Gadis Dewa

Gadis Dewa
41 | satu ranjang


__ADS_3

Jangan lupa tekan like guys, makasih ^_^


Happy reading...


****


Juna menggeram kesal, saat panggilannya dimatikan secara sepihak. Ia kembali menghubungi lagi seperti tadi, berharap kali ini Gadis akan mengangkatnya.


Nada menyambung mulai terdengar nyaring ditelinga. Tapi yang bersangkutan belum juga mengangkat panggilannya. Juna berdecak marah, saat panggilan yang ia lakukan terputus dengan sendirinya.


"Sebenarnya kamu lagi ngapain, sampai-sampai kamu cuekin telfon dari aku, Dis?!" Juna berbicara sendiri, sembari memandangi ponsel di tangannya.


Fikirannya mulai berkecamuk. Kejadian saat dikantin sekolah tadi, mulai memenuhi isi kepalanya. Apalagi saat Gadis membalas pengakuan Dewa dengan sebuah ciuman di pipi⸺seolah menegaskan mengenai status hubungan keduanya.


"Enggak, enggak!!" Juna menggeleng frustasi. Mencoba mengelak dengan kenyataan pahit yang baru saja diketahuinya. "Gak mungkin kamu pacaran sama Dewa. Itu pasti cuman kebohongan kamu, Dis!" ujarnya, dengan kedua tangan *** rambut dan membuatnya acak-acakan.


Menaruh asal ponselnya di ranjang, Juna lantas berdiri melepas kaos berlengan pendek yang ia kenakan saat ini. berjalan keluar pintu kamar dengan tubuh telanjang dan hanya menyisakan celana jins selutut menuju kolam renang yang letaknya berada di belakang rumah. mencoba mendinginkan kepalanya sejenak dari segala kekalutannya.


Byur!


Juna menceburkan diri ke kolam renang berukuran cukup luas, sesaat setelah melepas celana jins selututnya dan hanya menyisakan boxer. Berenang membebaskan penat yang menggerayangi fikirannya.


"Den, Juna." Panggil seorang pembantu, membuat Juna segera menepi.


Meraup wajah basahnya, Juna lantas menyahuti, "Ada apa bik?"


"Itu den, di depan ada non Sesil nyariin aden katanya."


Ekspresi malas terlihat di wajah Juna, "Bilang, saya lagi nggak ada."


"Tapi, Den..."


"Bik, suasana hati saya lagi gak enak. Kalau liat tampang dia sekarang, yang ada saya makin pusing." Kata juna, memberitahu.


Pembantu itu akhirnya mengangguk mengerti, lalu pergi menemui Sesil dan mengatakan persis apa yang disuruh anak majikannya tadi.


"Maaf, non. Den Juna-nya nggak ada. Baru aja keluar."


Sesil yang duduk di kursi sofa ruang tamu, menatap curiga pada sang bibi, "Bibik lagi bohongi saya ya?"


"Enggak non, beneran den Junanya memang tidak ada dirumah."


Sesil berdiri dari duduknya. Mendekati sang pembantu itu dengan mata menajam kesal, "Bibi fikir bisa nipu saya? Saya nggak sebodoh itu. Tadi saya masuk, liat motornya Juna ada dirumah!"


"Lain kali kalau mau bohong, yang pinteran dikit." Cetus Sesil, sembari melewati pembantu itu begitu saja. Berjalan kedalam rumah untuk mencari keberadaan Juna, tanpa perduli dengan larangan sang pembatu yang terus saja membuntuti.


"Juna!" teriak Sesil, sembari bersendekap tepat di tepian kolam renang. Menatap Juna yang kini mulai kembali menepi.


Juna menatap sang bibik yang tertunduk takut akibat gagal menghalangi Sesil yang begitu saja menerobos masuk mencarinya.

__ADS_1


"Maaf den, tadi saya sudah bilang kalau den Juna tidak ada. Tapi non Sesil tidak percaya dan malah maksa masuk buat nyari den Juna."


Juna menghela napas, "Ya sudah, bibik boleh pergi."


Sang pembantu pun pergi. Lalu netra Juna teralih pada Sesil yang masih setia dengan wajah bete nya.


Juna berusaha tidak perduli dan menyudahi renangnya kali ini dengan keluar dari air.


Tubuh basahnya berjalan ke meja kecil, mengambil handuk dan meneguk minuman es jeruknya sebentar.


"Ngapain lo kesini?" tanya Juna saat menaruh gelas, dan mulai mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk tadi.


Sesil melepas tangannya yang bersendekap tadi, berjalan mendekati Juna, "Aku nggak nyangka ya, kamu nyuruh pembantu kamu buat berbohong demi ngusir aku pergi."


Juna memutar bola mata, "Kalau lo kesini cuman mau berdebat sama gue, mending lo balik pulang. Gue lagi gak mood buat berdebat sama lo."


Sesil mendengus, lalu ia menurunkan ego dan beralih merangkul lengan Juna manja. "Sayang, aku tuh kesini karena pengen ketemu kamu. aku kangen sama kamu.." Sesil menyandarkan kepala di bahu Juna. "Ya udah, aku minta maaf karena udah bicara kasar sama kamu waktu disekolah tadi. aku janji nggak akan lagi ngomong begitu, apalagi ngancem-ngancem kamu. Tapi kamu juga harus ngertiin aku dong, buat nggak lagi urusin hal apapun yang berhubungan sama mantan kamu itu."


"Aku kesel tau nggak sih, liat kamu selalu deket-deket Gadis terus." Lanjut Sesil berbicara dengan nada manjanya.


Juna yang risih akan sikap Sesil yang seperti ini, segera melepas rangkulan tangan gadis itu untuk menjauh. Tidak ingin membiarkannya begitu saja, Sesil segera kembali meraih pergelangan tangan Juna seperti tadi dengan cepat, "Sayang, gimana kalau kita malam ini pergi nonton?" Sesil berucap dengan jemari yang mulai merayap nakal di seputar perut ber-abs Juna. "Emm.. aku pengen habisin waktu berdua sama kamu. Kamu mau kan?!"


Merasa jengah, Juna kali ini dengan tegas melepas kasar rangkulan tangan Sesil dilengannya, "Gak bisa. Gue sibuk!"


Juna beranjak pergi begitu saja⸺mengabaikan Sesil. Meninggalkan raut kesal di wajah gadis itu dengan sebuah hentakan kaki. "Ngeselin banget sih, si Juna. Brengsek!"


***


Gadis menutup pintu, lalu kembali berjalan mendekati Dewa yang tengah terbaring di atas ranjang berukuran besar itu.


"Gimana? Udah enakan?" tanya Gadis, sembari menarik kursi, lalu mendudukinya.


Dewa mengangguk. "Kamu denger kan apa kata bapak-bapak tadi, kalau cederaku nggak separah yang kamu fikir."


Gadis tertegun, saat lagi-lagi ia mendengar Dewa berbicara menggunakan aku kamu seperti sekarang ini. Entah Dewa menyadarinya apa tidak. Yang jelas seingat Gadis, Dewa berbicara seperti itu semenjak beberapa jam yang lalu ketika Dewa menciumnya paksa.


Gadis tersenyum tipis, "Ya, aku ikut seneng dengernya."


Dewa menatapi Gadis begitu lekat, dan hal itu disadari betul oleh Gadis yang kini justru menunduk canggung akan tatapan Dewa. "Kamu kenapa liatin aku kayak gitu?"


"Pengen aja." Jawab Dewa singkat.


"Jangan liatin aku kayak gitu. Kamu bikin aku jadi nggak nyaman." Kata Gadis, karena memang itulah yang dirasakannya saat ini.


Dewa terkekeh. Sikap Gadis yang malu-malu seperti ini, sungguh menggemaskan bagi Dewa.


Dewa merentangkan satu lengan kirinya. Menepuk lengannya itu⸺bermaksud menyuruh Gadis untuk ikut rebahan disampingnya.


"A-apa?" Gadis bertanya polos.

__ADS_1


Membuat Dewa berdecak, "Masak nggak ngerti?"


Gadis hanya menggeleng, pertanda jika memang dirinya tidak mengerti apa yang dimaksudkan Dewa.


"Tidur sini." Kata Dewa, memberitahu apa yang dimaksudnya tadi.


Gadis mengerutkan keningnya bingung. "Ngapain? Aku nggak mau." tolaknya tanpa berpikir lama.


Menghela napas berat. Dewa lantas menarik tangan Gadis ke arahnya. Membuat wajah Gadis menubruk dada kiri Dewa.


Gadis memekik. "Aduh! Kamu ngapain sih?!" protesnya, saat tangan kanan Dewa sudah dengan sigap melingkari tubuh Gadis. "Lepasin, Dewa!" Gadis sempat meronta meminta Dewa melepaskannya. Rasa tidak nyaman mulai dirasakan Gadis, saat tangan Dewa melingkari pinggangnya. Menyulitkan ruang gerak Gadis saat ini.


"Diem! jangan gerak-gerak."


"Iya, tapi kamu jangan kayak gini. Lepas dulu pelukan kamu!"


"Tapi janji jangan kabur!"


"Mau kamu tuh apa sih sebenarnya?" kesal Gadis akan sikap Dewa saat ini.


"Mulai malam ini dan seterusnya, kita akan tidur satu ranjang."


"Apa?" Gadis menganga tak percaya atas ucapan Dewa barusan. Apa dia tidak salah dengar? Tidur seranjang? Apa maksudnya??


"Aku bilang, kita akan tidur satu ranjang!!" Dewa mengulang ucapannya dengan penuh penekanan.


Tentu saja Gadis dengan tegas menolaknya. "Enggak! Aku nggak mau! kamu udah gila ya?" Gadis berusaha kembali melepas pelukan Dewa di tubuhnya yang semakin mengerat. Namun hal itu hanyalah sia-sia.


"kenapa enggak? Lagian ini apartemenku. Aku gak mau tidur di sofa lagi seperti yang sudah-sudah. Kamu tau, rasanya bener-bener gak enak dan ngebuat badanku jadi sakit semua pas bangun."


Yang dikatakan Dewa memang benar, selama Gadis tinggal diapartemennya, Dewa selalu mengalah dan memilih tidur di sofa miliknya. Sementara Gadis, ia biarkan tidur di ranjang empuknya. Tapi entah apa yang membuat Dewa sekarang jadi berubah seperti ini.


"Ya udah, kalau gitu biar aku yang tidur di sofa." Kata Gadis mengalah.


"Gak denger?? Aku bilang, mulai sekarang kita akan tidur satu ranjang!" tekannya lagi, namun kali ini Dewa mengucapkannya dengan nada tinggi.


Membuat Gadis diam tersentak.


Menyadari ketakutan di wajah Gadis, membuat Dewa menghela napas beratnya.


Tanpa melepas pelukannya sama sekali, Dewa justru semakin mendekatkan wajahnya dan menenggelamkannya di ceruk leher Gadis, sembari berujar, "Aku janji gak akan ngelakuin hal buruk ke kamu."


"Ta-tapi Dewa---"


"Tidur! Udah malam." Cetus Dewa mengingatkan. Lalu tidak lama, Gadis mendengar deru napas Dewa yang teratur diseputar ceruk lehernya. Menimbulkan sensasi hangat dan menggelitik.


Dewa beneran tidur?


***

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2