
klik like ya jangan lupa guys 😘
HAPPY READING...
*****
Sudah empat hari berlalu, namun putusnya hubungan dirinya dengan Juna malam itu, masih saja menggores luka dihatinya. Apalagi dengan ucapan Juna yang begitu tajam dan menusuk, saat mengatakan jika Gadis adalah seorang pelacur.
Biarpun fakta mengenai itu memang lah benar, tetap saja Gadis tidak percaya jika Juna sanggup mengucapkan itu dengan begitu mudah.
Satu kata yang sanggup menyayat dan membuat luka menganga di dalam hatinya. Benar-benar menyakitkan dan rasanya mungkin tidak akan pernah bisa disembuhkan oleh apapun juga.
Biarpun begitu, Gadis sangat paham jika ini memang bukanlah kesalahan Juna seutuhnya.
Kenyataannya, tidak ada satupun lelaki di dunia ini yang akan mau ataupun rela, perempuan yang dicintainya menjual kemolekan tubuhnya pada lelaki lain. Apalagi disisi lain, Juna begitu menghormati Gadis dan sedikitpun tidak pernah 'menyentuhnya' biarpun mereka berdua berpacaran sudah cukup lama.
Selama itu, hal yang wajar dilakukan Juna saat menjalin hubungan dengan Gadis, hanyalah sebatas ciuman di bibir.
Ya, hanya itu. Dan tidak lebih dari itu.
Gadis kian semakin terisak, disaat dirinya mengingat bagaimana raut marah dan kecewa Juna malam itu. Kedua bola mata Juna yang menyorot tajam kearahnya penuh kebencian dan juga rasa kecewa yang begitu besar, membuat Gadis semakin takut untuk kembali ke sekolah itu.
Ya, memang setelah kejadian malam itu, Gadis sudah tidak lagi masuk sekolah beberapa hari. Apalagi alasannya kalau bukan malu. Gadis benar-benar malu dan tidak sanggup jika harus bertatapan langsung dengan Juna disekolah.
Hatinya tidak akan siap, atau mungkin tidak akan pernah siap sampai kapanpun.
Tapi Gadis juga tidak bisa seperti ini terus. Pendidikan dirinya harus tetap berjalan, apalagi ia sebentar lagi juga akan lulus. Gadis tidak mau menyia-nyiakan uang biaya sekolah dirinya yang begitu mahal, terbuang sia-sia karena masalah ini.
Gadis tidak mau terus menerus terpuruk seperti ini. Karena bagaimanapun juga, masa depannya nanti akan tetap berjalan sebagai mana mestinya.
Gadis tersentak, saat sebuah tangan hangat menyentuh pipinya yang basah dan menyekanya lembut.
Ia menatap bundanya yang sedari tadi berada tepat didepannya. Tersenyum dengan kedua bola mata yang bergerak tidak fokus.
Membuat Gadis teringat akan hal penting yang cukup lama diimpikannya selama ini. Apalagi kalau bukan mengenai kesembuhan mata ibunya.
Gadis semakin terisak mengingat hal penting itu. Dan tanpa sadar hal itu kian semakin deras menjatuhkan air matanya. Entah kenapa, ibunya yang memiliki gangguan jiwa itu seakan mengerti yang ia rasakan saat ini, dan terus menggerakkan tangan mengusap pipinya yang basah oleh air mata.
Gadis berusaha menguatkan hati, beralih ke piring ditangannya--dimana makanan yang ia bawa untuk ibunya sudah habis tak bersisa. Mengangkat gelas untuk memberi ibunya minum dan kembali menaruhnya.
"Bunda, bunda nggak perlu khawatir ya, Gadis kuat kok. Biar bagaimanapun Gadis akan tetap berusaha supaya bunda bisa melihat lagi. Bukannya itu yang diinginkan bunda dulu??" Gadis menyentuh, menghentikan pergerakan tangan ibunya yang menyeka wajah sembabnya.
"Gimanapun juga, Gadis akan berusaha dapetin uang yang banyak buat biaya pengobatan donor mata bunda. Masalah yang Gadis hadapi sekarang, nggak akan menghentikan mimpi Gadis untuk bisa buat Bunda melihat indahnya dunia seperti dulu lagi." Gadis mendekatkan wajah--mencium kening ibunya penuh sayang dan juga air mata yang kembali terjatuh. "Gadis sayang sama bunda. Cuman bunda prioritas utama Gadis saat ini."
Itu memang benar, ibunya adalah prioritas Gadis saat ini. Karena ibunya lah Gadis jadi memiliki tekad untuk bisa menjadi sosok yang lebih kuat. Motivasi hidupnya sekarang tidak ada yang lain selain ibunya, ibunya, dan ibunya.
Semuanya untuk ibunya. Gadis benar-benar ingin membuat ibunya itu bisa melihat lagi seperti dulu. Mungkin dengan begitu, perlahan kejiwaan ibunya akan bisa sembuh seperti sedia kala.
****
Didalam kamar, Gadis nampak diam menatap lekat dirinya yang sudah berseragam lengkap dicermin--berusaha meyakinkan diri jika semuanya akan baik-baik saja. Ya, semuanya akan baik-baik saja.
"Juna nggak akan mungkin ngasih tau yang lain soal siapa aku yang sebenarnya. Ya, aku yakin karena Juna bukan orang yang seperti itu."
Gadis berusaha meyakinkan diri sendiri agar tidak takut untuk pergi sekolah hari ini.
Sedetik kemudian, Gadis tersenyum miris melihat dirinya sendiri yang bahkan sebenarnya masih begitu kacau. Lihat saja mata sembabnya itu bahkan masih bengkak akibat semalaman ia menangis lagi lantaran kembali teringat akan hubungannya dengan Juna yang telah kandas.
"Mau ke mana Lo? Sekolah??" Tanya sang ayah yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar, dengan sebuah rokok yang terselip di antara jari tangannya.
__ADS_1
Gadis menoleh, "Iya yah." Lalu mengambil dan menyandang tas yang sedari tadi tergeletak di atas ranjang.
Sesampainya di ambang pintu, langkah kaki Gadis terhenti saat sang ayah menghalangi jalan dan tidak juga berniat menyingkir.
"Yah, aku udah mau telat." Katanya, memberitahu.
Namun Arman terlihat tidak perduli.
Rokok yang tinggal sedikit itu dibuang Arman secara asal di lantai rumah dan diinjaknya. "Bagi duit!" ujar Arman, sembari menadahkan satu tangan ke arah Gadis. Ujung jarinya bergerak dua kali seolah menyuruh Gadis agar cepat-cepat memberinya uang yang dimaksud.
"B-bukannya ayah semalam udah aku kasih uangnya? Kenapa sekarang ayah minta lagi?"
Sedikit penjelasan, Arman memang setiap hari mendapat jatah uang dari Gadis dengan jumlah yang bisa dibilang cukup besar.
Karena memang dulu ayahnya mengaku akan menyimpan uang itu untuk biaya donor mata ibunya.
Seiring berjalannya waktu, Gadis semakin menyadari kebiasaan buruk ayahnya yang suka main judi ataupun perempuan. Gadis yakin jika ayahnya menggunakan uang itu untuk kepentingan pribadi.
Percayalah, jika Gadis sudah terlalu sering memperdebatkan hal itu dengan ayahnya, tapi ayahnya seolah tidak perduli dan makin ke sini justru semakin gila dan parah saja kelakuannya itu.
Dari situ Gadis mulai berinisiatif menyisihkan uang hasil kerja malamnya untuk ia tabung diam-diam. Apalagi banyak sekali pelanggannya yang memberinya uang lebih saat selesai menikmati tubuhnya.
"Uang yang lo kasih udah habis buat judi. Sekarang gue minta lagi. Lo mau kasih gak?!"
Gadis tidak menjawab. Ia hanya diam menatap sang ayah dengan hati kesalnya. Segampang itu ayahnya menghabiskan uang pemberiannya dalam waktu singkat??
"Kenapa malah melotot? Lo gak mau kasih??" Sentak Arman dengan nada membentak.
Gadis menghela napas, tidak ingin memperpanjang dan membuat keadaan menjadi buruk. Ia akhirnya merogoh saku bajunya, memberikan satu lembar uang 50 ribu pada ayahnya.
Brakk!
"Gak ada yah, cuman ada itu, aku gak punya lagi."
"Gak mungkin Lo gak punya lagi. Lo pasti punya dan nyimpen uangnya di suatu tempat kan?!"
"Nggak ada yah, beneran. Aku nggak bohong."
Arman yang masih tak percaya akhirnya menarik tas milik Gadis. Membuka tas dan begitu saja membalik tas itu-- membuat seluruh isi didalamnya jatuh berserakan dilantai kamar.
"Ayah!!" Teriak Gadis tak percaya dengan apa yang dilakukan ayahnya saat ini. "Udah aku bilang kan yah, aku nggak ada uang! Uang 50 ribu itu uangku satu-satunya!!"
"Terus ini apa??" Tanya sang ayah, sembari berjongkok menunjuk buku tabungan sekolah milik Gadis, dimana didalamnya terdapat uang ratusan ribu.
"Berani Lo ngibulin orang tua?! Lo bilang tadi nggak ada duit. Terus ini apa kalau bukan duit, hah? Daun?" Sentak Arman, saat sudah berdiri. mengambil semua uang itu, sekaligus menamparkan uang itu di pipi Gadis.
"Itu uang yang sengaja aku siapin buat bayar SPP bulan ini yah. Aku mohon kembalikan." Pinta Gadis memelas.
"Enak aja kembalikan. Heh, lagian Lo itu kalau sama orang tua sendiri jangan pelit-pelit. Lagian buat apa sampai sekarang masih sekolah juga?! Toh ujung-ujungnya nanti kerjaan Lo juga tetep sama. Ngangkang buat layanin laki-laki ditempatnya mami."
Gadis mengepalkan tangan mendengar itu. Sementara ayahnya sudah begitu saja pergi meninggalkan rumah setelah mendapat uang yang diinginkannya.
Enggak! Ayah salah! Aku nggak mau terus menerus kerja seperti ini. Setelah bunda bisa melihat lagi, aku akan langsung berhenti dan pergi ke tempat yang jauh bersama bunda. Hanya sama bunda, dan aku pastikan ayah nggak akan bisa mencari kami.
Batinnya penuh tekad. Lalu mulai berjongkok untuk memunguti kembali buku-bukunya yang berserakan, dan memasukkannya lagi kedalam tas.
Terpaksa ia harus mengambil sedikit uang simpanan pengobatan mata ibunya untuk mengganti uang SPP yang baru saja dibawa sang ayah pergi.
****
__ADS_1
Nyatanya Gadis benar-benar telat masuk kelas sekitar lima menitan.
Dan akhirnya sekarang Gadis berakhir disini. Toilet sekolah yang harus dibersihkannya sebagai bentuk hukuman karena sudah lalai membawa buku soal matematikanya.
Sebenarnya tadi saat Gadis telat, ia diperbolehkan guru untuk masuk, walaupun harus mendapat teguran terlebih dahulu didepan kelas. Namun saat ia sudah duduk dan sang guru mulai menyuruh seluruh murid untuk mengeluarkan buku soal matematika, disitu Gadis akhirnya tidak selamat dari kemarahan sang guru killer, lantaran ia lupa membawa buku yang dimaksud. Dan akhirnya berakhir mendapat hukuman seperti ini.
Padahal ini masih pagi, dan Gadis sebenarnya sangat lelah hari ini. Semalaman kerja dan pulang jam dua pagi, tidur sebentar dan saat bangun, ia sudah dihadapkan pada urusan rumah yang biasa dilakukannya. Dan sekarang ia harus dihadapkan pada hukuman yang baru saja diberi guru, yakni membersihkan toilet.
Gadis menghela napas beratnya, kakinya sudah akan melangkah hendak mengambil beberapa alat yang akan digunakannya untuk membersihkan toilet, dan urung, saat sebuah suara mengagetkannya.
"Yakin, lo mau bersihin ini?"
Gadis yang terkejut itu, lantas menoleh. Mendapati Dewa yang sudah berdiri diambang pintu. "Kamu ngapain disini? Toilet cowok kan ada disebelah." kata Gadis, mengira jika Dewa mungkin saja salah masuk toilet.
Dewa memutar bola mata. "Gue juga dihukum."
Kening Gadis mengkerut. "Kamu juga gak bawa bukunya?"
"Hmm.." jawab Dewa singkat.
mendengar itu, Gadis seketika mengambil ember dan alat pel untuk diberikan pada Dewa.
Pikirnya, Hukuman mereka akan menjadi lebih ringan jika dikerjakan berdua. Bukan begitu?
"Apa?" tanya Dewa tidak mengerti, saat Gadis menyodorkan alat pel tepat didepannya.
"Kamu bilang kamu juga dihukum kan?! Ya udah, ini pegang!" Gadis menyodorkan alat pel itu pada Dewa, dan Dewa malah diam tidak mengindahkan ucapan Gadis. "Ck! pegang, Dewa!" Keterdiaman Dewa akhirnya membuat Gadis memaksa cowok itu untuk menerima ember dan alat pel ditangannya.
"Kita kerjain ini bareng-bareng." Cetus Gadis, membuat Dewa membulatkan mata dan akhirnya membuang asal ember dan juga tongkat pel ditangannya hingga menimbulkan bunyi yang cukup memekakkan telinga.
"Ogah!" Tolak Dewa mentah-mentah.
"Jadi kamu nyuruh aku yang kerjain ini sendiri?"
"Kalau lo mau."
"Mana boleh begitu?! Kamu kan juga dihukum bersihin toilet sama kayak aku. Masak kamu gitu aja mau lalai dari tanggung jawab?"
"Pokoknya kamu juga harus ikut bersihin toilet ini. Titik!" lanjut Gadis, masih bersikeras agar Dewa mau melakukannya.
"Ngapain repot-repot kalau ada cara yang lebih gampang buat bersihin ini."
"Maksudnya?" tanya Gadis tidak mengerti, dengan kening yang mengkerut dalam.
"Ikut gue!" kata Dewa, sembari menarik begitu saja tangan Gadis agar mengikutinya.
"Eh, kita mau kemana? kita harus selesaiin hukuman atau kita nggak akan dibolehin ikut pelajaran berikutnya."
"Bukannya itu lebih baik?!" Dewa menoleh ke arah Gadis dengan tersenyum miring.
"Itu kan menurut kamu. Lepasin tanganku, Dewa!"
Gadis masih saja berusaha keras melepas tarikan tangan Dewa yang dirasa begitu kuat. Pukulan demi pukulan juga dilayangkan Gadis dilengan Dewa, Tapi semuanya hanya sia-sia.
Dewa seakan tidak perduli dan terus menggerakkan langkah kakinya entah kemana. Gadis juga tidak tahu.
Sekarang apa lagi yang diinginkan cowok itu?
****
__ADS_1
BERSAMBUNG