Gadis Dewa

Gadis Dewa
bab 20


__ADS_3

Jangan lupa klik jempolnya sebelum membaca ^_^


****


Gadis kenapa ya? susah banget dihubungin. Batin Juna terheran sekaligus khawatir. Padahal ia sangat ingin tau keadaan Gadis saat ini. Apa Gadis sudah sampai rumah apa belum. Masalahnya tadi Juna terpaksa meninggalkan Gadis didepan gerbang sekolah dan tidak jadi mengantarnya pulang lantaran ayahnya yang menelfon. Menyuruhnya untuk segera pulang cepat.


Tidak ingin menyerah begitu saja, Juna akhirnya mencoba kembali menghubungi Gadis seperti tadi, namun kali ini suara operator yang menyahut panggilannya.


Juna mendesah pelan. Terlihat jelas ada raut kecewa bercampur khawatir di wajahnya.


Ia pun akhirnya memutuskan kembali mengahmpiri meja dimana ayahnya dan juga teman bisnis ayahnya duduk menunggu satu orang lagi yang belum datang.


Tepat disaat dirinya duduk, seorang pelayan resto datang membawakan menu pesanan mereka tadi dan menaruhnya satu persatu dimeja tersebut.


"Kamu tadi lagi nelfonin siapa?" Tanya Krisna--ayah Juna. Krisna sedari tadi memperhatikan raut wajah anaknya yang bahkan saat ini saja masih nampak gelisah tidak tenang.


"Jangan-jangan pacarnya ya?" sahut Wina, istri Rayhan yang menjadi teman bisnis Krisna selama ini.


"Hush! mana mungkin itu, Mah. Bisa saja kan temannya." Ujar Rayhan memotong.


"Kenapa gak mungkin pah, anak seusia Juna dengan wajah rupawan seperti ini, nggak salah kan kalau memiliki pacar? Dan tante yakin, kalau diluaran sana pasti banyak sekali perempuan yang tergila-gila sama kamu."


"Tante bisa saja. Nggak seperti itu juga kok, tante." Jawab Juna merendah. Padahal memang jelas apa yang di bilang Wina barusan. Diluaran sana banyak sekali cewek-cewek cantik yang akan langsung jatuh cinta dengan ketampanan Juna. Apalagi dengan kepribadiannya yang memang baik dengan semua orang. Biarpun begitu, tetap saja bagi Juna, Gadis adalah satu-satunya sosok perempuan yang terindah setelah almarhum mamahnya. Dan Juna tentunya sangat menyayanginya.


"Ah.. Kamu pakek acara malu-malu segala." Kata Wina, dengan tawa dibibirnya.


"Tapi, Juna itu tidak mungkin punya pacar." Ucap Krisna tiba-tiba. "Karena selama ini Juna itu terlalu sibuk untuk belajar demi bisa mengejar nilai kelulusan yang terbaik nantinya. Iya kan, Jun?" Krisna meminta pembenaran pada Juna.


Dan Juna terpaksa menganggukinya. Karena memang itulah yang ayahnya tau.


Juna selama ini selalu hidup dibawah bayang-bayang ayahnya. Selalu menuruti apapun yang ayahnya inginkan. Apalagi soal nilai-nilai memuaskan yang diraihnya selama ini disekolah. Mengenai itu, ayahnya memang selalu menuntutnya menjadi yang terbaik agar selalu bisa dibanggakannya.


Terkadang Juna sendiri merasa terbebani dengan itu semua. Kadangkala perasaan lelah itu datang. Lelah akan semua tuntutan-tuntutan yang ayahnya beri. Namun Juna selalu bertahan untuk selalu bisa menjadi yang terbaik bagi ayahnya, biarpun terkadang perasaan iri pada Dewa seringkali muncul.


Dimata Juna, Dewa begitu beruntung bisa hidup sebebas itu tanpa beban dan juga tuntutan dari sang ayah. Biarpun memang Juna tau jika Dewa seringkali mendapat amarah dari ayahnya, tetap saja Dewa bersikap acuh dan tidak perduli.


Seolah amarah dari sang ayah hanya dianggapnya angin lalu. Biarpun Dewa sering mendapat omelan dari ayahnya atas masalah yang diperbuat. tetap saja Dewa tidak kapok untuk kembali mengulangi kesalahannya itu.


itulah yang membuat Juna iri. Karena Juna jelas tidak bisa bersikap seperti itu. Hatinya terlalu lembut untuk menghancurkan mimpi yang sudah dibangun Krisna terhadapnya.


Dan itu benar-benar membebaninya.


"Ah.. Jadi begitu. Pantes aja anak tante sangat mengagumi kamu. Kamunya ternyata selain ganteng, tapi juga pinter di pelajaran." cetus Wina, yang seketika membuat kening Juna mengkerut bingung.


"Anak tante?"

__ADS_1


"Iya, anak tante Wina sama om Rayhan ini kan satu sekolah sama kamu." Krisna memberitahu, lalu menenggak minumannya sebentar akibat rasa haus dikerongkongan.


"Oh..." respon Juna dengan anggukan biasa. bahkan juna tidak sekalipun berminat menanyakan siapa namanya, atau dikelas mana dia berada.


"Eh, baru juga diomomgin, anaknya sudah datang." kata Rayhan, kala melihat ke arah pintu masuk, dimana anak perempuannya itu baru saja datang dan terlihat tengah mencarinya.


Rayhan melambaikan tangannya naik--memberitahu posisinya saat ini. Gadis cantik berkulit putih dan berambut lurus sepinggang itu segera menghampiri dengan senyum merekah indah.


"Pah! Mah!" sapanya, dengan langkah cepat menghampiri.


Merasa femiliar dengan suara itu, membuat Juna menoleh ke asal suara. Keningnya mengkerut tak percaya. Ini kebetulan atau bagaimana?!


"Sesil?"


*****


"kamu tuh apa-apaan sih?! balikin handphone aku!"


"Entar gue balikin, setelah gue selesai makan." Ujar Dewa dengan nada menyebalkannya. Lalu kembali menyantap mienya dengan lahap, setelah tadi ia lebih dulu mengantongi ponsel Gadis di saku celananya.


"Kamu nggak bisa seenaknya kayak gitu dong. Itu kan hape aku! Kamu gak ada hak buat ambil hape aku seenaknya kayak gitu!"


Dewa tiba-tiba mengangkat mangkuk mienya dan beralih ke atas ranjang. Mengabaikan teriakan Gadis yang kian semakin kesal dan marah karena Dewa mengacuhkannya.


'"Dewa!!" teriak Gadis lagi, dengan amarah di ubun-ubun. Tapi kemarahan Gadis hanyalah bisa sebatas itu. Memangnya dia bisa melakukan apa terhadap Dewa?


Beberapa menit kemudian...


Dewa sudah selesai menghabiskan mienya. Ia tidak menyangka, ternyata hanya makan mie instan bisa juga membuat perutnya kenyang seperti ini.


"Heh!" panggil Dewa, pada Gadis yang sedari tadi menatapnya dengan ekspresi kesal di kursi sofa panjang tidak jauh darinya. "Cuci mangkuknya!" perintahnya, dengan tangan terulur seenak jidat.


"Balikin hapeku dulu! baru nanti aku turutin perintah kamu!"


"Oke. Tapi~ habis itu lo harus mau buat layanin gue."


Gadis terperangah mendengar ucapan Dewa barusan. Apa diotaknya itu hanya ada hal-hal kotor semacam itu??


"Kenapa? keberatan? itu kan juga bagian dari perintah yang gue kasih ke elo."


Gadis terdiam dengan perasaan kesal dan juga sakit hati. "Apa dimata kamu, aku ini semurahan itu?" Tanya Gadis dengan netra mulai berkaca. "Aku emang pelacur kotor yang tiap malam selalu melayani cowok bejat diluaran sana seperti kamu. Tapi apa kamu tau, kalau aku sebenarnya terpaksa melakukan pekerjaan ini!"


"Kalau aku boleh milih, aku juga gak mau hidup dan masa depanku rusak kayak gini! Tapi gimana? Aku juga gak bisa lakuin apa-apa!" Kali ini air mata Gadis mulai terjatuh.


"Dis, bukan itu maksud---"

__ADS_1


"Mungkin bagi kamu, hal ini adalah sebuah lelucon yang bisa kamu jadikan mainan buat ngancem aku sesuka hati. Tapi, apa kamu tau kalau aku sebenarnya tersiksa dengan ini semua! Aku tersiksa. Wa!"


Gadis sudah tidak bisa lagi menahan isak tangisnya untuk tidak pecah. Nyatanya hatinya memang tidak sekuat itu. Perlakuan dan juga perkataan Dewa padanya selalu membuat sesak dihatinya. Apalagi disaat Dewa dengan mudahnya bilang agar dirinya melayani Dewa. Entah kenapa didetik itu juga Gadis merasa Dewa benar-benar menginjak-injak harga dirinya.


Harga diri?


Apakah Gadis masih pantas menyinggung soal harga dirinya??


Gadis menunduk dalam, dengan tangis yang masih sulit dihentikannya.


Sepasang tangan merengkuh, memeluknya erat disertai dengan usapan di helai rambutnya.


"Dis, Gue gak bermaksud buat---"


Gadis melepas pelukan Dewa dengan cara mendorong pelan dada bidang cowok itu. "Aku mau pulang." pintanya dengan wajah yang masih menunduk. Seolah malu karena sudah menangis didepan Dewa seperti ini.


Tangan Gadis berkali-kali menyeka pipinya yang basah oleh air matanya sendiri.


Fikir Gadis, Dewa pasti merasa menang karena sudah membuatnya menangis seperti ini.


Dewa tidak langsung menjawab. Cowok itu diam menatapnya. Gadis bahkan bisa mendengar helaan berat napas Dewa didepannya.


"Ya udah, gue akan pesenin lo taksi buat anter lo pulang."


Gadis diam, sama sekali tidak berniat untuk menolaknya. Karena ia tau itu semua akan percuma, mengingat bagaimana sifat pemaksa Dewa selama ini padanya.


Gadis melihat Dewa beranjak dari sisinya untuk mengambil ponsel miliknya yang tergeletak diatas nakas.


"Gue udah pesenin lo taksi. Delapan menit lagi taksinya bakal sampai." Dewa memberitahu, lalu memberikan ponsel milik Gadis yang diambilnya secara paksa tadi. "Ponsel lo."


Gadis menerima, sama sekali ia tidak berani menatap netra Dewa. Pasti matanya untuk saat ini sangatlah bengkak.


"Kalau gitu, aku mau nunggu diluar." ujar Gadis, yang sebenarnya tidak ingin berada lebih lama di keadaan canggung seperti ini.


Gadis berdiri dari duduknya, saat langkahnya tergerak menuju pintu, Dewa menahannya. "Dis..." Langkah kaki Gadis terhenti dan menoleh.


"Maafin gue." kalimat itulah yang sebenarnya ingin Dewa ucapkan pada Gadis. Tapi entah kenapa lidahnya begitu kesulitan untuk mengucapkan dua kata yang sebenarnya begitu mudah untuk dikatakan.


Sehingga yang terjadi, Dewa justru berkata, "Biar gue buka kunci pintu passwordnya dulu." Mendahului Gadis didepan untuk memasukkan beberapa sandi, dan menarik gagang pintu--membukanya.


Didetik itu juga keduanya membeku diam tak menyangka, dengan siapa mereka bertatapan saat ini.


Apalagi saat melihat adanya Gadis di apartemen Dewa. "Kalian?? kenapa bisa...."


****

__ADS_1


[BERSAMBUNG]


__ADS_2