
Jangan lupa klik jempolnya 😘
Happy reading....
"Jawab, Dis! Bilang kalau yang difoto itu bukan kamu!" Bentak Juna mengulang ucapan, yang justru membuat Gadis tersentak takut. Selama mereka berpacaran, tidak pernah sekalipun Juna membentaknya seperti ini.
Sementara Sesil dan kedua temannya yang melihat, justru semakin tersenyum puas melihat Juna membentak Gadis seperti itu. Apalagi dengan raut wajah takut Gadis saat ini. Rasanya mereka ingin tertawa kencang saja. Namun tentu saja mereka tidak benar-benar melakukannya dan hanya bisa menahan diri.
"Dia mana mungkin mau ngaku." celetuk Cindy, saat hanya melihat kebungkaman Gadis dengan raut bodoh lantaran kebingungan menjawab pertanyaan yang dilayangkan Juna.
"Dia pasti malu kalau ngakuin aibnya sendiri." Melly ikut mengompori.
"That's right! Sekarang coba aja deh kamu fikir, Jun. Ada cewek SMA ke diskotik bareng sama om-om. Terus dia cuman diem aja lagi, pas waktu si om-omnya grepe-grepe dia. Namanya apa coba kalau bukan cewek nggak bener." Sesil semakin parah mengompori.
"Sesil!!" teriak Juna memperingatkan. Kepalanya sudah sangat pusing, dan kini ia dibuat semakin pusing oleh ocehan Sesil dan dua temannya yang menurutnya semakin memperkeruh keadaan.
"Kok kamu malah bentak aku? Aku kan cuman bicara mengenai fakta yang aku liat, Jun!"
"Lo gak berhak ngejudge Gadis, sebelum denger langsung penjelasan dia!"
"Buat apa kamu masih perlu penjelasan dari dia, sementara aku udah punya bukti yang bener-bener jelasin siapa dia yang sebenarnya."
"Gue gak akan percaya apapun yang lo bilang, kecuali Gadis sendiri yang ngakuin itu!" kali ini Juna bicara dengan nada tinggi pada Sesil.
"Dia gak akan mungkin mau ngaku, Juna!" balas Sesil ikut berteriak balik. Hal itu sempat membuat beberapa anak lain yang melintas, melihat mereka dengan penuh tanya.
Dan tentu saja hal itu sama sekali tidak diinginkan Juna. Ia jelas tidak ingin jika sampai ada anak-anak lain yang tau mengenai perdebatannya dengan Sesil, yang mungkin nantinya akan menimbulkan gosip yang tidak-tidak mengenai Gadis. Apalagi Juna juga belum tau pasti mengenai kebenaran ucapan Sesil barusan.
Cowok itu lantas menghela napas beratnya, berusaha meredam amarah didirinya, dan beralih menatap Gadis yang masih setia dalam keterdiamannya.
"Dis... ayo ngomong, foto itu bukan kamu kan?!" Tanya Juna lagi, namun kali ini dengan nada rendah.
Tapi tetap saja Gadis masih membisu diam dengan raut yang masih sama.
"Kalau kamu gak ngomong apa-apa, mereka bakalan mikir, kalau itu memang foto kamu."
"Foto apa yang kalian bicarakan?" Dewa yang tadinya sudah memasuki kelas, mendadak kembali keluar menghampiri lima orang itu, lantaran teman-teman sekelas yang sebagian sudah membicarakan ketegangan yang terjadi antara Juna, Gadis dan Juga Sesil diluar sana.
Dewa sempat melihat ke arah Gadis sebentar. Raut wajah takutnya itu, jelas membuat Dewa yakin jika Gadis saat ini tengah dalam situasi yang sangat pelik.
Kedatangan Dewa saat ini, justru mendapat sambutan yang tidak mengenakkan dari kembarannya, Juna. "Ngapain lo disini?" Juna bertanya balik dengan pandangan sinisnya. Ia hanya tidak suka melihat Dewa yang datang-datang main ikut campur seenak jidat.
Bukannya menjawab, Dewa justru sekali lagi menanyakan hal yang sama untuk kesekian kali. "Gue tanya, foto apa yang kalian bicarakan." ulangnya, dengan melempar pandangan sinis yang sama ke arah Juna.
"Ini gak ada hubungannya sama lo. Jadi gak usah ikut campur." Juna mengingatkan tajam.
Jelas saja hal itu membuat Dewa jengah. Kedua bola matanya memutar malas. beralih fokus pada Sesil yang tengah memegang ponselnya.
Menduga sesuatu, Dewa tanpa banyak bicara, langsung merebut ponsel milik Sesil tanpa permisi.
"Hape gue! balikin!" kesal Sesil, sembari berusaha merebut kembali ponselnya, tapi Dewa sudah lebih dulu memegangi lengan Sesil, dan menyulitkannya untuk merebut kembali benda persegi itu. "Dewa!"
__ADS_1
Kedua teman Sesil bahkan tidak bisa berbuat banyak. Begitu juga dengan Juna.
Sebenarnya ada ketakutan tersendiri didiri Juna, saat Dewa berhasil merebut ponsel itu, untuk mencari tau foto-foto apa yang dimaksud. Fikirnya, Dewa nantinya akan memberitahukan pada yang lain, mengenai yang dilihatnya saat ini.
Tapi kenyataannya.... salah!
Dewa justru mengeluarkan memori card dari handphone mahal tersebut dan seketika mematahkannya menjadi dua. Tidak hanya berhenti sampai disitu, yang kian semakin membuat Sesil marah adalah, saat Dewa dengan kurang ajarnya membanting ponsel mahalnya itu tanpa rasa bersalah sedikitpun diwajahnya.
"Handphone gue!!" Histeris Sesil, yang juga membuat yang lain melihatnya tercengang. Begitu juga dengan Gadis dan Juna.
Tidak puas hanya membanting, Dewa juga menginjak kuat ponsel yang sudah pecah layarnya itu, hingga makin hancur tak berbentuk.
"Apa yang lo lakuin sih! itu kan handphone baru gue yang termahal! kenapa lo rusakin?!" cecar Sesil tidak terima.
Dewa memasang wajah dibuat-buat, seolah ia tidak sengaja melakukannya. "Sorry. Gak sengaja."
Jelas saja Sesil bertambah geram dan juga kesal. Tidak sengaja bagaimana maksudnya?? semua yang melihat juga pasti tau jika Dewa memang sengaja melakukannya.
Sesil mengepalkan tangan kuat-kuat saat melihat Dewa yang berbalik hendak pergi begitu saja, tanpa memperdulikan kemarahannya saat ini.
"Gue nggak akan tinggal diam! lo udah hilangin bukti fotonya si Gadis di handphone gue!" entah setan mana yang sudah merasuki Sesil hingga bisa seberani ini dengan Dewa yang notabene dikenal sebagai premannya sekolah.
Bahkan Melly dan Cindy terlihat kesulitan, saat menyuruh Sesil supaya Diam dan tidak melawan Dewa.
"Terus lo mau lakuin apa?" Tanya Dewa, saat sudah kembali berhadapan dengannya. "Lagian, siapapun yang melihat juga pasti tau kalau foto itu bukan foto asli dan cuman foto editan lo doang."
Foto editan? Dewa ngeliatnya seperti itu? Kenapa gue gak mikir sampai sana. Batin Juna, mengingat bagaimana tidak sukanya Sesil selama ini, ketika melihat dirinya berpacaran dengan Gadis.
Lagipula.... sangat tidak mungkin jika foto itu adalah Gadis.
Diskotik? Kalau dipikirkan lagi, gak mungkin juga Gadis pergi ketempat seperti itu. Batin Juna, mulai berspekulasi sendiri.
Mendengar Dewa mengatakan jika foto yang sempat ditunjukkannya tadi hanyalah sebuah foto editan, jelas membuat Sesil dan dua temannya tidak terima.
"Apa? Foto editan?? Nggak usah sok tau ya. Gue berani sumpah kalau foto itu emang Gadis, dan bukan foto hasil editan gue! Kalau lo gak tau, mending diem dan gak usah nuduh sembarangan!" Marah Sesil berapi-api.
Aurel dengan setengah berlari, mendekat ke arah mereka. "Eh, misi misi." membelah kerumunan beberapa anak yang kini sudah mulai berbisik satu sama lain. ikut melihat dan mendengar apa yang mereka perdebatkan.
"i-iya bener yang dikatakan Sesil. Gue sendiri juga ada disana waktu kejadian. Bahkan Sesil sendiri yang diam-diam fotoin Gadis waktu lagi sama om-om itu." Cindy ikut bicara membela Sesil, walaupun dengan takut-takut lantaran yang dihadapinya saat ini adalah Dewa.
Duh! mimpi apa gue semalam, sampai bisa berada disituasi kayak gini. Rutuk Cindy dalam hati, saat selesai bicara. Sementara Melly mengangguki ucapan Cindy dengan cepat.
Dewa melihat ke sekeliling. Anak-anak lain sudah mulai saling berbisik. Yang entah tengah menggunjingkan apa. atau lebih tepatnya siapa.
"Eh, jaga ya tuh mulut! Gak usah nyebarin gosip yang enggak-enggak soal temen gue!" mendengar Cindy menjelek-jelekkan sahabat dekatnya, jelas membuat Aurel tidak terima.
"kenyataannya emang begitu." Sahut sesil, lalu tersenyum sinis. "kasihan banget sih lo, katanya temenan deket. Tapi masak lo gak tau sih Gimana Gadis yang sebenarnya." beralih melirik Gadis sinis. "Disekolah aja tampangnya sok-sok an polos. Tapi gak taunya demennya main sama om-om. Najis!" Sesil memberi penekanan di akhir kalimat.
Yang seketika membuat Aurel naik pitam dan akhirnya mendekat cepat menjambak rambut Sesil dengan kekesalan. Karena menurutnya apa yang dikatakan Sesil tadi, sudah sangat keterlaluan. Dan Aurel jelas tidak terima.
"Aarhhgg!! anjing ya lo!" Sesil berteriak kencang lantaran merasakan sakit dikulit kepalanya yang tertarik kuat--akibat belum siap mendapat serangan yang tiba-tiba dari Aurel.
__ADS_1
"Elo tuh, setan! Setan kayak lo lebih baik nggak sekolah disini! biar lo gak lagi nyebarin fitnah yang enggak-enggak soal temen gue!" Balas Aurel, sembari semakin kuat menjambaknya.
Tentu saja Sesil tidak hanya diam. Sama halnya dengan Aurel, Sesil juga melakukan hal yang sama, menarik kuat rambut panjang Aurel, sampai membuat beberapa yang melihat menjadi panik sendiri.
Tidak ingin melihat Sesil kalah, akhirnya kedua teman Sesil yakni Cindy dan Melly, ikut andil dalam perkelahian itu. Mengeroyok Aurel dan membuat yang lainnya segera melerai.
Keributan semakin tak terkendali, dan anak-anak sudah semakin berkerumun. Kegaduhan itu nyatanya terdengar sampai keruangan guru.
"Apa-apaan ini?!" Seorang guru BK datang dengan tergopoh-gopoh ke lokasi keributan. Suara khasnya yang melengking itu, nyatanya sanggup menghentikan perkelahian tiga cewek tadi----yang begitu sulit untuk dilerai.
"Kalian!! ikut keruangan saya sekarang juga!!"
****
Walaupun ditaman belakang sekolah mereka terdapat banyak pohon rindang, tetap saja panasnya terik matahari Yang menyengat kulit, masih bisa mereka rasakan.
"Harusnya yang pantes dihukum buat ngambil-ngambilin sampah tuh si Aurel! Kenapa gue yang sebagai korban juga ikut kena hukuman?!" Sesil membanting keresek hitam berukuran besar yang didalamnya sudah cukup banyak terisi sampah plastik dan sejenisnya. "Ini benar-benar nggak adil! Kening gue bahkan masih perih. Harusnya kan gue sekarang berada di UKS. bukannya disini!!" Kesalnya atas hukuman dari guru BK yang menurutnya salah sasaran.
Walaupun memang saat ini Aurel dan Gadis juga mendapat hukuman yang sama seperti dirinya, yakni memunguti sampah di halaman belakang sekolah. Tetap saja Sesil masih tidak terima dengan dirinya yang juga ikut dihukum seperti ini.
Apalagi saat perkelahian tadi yang mendapat banyak serangan adalah dirinya, bukannya seharusnya yang lebih pantes dihukum disini itu Aurel?! Bukannya dia!
"Tau. Mana sekarang cuacanya panas banget lagi. Kalau kayak gini, Sia-sia deh hasil perawatan lulur gue tiap hari." Keluh Melly yang merasa kulitnya akan cepat menghitam sebentar lagi.
"Lo masih mending Mel, lah gue sama si Sesil udah kena cakar, sekarang malah panas-panasan. Berasa dobel penderitaan gue." Sahut Cindy, karena memang dirinya juga mendapat cakaran yang sama seperti Sesil. Namun bedanya, Cindy mendapat cakaran Aurel di bagian hidung dan dagunya.
Sesil menatap Gadis yang tengah memunguti sampah bersama Aurel, dikejauhan. "Ini semua gara-gara cewek murahan itu. Kenapa sih, gak ada yang percaya sama omongan gue. Bahkan Dewa juga sama. Liat aja, gue akan buktiin ke mereka kalau Gadis itu emang sampah! Sampah masyarakat yang harusnya dibasmi dari sekolah ini!"
"Gue setuju!" Jawab dua temannya hampir bersamaan.
Juna memperhatikan Dewa yang saat ini terlihat tidak serius memunguti sampah yang ada di tempat itu.
Ia pun mendekat dan menegurnya. "Kalau Lo malas-malasan gitu, hukuman kita gak akan selesai-selesai."
"Memangnya gue perduli." Jawabnya, sinis.
Juna menghela napas beratnya. Mulai menyinggung hal yang sempat di katakan Sesil mengenai Gadis dan juga Dewa. "Jadi bener, Lo kemarin nganter cewek gue pulang?"
Bohong, jika Juna berkata dirinya tidak mempermasalahkan hal itu, dan hanya menganggapnya sebagai hal yang sepele. Sejujurnya Juna Tidak bisa berhenti memikirkan hal itu, karena sangat mengganggunya.
Apalagi mengenai alasan Dewa melakukan itu, cukup membuatnya penasaran sekaligus bertanya-tanya.
"Kenapa emang? Lo cemburu?" Dewa malah bertanya balik dengan nada penuh ejekan.
"Lebih tepatnya, gue gak suka liat Lo sampai deketin dia." Kata Juna, dengan raut seriusnya. "Dia cewek gue. Apa kata temen-temen kalau liat Lo ngebonceng dia pas pulang sekolah?! Gue gak mau ada gosip yang enggak-enggak tentang Gadis."
"Lo bilang kalau dia cewek Lo. Tapi kenapa Lo gak bisa percaya dia dan masih mempertanyakan foto yang diperlihatkan Sesil?" Cetus Dewa mempertanyakan, yang seketika membuat Juna terdiam telak. "Hmm... Gue jadi penasaran, kalau misalkan yang dibilang Sesil itu benar, apa Lo masih akan tetap bertahan, atau... Lo akan milih buat ninggalin dia?"
****
BERSAMBUNG
__ADS_1