
**Sempatkan waktu untuk pencet jempolnya sebentar ya ^_^
NOTE : Part ini pendek dan nggak sepanjang biasanya. Tapi aku akan usahakan buat update secepatnya** ^_-
****
Dewa tersenyum miring, dan suasana dirasakan Gadis begitu tegang. "Bukannya disini yang gak punya malu itu elo!" Dewa mendekat dua langkah ke arah Juna, menajamkan netra sekaligus memberinya peringatan. "Buka telinga lo lebar-lebar. Jangan lagi lo ganggu Gadis, karena mulai sekarang..." Dewa sesaat menggantung kalimat untuk menarik Gadis, lalu melingkarkan satu tangannya ke belakang punggung Gadis⸺mendekapnya erat. "Dia, Gadisnya Dewa. Bukan Juna."
Sontak saja apa yang dikatakan Dewa, membuat beberapa pasang mata dan telinga yang melihat sekaligus mendengar itu, menjadi terkejut bukan main. Bisik-bisik nyinyir pun mulai terdengar saling bersahutan.
"Gak nyangka ya, habis putus dari Juna, langsung dapetin si Dewa."
"*Ganjen emang!"
"Kegatelan banget sih, jadi cewek! Gedek gue*!"
"Rasanya tangan gue gatel banget pengen nyakar mukanya yang sok cantik itu!"
Gadis yang sama terkejutnya seperti yang lain, sudah berniat memprotes ucapan Dewa, dengan menggerakkan tubuhnya risih⸺akibat dekapan tangan kanan Dewa yang dirasa sungguh erat menekan bahunya. Membuat tubuh keduanya menempel tanpa jarak sesenti pun.
Ekspresi Dewa yang terkesan serius dan meyakinkan itu, membuat Aurel yang masih dilanda syok hanya bisa melebarkan mulut dan kedua bola matanya. Seolah masih tidak mempercayai apa yang didengarnya barusan.
Sementara Juna, jangan ditanya lagi. Cowok itu seakan dipenuhi oleh amarah yang sepertinya sudah mencapai batasnya. Ia pun mendekat. Lalu menarik kuat kerah seragam Dewa penuh emosi yang meletup-letup. "Heh! Gak perlu membual di siang bolong begini! Lo fikir Gadis bakalan mau sama cowok brandal gak tau aturan kayak lo?!"
Dewa hanya tersenyum sinis.
__ADS_1
"Udah, Juna!" Gadis menepis kasar cengkraman Juna di kerah leher Dewa. "Nggak perlu main fisik, bisa nggak?!"
"Tapi aku gak suka sama ucapan dia barusan, Dis! Seenaknya aja mengklaim kamu kayak gitu. Dia fikir.. ucapan dia barusan itu keren?!" Juna tersenyum sinis. "Aku yakin kalau kamu juga pasti jijik ngedengernya."
Gadis benar-benar tidak habis fikir, kenapa Juna bersikap seakan ia memiliki hak untuk marah seperti ini. sedang kenyataannya saja hubungannya dengan Juna sudah jelas berakhir. Ditambah lagi dengan keadaan Juna yang memang sudah memiliki tambatan hati lain seperti Sesil. Harusnya Juna sadar diri untuk menjauhinya.
Atau mungkin... Gadis harus melakukan sesuatu yang lebih menegaskan Juna untuk menjauhinya?
"Siapa bilang?!"
Ucapan Gadis, seketika membuat kening Juna mengernyit. Lalu sedetik kemudian, Gadis sudah mendekati Dewa. Berjinjit dan mendaratkan ciuman tiga detik di pipi kanan Dewa dengan mata terpejam rapat. Gadis bahkan berusaha menelan rasa malunya bulat-bulat. Lalu menarik diri dan bersikap setenang mungkin⸺seolah tidak terjadi apa-apa didepan semua murid yang melihat.
Dewa membatu diam. Sama sekali tidak menyangka jika Gadis seberani itu menciumnya tanpa izin. Walaupun tidak dipungkiri jika Dewa juga menyukainya. Ahh.. tidak. Cowok itu bahkan sangat menyukainya. Terbukti dengan sudut bibirnya yang terangkat naik⸺membentuk sebuah senyuman tipis.
Juna kian dibuat geram. Rahangnya mengetat menahan rasa panas didalam dirinya. "Apa maksud kamu, Dis? kenapa kamu---"
****
Tarikan Gadis melemah ketika sampai di depan kelas. Langkahnya terhenti, berbarengan dengan terlepasnya tarikan tangannya tadi.
"A-aku minta maaf. Aku bener-bener gak bermaksud buat cium kamu kayak gitu. Tapi.. aku juga nggak sepenuhnya salah. Kamu kan tadi juga udah seenaknya bilang hal yang enggak-enggak didepan Juna dan yang lainnya. Anggap aja... kita impas."
Rahang Dewa mengetat mendengar ucapan Gadis yang terkesan menganggap remeh apa yang diucapkan Dewa saat dikantin tadi.
Dewa menarik tangan Gadis memasuki kelas yang memang sepi. Pintu sengaja ditutup dan dikunci oleh Dewa dari dalam.
__ADS_1
"A-apa yang kamu---"
Brukk!
Belum sempat Gadis menyelesaikan kalimatnya, Dewa sudah lebih dulu mendorong tubuh Gadis cukup keras hingga punggungnya membentur dinding. Didetik itu, Dewa sudah membungkam suara protes yang hendak dilontarkan Gadis, dengan sebuah ciuman dibibir.
Gadis yang terkejutpun sempat akan mendorong tubuh Dewa, namun ia kalah cepat karena Dewa sudah lebih dulu mengunci kedua tangannya didinding. Membuat Gadis tidak bisa berkutik. Sedang Dewa bisa melakukan hal semaunya seperti, melayangkan hisapan dan juga lumatan lembut dibibir Gadis dengan mata terpejam menikmati.
Tanpa perduli dengan air mata Gadis yang kini sudah terjatuh membasahi pipi.
Cukup lama Dewa melakukan itu, hingga akhirnya Dewa membuka mata dan melepas pagutan di bibir Gadis dengan menyisakan sedikit jarak antar keduanya. Helaan napas tersengal menerpa wajah masing-masing.
"Ke-kenapa kamu selalu melakukan ini sama aku? aku fikir kamu sudah berubah, Tapi ternyata aku salah." air mata Gadis semakin deras berjatuhan. "Kamu selalu melakukan hal apapun semau kamu. Aku fikir kita bisa jadi teman baik, tapi---"
Cup!
Dewa melayangkan sebuah ciuman singkat di bibir Gadis. Membuatnya berhenti berbicara. "Gue gak mau jadi temen baik lo." katanya. Lalu melepas kuncian ditangan Gadis, untuk menghapus jejak air mata di kedua pipi Gadis secara bergantian.
Usapan tangan Dewa yang begitu lembut, membuat tubuh Gadis menegang diam⸺tidak menyangka.
"Gue mau... lo jadi milik gue."
Gadis menatap iris mata Dewa dengan kening mengkerut penuh tanda tanya. "A-pa maksud kamu?"
Dewa menghela napas beratnya. Tiba-tiba tubuhnya jadi panas dingin tidak jelas. "Mungkin lo akan anggap pengakuan gue ini konyol, Tapi... sepertinya gue udah jatuh cinta sama lo, Dis."
__ADS_1
****
BERSAMBUNG