinginnya sudah mengucur dengan begitu deras.
Hingga pada saat kain yang menutupi wajah itu tersingkap seluruhnya, barulah tangis gadis pecah seketika.
"Bunda.....!!" Gadis terisak. Dadanya terasa sesak didetik itu juga. Menyadari orang yang terbujur kaku dibalik penutup kain putih itu adalah ibunya, jelas membuat Gadis menangis sejadinya. Rasa kehilangan begitu menyayat hatinya.
Aurel berusaha menenangkan Gadis yang kini memeluk tubuh tak bernyawa itu dengan tangis yang kian tak terbendung. Hal yang sama juga dilakukan Dewa dan Juna.
"Udah, Dis. Udah! nggak baik lo nangisin bunda lo sampai kayak gini." Aurel memegang kedua bahu Gadis, membawanya kembali berdiri. Tangannya tidak henti-hentinya memberi usapan dibahu kiri, berharap bisa menenangkan Gadis dari tangisnya.
"Iya, Dis. Kasian bunda kamu." Juna ikut menenangkan Gadis agar berhenti menangis. Walaupun diyakininya pasti sangatlah sulit.
Gadis yang mengingat, jika ibunya itu meninggal akibat sebuah truk yang menabraknya, akhirnya kembali menggerakkan tangannya yang gemetaran itu, untuk membuka keseluruhan kain putih yang menutupi tubuh tak bernyawa didepannya. Ia hanya ingin memastikan kondisi tubuh ibunya dengan mata kepalanya sendiri.
"Dis, udah! lo mau ngapain lagi??" Dewa, kembali mencekal tangan Gadis, supaya tidak menyingkap keseluruhan kain putih yang menutupi tubuh tersebut.
Dengan sesenggukan dan wajah yang sembab akibat tangisnya, Gadis berusaha memperingati Dewa. "Nggak usah ikut campur, dan lepasin tanganku!"
"Lo udah tau kalau ini bunda lo. Lo nggak perlu buka penutup kain ini lagi."
"A-aku... cuman pengen mastiin sendiri gimana kondisi bundaku yang sebenarnya."
"Itu sama sekali gak perlu, Dis." Dewa tetap berusaha menahan pergerakan tangan Gadis.
"Please... Dewa..." pintanya dengan lirih dan tatapan mata yang memelas penuh genangan air mata.
Kalau sudah begini, Dewa tidak bisa berbuat banyak dan akhirnya melepaskan tangannya yang menahan lengan Gadis. Membiarkan Gadis itu berbuat sesuai keinginannya.
Dan akhirnya, tubuh Gadis terjatuh akibat kehilangan kesadaran. Nyatanya ia tidak kuat melihat kondisi tubuh ibunya yang begitu mengenaskan dan sudah tidak utuh lagi.
__ADS_1
*****
BERSAMBUNG...