
Klik like, jika suka dengan ceritanya ^_^
cuman mau kasih tau, novel ini di wattp4d sudah sampai bab 71.
kalau mau baca, silahkan mampir dan follow akun wattp4dku : im_kookie
****
Seusai mengembalikan buku ke perpustakaan, Gadis segera keluar⸺tidak ingin berlama-lama. Tentu saja ia tidak ingin membuat seseorang yang menunggunya dikantin saat ini, meledakkan lahar kemarahan hanya karena menuggu dirinya.
Ya, siapa lagi orang yang dimaksud Gadis kalau bukan Dewa. Cowok itu seperti biasa memanfaatkan statusnya sekarang untuk memaksanya. Dan hal itu semakin menjadi-jadi saja di hari ini. tepatnya tadi pagi, saat Gadis bermaksud ingin berangkat sekolah sendiri, Dewa dengan tegas melarang. Alasannya bahaya kalau Gadis sendirian, takut anak buahnya mami muncul lagi seperti waktu itu.
Dan Dewa bilang, lebih aman jika Gadis diantar olehnya.
Gadis menyerah. Sama sekali tidak mendebat ataupun memperotes Dewa sedikitpun. begitupun sekarang.
Langkahnya keluar pintu perpustakaan.
Dua orang cewek menghampirinya dengan berlari kencang, "Disini lo ternyata." Napasnya ngos-ngosan. Gadis melihatnya terheran. Apalagi dua cewek itu adalah Cindy dan Mely. Teman dekatnya Sesil.
"Kita berdua udah nyariin lo muter-muter tau nggak."
Menaikkan satu alisnya, Gadis lantas bertanya. "Kenapa nyariin aku?"
"Lo beneran nggak tau??" Cindy menaikkan nada bicara dengan wajah serius.
"Tau apa?"
"Itu, Cowok lo si Dewa, berantem sama Juna di dekat gudang belakang sekolah." Mely memberitahu dengan memasang raut wajah serius, sama seperti Cindy.
Gadis jelas tidak mempercayainya. "Kalian mau ngerjain aku ya? mana mungkin Dewa berantem sama Juna, sedangkan aku aja tau kalau Dewa sekarang lagi ada di kantin."
Mely dan Cindy saling bertatapan sejenak, sembari menaikkan alis penuh maksud. Mereka hanya takut jika rencananya akan gagal untuk kali ini.
Gadis melangkah pergi. Ia berniat tidak memperdulikan ucapan dua teman Sesil barusan. Namun Mely dan Cindy seakan tidak membiarkan. Keduanya tidak menyerah dan mencoba meyakinkan Gadis sekali lagi.
"Lo itu di kasih tau malah gak percaya. Kita berdua nggak bohong. Dewa beneran lagi berantem sama Juna, dan anak-anak yang lain nggak ada yang bisa misahin!"
Cindy mengangguki ucapan Mely. "Iya. Apa lo mau, kalau hal ini sampai kedengeran ke telinga guru?? Lo tau sendiri kan, gimana watak keras bokapnya mereka, apalagi sama Dewa."
Lima Detik Gadis terdiam, mencoba mempercayai apa yang dikatakan Mely dan Cindy. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berlari pergi ke tempat yang dimaksud. Tanpa sepatah kata yang keluar dari bibirnya.
Mely dan Cindy menatap kepergian Gadis dengan tersenyum miring. "Kena lo." cetus Cindy.
Cindy lantas mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang yang kini sudah bersiap menyambut kedatangan Gadis ditempatnya. "Umpannya kena. Dia lagi menuju ke tempat lo. Inget apa yang dibilang Sesil kemarin. Ikuti apa yang Sesil bilang, dan lo akan dapetin uangnya."
Panggilan terputus.
Gadis sudah akan sampai di gudang yang dimaksud. Dikejauhan ia sempat mengurungkan niatnya untuk mendekati gudang itu, lantaran disekitaran gudang sama sekali tidak ada aktifitas yang menunjukkan tanda-tanda keributan atau apapun itu. Gudang disekolah tersebut memang letaknya dibelakang dan dipojokan. Jujur saja, Gadis sedikit takut saat pergi ke sana, lantaran gudang tersebut terkenal angker, katanya.
__ADS_1
Didepan pintu gudang yang terbuka separuh itu, langkah Gadis terhenti. Ia membuka lebar pintu tersebut. kosong. Sama sekali tidak ada siapapun didalam sana.
"Mereka lagi ngerjain aku ya?!" Gadis berucap sendiri, lalu mendengus. Merutuki dirinya yang begitu bodoh karena bisa dengan mudah percaya apa yang dikatakan dua teman Sesil tadi. padahal Gadis cukup tau jika mereka begitu membencinya.
Langkah Gadis sudah akan berbalik meninggalkan tempat itu, namun seseorang dari belakang membekap dan menarik paksa dirinya masuk kedalam.
Gadis meronta. Ia berusaha keras melepas bekapan tangan seorang cowok di mulutnya. Kakinya bahkan menendang-nendang saat cowok itu menyeretnya masuk kedalam.
"Diem! Gue bilang diem!!"
Gadis abai, dan malah menggigit tangan cowok itu dengan kencangnya.
"Arrghh!" cowok tersebut mengerang sakit. Gadis berbalik, Menatap cowok itu dengan kening terlipat dalam.
"Ka-kamu! kamu kan yang dari kelas sebelah-" Gadis tidak mengerti, kenapa cowok yang bernama Dino itu bisa melakukan hal seperti ini terhadanya. Padahal Gadis merasa sedikitpun tidak mengenalnya. Ia hanya tau jika cowok itu bernama Dino dan kelasnya tepat disebelah kelas Gadis.
"Cewek sialan!" umpatnya kesal, lantaran Gadis menggigitnya cukup kencang. Dino mendekat cepat. Menarik tangan Gadis dan menyudutkannya ke tembok.
Bruk!
"Akh!" Gadis memekik oleh rasa nyeri di punggungnya. "MAU KAMU APA SEBENARNYA?!" Gadis bertanya lantang. Membuat Dino kembali membekapnya seperti tadi. Meredam suara Gadis, yang kini hanya berupa geraman tidak jelas. Dua tangan Gadis terkunci diatas kepala. Cukup kencang, hingga Gadis sendiri kesulitan membebaskan diri.
"Diem, diem, diem!! Gue bilang diem!!" sentak Dino, memperingatinya frustasi.
"Emmpp!! Emmpp...!!" Gadis berusaha meminta tolong. Namun sayang, hanya suara itu yang terdengar.
"Gue terpaksa lakuin ini, demi uang."
"Gue tau, kalau lo itu cewek panggilan. Iya kan?"
Gadis melebarkan mata. Raut wajahnya kian semakin memucat. Ia mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. Apa yang diinginkan Dino sebenarnya?
Dino tersenyum miring, seakan mengerti isi kepala Gadis, dengan hanya melihat dari raut takut di wajahnya, "Sayangnya, bukan itu tujuan gue bawa lo kesini." Dino melepas bekapan di mulut Gadis, telunjuknya bergerak pelan menyusuri pipi mulus Gadis, "Tapi.. kalau lo mau, gue bisa atur waktu kita buat ketemu di lain tempat. Kita bisa lakuin hal yang menyenangkan bersama.... diatas ranjang tentunya." Dino berkata penuh nafsu yang terpatri jelas di wajahnya. "Gimana? Lo mau kan?" tawarnya.
"Aku Nggak sudi!"
Plakk!
Sakit dan nyeri. itulah yang dirasakan Gadis, saat tangan besar Dino menampar wajahnya. Harusnya Gadis diam tidak menjawab apapun perkataan cowok yang memiliki tempramen tinggi tersebut. Apalagi saat ini suasana hati Dino sedang dalam mood yang buruk.
Dino itu pemakai. Disaat kebutuhan akan ketergantunganya dengan obat-obatan terlarang tidak segera terpenuhi, ia menjadi mudah marah dan sulit mengontrol diri.
Tawaran Sesil mengenai sejumlah uang yang akan didapatnya setelah melakukan suatu hal yang diinginkan gadis itu, membuat Dino menerima tanpa berpikir. Ia bahkan sudah sangat siap menerima konsekuensi terbesar, jika sampai Dewa menghajarnya.
Demi bisa menikmati kembali barang haram itu, Dino mengabaikan segala hal terburuk saat berhadapan dengan Dewa nanti.
Tamparan Dino, membuat air mata Gadis berlinang oleh rasa panas dan sakitnya. Kerasnya tamparan membuat wajah Gadis sampai berpaling menyamping.
Dino berdecih sinis. "Sombong banget lo jadi cewek!" maki Dino. "Lo fikir, alasan Dewa mau pacaran sama lo karena dia cinta?? Lo salah!! Orang gila pun tau, kalau Dewa cuman mau manfaatin tubuh lo doang!"
__ADS_1
"Dewa, bukan orang yang seperti itu!!" Gadis meninggikan nada bicara, dengan netra menajam kesal.
Wajah Gadis mendongak, saat tangan Dino mengapit kuat kedua pipinya. "Jangan pernah lo teriak didepan gue! ngerti?!"
Gadis meringis menahan nyeri, lantaran cengkraman Dino yang semakin lama semakin mengeras, "Dewa nggak akan maafin kamu."
"Gue tau. Tapi sebelum itu, gue akan bikin lo terlihat begitu buruk didepan Dewa."
Dino menoleh, saat suara langkah kaki terdengar mendekat. Melalui jendela kaca satu arah itu, Dino melihat seorang yang diyakininya adalah Dewa, telah datang.
Gadis yang juga menyadari, segera berteriak meminta tolong, namun sebelum teriakannya menggema, Dino sudah bergerak cepat membungkamnya seperti tadi.
Senyum licik menghiasi bibir Dino. Satu detik kemudian...
"Oke, gue setuju. sesuai harga yang lo minta, Setengah juta kan?! Dan lo akan puasin gue disini."
Gadis melebarkan bola mata. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa Dino bisa tiba-tiba mengucapkan hal aneh semacam itu. Namun itu tidak lama, saat akhirnya Gadis bisa mencerna maksud dan tujuan dari rentetan kalimat yang dilontarkan Dino barusan.
Brakk!
Pintu terbuka kasar oleh tendangan yang sengaja dilakukan Dewa barusan. Hatinya memanas, tanpa basa-basi ia langsung mendekat, menarik paksa kerah seragam Dino⸺yang dari belakang justru terlihat seperti ingin mencium Gadis.
Lalu pukulan bertubi-tubi melayang membabi buta di wajah Dino, hingga membuatnya terkapar dalam hitungan detik.
Asal kalian tau, Dewa itu bukan tandingannya Dino.
Tentu saja Dino tau akan mengalami hal semacam ini. setidaknya setelah ini ia bisa mendapatkan uang dari Sesil, dan uang yang jumlahnya cukup banyak itu akan digunakannya untuk membeli barang haram sejenis sabu, yang sudah membuatnya kecanduan berat.
"Maksud omongan lo apa, ***! gimana bisa kalian berdua ada disini??" Dewa berteriak marah, sembari menarik kerah depan Dino, hingga punggungnya terangkat naik.
Gadis yang sedari tadi melihat dipojokan, dibuat takut oleh kemarahan Dewa. Tubuhnya bergetar, dengan keringat dingin yang mengucur deras di seluruh permukaan kulit tubuhnya.
"Kenapa lo masih nanya?! Tentu saja kita berdua mau seneng-seneng disini. Lo ngerti kan maksud gue?!" Dino berbicara susah payah, lantaran sudut bibirnya yang sudah robek akibat bogeman Dewa. Bahkan dengan keadaannya yang seperti itu, Dino masih bisa memunculkan seringai liciknya didepan Dewa.
"Cewek lo butuh duit. Dia juga sudah sepakat bakal puasin gue, asal gue bayar dia setengah juta." Lanjut Dino, menghasut Dewa.
"Anjing lo! ***!!" Dewa meradang. Ia kembali melayangkan pukulan telak di wajah Dino untuk kesekian kali, hingga membuat pandangan Dino mengabur buram.
Gadis memberanikan diri mendekat. Mencoba meredam amarah Dewa yang bisa dipastikan akan semakin menggila, jika Gadis hanya mendiamkan. "Dewa, udah! aku nggak mau kamu dapat masalah karena ini!" Gadis berjongkok, menahan lengan tangan Dewa yang sudah bersiap melayangkan tinjunya kembali.
Hati Dewa yang masih merasa panas oleh ucapan Dino, membuatnya melayangkan sebuah tatapan tajam ke arah Gadis. Sorot mata bagaikan elang itu, dirasakan Gadis begitu menusuk ulu hatinya.
Apa Dewa mempercayai ucapan Dino?
"Dewa... aku---"
Bungkam. Itulah yang dilakukan Gadis, saat penjelasan yang coba ia lakukan, disambut Dewa dengan sebuah tarikan kasar dilengannya. Gadis berdiri, langkah kakinya berusaha keras menyamai langkah lebar Dewa⸺keluar gudang, agar tidak sampai menyeretnya
"Dewa, pelan-pelan. Sakit..."
__ADS_1
***
BERSAMBUNG