
Pukul 23.40
Debuman suara keras musik DJ semakin terdengar menghentak diklub malam tersebut. Suasana malam yang kian larut tak menyurutkan semangat para pengunjung yang justru kian semakin ramai memadati tempat yang biasa disebut surga bagi para penikmat kesenangan dimalam hari.
Bau khas minuman beralkohol, asap rokok, serta wangi parfum yang menyengat mulai mengusik Indra penciuman. Ditambah lagi sosok perempuan sexy berpakaian super minim yang begitu lincah melakukan pole dance ditengah kerumunan pengunjung, kian semakin memanaskan suasana malam ditempat tersebut.
Orang-orang begitu bersemangat menari mengikuti alunan musik yang terdengar keras.
Sementara di salah satu sudut meja yang ada di sana, nampak satu orang cowok duduk, dan hanya berdiam diri dengan wajah badmood dan tangan memainkan ponsel.
"Bro, Lo ngapain bengong sendiri disini? Ikut gabung sama anak-anak Sono!" Suruh Gery pada Dewa, saat sudah menghampiri. Mengingat Bastian, Rama dan juga Edo tengah asik menari mengikuti hentakan alunan musik DJ bersama para pengunjung yang lain.
Hal yang sama tadinya juga dilakukan Gery, sebelum akhirnya ia menyadari ada yang aneh dari diamnya Dewa sedari tadi, hingga ia memutuskan untuk menyudahi dan menghampirinya.
"Malas gue." Jawab Dewa, masih dengan wajah badmoodnya.
Gery menuang minuman beralkohol ke dalam gelas dan menenggaknya sekali hingga kandas. "Lo habis ribut lagi ya sama bokap lo?" Cetus Gery kemudian. Karena biasanya yang paling sering membuat Dewa menjadi badmood seperti ini adalah ayahnya.
"Gak! Gue kan beberapa hari ini gak tidur dirumah."
"Terus?" tanya Gery, sembari menuang gelas kosong milik Dewa dan mengisinya dengan minuman beralkohol dari sebuah botol.
"Gue lagi kesel sama cewek. Dia udah bohongi gue. Sialan emang."
Gery menaikkan alis, saat melihat bagaimana ekspresi kesal Dewa saat ini. Aplagi saat Dewa menyebut kata cewek-- yang justru kian menambah rasa penasarannya mengenai sosok cewek yang sudah membuatnya kesal sampai seperti ini.
"Cewek? siapa? Emangnya, lo lagi deket sama cewek ya, Wa? kok gue gak tau. Terus tuh cewek bohongin lo soal apa?" Gery melempar pertanyaan bertubi-tubi.
"Pulang sekolah tadi, gue nyuruh dia buat datang ke apartemen gue. Tapi dia malah gak datang. Mana pas gue telfon hapenya gak aktif. Tai emang." Dewa menenggak minuman yang tadi baru diisi Gery--hingga gelas itu kosong.
"Hah?! Lo bilang apa tadi? Nyuruh cewek itu ke apartemen lo?? Emangnya lo mau apain dia, sampai lo nyuruh dia datang ke apartemen lo segala. Lo mau ngajakin dia wik-wik bareng?" Cerocos Gery tanpa berfikir.
"Terserah gue mau ngapain sama dia. Gak ada urusannya sama lo."
Gery menggeleng pelan, "Wa, Kayaknya otak bokepnya si Bastian nular ke elo. Mending lo jauhin si Bastian, dari pada dia buat otak lo makin rusak." Nasehatnya, yang seketika di hadiahi jitakan oleh Dewa.
"Otak lo tuh yang rusak! Mending lo berhenti minum sebelum lo makin mabuk dan bikin repot temen-temen." Dewa lantas berdiri, membawa serta jaket hitamnya yang tersampir di lengan kiri. "Gue balik dulu." Katanya, pamit.
"Lah? ngapain balik?? kan ajep-ajepnya belum selesai."
Benar saja apa yang dibilang Dewa barusan. Gery bahkan terlihat kesulitan berdiri dengan nada bicara layaknya orang mabuk kebanyakan. Maklum saja, dari keempat teman Dewa, Gery ini memang yang paling lemah dalam urusan minum.
Dia akan mabuk lebih cepat hanya dalam beberapa tenggak minuman saja. Dan dia akan mulai menyusahkan teman-temannya dengan kelakuan mabuknya yang unik itu.
sebelum Dewa juga dibuat kerepotan, lebih baik dia memilih pergi dengan urusan yang ingin diselesaikannya.
Dewa mengabaikan ucapan Gery, dan memilih menghampiri teman-temannya di kerumunan itu, untuk berpamitan. "Do, Gue balik. Ada urusan. Entar lo bilang sama anak-anak ya?"
"Lah, cepet amat. Baru juga jam segini." Edo menyayangkan. "Ya udah, entar gue bilang sama Rama dan Bastian."
Mereka melakukan tos layaknya anak cowok. lalu Dewa memberitahu sebelum akhirnya pergi, "Ah, iya. Hampir gue lupa. Itu si Gery mending jangan ditinggal sendiri."
"kenapa?"
"Udah mabuk dia."
What?? kenapa lo gak nyegah dia minum, anjir!"
****
Ditempat berbeda, Namun dengan suasana hingar bingar yang masih sama, seorang cewek nampak terus-terusan menggeleng saat seorang cowok didepannya kembali memaksanya untuk minum.
Gadis, saat ini tengah bersama seorang cowok--yang juga adalah pelanggannya. Cowok tersebut seumuran dengan Gadis. Dan Gadis bahkan baru mengingat satu hal mengenai fakta tentang cowok didepannya ini.
Dia musuh Dewa yang waktu itu mengeroyok Dewa disebuah gang kecil. Namanya kristian.
Ya, bodohnya Gadis yang baru saja mengingat nama serta wajahnya.
"A-aku gak bisa minum banyak." kata Gadis, tetap bersikeras menolak minuman itu--setelah tadi dia sudah sempat minum dua gelas kecil akibat paksaan Kristian.
"Itu karena lo gak terbiasa. Mangkanya, biar jago, gue ajarin sekarang. Lo tau, gue pengen liat wajah cantik lo pas lagi mabuk di atas ranjang nanti. Gue yakin, lo pasti makin kelihatan sexy." Kris mencium bahu kiri Gadis yang terekspose. Tangan kanan yang sedari tadi melingkar di belakang pinggang akhirnya bergerak naik memberi remasan kuat di dada kiri Gadis.
__ADS_1
Gadis yang terkejut, seketika tersentak karena nyeri yang dirasakannya. Apalagi saat Kris menaruh gelas ditangan kirinya dan beralih mengusap paha putih Gadis dan menelusup masuk dengan mudahnya--menyentuh bagian inti miliknya--yang kemudian membuat Gadis tanpa berfikir bangkit berdiri dari duduknya sembari berucap, "A-aku mau ke toilet dulu. Nggak papa kan?"
Kris menjilat jemari tengah tangan kirinya. "Oke. Tapi jangan lama ya. Gue gak suka nunggu."
Gadis mengangguk, lalu berlalu pergi meninggalkan Kris. Sementara disana nampak ada mami yang sedari tadi mengawasinya jeli.
Biarpun Gadis termasuk disukai banyak pelanggan dan bisa dibilang memiliki harga tinggi, tetap saja mami tidak bisa membiarkannya tanpa pengawasan karena khawatir. lantaran seringnya Gadis yang membuat ulah.
membuka pintu toilet, Gadis berdiri didepan sebuah kaca persegi besar dan menumpukan kedua tangan di pinggiran washtafel. Dia berdiam sejenak dengan kepala menunduk--berharap malam ini akan cepat berlalu.
Perlahan wajahnya terangkat menatap diri sendiri dengan netra berkaca. membatin.. mengenai hal terburuk dihidupnya ini kapan berakhir.
Gadis lelah...
Benar-benar lelah...
lalu kemudian sekelibat ingatan dikepalanya muncul mengenai sosok ibunya saat masih sehat dan bisa melihat dulu.
Ibu yang selalu melindunginya disaat ayahnya mengasarinya. Karena memang dari dulu ayahnya sudah seperti itu sifatnya.
Cukup! Gadis membatin.
Berhenti terlihat menyedihkan. Menyesali keadaan gak akan ngebuat semuanya berubah. Tuhan mungkin lebih suka hidupku begini. Tapi kenapa aku sampai sekarang masih sulit untuk menerimanya...
"Hiks.." Tangisnya pecah seiring bulir air mata yang terjatuh. Cepat-cepat gadis menyeka air mata sialan itu sebelum ada yang melihatnya.
Aku mau ini cepet selesai dan pulang...
Dan aku berharap malam ini gak bertemu pelanggan kasar seperti om Rian.
Gadis berusaha menenangkan hatinya dan meredakan tangisnya. Lalu kemudian keluar kembali menemui Kristian yang masih tetap di tempatnya.
Kristian yang tengah serius memasukkan sesuatu kedalam minuman Gadis, seketika terkejut saat melihat kedatangan Gadis yang sudah mendekat. Cepat-cepat Kris membuang asal bungkus plastik kosong ditangannya. Dan mengaduk gelas berisikan minuman itu dan memberikannya pada Gadis.
"Kenapa lama?"
"Maaf.. Kamu gak bosen kan nunggunya?" Gadis duduk. tersenyum, lalu memberi ciuman singkat di pipi Kristian. Berharap cowok itu tidak marah. Gadis sadar jika mami sedari tadi terus saja mengawasinya tanpa henti.
Gadis benar-benar tidak ingin berulah lagi. Ia kapok dengan pukulan-pukulan yang diterimanya dari anak buah mami, saat dia berulah waktu itu.
Gadis sebenarnya muak dengan cowok didepannya ini. Tapi ia bisa apa? Kristian bahkan sudah membayar mami untuk menghabiskan malam ini bersama dengannya.
Hanya saja, Kristian tidak langsung memakainya dan lebih memilih bermain-main dengan Gadis lebih dulu.
Menyebalkan.
"Ya udah. Mana?" Gadis menyetujui, dengan senyum yang belum memudar. Dan benar-benar meminum minuman itu sampai habis tanpa keraguan.
Kristian tertawa melihat itu. Tidak menyangka jika Gadis bisa menghabiskan minuman berkadar alkohol tinggi dengan sekali tenggak. "Wah-wah.. Lo bikin gue speechless."
"Gimana rasanya? Enak kan?" tanya Kris, "Tambah satu gelas lagi, mau?"
Gadis menggeleng cepat. Yang barusan saja dia hampir muntah tapi sekuat tenaga ditahannya dan tetap bersikeras menelan lantaran tidak ingin membuat Kris marah atau kecewa dengan pelayanannya. "Nggak. Aku udah--"
Lagi, Kris kembali mencekoki Gadis dengan minuman memabukkan itu berkali-kali. Dan Gadis hanya bisa pasrah tanpa berbuat banyak.
Sampai pada akhirnya Gadis merasakan sakit dikepalanya. Pandangannya berkunang-kunang. Samar-samar ia melihat sosok cowok berjaket mendekat menarik lengan tangannya tanpa permisi dan memaksanya berdiri.
Jelas saja hal itu membuat Kristian kesal dan marah. Gadis melihat kedua cowok itu cek cok hebat. Dan Gadis hanya mendengarnya samar-samar. Kepalanya benar-benar terasa berat. Berkali-kali kesadarannya sudah akan hilang, namun gadis berusaha tidak ambruk dan hanya menyandarkan diri pada kursi yang didudukinya.
Memperhatikan kedua cowok itu yang nampak ribut dari pandangannya yang mengabur. Gadis tertawa karena lucu saja melihatnya. Apa mereka berdua sedang memperebutkan dirinya untuk mereka pakai?
Gadis berdecih. "Sampah!" Gumamnya disela rasa mabuk yang dirasakannya. Lalu kemudian tertawa kembali.
Tidak lama setelah anak buah mami datang melerai keduanya yang hampir saling adu jotos, cowok yang memakai jaket itu terlihat mengobrol serius dengan mami dan memberikan beberapa lembar uang cukup banyak pada mami.
Gadis melihat cowok berjaket itu mendekatinya dan membawanya pergi dengan cara memapahnya sedikit memaksa. Karena Gadis yang sempat menolak dibawa dan bersikeras berada disana sampai pagi.
"Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Gadis dengan nada khas mabuknya.
"Menurut lo?"
__ADS_1
"Mmm... tadi, aku udah di pakek dua cowok sebelum kamu. Sebenarnya aku capek. Tapi mereka gak bolehin aku istirahat. Kamu mau pakek aku juga yah malam ini?" tanya gadis dengan menatap lekat cowok itu ditengah rasa mabuk dan juga rangkulan tangan cowok itu yang masih tetap mamapahnya menuju depan, dimana sudah ada sebuah taksi yang menunggunya.
Tadinya memang cowok itu datang menggunakan motor sport. Tapi berhubung gadis tengah mabuk berat, dia memilih pergi menggunakan taksi dan meninggalkan motornya disana.
"Kalau lo capek, kita gak perlu main malam ini."
"Nanti kamu ngadu ke mami. Terus mami marah dan mukul aku."
Cowok itu mengernyit, "Lo pernah dipukul?"
Gadis mengangguk.
"Muka kamu mirip banget sama cowok yang selalu bikin aku kesal." Gadis berkata, setelah memperhatikan lekat wajah cowok itu dari samping.
"Siapa?"
"Dewa."
Dewa bernapas berat. Membuka pintu dan membantu gadis memasuki taksi itu bersamanya.
"Gue emang Dewa. Lo itu pikun atau bego sih?!"
Gadis meringis. "Mungkin dua-duanya."
sang supir taksi menanyakan kemana tujuan Dewa, dan Dewa menyebut sebuah alamat apartemen miliknya.
Sang supir yang mengerti lantas mengangguk dan menjalankan taksi itu ke tempat yang dimaksud.
Dewa memperhatikan Gadis memegangi kepalanya yang terasa pusing. "Kalau gak kuat minum, ngapain maksain diri buat minum?"
"Dia yang maksa. Aku gak bisa nolak. Nanti kalau nolak di pukul mami."
Rasa mabuk itu membuat kepala Gadis berkali-kali hampir membentur jendela kaca mobil, kalau saja Dewa tidak dengan sigap mencegahnya dengan cara menarik kepala Gadis agar bersandar di bahunya.
Hingga taksi yang mereka naiki sampai di tujuannya.
"Makasih pak."
Mobil itu melesat pergi. Dewa memasuki apartemen dengan memapah Gadis seperti tadi.
Menidurkan Gadis yang masih mabuk itu di atas ranjang miliknya.
Bau alkohol yang begitu menyengat dapat tercium oleh Dewa. Dia melangkah menuju lemari pendingin dan mencari minuman pereda mabuk untuk Gadis.
Selama Dewa sibuk mencari, Gadis dibelakang sana justru tengah sibuk menahan gejolak birahi didirinya sendiri. Tubuhnya itu entah kenapa mendadak panas.
Rasa lelah yang tadi sempat dirasakannya mendadak hilang, berganti dengan gairah membara yang menginginkan sebuah pelepasan sekarang juga.
"Dewa..." lirihnya memanggil. Namun Dewa sama sekali tak menyahut dan masih sibuk mencari minuman yang dimaksud.
Saat sudah dapat, barulah cowok itu menutup pintu kulkas dan berbalik menghampiri Gadis memberinya minuman itu.
"Minum dulu. Biar rasa mabuk lo cepet baik--" Dewa cukup terkejut, saat Gadis bukannya mengambil botol kecil minuman tadi, dan malah menarik tangannya hingga membuat dirinya jatuh menindih Gadis.
"Tolong... A-aku kepanasan, Dewa.." Bisik Gadis memelas. disela pelukannya yang sungguh erat.
Dewa berdecih sinis. "Jadi si brengsek itu udah ngasi sesuatu diminuman lo ya?!" Ujar Dewa saat sudah melepas pelukan. "Bukannya tadi lo bilang, Capek."
"Please..." hanya kata itu yang terucap. Berharap Dewa akan mengabulkan keinginannya.
Seperti sudah kehilangan akal akibat dari obat perangsang yang dimasukkan Kristian di minuman Gadis, membuat Gadis tanpa malu lagi menyingkap pakaian minimnya naik menampilkan paha putihnya. Memamerkannya didepan Dewa dengan kilatan mata penuh permohonan.
Sebagai lelaki normal, jelas saja apa yang dilakukan Gadis itu sanggup memancing iblis yang sedari tadi tidur didalam dirinya terbangkitkan.
Tangan kiri Dewa meraba naik paha putih itu dengan lembut dan perlahan. "Lo yang minta. Jangan salahin gue kalau besok pagi lo bangun dan kesulitan buat jalan." Peringat Dewa, dengan menarik turun Celana dalam Gadis dan membuangnya asal.
Malam ini, Dewa tidak akan berhenti, biarpun Gadis memintanya dengan menangis sekalipun.
****
[BERSAMBUNG]
__ADS_1
Jangan lupa like sebagai penyemangat update. Dan Share supaya banyak yang baca juga. makasih.... ^_^
sampai bertemu di bab selanjutnya.