
"Dewa!"
Lagi. panggilan itu kembali terdengar, membuat Gadis kian semakin ketakutan dan juga khawatir jika pintu akan terbuka tiba-tiba.
Tidak. Gadis tidak mau jika sampai Juna mengetahui dirinya berada disini bersama Dewa. Juna pasti akan langsung menyimpulkan yang tidak-tidak. Gadis jelas tidak sanggup jika Juna sampai membencinya karena hal ini. Sungguh. Gadis benar-benar tidak sanggup.
Ketukan dipintu itu terus saja terdengar, dibarengi suara Juna yang terus menerus memanggil Dewa berulang kali. Menyuruhnya untuk membuka pintu.
Entah kenapa Gadis merasa jika Dewa sengaja melakukan ini. Ya, cowok itu pasti sengaja menghubungi Juna dan menyuruhnya datang kesini.
Dasar licik! Batin Gadis, dengan tatapan kesal terarah pada Dewa.
Dewa yang mendapat tatapan seperti itu jelas tidak mengerti. "Apa?" tanyanya, "Kenapa lo liatin gue kayak gitu?"
"Gak usah pura-pura gak ngerti. Aku yakin, pasti kamu kan yang udah sengaja suruh Juna datang kesini buat nangkap basah aku. Iya kan?! Ngaku!" Tekan Gadis menuduhnya dengan yakin. "Aku bener-bener gak nyangka, kamu selicik ini ya." katanya dengan netra mulai berkaca.
"Lo tuh ngomong apa sih?! Nuduh orang tanpa bukti. Gue sama sekali gak nyuruh Juna datang kesini."
"Bohong! kalau kamu gak nyuruh, terus kenapa dia bisa datang kesini nyariin kamu."
"Ya mana gue tau!"
Gadis masih menatap Dewa dengan tatapan tak percaya dan penuh curiga.
"Kenapa liatnya masih kayak gitu? Lo gak percaya sama gue?"
Bukannya menjawab, Gadis justru memalingkan muka dari Dewa. Kesal. itulah yang dirasakan Gadis saat ini.
Dewa berdecak. "Terserah kalau lo gak percaya. Yang jelas gue udah ngomong yang sebenarnya."
Lalu kemudian Dewa menarik tangan Gadis⸺memaksa mengikutinya.
"Kamu mau ngapain?" tanya Gadis bingung akan tarikan tangan Dewa saat ini. "Lepas, Dewa!" Gadis berusaha melepaskan diri, namun Dewa tidak semudah itu membiarkannya. Dan justru memberinya sebuah peringatan.
"Diem! kalau lo berisik kayak gini terus. Si Juna bakalan tau lo lagi sama gue. Lo mau itu terjadi??"
Gadis menggeleng cepat. Lalu hanya menurut pasrah saat Dewa menariknya mendekat ke arah pintu.
Berbisik, "Diem. Dan jangan berisik. Ngerti?!" Peringat Dewa pada Gadis, yang mendapat anggukan darinya.
Tangan kiri Dewa masih belum terlepas dari pergelangan tangan Gadis. Dewa mulai membuka pintu yang masih diketuk Juna, dan hanya membukanya separuh. Sementara Gadis berdiri dibelakang pintu dengan perasaan takut dan rasa bersalah yang melingkupi dirinya.
"Ngapain lo kesini?" tanya Dewa, saat sudah membuka separuh pintu apartemennya.
"Bisa gak, lo biarin gue masuk dan kita ngobrol didalam sambil duduk." Kata Juna, berharap Dewa mengizinkannya masuk.
"Gak!" jawab Dewa singkat, tidak mengizinkan.
"Kenapa? lo nyimpen cewek didalam? Mangkanya lo betah disini dan gak pulang kerumah berhari-hari."
DEG!
Ucapan Juna sontak membuat Gadis semakin takut dengan tubuh bergetar. Bahkan Dewa bisa merasakan pergelangan tangan Gadis yang basah akibat keringat dingin yang mengucur karena rasa takutnya.
Dewa diam sejenak beberapa detik. Menatap Juna dengan tatapan dinginnya. "Bukan urusan lo." cetusnya kemudian.
Juna menghela napas beratnya. "Okey. Ini emang bukan urusan gue. Tapi seenggaknya lo pulang kerumah dan ngasih penjelasan ke papa soal pengeluaran uang dalam jumlah besar yang lo lakuin beberapa hari ini."
"Jadi itu tujuan papa nyuruh lo kesini. Cuman karena beberapa uang yang gue pakai?!" Dewa berdecih sinis.
"Wa, papa tuh cuman khawatir sama lo. Begitu juga dengan gue." ucapnya jujur. Lalu menatap Dewa sejenak dengan terkaan yang tiba-tiba muncul dibenaknya mengenai Dewa, "Wa, lo~ gak makek kan?"
Dewa melebarkan mata mendengar tuduhan Juna yang tak berdasar itu. "Lo becanda?! Gue gak segoblok itu. Biarpun pergaulan gue terkesan bebas, tapi gue gak akan mudah tertarik sama yang namanya narkoba ataupun sejenisnya. Jadi gak usah sok tau jadi orang."
"Udah! Dari pada lo sibuk ngurusin hidup gue. Mending lo balik sekarang! Bilang sama papa, gue bakalan pulang kalau gue mau. Gak perlu nyari-nyari gue kayak gini. Gue bukan bocah. Ngerti!"
Brakk! Dewa menutup pintu dengan membantingnya.
Juna yang masih mengetuk dan berteriak⸺menyuruh Dewa kembali membuka pintu, sama sekali tidak diperdulikan oleh Dewa sedikitpun. Hingga tak lama kemudian suara Juna tidak terdengar lagi. Membuat Dewa yakin jika Juna pasti sudah pergi dari sana.
"Kayaknya dia udah pergi." Cetus Dewa, saat sudah kembali membuka pintu untuk melihat keadaan diluar dan kembali menutupnya cepat.
Tubuh Gadis seketika meluruh jatuh terduduk dilantai, akibat rasa tegang dan takut yang ia rasakan. Pandangannya menatap lurus kedepan, dan dia terlihat syok dengan kejadian hari ini.
Gadis fikir dirinya akan tamat saat ini juga.
Ikut berjongkok, Dewa lantas menanyakan kondisi Gadis saat ini, "Lo gak papa kan?!"
__ADS_1
Bukannya menjawab, gadis justru menangis. Air matanya itu sudah tidak dapat lagi dibendungnya. Dewa yang bingung kembali menanyakan alasan Gadis yang menangis seperti ini. namun tangis Gadis malah semakin menjadi dan sulit untuk Dewa hentikan.
Tanpa berfikir, Dewa reflek manarik Gadis kepelukannya. Mendekapnya erat. Mengusap punggung yang bergetar itu sambil berkata, "SStt... Jangan nangis. Dia udah pergi."
Berkali-kali tangan Dewa bergerak mengusap punggung dan juga kepala Gadis, untuk menenangkannya. Hingga tangis Gadis berhasil terhenti, berganti isakan yang coba dihentikan Gadis dengan susah payah.
Beberapa menit, setelah Gadis sudah mulai tenang...
"Biar gue anter lo pulang."
"Gak perlu. Aku bisa pulang sendiri."
"Kenapa lo keras kepala banget jadi cewek?!"
"Memangnya kamu enggak?"
Dewa diam. Cowok itu sedang dalam keadaan malas berdebat. Menarik napas panjang, Dewa lantas bertanya. "Lo mau pulang naik apa?"
"Bus."
"Biar gue telfonin taksi."
"Gak perlu! Aku bisa pulang sendiri."
Saat Gadis melangkah menuju pintu, Dewa dengan cepat menahan, menghunuskan tatapan tajam yang seketika membuat nyali Gadis menciut. "Lo gak bisa nolak apapun keinginan gue! Jadi mending lo diem disini, dan tunggu taksinya datang." Titahnya.
Gadis akhirnya menurut duduk, walaupun dengan hati kesalnya.
****
Esoknya, Juna yang baru saja datang kesekolah, memilih menunggu Gadis didepan pintu gerbang.
Sesil yang kebetulan juga baru datang, seketika menghampiri Juna menyapanya dengan ramah dan senyum yang dibuat semanis mungkin. "Pagi Juna.. Kamu ngapain disini? gak masuk?"
"Lagi nungguin Gadis."
Mendengar nama Gadis disebut, membuat Sesil jengah. Senyumnya bahkan sempat hilang, namun kemudian berusaha menutupi itu dengan kembali tersenyum seperti tadi dan semakin mendekatkan dirinya pada Juna. "Emm... emangnya kamu sama Gadis udah baikan ya?"
"Justru itu. Gue mau minta maaf sama dia."
"Tapi dari pada kamu nungguin dia disini lama, mending kita masuk dulu kedalam." Sesil mulai melingkari lengan tangan Juna. "Nanti kan, kamu bisa samperin dia ke kelasnya." Bujuknya lagi.
Aurel yang baru tiba, nampak mengerutkan keningnya kesal, saat melihat kebersamaan Sesil dan Juna seperti ini.
"Dih! Ngapain sih mereka? Si Juna juga, nggak tegas banget jadi cowok." Aurel menggerutu dan berjingkat saat mendapati tepukan di bahunya.
"Ngapain bengong? Bukannya masuk juga."
"Ishh! Gadis! Ngagetin aja lo." Aurel mengusap berulang kali jantungnya yang hampir copot.
Gadis hanya nyengir, lalu berkata, "Gak masuk?"
"I-iya, masuk lah. Tapi..." Aurel menggantung kalimatnya.
"Hmm... Kenapa?"
"Coba deh lo liat cowok lo, Dis."
Gadis mengernyit bingung. Lalu mengikuti arah pandang Aurel kedepan. Ia melihat sesil melingkari lengan Juna dan membuat hatinya seketika sakit.
Entah kenapa, Gadis merasa jika Juna semakin dekat dengan Sesil. Apa ini hanya perasaannya saja? Gadis harap juga begitu.
"Kok gue keselnya malah sama Juna ya?! Dia itu kayak... Gak ada ketegasannya sama sekali jadi cowok. Mangkanya lo liat kan si Sesil makin hari makin kegatelan kayak gitu." kesal Aurel, tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari dua orang yang dimaksud.
"Mungkin aja mereka lagi ada hal serius yang diomongin." Gadis berusah berfikir positif. Lalu mengajak Aurel segera memasuki pintu gerbang dan berusaha mengabaikan Juna disana.
"Dis!" Panggil Juna, Namun Aurel menyuruh Gadis untuk pura-pura tidak mendengar dan mengabaikannya.
"Cuekin aja Dis. Cuekin!! Kesel gue sama cowok kayak gitu!" Aurel semakin mempercepat langkah kakinya dengan manarik tangan Gadis supaya mengikutinya.
Melihat Gadis yang tidak berhenti, membuat Juna memilih mengejar dan meninggalkan Sesil sendirian disana dengan hati kesal. "Ngeselin banget sih, si Juna." Sesil menghentakkan kakinya akibat rasa kesal didalam diri. "Awas aja lo Dis, gue akan kasih lo pelajaran. Liat aja nanti."
"Dis!" Juna berhasil menangkap lengan gadis dan membuat langkahnya terhenti. "Aku udah manggil kamu dari tadi, Kamu gak denger?"
Aurel menepis tangan Juna cepat. "Apaan sih! Lo masih perduli sama Gadis?"
"Lo ngomong apa sih, Rel. Jelas gue peduli sama cewek gue." Lalu menatap Gadis sembari berkata, "Dis, aku minta maaf ya, karena kemarin udah gak mau dengerin penjelasan kamu. Aku.. Gak bisa marahan lama sama kamu."
__ADS_1
"Gombal banget lo jadi cowok." Lalu memperingati Gadis. "Jangan didengerin, Dis. Mending kita masuk kelas. Dari pada disini lama-lama sama cowok gak tegas kayak dia! bikin makan ati mulu."
Aurel kembali menarik tangan Gadis seperti tadi, namun kali ini Gadis tidak beranjak dari tempatnya. "Rel, biarin aku bicara berdua sama Juna ya?"
"Hah?! gue gak salah denger kan?! Dis, lo sadar gak sih. Dia itu udah nyakitin lo! Lo gak inget kemarin dia pulang sekolah ngebonceng si Sesil!" -Aurel.
"Kalau soal itu, aku bisa jelasin." Sela Juna, kemudian.
Gadis menatap Aurel penuh permohonan.
"Ck! Terserah lah!" cetus Aurel, lalu pergi begitu saja meninggalkan Gadis dan Juna disana.
"Makasih ya, udah mau dengerin aku." Juna berucap dengan manatap lekat netra Gadis.
Gadis hanya menjawab dengan senyuman dan sebuah anggukan kepala. Lalu mengajaknya ke sebuah bangku taman dibelakang sekolah agar bisa berbicara dengan nyaman disana.
"Jadi.. kemarin kamu liat aku ngebonceng Sesil?"
Gadis mengangguk.
"kenapa kamu gak nyamperin aku? padahal waktu itu, aku lagi nunggu kamu buat minta maaf. Aku fikir kamu udah pulang duluan."
"Aku gak mau ganggu kamu sama Sesil." Lirih Gadis dengan kepala menunduk.
"Kenapa kamu bisa mikir begitu? Aku sama Sesil gak ada apa-apa, Dis. Aku tuh sayangnya cuman sama kamu." Juna mencoba meyakinkan. "Kamu tau nggak, kalau kemarin aku terus menerus mikirin kamu sampai-sampai aku nekat nyamperin kamu ke rumah."
Gadis seketika mengangkat pandangan pada Juna karena terkejut. "ka-kamu datang kerumah? Kapan?"
"kalau gak salah sekitaran jam setengah delapan malam. Tapi ayah kamu ngusir aku, dan bilang kalau kamu... lagi kerja." Juna memberi jeda, lalu mencoba menanyakan hal yang cukup mengganjalnya. "Kamu.. beneran Kerja, Dis?"
"Itu...."
"Kenapa kamu gak pernah cerita sama aku? apa kamu emang berniat nyembunyiin ini dari aku?"
Gadis menunduk dalam. "Maaf..."
Juna menghela napas sejenak. "Aku.. boleh tau kamu kerja dimana?" Tanya Juna hati-hati.
Tapi tetap saja hal itu membuat Gadis kesulitan untuk menjawabnya. "Emm... itu.. A-aku akan cerita ke kamu lain kali. nggak papa kan?" gadis melihat netra Juna, berharap Juna tidak akan bertanya banyak mengenai pekerjaannya. Karena gadis tidak tau harus menjawab apa.
"Ya udah nggak papa." Juna mengusap sayang puncak kepala Gadis. "Aku gak akan maksa kamu buat ngasih tau, kalau emang kamu belum siap. Tapi... sekarang kita baikan kan?" Jari kelingking Juna terangkat naik. Berharap Gadis akan menyambutnya.
Tentu saja Gadis melakukannya. Mengaitkan jari kelingkingnya pada Juna sembari berkata, "Aku gak pernah marah sama kamu, Juna."
Karena aku tau. Yang paling bersalah disini itu, aku.
Maaf Juna, karena selalu bohongi kamu...
Aku, bener-bener minta maaf..
Ucapan itu hanya sanggup Gadis katakan dalam hati.
"Bener?"
"Iya," kata Gadis mengangguk.
"Dis..."
"Hmm?"
"Maafin aku ya?"
Gadis mengernyit, "Maaf, kenapa?"
Tanpa memberi penjelasan, tiba-tiba saja Juna mendekat sembari memiringkan kepala dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir Gadis.
Gadis yang terkejut seketika melebarkan mata. Bahkan disaat Juna melumat bibirnya berulang kali.
Lalu Juna menyudahi ciumannya dengan napas memburu dan hidung yang saling menempel. "Aku, sayang banget sama kamu, Dis.." lirih Juna, penuh ketulusan.
Tanpa tau, jika saat ini dikejauhan sudah ada seseorang yang memperhatikan sedari tadi dengan tangan mengepal dan hati kesal setengah mati.
****
[BERSAMBUNG]
Jangan lupa klik jempol sebagai penyemangat update saya ya guys ^_^
__ADS_1
Sampai bertemu di Part selanjutnya....
Bahagia selalu buat kalian semua....