
Jangan lupa luangkan sedikit waktu membaca untuk tekan like guys ^_^
Happy reading...
***
"Kalau kamu gak mau, biar aku aja yang gantikan."
Semuanya menoleh ke arah Juna, yang baru saja muncul. Begitu juga dengan Gadis. Bahkan ekspresi Dewa sudah berubah cepat. Datar dan dingin.
Saat mendengar Dewa mengatakan jika Dino sudah menampar Gadis, jelas tidak bisa hanya membuat Juna diam saja. Sumpah demi tuhan, Juna benar-benar ingin memukul Dino sekencang-kencangnya saat ini.
Dan benar saja, saat melihat Juna yang begitu saja mendekat, Gadis ambil tindakan cepat untuk menahannya⸺memegangi lengannya seerat mungkin. Dan hal itu tidak lepas dari Dewa yang memperhatikan dengan rahang mengetat kesal.
"Itu nggak perlu, Juna!" teriaknya.
"Tapi dia udah nampar kamu, Dis!"
"Aku nggak mau memperpanjang ini." Gadis semakin mengeratkan tangannya di lengan Juna. Menatapnya penuh permohonan. "Jangan memperkeruh keadaan, Juna."
Dewa muak. Ia lantas turun dari meja yang sedari tadi ia duduki. Mata tajamnya tidak lepas menatapi pegangan Gadis di lengan Juna. Dewa tidak suka melihatnya.
Menyadari tatapan Dewa, Gadis segera melepas tangannya dari lengan Juna, lalu sedetik kemudian ia tersentak saat pinggangnya di tarik paksa sedikit kasar oleh Dewa hingga membentur tubuh Dewa.
"Gak perlu ikut campur masalah ini. Lagipula, gue gak butuh bantuan tenaga buat ngehajar si brengsek itu! Jadi mending, lo pergi sekarang juga dari sini!" Dewa terang-terangan mengusir Juna pergi dari hadapannya. Sekaligus kian mengeratkan pelukan satu tangan kanannya di pinggang Gadis.
Juna bisa melihat bagaimana Dewa melingkarkan satu tangannya di pinggang Gadis, dan itu.. benar-benar membuat Juna kesal setengah mati. Tangan Juna yang terkepal itu bahkan sudah bergetar akibat gejolak amarah dari dalam dirinya.
Senyum sinis di bibir Juna terbit. Seolah tidak mendengar ucapan Dewa tadi, Juna sudah berbalik melayangkan pukulan membabi buta di wajah Dino. Amarah dari pukulannya seakan bercampur dengan rasa marah terhadap Dewa. Dan Juna melampiaskan itu semua pada Dino.
"Juna!!" teriakan Gadis bahkan sekalipun tidak diperdulikan sang pemilik nama.
Raut takut terlihat jelas di wajah Gadis, begitu juga anak-anak lain yang menyaksikan saat ini. tidak pernah sekalipun mereka⸺termasuk Gadis, melihat sosok Juna yang bringas seperti ini.
Dino tidak berkutik. ia bahkan tidak memiliki kesempatan sekalipun untuk membalas pukulan Juna yang seperti orang kesetanan.
"Dewa, pisahin mereka!" pinta Gadis dengan teriakan permohonan.
Dewa malah menjawabnya santai. "Buat apa?"
"DEWA!!" Gadis reflek membentak Dewa akibat kepanikannya. Anak-anak disekitar bahkan tidak ada yang berani melaporkan si anak pemilik sekolah itu dalam perkelahian ini.
Dewa mengetatkan rahangnya. Ketika ia menyadari Dino hampir pingsan, barulah ia menyuruh dua temannya untuk menghentikan Juna.
****
Ruang tamu.
Kabar mengenai pemukulan yang dilakukan Juna disekolah tadi, langsung terdengar ditelinga sang ayah⸺Krisna.
Krisna bahkan sampai pulang lebih awal dari pekerjaannya di kantor, hanya untuk bisa menanyakan langsung mengenai kebenaran kabar tersebut.
"Jadi itu benar??"
Juna menganggukinya, saat ayahnya menanyakan mengenai kebenaran soal pemukulan yang dilakukannya siang tadi.
PLAKK!!
Krisna tanpa banyak bicara, langsung melayangkan tamparan keras di wajah Juna⸺anak kesayangannya itu.
Membuat Dewa yang baru membuka pintu, mematung diam di tempatnya.
Ini pertama kalinya, Dewa melihat ayahnya marah terhadap kembarannya. Bahkan sampai menamparnya sekeras itu.
Dewa pikir, ayahnya akan menutup mata dan bersikap pura-pura tidak tau mengenai apa yang diperbuat Juna. Tapi nyatanya, ia salah.
"Papa benar-benar tidak menyangka... apa kamu mau membuat papa malu seperti yang biasa dilakukan kembaran kamu?!"
__ADS_1
"Maafin Juna, Pa." Juna masih menundukkan wajahnya dengan satu tangan memegangi rasa nyeri dan panas di pipinya.
"Maaf! Maaf!! Kamu pikir maaf kamu itu cukup untuk menghilangkan rasa malu karena ulah bar-bar kamu itu, hah?"
Juna hanya diam, tidak menjawab sepatah kata.
"Sebenarnya ada apa dengan kamu, Juna? Selama ini kamu tidak pernah mengecewakan papa. Tingkah laku kamu selalu baik dan penurut. Tapi sekarang.. kenapa kamu bisa terkena masalah disekolah. Apa ini ada hubungannya dengan Dewa? apa dia yang sudah---"
"Ini tidak ada hubungannya sama Dewa, pah!" Yang dikatakan Juna memang benar. Ia tidak sepenuhnya berbohong. walaupun tidak menampik amarah yang ditimbulkan Juna saat itu juga karena dirinya kesal terhadap Dewa yang melingkari pinggang Gadis didepannya seenak jidat, Namun.. sejujurnya Juna hanya ingin meluapkan apa yang dirasakannya waktu itu.
Selama ini, emosi dan amarahnya seakan terkekang oleh sang ayah. Segala bentuk pujian, sanjungan, bahkan perlakuan berbeda antara dirinya dan Dewa, membuat Juna merasa terbebani.
Seringkali Juna harus berpikir dua kali untuk bertindak dan bersikap didepan orang lain. Tentu saja, itu semua karena ia tidak ingin melakukan kesalahan yang akhirnya akan membuat ayahnya itu kecewa.
Juna tau dan sadar, jika sikapnya tadi siang akan membuat sang ayah marah besar seperti sekarang.
Namun...
Juna lelah. Ia lelah harus menjadi piala kebanggaan ayahnya disetiap waktu dan kesempatan.
"Kalau ini tidak ada hubungannya dengan Dewa, Lalu apa yang membuat kamu bisa mukul anak itu sampai babak belur begitu?" tanya sang ayah lagi.
"Karena dia memang pantas dapetin itu!" Juna berlalu, seusai mengucapkan kalimat itu. meninggalkan ayahnya sendirian diruang tamu besar tersebut, dan memasuki kamarnya. Menguncinya dari dalam.
"JUNA! PAPA BELUM SELESAI BICARA!!" teriakan Krisna diabaikan Juna. "Juna kenapa jadi seperti itu?" Krisna berbicara pada diri sendiri.
Terdengar pintu rumah tertutup. Krisna menoleh ke arah pintu, dan tidak mendapati siapapun disana. Membuatnya terheran.
Pandangannya teralih pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul lima sore, dan ia belum juga melihat batang hidung anak lelaki yang satunya lagi. Dewa.
Krisna sudah menghubungi Dewa dan menyuruhnya pulang. Namun sampai sekarang Dewa belum juga terlihat ada dirumah.
Apa kali ini, Dewa mengabaikan perintahnya lagi?
Merogoh saku celana kerjanya, Krisna mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.
***
-Kafe-
"Jadi gitu om ceritanya." Sesil menceritakan kronologi kejadian pemukulan yang dilakukan Juna tadi siang terhadap Dino disekolah. Tentu saja Sesil menceritakan dengan versinya sendiri.
Dimana ceritanya itu lebih banyak menjatuhkan Gadis, dan membuat nama Gadis terlihat begitu buruk didepan Krisna.
"Tunggu, Om bener-bener nggak ngerti sama yang kamu katakan. Siapa tadi namanya.. Gadis?" Tanya Krisna, "Dia.. PSK?"
Sesil mengangguk cepat.
"Jadi dua anak saya suka sama dia?"
Lagi-lagi Sesil menganggukinya. "Iya om."
Krisna mengerutkan kening masih tidak mengerti. Ia lalu berbicara memperjelas pemahamannya. "Jadi maksud kamu, perkelahian Juna tadi siang itu karena cewek itu?"
Sesil mengiyakan, "Seperti yang saya bilang tadi om. Juna mukul Dino karena Dino mau pakai jasanya Gadis. Gadis butuh uang dan... ya, akhirnya ketahuan sama Dewa dan Juna. Mereka nggak terima, terus ngelampiasin marahnya ke Dino. Padahal kan harusnya Dewa sama Juna marahnya sama si Gadis ya om?!" Sesil tersenyum miring. Ia cukup senang saat melihat perubahan ekspresi di wajah Krisna saat ini.
Tidak puas hanya mengatakan itu, Sesil kembali berbicara memberitahu sebuah kebenaran yang cukup lama diketahuinya.
"Emm.. sebenarnya masih ada lagi yang mau saya kasih tau ke om. Apalagi soal Dewa." Sesil minum sebentar. Lalu mengaduk-aduk minuman menggunakan sedotan bengkok berwarna putih.
"kenapa dengan Dewa?" Krisna bertanya dengan wajah yang sudah terlihat marah.
"Tapi om jangan bilang saya yang kasih tau. Soalnya Dewa itu kalau disekolah nyeremin. Om ingat kan sama kejadian handphone saya yang sengaja di banting Dewa sampai rusak waktu itu?"
Krisna bernapas berat, "Iya, om tidak akan bilang."
Sesil menjilat bibir, ia bersikap seakan ragu untuk mengatakan. Padahal sebenarnya sikap dan hatinya saat ini begitu bertolak belakang.
__ADS_1
"Jadi sebenarnya, Dewa..." Sesil menggantung sebentar kalimatnya, dan kembali berbicara, "Ngajak Gadis tinggal bareng di apartemennya, Om."
***
-Apartemen-
Pukul 20.00
Seusai belajar tadi, Gadis sudah sibuk dengan sebuah koran yang ia rentangkan di atas meja, lengkap dengan sebuah pena dan ponsel di tangan kanan dan kirinya.
Setiap kali Gadis menemukan pekerjaan paruh waktu yang cocok untuknya, Dia segera menghubungi nomor yang tertera di koran tersebut. lalu segera mencoretnya begitu ia tau jika pekerjaan itu sudah ada yang mengambil, ataupun karena ia tidak diterima karena statusnya yang masih pelajar.
"Tapi status saya masih pelajar pak. Apa bisa---"
Tut tut tut!
Gadis mendesah frustasi, saat panggilannya di matikan sepihak oleh sebuah panggilan yang baru saja dilakukannya. Ini sudah yang kesekian kalinya, keberuntungan belum juga berpihak padanya.
"Kenapa nyari kerja sesulit ini, sih." gerutu Gadis, dengan raut yang sudah putus asa. Nyatanya statusnya yang masih pelajar benar-benar menyulitkannya dalam mencari pekerjaan paruh waktu yang diinginkannya.
Dewa yang melihat itu, segera turun dari ranjang empuknya. Ia memasukkan ponsel di saku celana dan memakai jaket kulitnya.
Kakinya melangkah ke arah Gadis. tanpa basa-basi Dewa langsung merebut koran dan melipatnya asal.
"Dewa, apa yang kamu lakukan?!" protes Gadis akan sikap Dewa barusan.
"Pakai jaket kamu. Biar gak dingin." Dewa menyodorkan sebuah jaket milik Gadis dan menyuruh untuk memakainya.
"Ngapain? Emang kita mau kemana?" Gadis bertanya heran.
"Nyari makan."
"Tapi kan, aku belum selesai nyari lowongannya."
"Kamu nggak laper? Dari tadi kamu kan belum makan malam."
Gadis menggeleng. "Aku nggak laper,"
Krucuk~~
Gadis merutuk diri. Kenapa perutnya itu harus berbunyi sekeras itu? betapa malunya dia saat ini.
Dewa terkekeh melihat rona di wajah Gadis, "Yakin kamu nggak laper? Barusan aja perut kamu bunyi sekenceng itu."
Gadis hanya memanyunkan bibir. Membuat Dewa yang melihatnya gemas sendiri. rasanya ia ingin sekali melumat dan memberikan gigitan pelan di bibir merah Gadis. Tentu saja, itu hanyalah sebatas keinginan mesum yang terpendam.
Dewa hanya tidak mau jika Gadisnya kembali marah hanya karena ia melakukan itu. Apalagi beberapa jam yang lalu, Dewa baru mendapat maaf Gadis soal insiden tadi siang disekolah.
Dewa mengambil kembali jaket dari tangan Gadis. Membantu memakaikannya dengan telaten. Dan Gadis hanya diam menurut tanpa memprotesnya lagi. sejujurnya Gadis memang sedang lapar. Hanya saja ia terlalu gengsi untuk bilang ke Dewa.
Dia ingin beli sendiri, tapi sayangnya Gadis tidak memiliki uang sepeserpun.
"Kamu mau makan apa malam ini?" Dewa bertanya sembari menarik naik resleting jaket Gadis. Tangan Dewa membenarkan rambut belakang Gadis dan mengeluarkannya dari dalam jaket.
"Terserah kamu."
Dewa tersenyum, lalu mengusap puncak kepala Gadis penuh sayang. Gadis jelas terenyuh akan sikap perhatian yang Dewa beri untuknya. Sisi hangat Dewa, yang hanya Gadis tau semenjak mereka menjalin hubungan.
Dewa menggandeng tangan Gadis, membawanya menuju pintu.
Ketika daun pintu telah terbuka, Gadis dan Dewa dikejutkan oleh sosok pria dewasa penuh wibawa⸺yang entah sejak kapan sudah berada disana dengan ekspresi terlihat...
Marah.
"Pa-pa?"
***
__ADS_1
BERSAMBUNG