
Klik like sebelum membaca😘
****
Bug!
Satu pukulan mendarat tepat di pelipis kiri Kristian.
Cowok itu tidak tinggal diam. Ia juga mengepalkan tinjunya kuat-kuat dan membalas pukulan Dewa sama kencangnya.
Seruan dari teman-teman Kris dan juga teman-teman Dewa, terdengar menggema diseputaran bangunan bekas supermarket yang sudah lama terbengkalai itu.
Kedua belah pihak nampak memberi support pada masing-masing temannya yang kini nampak berkelahi ditengah mereka.
"Ayo wa, hajar si *** itu. Jangan kasih ampun!"
"Kalau perlu mampusin aja sekalian!" Imbuh teman Dewa yang lainnya.
Sementara teman Kris juga tak kalah untuk memberi dukungan.
"Hajar Kris! Ya! Terus!! Mampus lu!"
Keberadaan keempat teman Dewa di sana, tentu saja karena Dewa sendiri yang menghubungi dan menyuruh mereka supaya cepat datang.
Mengingat watak licik Kristian, tentunya Dewa tidak ingin mengambil resiko. Apalagi ia tengah bersama Gadis.
Semuanya Dewa lakukan untuk jaga-jaga, jikalau teman-teman Kristian mempunyai pikiran licik untuk menyerangnya dengan keroyokan.
Ya, semua itu mungkin saja bukan?! Mangkanya Dewa tidak ingin mengambil resiko tersebut.
Gadis terlihat tegang, apalagi saat melihat Dewa tersungkur jatuh dan mendapat tendangan dibagian perutnya berulang kali.
Biarpun ia tadi sempat kesal dan marah pada Dewa, lantaran cowok itu seenaknya sendiri menjadikan dirinya sebagai bahan taruhan bersama Kris, tetap saja melihat kondisi Dewa yang terdesak seperti itu, membuatnya khawatir.
"Udah, gak perlu khawatir kali. Si Dewa itu pasti menang. Dia itu jago berantem." Cetus Gery yang berdiri disisi kanan Gadis. Ia menyadari raut khawatir diwajah Gadis saat ini.
"Betul. Lagian cuman ngadepin si Kristian doang, kecil lah buat Dewa." Bastian menyahut, sembari menyentilkan jari.
"Apalagi si Kris itu sering banget kalah dari Dewa. Ya gak bro?" Rama melontarkan pembenaran pada Edo disampingnya. "Yoi."
"Siapa juga yang khawatir. Sok tau banget." Elak Gadis, yang tidak ingin jika teman-teman Dewa berfikiran yang tidak - tidak tentangnya.
Lalu Gadis kembali memfokuskan pandangannya ke dua orang yang masih bergelut dengan tinju masing-masing.
Tanpa sadar, senyum Gadis mengembang melihat Dewa yang berhasil mengambil alih keadaan.
Bug! Bug! Bug!
Pukulan bertubi-tubi itu dilayangkan Dewa tanpa henti, dengan posisi Dewa diatas-menduduki tubuh Kristian.
Tentu saja keempat teman Dewa menyadari raut wajah Gadis saat ini. Keempat teman Dewa saling melempar pandangan satu sama lain. Seolah dikepala mereka saat ini terdapat satu pemikiran yang sama.
****
Kekalahan membuat Kristian dan teman-temannya pergi meninggalkan tempat itu dengan kekesalan dihati masing-masing.
Walaupun sempat terjadi cekcok susulan antara teman dari kedua belah pihak, untungnya itu tidak terjadi lama dan bisa dengan cepat ditengahi Gadis, yang mengancam akan menghubungi polisi disaat itu juga.
"Harusnya kalian jangan mudah terpancing emosi kayak gitu." Nasehat Gadis, yang bahkan masih terlihat jelas raut khawatir di wajahnya.
"Kita juga gak bakalan kepancing emosi, kalau mereka gak mulai duluan." Gery menyahut dengan menahan nyeri di pipi, lantaran tadi sempat terkena satu kali tinju dari salah seorang teman Kristian.
"Bener banget. Lo liat kan tadi gimana gak terimanya mereka waktu kalah?! Mereka emang gitu, kalau kalah pasti main keroyokan kayak tadi." Edo menimpali.
"Untung Lo inisiatif hubungin kita buat datang kesini, Wa." Bastian bersuara, "Jadi kita-kita bisa ikut ambil tindakan waktu komplotannya si Kris ikut berulah."
__ADS_1
Ya, Gadis juga bersyukur Dewa memiliki inisiatif untuk menghubungi teman-temannya seperti ini. Setidaknya situasi jadi terkendali. Walaupun tidak sepenuhnya.
"Tapi Dis, gue gak nyangka ya, kalau ternyata Lo itu bisa di booking." Edo tersenyum miring. "Kalau gitu Lo gak bakalan nolak dong, kalau kapan-kapan gue ngajakin buat -"
Bugh!
Ucapan Edo terhenti, saat Dewa melayangkan tinjunya kuat tepat mengenai sudut bibirnya hingga tubuhnya terhuyung mundur dua langkah.
Membuat ketiga temannya yang menyaksikan terkejut melihatnya. Begitu juga dengan Gadis yang tak kalah terkejutnya.
"Lo Ngapain mukul gue, Wa!" Teriak Edo melontarkan protes, dengan tangan yang masih memegangi nyeri di sudut bibirnya.
"Jaga omongan lo. Jangan pernah sekalipun lo mikirin hal kotor tentang Gadis. Atau gue gak akan segan matahin rahang lo sekarang juga."
****
"Ck! pelan-pelan bisa gak?!" protes Dewa yang merasa jika Gadis terlalu menekan kuat luka dan lebam di wajahnya.
Gadis tidak perduli. Posisi duduknya yang saling berhadapan dengan Dewa di ranjang apartemen, sedikitpun tidak beranjak, dan malah sangat dekat hingga masing-masing dari mereka bisa merasakan hangat dari hembusan napas keduanya.
"Aku udah pelan. Kamunya aja yang gak bisa nahan sakit." ujar Gadis, tanpa sedikitpun menghentikan gerakan tangan.
Ia lalu menaruh kembali botol alkohol, dan beralih mengoleskan salep untuk mempercepat penyembuhan lebam di wajah Dewa.
"Tahan.. dikit lagi selesai." kata Gadis, saat kembali mendapati Dewa yang lagi-lagi meringis menahan rasa sakit seperti tadi.
Dengan posisi yang begitu dekat seperti itu, Dewa diam-diam memperhatikan lekat lekuk wajah Gadis yang beberapa hari belakangan selalu mengganggu tidurnya.
Garis hidung, alis, mata, bahkan bibir, entah kenapa baru disadari Dewa begitu menyihirnya.
Bahkan warna bibir merekah Gadis yang terpampang jelas didepannya, seketika memunculkan bayangan saat mereka berciuman dan melakukan pergumulan panas diatas ranjang kala itu.
"Kenapa kamu harus repot ngelakuin taruhan dengan Kris, sampai seperti ini? Apa untungnya buat kamu?" tanya Gadis, disela pergerakan tangannya yang masih mengoles salep dilebam Dewa. "Lagian.. bener apa kata Kris, kamu kan bisa makek aku setelah dia selesai."
"Kalau gue bilang alasan yang sejujurnya, apa lo akan percaya?" Dewa bertanya balik, dengan makin menatap lekat Gadis dan malah membuat pandangan keduanya beradu cukup lama.
tatapan dari kedua bola mata Dewa yang tiba-tiba serius itu, entah kenapa membuat Gadis berdebar. Apalagi dengan jarak keduanya yang memang sangat dekat.
Alih-alih menjawab, Gadis justru hanya diam terpaku. Hingga suara Dewa kembali terdengar, dan membuyarkan keterdiamannya.
"Karena gue gak suka. Dan gue gak mau bayangin lo tidur sama dia."
Gadis mengerutkan alis tidak mengerti. "Kenapa?"
"Pikir sendiri."
Gadis mendengus. Apa maksudnya sih? Batinnya kesal. Ia lalu menyudahi dan membereskan peralatan yang digunakan untuk mengobati lebam di wajah Dewa barusan. Menaruhnya kembali ke laci nakas.
"Soal temen-temen kamu gimana? Mereka kan udah tau siapa aku. Apa kamu bisa nyuruh mereka buat---"
"Jaga rahasia?" tebak Dewa, dan Gadis mengangguk.
"Tenang aja. Selama gue gak nyuruh mereka buat buka mulut, mereka akan tetap diam."
"Jadi maksud kamu, kamu masih ada niatan buat nyebarin ke temen-temen satu sekolah, mengenai profesi aku?"
"Tergantung elonya. Kalau sikap lo manis ke gue, gue juga gak ada alasan buat bocorin hal ini ke mereka kan?!"
Gadis berdecak kesal. Sembari membatin. Aku fikir dia udah berubah sedikit baik. Nggak taunya sama aja.
Karena kesal, Gadis lantas mengambil tas yang ia taruh asal di sofa panjang.
"Mau kemana?" Tanya Dewa, saat melihat Gadis menyandang tas di satu bahunya.
"Pulang. Lagian, buat apa juga aku lama-lama disini sama kamu." jawab Gadis ketus, tanpa sedikitpun menoleh ke arah Dewa.
__ADS_1
"Tunggu bentar!" Dewa beranjak dari duduknya, dan mengambil beberapa uang yang ditaruhnya didalam laci bagian atas. "Buat lo." menyodorkan uang tersebut pada Gadis, Namun Gadis tidak segera menerima dan hanya diam melihat.
"Ambil!" Membuat Dewa menarik tangan dan memaksa Gadis menerima uang tersebut. "Ini uang buat lo, yang gue janjiin tadi."
Gadis tidak menyangka jika Dewa benar-benar memberinya uang tiga kali lipat. Gadis fikir Dewa hanya membual.
Tapi... bukannya dengan menerima uang ini, itu berarti Gadis harus melayani Dewa terlebih dahulu?
"Oh ya, kalau lo mau pulang, tungguin bentar disini. Gue akan pesenin lo taksi dulu." Kata Dewa, lalu merogoh saku celana⸺mengambil ponselnya untuk memesan taksi.
"Gak perlu."
"Kenapa?"
Gadis menaruh kembali tas yang disandangnya tadi ke kursi sofa. "Aku nggak jadi pulang."
Dewa menaikkan satu alisnya tak mengerti. Lalu kemudian tertawa kecil, "kenapa nggak jadi? Lo mau nginep sini?" candanya.
Bukannya menjawab, Gadis justru berkata, "Uang ini... aku nggak akan balikin lagi ke kamu. Karena aku bener-bener butuh uang ini."
"Emangnya siapa yang minta balikin? Gue kan udah kasih uang itu buat lo."
"Tapi aku juga nggak mau punya hutang budi sama kamu."
Dewa tersenyum tipis dengan kepalanya yang menunduk sebentar dan kembali terangkat menatap Gadis. "Terus??"
Gadis diam. Mengalihkan pandangan agar tidak bertemu dengan iris mata Dewa yang kini justru lekat menatapnya.
Tanpa menjawab, Gadis kini sudah menggerakkan tangan naik. Membuka satu persatu kancing baju sekolahnya dari atas ke bawah.
Lagi-lagi Dewa tersenyum simpul. Mengerti apa yang akan dilakukan Gadis selanjutnya. "Lo serius mau lakuin ini?"
"Ya. Kenapa enggak?! Bukannya kita sebelumnya udah pernah melakukan ini?!" gerakan tangan Gadis yang membuka satu persatu kancing bajunya itu, kini sudah sampai setengah jalan. Dan semua kancing itu sudah akan terbuka seluruhnya.
Jangan tanyakan bagaimana reaksi Dewa melihat itu. Cowok itu masih tetap tenang menatap, namun jika boleh jujur, didalam dirinya justru tengah bergejolak birahi yang sedari tadi berusaha ditahannya. Apalagi miliknya yang sensitif dibawah sana perlahan mulai menegang.
Sial.
Cowok normal mana yang akan tahan, jika melihat cewek didepannya dengan suka rela membuka baju. Menyuguhkan hal indah di balik balutan baju yang dikenakannya. Apalagi perempuan itu adalah seseorang yang beberapa hari belakangan selalu mengganggu tidur lelapnya.
Dewa mendekatkan diri ke arah Gadis. Mengikis jarak antara keduanya. Jemarinya bersentuhan dengan jemari Gadis, dan perlahan tergerak naik menyusuri lengan dan berakhir pada bahu yang masih tertutup oleh baju. Dewa lantas menyingkapnya turun. Terpampang tali bra yang kemudian juga ia tarik turun.
Tangan Dewa berada tepat di leher samping Gadis. Bergerak pelan ke arah tengkuk belakang dengan netra yang tak sedikitpun teralih dari bibir mungil Gadis. Mendekatkan wajah dengan hati-hati. Dan selanjutnya Dewa memagut bibir, melumatnya pelan dengan mata terpejam. Gadis membalasnya dengan melakukan hal yang sama.
Tangan Dewa yang tadinya hanya diam dibelakang tengkuk, kini berubah memberi sedikit tekanan yang memperdalam ciuman mereka.
Hingga suara nyaring bel pintu apartemennya, membuat Dewa mengumpat sejadinya dalam hati, lantaran cukup mengganggu aktifitasnya saat ini bersama Gadis.
Dewa pun terpaksa menarik diri untuk membuka pintu. "Bentar ya?"
Gadis mengangguk pelan tanpa menatap netra Dewa. Saat Dewa berjalan ke arah pintu, barulah Gadis mulai membenarkan kembali tali bra yang sempat ditarik Dewa tadi. begitu juga dengan baju seragamnya agar kembali menutupi bahunya yang sempat terekspose.
Dengan kedua tangan merapatkan baju seragamnya yang terbuka akibat kancing yang sudah terlepas dari pengait, Gadis berjalan menyusul Dewa yang masih membuka separuh pintu tersebut.
"Siapa Wa?" Gadis sempat mengira jika orang didepan pintu itu adalah salah seorang teman Dewa. Tapi Gadis juga tidak berniat sembunyi, lantaran keempat teman Dewa juga sudah mengetahui siapa dirinya.
Tapi... semuanya benar-benar diluar dugaan Gadis.
Pintu yang masih terbuka separuh itu, tiba-tiba terbuka paksa dan membuat tubuh Dewa sampai terdorong kebelakang.
Seorang lelaki dari balik pintu dengan sorot mata tajam tertuju tepat ke arahnya.
Raut wajah Gadis seketika berubah terkejut sekaligus takut, saat melihat siapa yang datang dengan netra berkilat merah.
"Juna..."
__ADS_1
*****
[BERSAMBUNG]