
Jangan lupa klik like sebagai penyemangat update saya. Terimakasih ^_^
*****
Arman membuka pintu rumah. Ia melangkah keluar, membuang puntung rokok yang masih menyala lalu menginjaknya. Kepalanya mendongak menatap langit gelap saat merasa udara malam yang cukup dingin menembus jaket kulit yang dikenakannya. "Kayaknya mau ujan nih."
Tangan kirinya terangkat naik⸺melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan berujar, "Masih setengah jam lagi. Gue tinggal beli makan dulu lah." ia lantas menutup pintu rumah dan mengunci sebelum akhirnya pergi ke warung makan terdekat untuk mengisi perut.
Seseorang yang belum lama tiba dengan motor terparkir tak jauh dari rumahnya, nampak menunduk⸺menarik topi depannya untuk menutupi wajah, saat menyadari akan berpapasan dengan si pemilik rumah tersebut.
Arman sempat memelankan langkah saat akan melewatinya. Netranya melirik curiga, namun hanya sebentar karena rasa lapar lebih mendominasinya untuk cepat-cepat sampai ke warung yang di maksud. Mengabaikan segala pikiran aneh yang sempat terbesit dikepalanya mengenai cowok tadi.
Dewa, cowok itu tidak mau berlama-lama dan akhirnya sedikit berlari dan berhenti tepat didepan pintu rumah sederhana milik Gadis.
Tangannya berada di gagang pintu bermaksud membuka untuk menerobos masuk, namun ia harus menelan kekecewaan karena pintu tersebut dalam keadaan terkunci.
"Sial!"
Tidak mau menyerah, Dewa mengedarkan pandangannya sejenak ke sisi samping rumah yang lain dan menemukan sebuah jendela berpintu kayu yang sudah dipalang rapat dan dipaku sedemikian rupa. Dewa begitu yakin jika jendela tersebut merupakan jendela dari kamar Gadis.
Tok tok!
"Dis! Gadis! Lo didalam?" panggil Dewa dengan suara pelan.
Mendengar namanya dipanggil oleh seseorang dari luar, membuat Gadis yang tadinya duduk dilantai dengan kedua tangan memeluk lutut, punggung tersandar tepi ranjang dan wajah yang basah oleh air mata, segera bangkit mendekat ke jendela kamarnya. "Dewa? Apa itu kamu?"
"Iya, ini gue. lo nggak papa kan?"
Gadis semakin menangis haru, ia tidak menyangka jika Dewa benar-benar datang untuk menjemput dan membantunya keluar dari jerat sang ayah.
"Hiks, aku fikir kamu nggak akan datang." Gadis berucap disela isak tangis yang semakin sulit untuk ia hentikan.
"Gimana mungkin lo mikir kayak gitu. Gue kan udah bilang akan datang buat jemput lo."
Gadis menyeka air matanya sejenak. "Ma-makasih udah nepatin janji buat datang."
Walaupun pembicaraan keduanya terhalang dinding, tetap saja Dewa bisa merasakan bagaimana kesedihan dan ketakutan Gadis hanya dari suaranya saja.
"Ya udah. lo tunggu bentar. Gue mau cari cara buat buka jendela sialan ini."
Gadis mengangguk tanpa menjawab⸺yang pastinya tidak dilihat oleh Dewa, karena cowok itu berada diluar rumah.
Dewa kini sudah sibuk mencari-cari sesuatu disekitar untuk ia gunakan mencongkel palang kayu yang menghalangi terbukanya jendela kamar Gadis.
Saat sudah dapat, Dewa segera menggunakan benda tersebut. Dia sempat terlihat sedikit kesulitan untuk mencongkel palang kayu yang menutupi pintu jendela Gadis. Namun dengan usaha keras, akhirnya pintu jendela itu berhasil dibukanya.
Wajah sembab Gadis pertama kali dilihatnya, ia terlihat takut dan Dewa benar-benar mengkhawatirkan keadaannya. Sungguh.
"Lo nggak papa kan, Dis? apa lo terluka?" tanya Dewa, yang masih berdiri diluar jendela berukuran sedang.
Gadis menggeleng sebagai tanda jika dirinya memang tidak terluka, hanya saja untuk saat ini Gadis benar-benar merasa takut jika ayahnya akan memergoki tindakan Dewa. "Dewa, kita harus cepat sebelum ayahku tau." Gadis mengingatkan dengan memegangi lengan kiri Dewa.
Bukannya menjawab, Dewa justru diam menelisik wajah sembab Gadis yang masih basah oleh air matanya sendiri. entah sudah berapa lama Gadis menangis didalam sana. Dewa bahkan bisa merasakan ketakutan Gadis dari tangannya yang gemetaran saat memegangnya.
"Dewa!"
__ADS_1
Panggilan Gadis membuyarkan keterdiaman Dewa. "I-iya. Lo nggak perlu khawatir, tadi sebelum kesini, gue liat bokap lo pergi."
"Ayah pasti perginya cuman bentar, karena habis ini dia mesti bawa aku ke tempatnya om Rian."
Dewa yang paham, akhirnya menyuruh Gadis untuk memanjat keluar jendela kamarnya. Berhubung ukuran jendela tidak terlalu lebar, Dewa membantunya dari luar sana.
Tentu saja Gadis sudah menyiapkan beberapa barang penting yang harus dibawanya. Seperti beberapa pakaian, seragam dan juga buku-buku pelajaran untuk sekolah. Gadis benar-benar sudah bertekad untuk tidak tinggal serumah lagi bersama ayahnya yang tidak memiliki hati sama sekali.
"Lo, nggak papa kan?" tanya Dewa sedikit kikuk, saat ia baru saja menangkap tubuh Gadis yang sempat terpleset ketika akan melompat turun. Posisi mereka yang saling berpelukan itu akhirnya menyadarkan Gadis dan membuatnya melepas pelukan dengan cepat. Langkahnya segera mundur sejengkal untuk menjaga jarak yang disadarinya kelewat dekat.
"A-aku nggak papa." Gadis menunduk. Ia malu untuk hanya menatap iris mata Dewa. Yang lebih sulit dimengerti Gadis, entah kenapa jantungnya kembali berdetak tidak karuan saat tubuhnya direngkuh Dewa seperti tadi.
"Ya udah, kita pergi sekarang." Dewa mengayunkan langkah dengan menggandeng erat tangan Gadis. Dan Gadis hanya diam menurut.
Dewa mengambil satu helm yang dimilikinya, dan memberikannya pada Gadis. "Pakai helmnya."
"Kamu gimana?"
"Udah, pakai aja. Lagian gue cuman bawa helm satu tadi."
Gadis menurut untuk memakai helm tersebut, sementara Dewa sudah menaiki motor terlebih dahulu.
"Woi!!"
Keduanya tersentak, saat mendengar panggilan keras dari arah belakang, Gadis yang sempat menoleh, segera buru-buru menaiki motor Dewa, ketika melihat ayahnya itu sudah berlari hendak menghampirinya.
"I-itu ayah. Kita harus cepet pergi, Dewa! Aku nggak mau kalau ayah sampai nangkap dan maksa aku lagi seperti biasanya."
Dewa mengetatkan rahang dan mulai menyalakan motor. "Lo tenang aja. Gue gak akan biarin lo jatuh ke lubang yang sama dua kali."
****
⸺Apartemen⸺
Hujan deras yang mengguyur, membuat keduanya saat ini dalam keadaan basah kuyub oleh air hujan.
Dewa melepas jaket kulit dan topi yang dikenakannya. Menaruhnya kedalam sebuah wadah khusus cucian kotor. Dengan masih mengenakan kaos yang sedikit basah dan juga celana jins yang basah juga, Dewa mengeringkan rambut menggunakan handuk, sambil berjalan menghampiri Gadis yang masih duduk diam di sofa dengan kedua tangan memeluk tubuh dan bibir gemetar akibat kedinginan.
Entah kenapa, Dewa melihat jika raut wajah Gadis saat ini begitu pucat. Apa dia sakit?
"Ehem." Dewa berdehem. Bermaksud memecah keheningan. "Kalau lo mau, lo bisa ganti baju di dalam kamar mandi."
Gadis mengarahkan pandangan pada Dewa dengan raut pucat dan lesu yang cukup kentara. Ia lalu mengucapkan terimakasih pada Dewa, karena sudah membantunya lepas dari kungkungan sang ayah. "Makasih.. udah bantu aku kabur dari ayah. Makasih juga karena kamu udah ngizinin aku tinggal disini buat sementara waktu. Aku janji buat secepatnya nyari kos-kosan dan pergi dari sini. Kamu nggak perlu khawatir, aku akan anggap kebaikan kamu ini sebagai hutang yang harus aku bayar."
"Nggak perlu mikirin itu dulu. Lebih baik sekarang ganti baju basah lo, sebelum lo sakit dan akhirnya malah bikin gue repot."
Gadis tersenyum tipis. Walaupun ucapan Dewa tidak enak didengar, tapi ia yakin jika Dewa mengatakan itu lantaran perduli dengannya.
Gadis akhirnya berdiri, menuruti apa kata Dewa. Namun baru saja ia bangkit, mendadak rasa pusing mendera hebat dikepala. Pandangannya pun mulai berkunang-kunang. Seakan ada kabut tebal yang menyelimuti penglihatannya. Usahanya mempertahankan diri nyatanya kalah, saat kegelapan mengambil alih kesadarannya.
Dewa dengan sigap menangkap tubuh Gadis yang terjatuh agar tidak sampai menghantam kerasnya lantai. Kerutan didahinya jelas terlihat. Tanda jika dirinya begitu khawatir dengan keadaan Gadis saat ini. "Dis! Lo kenapa Dis?! Gadis!"
"Badannya panas banget." Tangan Dewa menyentuh kening Gadis⸺mengukur suhu tubuh Gadis, yang ternyata demam. "Ini pasti karena kehujanan tadi dan bajunya yang basah."
Dewa akhirnya mengangkat tubuh Gadis, dan membawanya ke atas ranjang. Mengabaikan pakaian Gadis yang dipastikan akan membasahi tempat tidurnya.
__ADS_1
"Bajunya harus cepet-cepet diganti kan?!" Dewa berbicara sendiri. Dia cukup bingung harus membuka pakaian Gadis apa tidak. Tapi jika dia tidak melakukannya segera, maka bisa dipastikan jika demam Gadis akan semakin memburuk.
"Shit!"
Tidak mau terlalu lama memikirkan hal tidak penting semacam ini, Dewa akhirnya mulai menggerakkan tangan untuk membuka satu persatu kancing baju yang dipakai Gadis, agar terlepas dari pengaitnya. Lagipula, dia hanya akan mengganti pakaian Gadis dengan yang lebih kering. Bukannya sebelumnya dia sudah pernah melakukan hal lebih bersama Gadis?!
Dewa meneguk ludah, saat sudah berhasil membuka keseluruhan kancing baju Gadis. Dua payudara yang menyembul dan masih terbalut rapi oleh bra biru laut, seketika membuat juniornya bergerak tidak tenang.
Umpatan lagi-lagi terlontar dari mulutnya untuk kesekian kali. Gue kenapa jadi mesum begini sih!
Mengabaikan miliknya yang sudah berubah tegang, Dewa kembali melanjutkan pergerakan tangan yang sempat tertunda tadi. yakni, mengganti satu persatu pakaian Gadis dengan yang lebih kering. Baru setelah itu, ia cepat-cepat memasuki kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin. berharap juniornya bisa kembali tenang seperti sedia kala.
****
*Gadis ketakutan, saat ia lagi-lagi mendapati diri berada dikegelapan yang begitu terasa nyata. Pandangannya menyapu ke sekeliling dan menemukan setitik cahaya yang tiba-tiba merangsak semakin mendekat dan menghujam wajahnya secepat kilat.
Tubuhnya seakan ikut tertarik masuk kesebuah lorong gelap tak berujung. Lalu sebuah suara mirip seseorang yang sangat ia kenal, memanggil-manggil namanya berulang kali.
"Gadis...."
"Sayang...."
Panggilan lirih nan lembut itu berubah rintihan rasa sakit. Memaksa Gadis untuk semakin melangkah maju mencari sumber suara. "Bunda?"
"Bunda...." Gadis kian mengeraskan suara, tanpa sedikitpun menghentikan langkah. "Bunda dimana*?"
Lalu langkahnya memelan, saat ia melihat cahaya putih didepan. Samar-samar ia bisa melihat wajah dan tubuh ibunya yang muncul. Tubuh itu melayang cukup tinggi diudara.
Ibunya terlihat begitu cantik saat memakai gaun berwarna putih dengan rambut terurai indah. Terlihat seperti bidadari dimata Gadis, dan yang terpenting ibunya itu terlihat.... sehat.
Gadis kian tergugu oleh tangis, ingin sekali dia ikut bersama ibunya. "Bunda... kenapa bunda pergi ninggalin Gadis?"
"*Gadis pengen ikut sama bunda. Gadis nggak mau sama ayah. Ayah selalu maksa Gadis, melakukan sesuatu yang nggak Gadis ingin..."
"Gadis mohon... bawa Gadis pergi*..."
*Ibunya itu hanya menatap Gadis dengan seutas senyum, lalu raut wajahnya perlahan berubah penuh kesakitan yang teramat sangat.
Gadis sampai tidak tega sekaligus ketakutan, apalagi saat sebuah sinar cahaya yang begitu terang muncul di bagian perut ibunya. Perlahan-lahan membesar dan membuat tubuh itu terpisah menjadi dua bagian. Isi perut yang terurai keluar, serta banyaknya darah yang mengucur, membuat Gadis berteriak histeris lantaran ketakutan*.
"BUNDA!!" Gadis terbangun dari mimpi buruk yang kembali datang mengusik tidurnya. Napasnya memburu naik turun tak beraturan. Keringat dinginnya membasahi kening cukup banyak.
Dewa yang terlelap di sofa panjang segera menghampiri, saat mendengar teriakan Gadis di tengah malam. "Lo kenapa, Dis?" Dewa bertanya khawatir. Membuat Gadis menangis takut dan akhirnya memeluk tubuh Dewa cukup erat. "Dewa, bunda.... Hiks,"
Dewa yang sempat terkejut, akhirnya memilih untuk membalas pelukan Gadis, dengan maksud menenangkan. Telapak tangannya bahkan tidak berhenti memberikan usapan di bagian punggung Gadis yang bergetar akibat rasa takut dan juga tangisnya.
"Lo tenang ya, ada gue disini."
Pelukan Dewa mengerat dengan sendirinya. Begitu nyaman dan sanggup menenangkan hati Gadis yang tengah dilingkupi kekalutan.
Entah kenapa hati Dewa tiba-tiba berkecamuk. Sebuah keinginan untuk melindungi dan memiliki, terasa begitu mendominasi dirinya saat ini.
****
BERSAMBUNG
__ADS_1