Gadis Dewa

Gadis Dewa
bab 27


__ADS_3

Note: kalau misalkan besok like nya mencapai 60 bintang di bab ini, aku bakalan kasih triple update😘


kalau enggak ya update seperti biasanya saja 😚


Jangan lupa klik like sebelum membaca.


*****


"Loh? Ini kan...."


Gerry, teman sebangku Dewa dibuat bingung saat melihat buku soal matematika milik Dewa, nyatanya tidak tertinggal dan berada di bawah kolong mejanya. Lalu, apa maksud Dewa berbohong ke guru tadi dan bilang jika buku soalnya itu tertinggal dirumah?


"Lo kenapa Ger, liatin buku sampai bengong kayak orang bego gitu." tegur Bastian yang duduk bersama Edo di belakangnya dengan nada berbisik, lantaran saat ini mereka tengah dalam pelajaran yang berlangsung.


"Elo tuh yang bego. Seenaknya aja ngatain orang." Balas Gerry dengan berbisik juga.


"Itu kenapa bukunya si Dewa lo liatin ampek kayak gitu?" Edo ikut menanyakan pertanyaan yang sama seperti Gerry tadi.


"Habisnya gue heran sama si Dewa, bukannya tadi dia bilang bukunya ketinggalan dirumah kan?! Terus ini apa??" Gerry memperlihatkan buku Dewa pada Bastian dan juga Edo.


"Loh? Kok bukunya bisa ada sama lo?" Edo bertanya bingung.


"Lo yang ngumpetin?" tuduh Bastian seenak jidat.


"Kurang kerjaan banget gue ngumpetin bukunya si Dewa." Jawab Gerry sembari menaruh kembali buku itu dibawah kolong meja.


"Jelas-jelas bukunya si Dewa lo yang megang." Rama yang duduk paling belakang sendiri menyahut pelan, saat cukup lama menyimak obrolan mereka.


"Justru gue yang nemuin bukunya dikolong meja, kampret!" -Gerry.


"Lah? jadi maksud lo si Dewa sengaja bilang bukunya ketinggalan biar dihukum gitu??"


"Mana gue ta--- Aduh!" Gerry mengaduh, mengusap punggungnya yang tertimpuk sesuatu, dan rasanya cukup menyakitkan. "Sakit, njir! Siapa sih yang nimpuk?!" bisiknya kesal, dan menoleh. Mendapati pelototan tajam dari gurunya.


"Kalau masih pengen ngobrol, kalian bisa keluar dari kelas saya sekarang juga!!" bentaknya, dan membuat keempat cowok tadi bungkam dengan kepala menunduk.


****


Gadis sama sekali tidak mengerti apa yang diinginkan Dewa sebenarnya. Apa maksudnya dia membawanya kerooftop seperti ini??


Tadi Dewa dengan seenaknya menarik paksa tangannya. Dan saat bertemu dengan pak ucup-seorang yang bekerja disekolah itu sebagai petugas kebersihan, Dewa langsung memberinya beberapa lembar uang ratusan ribu.


Seolah hal itu sudah sering terjadi, pak Ucup hanya mengangguk-angguk girang saat Dewa dengan santai meminta bantuannya untuk menyelesaikan tugas hukuman yang diberikan guru, yakni membersihkan toilet sekolah.


Lalu tarikan tangan Dewa berlanjut ke kantin sebelum akhirnya berakhir disini.


Rooftop.


Yang seketika membuat Gadis memikirkan hal aneh-aneh mengenai apa yang akan dilakukan cowok itu selanjutnya. Mengingat bagaimana sikap Dewa yang selalu seenaknya sendiri saat hanya berdua dengannya seperti ini.


"Nih. Minum!" Dewa menyodorkan sekaleng minuman dingin yang baru saja dibukanya.


Gadis menerima dengan ekspresi muka masih terlihat kesal setengah mati.


"Sebenarnya maksud kamu apa ngajakin aku kesini?" Tanya Gadis dengan hanya memegang minuman kaleng itu dan belum berniat meminumnya.


"Udah jelas kan. Gue ngajakin Lo nyantai disini. Seharusnya Lo makasih ke gue. berkat gue, Lo gak harus repot bersihin toilet sekolah yang bau itu."


"Tapi itu kan namanya curang."


"Curang dibagian mananya? Lo gak liat gimana senengnya pak Ucup tadi, waktu gue ngasih duit itu ke dia?! Secara gak langsung, gue udah bantu perekonomian dia buat keluarganya." Dewa berucap pongah, yang membuat Gadis mengerutkan keningnya dalam.


"Itu namanya bukan ngebantu. Kalau niat mau ngebantu ya gak perlu nyuruh dia dong."


Dewa menghela napas jengahnya. "Kenapa hidup Lo ribet banget. Tinggal nikmatin kebaikan gue dan bilang makasih aja susah."


Lihat! Sikapnya yang menyebalkan itu benar-benar membuat Gadis kesal. Namun tanpa sadar juga membuatnya sedih. Entah kenapa.. terlalu lama melihat Dewa justru hanya akan menambah luka dihatinya karena akan semakin membuatnya kesulitan melupakan Juna.


Gadis menaruh kasar minuman kaleng pemberian Dewa di bangku yang diduduki cowok itu-tepat disampingnya.


Lalu langkahnya begitu saja berbalik pergi meninggalkan Dewa. Ia tidak ingin terlalu lama bersama Dewa ditempat itu.


Grep.


Dewa dengan cepat mencekal tangannya menahannya pergi. "Mau kemana?" Tanyanya dengan posisi berdiri.


"Balik. Lagian buat apa aku disini sama kamu lama-lama. Lepas!" Gadis menyentak cekalan tangan Dewa agar terlepas dari lengannya.


"Setelah gue bantuin Lo terbebas dari hukuman bersihin toilet, sekarang Lo mau pergi gitu aja?? Lo gak ngerti caranya bilang makasih ya?"


"Aku kan nggak minta buat kamu bantuin. Lagian, aku mau balik lagi ke toilet buat jalanin hukumanku. Aku nggak butuh bantuan dari orang yang suka ngungkit kebaikan kayak kamu. Akh!!"


Gadis tersentak sedikit terkejut, saat Dewa tiba-tiba menarik dan memaksanya duduk di bangku panjang tak jauh darinya.


"Lo baru boleh pergi setelah gue suruh."


Gadis mencuramkan tajam alisnya. "Kamu gak bisa seenaknya kayak gitu. Aku bukan boneka kamu yang bisa kamu atur sesuka hati." Gadis kembali berdiri, Namun Dewa kembali menarik tangan Gadis supaya kembali duduk ditempatnya.


"Gue bilang duduk ya duduk!" tekannya kesal. Membuat nyali Gadis sedikit menciut.


Ia hampir saja lupa jika cowok didepannya ini adalah seseorang yang sangat kejam dan menakutkan.

__ADS_1


Gadis akhirnya menurut. Ia duduk diam dan mulai mau meminum minuman pemberian Dewa tadi.


"Jadi.. lo udah putus sama Juna?" cetus Dewa, yang hampir saja membuat Gadis menyemburkan minuman di mulutnya.


Gadis cepat-cepat menyeka bibir basahnya akibat minuman tadi, menggunakan punggung tangan. "Dari mana kamu tau? Apa.. Juna yang udah ngasih tau kamu?"


Jelas saja Gadis terkejut dengan yang dikatakan Dewa tadi. Apalagi sampai sekarang menurutnya tidak ada yang tau dirinya putus dengan Juna, bahkan Aurel yang teman dekatnya pun belum ia beritahu.


"Gue nggak sengaja denger pembicaraan Juna sama Sesil."


"Se-Sesil??" Gadis kian semakin tak mengerti dengan yang dikatakan Dewa. Sesil? Maksudnya, Juna bilang ke Sesil kalau mereka berdua sudah putus gitu?


"Jadi kemarin pas gue pulang, gue liat si Sesil main ke rumah dan lagi ngobrol sama Juna diruang tamu." Jelas Dewa, Lalu kemudian membatin.


Gue gak perlu cerita lebih rinci lagi kan?! apalagi soal kesepakatan yang dibuat antara Juna sama Sesil. Lagian... itu juga bukan urusan gue.


"Jadi maksudnya, Juna cerita ke Sesil kalau hubunganku dan dia udah putus?"


Dewa mengedikkan kedua bahu. "Maybe."


Keadaan seketika hening.


Dewa mlirik Gadis yang kini hanya diam, entah tengah memikirkan apa. Lalu kemudian menarik napas, kembali menanyakan sesuatu yang mengganjal hatinya. "Jadi~ Juna udah tau kalau lo itu...."


"Ya. Dia udah tau." Gadis menjawab singkat, dan kini entah kenapa netranya mulai memanas.


"Dia mutusin lo karena itu?"


Gadis mengangguk. Dan air matanya mulai terjatuh membasahi pipi.


Entahlah. Gadis sudah berusaha menahan sekuat hati agar air mata sialannya itu tidak terjatuh. Namun nyatanya sungguh sulit.


"Bukannya gue waktu itu udah peringatin lo buat hati-hati? Ini pasti ada hubungannya dengan Sesil. Gue yakin dia pasti terlibat."


Gadis menggeleng dengan tangan meremas kuat kaleng minuman yang dipegangnya. "Enggak. kamu salah. Ini gak ada hubungannya sama Sesil. Karena waktu itu Juna sendirian nyamperin aku di mobil sama om Rian." Ujar Gadis, dengan air mata yang semakin deras berjatuhan.


wajahnya menunduk dalam. Tangannya berkali-kali mengusap air mata. Berharap Dewa tidak melihat dirinya yang cengeng seperti ini.


Tapi sepertinya terlambat. Karena isakan Gadis dapat didengar jelas oleh Dewa.


Membuat Dewa menjadi serba salah. Apa harusnya tadi dia tidak membahas hal ini?


Tangan Dewa terangkat ragu, ia berniat mengusap punggung Gadis yang bergetar, namun akhirnya ia urungkan dan kembali menurunkan tangan.


"Tapi, begini memang lebih baik. Daripada hubunganku dan dia lebih lama terjalin. Bukannya itu hanya akan ngebuat Juna semakin terluka?!"


"Lo.. masih sayang sama dia?"


"Kalau dia emang baik dan tulus sayang sama Lo, bukannya harusnya dia nggak ninggalin Lo biarpun tau siapa Lo yang sebenarnya."


Gadis tersenyum miris. Lalu menatap Dewa, "Memangnya cowok mana yang mau mempertahankan hubungan, saat tau ceweknya kerja sebagai gadis panggilan?? Di dunia ini nggak ada cowok yang seperti itu, Wa."


"Mangkanya, kenapa Lo nggak berhenti dan nyoba cari kerjaan lain."


"Bukannya waktu itu aku udah bilang, semuanya nggak akan semudah itu."


"Kenapa? Coba jelasin!" Pinta Dewa.


"Kenapa aku harus jelasin ke kamu?" Tanya Gadis terheran.


"Karena gue pengen tau. Gue pengen tau soal Lo lebih banyak lagi."


****


Dewa kenapa sih?! pengen tau tentang aku lebih banyak? Maksudnya apa coba? Batin Gadis terheran. Nyatanya ucapan Dewa beberapa jam yang lalu masih sedikit mengganggu pikirannya.


"Ngelamunin apa buk?" tanya Aurel yang baru saja datang dengan membawa nampan yang berisikan dua gelas minuman dan juga makanan untuk dirinya dan juga Gadis.


Saat ini keduanya berada di kantin. Aurel tadi menawarkan diri untuk memesankan makanan milik Gadis, sementara Gadis disuruhnya menunggu di tempat duduk yang dipilihnya.


"Muka lo udah kayak orang banyak hutang tau nggak." Cetus Aurel yang kemudian terkekeh dan hanya ditanggapi Gadis dengan dengusan.


Aurel dan Gadis sibuk memindah makanan dinampan itu ke atas meja.


"Oh ya, BTW, kenapa lo hari ini nggak makan sama Juna? Lo lagi marahan sama dia?"


Pertanyaan Aurel seketika menghentikan pergerakan tangan Gadis yang hendak menyendok makanan ke mulutnya. Wajahnya berubah murung dengan cepat. Ini bukan salah Aurel menanyakan hal yang membuatnya sedih. Kenyataannya ia memang belum cerita apapun ke Aurel soal kandasnya hubungannya bersama Juna.


Menyadari keterdiaman Gadis, Aurel kembali melontarkan tanya. "Lo itu ditanyain kok malah diem aja?! Lo masih sakit?" Aurel menempelkan punggung tangannya di kening Gadis. Mengecek suhu tubuh sahabatnya yang mungkin saja masih demam. Karena kemarin saat Gadis tidak masuk, ia beralasan dan meminta tolong Aurel untuk diizinkan sakit ke guru sekolah.


"Aku udah nggak papa kok Rel. Makasih udah khawatir." Kata Gadis, membuat Aurel menurunkan tangan.


"Terus kenapa muka lo mendadak jadi nggak enak dilihat gitu?" Tanya Aurel lagi. ia mengaduk minuman menggunakan sedotan dan meminum melalui sedotan itu.


"Aku... putus sama Juna."


"Uhuk! Uhuk!" mendengar itu, jelas saja membuat Aurel seketika terbatuk lantaran sangat terkejut dengan pengakuan Gadis yang tiba-tiba. "What?? Kok bisa?!" teriak Aurel, membuat beberapa pasang mata murid di kantin memperhatikan ke arah meja mereka dengan pandangan bermacam-macam.


"Duh Rel, nggak usah teriak juga dong." Peringat Gadis, yang merasa tidak nyaman sudah menarik perhatian murid di kantin seperti ini.


Tapi sepertinya berbeda dengan Aurel yang justru malah tidak perduli sama sekali. "Lo nggak lagi becanda kan, Dis?"

__ADS_1


Gadis sejenak memejam rapat netranya, sebelum akhirnya terbuka dengan helaan napas panjang dan menggeleng.


"Siapa yang mutusin?? Elo atau si Juna? Terus masalah yang bikin kalian putus itu apa?" cecar Aurel, membuat Gadis kelimpungan menjawab. "Awas aja kalau lo bilang si Juna yang mutusin. Gue bakalan langsung bikin dia jadi perkedel." Ucapnya dengan raut wajah serius.


"Apaan coba?! Masak anak orang mau dijadiin perkedel. Kan kasian. Lagian kenapa kalau emang Juna yang mutusin, toh, ini emang kesalahanku."


"Hah?! ja-jadi si Juna beneran yang mutusin lo?" tanya Aurel memasang wajah terkejut tak percaya. Sementara Gadis merespon dengan anggukan kepala.


"T-tapi kenapa, Dis? Emangnya lo salah apa?"


"Itu..."


Aurel menyelanya cepat. "Enggak-enggak. Tetep aja, apapun kesalahan yang lo lakuin, harusnya kan bisa di bicarain baik-baik tanpa harus bilang putus." Aurel berdecih sinis mengingat perkataan Juna beberapa hari yang lalu. "Gitu aja waktu itu dia bilang ke gue kalau dia gak bisa kehilangan lo. apaan... Bulshit doang omongannya."


"Rel, udah aku bilang kan, kalau ini tuh bukan salahnya Juna." Lirihnya memberitahu kesekian kali.


"kalau ini bukan salah Juna dan emang salahnya elo. Apa alasan yang ngebuat Juna bisa bilang putus? apa? Coba jelasin. gue pengen tau."


"Itu... A-aku nggak bisa bilang. Sorry..."


"Lo mah gitu sama temen sendiri. sebel." Aurel memasang wajah cemberutnya. Namun hanya sebentar dan kini netranya teralih ke dua orang yang terlihat baru saja datang dan duduk dimeja tak jauh darinya.


"Sst! Si Juna tuh." Aurel berbisik memberitahu Gadis dengan pandangan mata. Dan Gadis mengikutinya.


"Wah-wah. Maksudnya apa coba? Barusan lo bilang udah putus sama Juna. Sekarang gue malah liat si Juna gandeng tangannya si Sesil. Apa-apaan?!" kata Aurel tak percaya. Apa Juna semudah itu melupakan Gadis? Biarpun barusan Gadis bilang jika memang ini salahnya, tetap saja Aurel tidak bisa menerima Juna yang kini malah dengan nyamannya duduk sama Sesil di kantin hanya berdua seperti ini.


Sementara Gadis, tidak dipungkiri jauh dilubuk hatinya benar-benar terluka melihat Juna apalagi kini ia melihat Juna tersenyum ramah didepan Sesil.


Semudah itu Juna melupakan dirinya?


Gadis merasa dirinya begitu menyedihkan. Disaat ia masih menangis tiap malam karena ucapan Juna yang waktu itu, Juna justru terlihat yah.. bisa dibilang baik-baik saja.


Pandangannya dengan Juna sempat saling bertemu. Namun hanya sebentar karena Juna yang dengan cepat memalingkan wajah. ekspresi muaknya jelas terlihat.


Semua itu tidak lepas dari pandangan Aurel yang juga melihat bagaimana Juna memalingkan muka dari Gadis.


Ini nggak bisa dibiarin! Batin Aurel dengan tangan mengepal di atas meja.


"Ikut gue!" tiba-tiba saja Aurel memegang pergelangan tangan Gadis. Menarik dan memaksanya berdiri untuk menghampiri Juna dan sesil dimeja itu.


"kemana?"


"Samperin tuh kecebong sama uget-uget satu. Gue pengen mastiin sesuatu." Ujarnya, lalu kembali menarik tangan Gadis seperti tadi. Gadis berusaha melepaskan diri. Ia mengatakan pada Aurel jika ia tidak ingin dan tidak mau menghampiri meja Juna.


Tapi tetap saja, dirinya kalah oleh kegigihan Aurel yang tetap memaksanya. Membuat dirinya kini benar-benar menginjakkan kaki tepat di dekat meja Juna.


"Eh, Juna!" sentak Aurel, membuat dua orang dimeja itu menoleh bersamaan.


"Ada apa sih, datang-datang manggil dengan cara nggak sopan begitu. Bar-bar banget jadi cewek." Cibir Sesil dengan pandangan sinisnya.


"Diem lo. Gue kesini cuman mau mastiin sesuatu ke Juna. Dan ini sama sekali nggak ada hubungannya sama lo."


Gadis menarik-narik lengan Aurel. Berharap Aurel mau kembali ke tempat mereka duduk tadi, dan menyudahi keributan ini. "Rel, udah. Kamu mau ngapain lagi sih? Anak-anak lain udah pada liatin kita. Kamu nggak malu?"


Aurel mengabaikan ucapan Gadis sekaligus mengacuhkannya. "Eh, Juna! Gue mau nanya sesuatu."


"Soal apa?"


"Soal hubungan lo sama Gadis. Lo beneran udah putus sama dia?"


Seketika saja anak-anak lain dikantin yang mendengar itu saling berbisik satu sama lain. Apalagi suara Aurel yang melontarkan tanya tadi terdengar lantang dan keras.


Sejenak Juna melihat ke sekeliling⸺dimana murid lain sudah mulai menggunjingkan hal ini.


"Ya, gue udah putus sama Gadis beberapa hari yang lalu. Dan gue yang mutusin dia!" kata Juna penuh penekanan disetiap kalimat.


Suara gaduh dari anak-anak lain yang saling berbisik itu seketika terdengar. Banyak dari mereka yang terkejut dan tidak menyangka jika Juna dan Gadis akhirnya putus. Namun banyak juga dari mereka yang berasumsi buruk mengenai kandasnya hubungan Gadis dan juga Juna.


"Kenapa? gara-gara dia??" tunjuk Aurel pada Sesil.


Sesil menepis telunjuk Aurel yang mengarah tepat didepannya. "Eh! Nggak usah nunjuk-nunjuk gue ya." kesalnya.


"Rel, ini tuh nggak ada hubungannya sama Sesil. Bukannya tadi aku udah bilang ke kamu." kata Gadis memperingatkan.


Aurel justru menggeleng tak percaya. "Gue yakin lo cuman lagi pengen nutupin kesalahannya si Juna kan?!"


Gadis menggeleng, dan sudah akan kembali menjelaskan, Namun Aurel mengangkat tangannya didepan Gadis⸺tidak ingin mendengar apapun pembelaan Gadis mengenai Juna yang jelas sekali salah dimatanya.


"Kenapa lo cuman diem?! jawab dong pertanyaan gue." Aurel beralih kembali pada Juna yang masih diam dan duduk tenang di tempatnya. Lalu pandangan Aurel menyipit curiga, akan sesuatu yang baru saja terbesit di pikirannya. "Atau jangan-jangan.. lo sama Sesil udah....."


"Ya. Gue sama Sesil udah jadian. Puas!" Potong Juna cepat, sembari menggenggam jemari tangan Sesil yang berada di atas meja.


Semua orang dikantin itu membelalak terkejut. Apalagi Gadis, hatinya tersayat perih bersamaan dengan lututnya yang serasa lemas didetik itu juga.


Apa Juna serius dengan perkataannya barusan?


Sebenci itukah Juna, sampai-sampai dia bisa secepat itu melupakan Gadis, dengan pengakuan yang barusaja dilontarkannya.


****


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2