Gadis Dewa

Gadis Dewa
bab 24


__ADS_3

Jangan lupa untuk klik like dan komen guys ^_^


"Lo bilang kalau dia cewek Lo. Tapi kenapa Lo gak bisa percaya dia dan masih mempertanyakan foto yang diperlihatkan Sesil?" Cetus Dewa mempertanyakan, yang seketika membuat Juna terdiam telak. "Hmm... Gue jadi penasaran, kalau misalkan yang dibilang Sesil itu benar, apa Lo masih akan tetap bertahan, atau... Lo akan milih buat ninggalin dia?"


"Apa maksud Lo?"


Dewa bisa melihat raut wajah Juna yang sepertinya menanggapi ucapannya tadi dengan serius.


"Ah.. gue kan tadi bilang 'misalnya' kenapa Lo jadi nanggapin seserius itu." Kata Dewa, lalu kemudian terkekeh.


Ia lalu pergi meninggalkan Juna yang masih terlihat bertanya-tanya atas ucapannya barusan.


Juna menghela napas berat. Memilih tidak ambil pusing mengenai apa yang dikatakan Dewa tadi. Ia mengarahkan pandangannya pada Gadis yang saat ini terlihat sendirian memunguti sampah, lantaran Aurel yang sedang izin ke toilet sebentar.


"Dis.." sapa Juna, saat sudah mendekat menghampiri.


Gadis menoleh, mendapati sosok Juna yang sudah berada tepat didepannya.


"Ke-Kenapa?" rasa gugup tiba-tiba melingkupi diri Gadis. Jujur saja Gadis merasa takut jika sampai Juna masih mengungkit soal foto tadi. Karena memang semenjak keributan yang dibuat oleh Aurel dan juga Sesil, keduanya sama sekali belum saling berbicara sepatah kata.


"Aku minta maaf. Karena tadi aku udah bersikap gak percaya sama kamu." Terlihat jelas raut wajah penuh sesal Juna saat ini. "A-aku bener-bener bodoh bisa berfikir kalau foto yang diperlihatkan Sesil itu adalah asli. Padahal selama ini Sesil terang-terangan nunjukin sikap gak sukanya dia terhadap hubungan kita berdua. Harusnya aku gak segampang ini percaya omong kosong dia mengenai foto itu."


Juna kemudian meraih jemari Gadis dan menggenggamnya. "Aku harap kamu mau maafin aku."


Rasa bersalah seketika menyelimuti diri Gadis. Jelas-jelas jika memang dirinya lah yang salah. Gadis merasa, dirinya begitu buruk karena sudah mempermainkan Juna seperti ini.


Tapi... Tetap saja Gadis belum siap dan bahkan mungkin tidak akan siap jika sampai Juna mengetahui hal yang sebenarnya mengenai dirinya.


Karena Gadis.. tidak akan sanggup menerima kebencian Juna atas kebohongannya selama ini.


"Kamu nggak perlu minta maaf. K-karena aku ngerti, siapapun juga pasti akan bersikap sama seperti kamu waktu ngelihat foto itu."


"Tapi harusnya, aku sebagai pacar lebih mempercayai kamu, ketimbang omongan orang lain. Apalagi mengenai foto yang sudah jelas gak mungkinnya. Gimana bisa aku sempat-sempatnya mempercayai hal yang gak mungkin kayak gitu. Apalagi mengenai kamu yang jelas-jelas gak akan mungkin ngelakuin hal serendah itu. Aku memang bodoh."


Tapi kenyataannya, aku memang serendah itu, Juna. Dan aku membenci diriku sendiri karena hal itu.


****


Gadis berdiri diambang pintu rooftop dengan perasaan ragu untuk masuk atau tidak.


Apalagi saat dirinya hanya menatap lama punggung lebar seorang cowok yang kini tengah berdiri sembari menghisap rokok di pembatas dinding rooftop yang hanya setinggi pinggang.


Menarik napas panjang, Gadis lantas menggerakkan kakinya untuk mendekat dengan membawa serta satu kaleng minuman dingin ditangannya.


"Makasih.." ucapan itu meluncur berbarengan dengan satu tangannya yang terulur memberikan minuman kaleng tadi sebagai bentuk ucapan terimakasihnya pada cowok tersebut.


Menoleh. Cowok itu mengernyit saat melihat kedatangan Gadis tepat disampingnya. Padahal baru saja ia memikirkannya.


Memikirkan bagaimana raut takut Gadis saat Sesil menunjukkan foto dirinya bersama om-om itu diskotik. Ia sendiri sampai dibuat keheranan, bagaimana bisa Sesil bertemu Gadis secara kebetulan begitu di tempat hiburan malam?!


"Buat apa?" Tanya Dewa, tanpa mengambil minuman kaleng itu dari tangan Gadis.


Mau tidak mau, Gadis menarik satu tangan Dewa untuk menerima minuman kaleng tersebut secara paksa. "Karena kamu udah bantuin aku dan ngebuat Juna serta yang lainnya percaya, kalau foto itu palsu." ucap Gadis, lalu menundukkan kepala dengan raut sedihnya. "Walaupun sebenarnya... itu asli." Lanjutnya miris.


Dewa memperhatikan sesaat wajah sedih Gadis yang tengah menunduk itu, sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangan dengan menjatuhkan puntung rokok.


Tangan kanannya terangkat naik melingkari leher belakang dengan sebuah deheman---salting. Lalu kembali turun untuk membuka penutup minuman kaleng pemberian Gadis---menenggaknya hingga separuh. "Gak masalah." Jawabnya singkat.


Dirasa hanya itu, dan sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Gadis akhirnya pamit pergi meninggalkan Dewa, dengan mengucapkan terimakasih untuk kesekian kali.


Namun, disaat langkah kakinya sudah berbalik hendak pergi, Dewa mencetuskan sebuah tanya, yang membuat langkah Gadis seketika terhenti.


"Lo nyaman dengan profesi lo yang sekarang?"


Pertanyaan sederhana semacam itu, jelas sangat menyentil hati dan perasaan Gadis.


Kenapa Dewa masih saja mempertanyakan hal semacam itu? Apa Dewa tidak bisa hanya diam dan menilainya sendiri, tanpa harus menanyakannya langsung seperti ini.


"Menurut kamu?" Gadis justru bertanya balik, saat sudah kembali menghadapkan diri pada Dewa.


Dewa menaruh minuman kaleng yang masih di pegangnya tadi, di dinding pembatas rooftop. "Menurut gue, selama lo masih memilih bertahan, itu berarti----"


"Nggak! kamu salah!" Gadis menyelanya dengan tegas, saat tau apa yang akan Dewa katakan. "Apapun yang kamu fikirkan saat ini mengenai aku, itu salah!"


"Kalau gitu, kenapa lo gak berhenti?"


"Karena itu mustahil."

__ADS_1


"Gak ada yang mustahil didunia ini, kalau lo sungguh-sungguh." Kata Dewa tak kalah tegasnya.


"Kamu nggak akan pernah ngerti, Wa."


"Kalau gitu coba jelasin ke gue, Biar gue ngerti."


"Buat apa? memangnya kamu siapa aku?"


Ucapan Gadis seketika membuat Dewa terdiam telak.


Itu memang benar. Yang dikatakan Gadis memang benar.


Memangnya Dewa siapanya Gadis??


****


"Mau ke mana lo?"


Sesil dan dua temannya, menghadang langkah Gadis yang hendak menuju kantin--dimana Juna sudah ada disana menunggunya sedari tadi.


Tadinya Gadis memang beralasan pada Juna untuk pamit sebentar ke kelas karena dompet miliknya tertinggal.


Tentu saja itu hanya sebuah alasan, karena Gadis justru pergi ke rooftop untuk menemui Dewa, dengan membawa satu kaleng minuman dingin yang sudah dibelinya diam-diam, sebagai bentuk terimakasih.


Namun saat kembali, Gadis malah dihadang oleh Sesil dan juga gengnya. Menyebalkan.


"Kantin." Jawab Gadis singkat, lalu berusaha acuh dengan berjalan ke sisi lain--menghindarinya.


Langkah kaki Gadis kembali terhenti berbarengan dengan helaan napas lelah akan sikap Sesil dan dua temannya yang kembali menghadangnya seperti tadi.


Rasanya, mereka tidak akan pernah puas jika sehari saja tidak mengganggu dirinya seperti ini. Benar-benar mengesalkan.


"Ngapain buru-buru sih?!" Cindy melontarkan tanya dengan tangan yang sudah berada di bahu Gadis, menahan gerak langkahnya pergi.


"Bukannya nggak sopan ya, kalau lo jawab pertanyaan orang dengan cara kayak gitu?" Sesil berkata dengan raut menyebalkannya.


"Ya... maklumin aja guys. Bokap nyokapnya pasti lupa buat ngajarin dia gimana caranya bersikap sopan yang bener. Kalau enggak, mana mungkin dia sampai jual diri ke om-om langganannya itu." Kali ini Melly yang ikut berkomentar pedas, membuat Gadis mengepalkan tangan kuat-kuat.


"Kenapa lo? Mau marah karena nggak terima apa yang barusan kita omongin??" Cetus Sesil dengan gaya songongnya.


"Harusnya Lo gak perlu marah, karena emang apa yang kita bilang barusan itu adalah benar." Sambung Cindy, sembari mencengkram kuat bahu Gadis.


"Akh!" Gadis memekik, saat punggungnya menghantam dinding dengan kerasnya akibat ulah Sesil yang tiba-tiba mendorongnya kencang.


"Gue nggak ngerti ya, apa yang dilihat Dewa dan Juna dari Lo! Kenapa pangeran seperti mereka berdua bisa ngebela Lo sampai kayak gitu. Apalagi Dewa! Dia bahkan hancurin ponsel gue cuman karena cewek yang modelnya kayak Lo!" Sesil menatapnya tajam penuh rasa benci.


"Jangan-jangan... Dia pakek pelet lagi." Cetus Melly menduga, namun wajahnya terlihat serius saat mengatakannya.


"Apa??" Tanya Melly tak mengerti, saat mendapati Sesil sudah beralih menatapnya dengan wajah serius.


"Bisa aja kan apa yang gue bilang itu bener. Bukannya kebanyakan perek diluar sana itu mainnya kedukun buat memikat pelanggannya?!" Kata Melly lagi, dan hanya ditanggapi Sesil dan Cindy dengan memutar dua bola matanya malas.


Lalu sesil kembali beralih menatap Gadis seperti tadi. "Jangan harap karena Dewa udah ngebela Lo, gue akan tinggal diam. Justru sebaliknya, gue akan cari tau sebanyak mungkin info mengenai lo, dan Juna adalah orang pertama yang akan mengetahui kebusukan Lo itu!"


"....kali ini, gue akan cari info sebanyak mungkin, dan gue pastiin akan ngebuat Juna membenci Lo seumur hidup!" Lanjut Sesil penuh penekanan. "Gue, nggak main-main kali ini. sebaiknya Lo bersiap karena mungkin aja akan ada hal terburuk yang nggak akan Lo duga sedikitpun. Seperti... Dikeluarkan dari sekolah, mungkin." Katanya mengancam dan tersenyum miring.


*****


Nyatanya ucapan Sesil waktu itu terus terngiang dan menghantui benak Gadis.


Ia sangat tau bagaimana Sesil. Orang seperti dia pasti akan melakukan berbagai macam cara untuk bisa mencapai keinginannya. Dan Gadis tau jika Sesil bukan tipe orang yang hanya main-main ataupun sekedar mengancam dengan apa yang diucapkannya.


Bahkan Dewa sendiri sempat mengingatkan Gadis untuk berhati-hati, agar jangan sampai ia bertemu dan akhirnya memberi celah bagi Sesil untuk semakin menjatuhkannya. Dewa bahkan sampai menyuruh Gadis sementara waktu untuk tidak bekerja.


Tentu saja itu adalah sebuah hal yang sangat tidak mungkin bagi Gadis.


Semua yang dikatakan Dewa sampai membuat Gadis terheran tidak menyangka. Apa cowok itu tengah mengkhawatirkannya?


Di dalam mobil yang dinaikinya saat ini, Gadis masih saja menatap jalanan yang mulai tergenang air akibat hujan lebat yang mengguyur cukup lama. Mengakibatkan mobil yang dinaikinya terjebak macet yang cukup panjang.


Gadis tersentak sedikit terkejut, saat merasakan sebuah tangan yang membelai pipi kirinya dengan lembut.


"Kamu kenapa sayang? kok ngelamun?"


Pria itu adalah Rian, Seseorang yang sering dipanggil ayahnya dengan sebutan bos.


Tadinya Gadis pikir, Rian tdak akan lagi ingin memakainya. Mengingat sudah cukup lama Rian tidak menghubunginya. Tapi sekarang kenapa??

__ADS_1


Apakah kejadian waktu itu aka terulang? saat dimana Rian tanpa belas kasihan mengikat kedua tangan dan kaki, hingga menyumpal mulutnya saat sudah berhasil menelanjangi dirinya disebuah kamar apartemen milik Rian.


Lalu saat itu... Tiga kali sundutan rokok dari tangan Rian, sudah melayang diseputar perut dan membuat Gadis menangis dengan sebuah jeritan tertahan--lantaran tidak tahan dengan rasa sakit yang diterimanya.


Sungguh.. Rian adalah sosok yang mengerikan dimata Gadis.


Menurut Gadis, Rian itu sakit jiwa! Tapi sayangnya bagi sang ayah, Rian itu adalah ladang uang yang sama sekali tidak boleh disia-siakan. Dan Gadis... dituntut ayahnya untuk tetap tersenyum didepan Rian, bagaimanapun situasinya.


Dan Gadis benar-benar membenci itu.


"A-aku nggak papa kok om."


"Hey... kenapa kamu jadi gugup gitu, hmm? Apa om nakutin kamu?" Tanya Rian, dengan suara lembut dan juga tangan yang masih membelai lembut pipinya. Hal itu justru semakin membuat Gadis kian takut.


Hingga akhirnya Gadis mengingat apa yang dikatakan ayahnya, dan berusaha untuk tersenyum setenang mungkin, menghilangkan rasa gugupnya didepan Rian dengan susah payah. "Enggak om. Aku cuman... emm..." Gadis nampak sulit memberi alasan.


"kenapa? ngomong aja."


"Aku Masih nggak percaya, om beliin aku baju-baju mahal sebanyak ini. Bukannya ini... berlebihan?"


Memang tadi.. ah lebih tepatnya beberapa menit yang lalu, mereka berdua baru keluar dari sebuah mall dengan membawa begitu banyak barang belanjaan milik Gadis. Rian begitu royal membelikan Gadis beberapa barang seperti tas, sepatu, dan juga beberapa baju, bahkan peralatan kosmetik untuk Gadis.


Semua barang-barang itu nampak memenuhi bagian kursi belakang mobil Rian. Dan tentunya, bukan Gadis yang meminta itu semua. Rian sendirilah yang tiba-tiba memberinya dan menyuruhnya memilih beberapa barang saat di mall tadi.


Bahkan penolakan Gadis sama sekali tidak didengar oleh Rian. Pria disampingnya ini masih saja sama, suka seenaknya sendiri. Padahal jujur saja, Gadis tida membutuhkan itu semua.


Dari pada membelikannya barang-barang tidak berguna seperti itu, Gadis lebih suka dengan uang yang sudah jelas bisa ia tabung untuk tembahan biaya donor mata bundanya.


"Berlebihan gimana? om justru seneng beliin kamu semua barang-barang ini. Kamu... juga menyukainya kan?"


Jangan salah sangka dengan sikap lembut Rian saat berbicara. Dia memang seperti ini. Kenyataannya Rian sangat berbeda berkali-kali lipat saat berada di atas ranjang. Pria ini akan berubah menjadi monster yang sedikitpun tidak memiliki belas kasihan saat berhadapan dengan lawan mainnya.


Dan Gadis... sudah mengalaminya sendiri.


Gadis hanya tersenyum dan mengangguki ucapan Rian tadi. Lalu kemudian mengucapkan terimakasih.


Netranya kembali menatap mobil didepan yang sama sekali tidak bergerak sedikitpun. Mereka berdua masih terjebak macet yang cukup panjang.


Suasana malam ditambah dengan guyuran hujan lebat cukup membuat Gadis kedinginan. Kedua tanganya memeluk diri sendiri, lantaran pakaian minim yang dikenakannya saat ini, tidak mampu menghalau dinginnya malam yang menusuk kulit.


"Kamu kedinginan?" Tanya Rian, saat baru menyadarinya.


"Sedikit om."


"Sini. Deketan sama om." ujar Rian, sembari mengulurkan satu tangannya. "Om akan bantu kamu supaya nggak kedinginan lagi."


"Nggak usah om. A-aku udah nggak papa kok. Beneran."


"Jadi kamu nolak om?"


"Bukan gitu om, tapi..." Pada akhirnya Gadis hanya bisa pasrah dan menggeser tubuhnya pada Rian, saat tau raut wajah Rian yang mulai berubah kesal.


Rian dengan senang hati melingkarkan satu tangannya di belakang punggung Gadis. Menarik tubuh mungil itu kedalam pelukan. Bahkan Rian sudah mulai nakal dengan menciumi leher Gadis. membuat Gadis merasa geli sekaligus risih dikarenakan kumis Rian juga ikut menggelitik kulit lehernya.


tangan kanan Rian tidak tinggal diam, tangan itu bahkan mulai menarik turun baju yang menutupi bahu Gadis.


"Om.. jangan.." Pinta Gadis, berharap Rian akan berhenti. "Gimana kalau ada yang liat?"


"Nggak akan. Kamu tenang saja, hmm.."


"Ta-tapi om---"


protes yang dilayangkan Gadis mendadak terhenti, saat ia mendengar suara gedoran kaca mobil tepat disampingnya.


Gedoran itu terdengar berulang kali tanpa henti, membuat Rian mengumpat dan menghentikan cumbuannya dileher Gadis.


Gadis menoleh dengan napas tercekat, saat mendapati sosok Juna sudah menatapnya tajam penuh amarah tepat di kaca jendelanya.


Juna mengabaikan hujan yang sudah mengguyur tubuhnya. Membuat tetesan hujan terjatuh diujung bagian depan rambutnya.


Urat lehernya tercetak jelas, menandakan bagaimana marahnya Juna saat ini.


"Keluar dari mobil sekarang juga!!"


****


Bersambung...

__ADS_1


.


__ADS_2