Gadis Dewa

Gadis Dewa
44 | salah paham dan maaf


__ADS_3

Jangan lupa klik like ^_^


Hapyy reading...


***


"Dewa!"


Gadis berteriak, seiring tarikan Dewa di pergelangan tangannya. Cowok itu masih tak bergeming dan tetap berjalan cepat entah kemana. mengabaikan segala perkataan Gadis yang sedari tadi meminta dilepaskan.


Bahkan ketika keduanya melewati lorong⸺yang dimana banyak siswa-siswi bercanda tawa atau hanya sekedar mengobrol satu sama lain. Dewa masih tetap menarik Gadis dengan kasar, membuat keduanya saat ini menjadi bahan tontonan murid-murid disekitar yang melihat.


Aurel sampai keluar kelas, saat suara nyaring Gadis yang meminta dilepaskan itu, terdengar telinganya.


"Gadis!" Aurel tentu saja khawatir, melihat Gadis yang ditarik paksa oleh Dewa seperti itu. Ia berteriak memanggil keluar kelas, lalu berusaha mengejarnya, "Lo, apa-apaan sih, Wa?!" Aurel memberanikan diri menegur Dewa yang saat ini terlihat marah, dan berusaha untuk menyamai langkah kakinya. Lantaran Dewa yang sama sekali tidak berniat menghentikan langkahnya. "kenapa lo perlakukan Gadis sekasar ini?!"


"Bukan urusan lo!" Dewa menjawab singkat, tanpa sedikitpun menatap lawan bicaranya.


"Aurel, bantuin aku!" pinta Gadis dengan wajah memelasnya. Ia sedari tadi sudah berusaha melepas tarikan tangan Dewa, namun sungguh sulit.


Aurel jadi semakin khawatir, apalagi melihat ekspresi Gadis yang sudah terlihat ketakutan seperti itu. "Dewa! Gue bilang lepasin Gadis! Atau.. gue akan lapor guru!"


Dewa menghentikan langkah tiba-tiba. Netranya menajam tepat ke arah Aurel, "Coba aja lapor. Itu berarti, lo udah siap nerima konsekuensinya dari gue!" Dewa mengucapkan kalimat itu penuh nada ancaman.


Membuat Aurel meneguk ludahnya kasar. Nyalinya menciut seketika.


Bahkan saat Dewa kembali berjalan pergi, Aurel hanya bisa diam dengan perasaan khawatirnya. Maafin gue, Dis...


Ketakutan Aurel jelas beralasan, ia cukup tau jika Dewa bukanlah tipe orang yang suka main-main dengan perkataannya. Apalagi mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, masih teringat betul di benaknya. Bagaimana Dewa yang tanpa belas kasihan membully seorang murid perempuan karena sudah berani malaporkannya ke guru⸺saat kedapatan merokok. Tentu saja Aurel tidak ingin hal itu menimpanya juga.


Serba salah, itulah yang dirasakan Aurel saat ini.


"Dewa, lepas! Kamu nyakitin tangan aku!" kata Gadis, saat kakinya menaiki tangga rooftop.


Pintu rooftop di buka Dewa dengan kasar, lalu selanjutnya Dewa melepas cekalan tangannya di pergelangan Gadis⸺dengan menyentaknya. Membuat Gadis mengaduh akibat rasa sakit yang ditimbulkan.


"Kamu tuh kenapa sih?! apa kamu mau matahin tanganku?" Gadis bertanya, sembari memegangi nyeri di pergelangan tangannya.


"Iya! Aku berniat melakukannya!" Dewa menjawab dengan emosi meledak-ledak. Dadanya bergemuruh oleh amarahnya sendiri.


Gadis terperangah. Ucapan Dewa barusan begitu menakutkan baginya. Kakinya tergerak mundur dua langkah. Menjaga jarak dari Dewa.


Tanpa banyak bicara lagi, Dewa merogoh saku celana. Mengeluarkan dompet hitamnya⸺untuk mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu melemparnya begitu saja di wajah Gadis.


Gadis yang terkejut, bahkan sampai memejam rapat kedua netranya. Berupaya melindungi bola matanya⸺yang mungkin saja tergores oleh uang-uang yang kini sudah tercecer dibawah kakinya.


Mata bening Gadis membuka. Air mata sudah menggenangi pelupuk matanya. Dewa tidak mempercayainya. Dan itu benar-benar membuatnya sakit dan terluka.


Dadanya... benar-benar terasa sesak.


Sangat.


"Dewa..."


"Kamu butuh uang kan?!" tanya Dewa, dan Gadis memilih bungkam. "Ambil semua uang-uang itu!" titahnya.


"Kenapa diem? aku bilang ambil!" perintah Dewa, saat Gadis hanya diam menunduk. Menatap miris uang-uang yang kini tercecer tepat di bawah kakinya dengan hati terluka.

__ADS_1


"Aku benar-benar gak nyangka ya, Dis. Kamu bilang ingin berhenti! Tapi yang aku lihat barusan itu apa?!" teriak Dewa meledak-ledak. "Kalau kamu butuh uang, kamu bisa bilang ke aku, pacar kamu! aku bisa kasih kamu Cuma-Cuma. Bukannya malah milih puasin cowok lain buat dapat imbalan uang yang gak seberapa itu!"


Kali ini, air mata yang sedari tadi ia tahan dipelupuk, Akhirnya terjatuh tanpa diminta, "Jadi, kamu nggak percaya sama aku, Dewa?" pandangannya terangkat. Menatap kecewa ke arah Dewa, dengan mengusap pipi basahnya. "Aku fikir kamu berbeda dari Juna. Tapi ternyata, kalian sama!"


"Kamu bahkan nggak mau dengar penjelasanku, dan lebih milih percaya omongan Dino." Gadis mengusap air matanya sejenak, "Aku kecewa sama kamu, Dewa.." lalu langkahnya berlari pergi meninggalkan Dewa sendirian disana.


Tangan Dewa terkepal kuat. Melepaskan amarahnya dengan meninju dinding pembatas rooftop hingga membuat buku tangannya terluka, "Brengsek!!" umpatnya, dengan dada memburu naik turun.


****


"Dis, lo nggak papa kan? Apa Dewa nyakitin lo?"


Aurel mencecar Gadis yang baru saja memasuki kelas, dengan sebuah pertanyaan mengenai sikap Dewa tadi.


Duduk di kursi, Gadis lantas meminta Aurel untuk tidak lagi membahas apapun tentang Dewa, untuk saat ini. "Rel, please.. jangan bahas Dewa dulu. Aku lagi nggak mau ngomongin dia." pintanya dengan kesedihan yang dapat dilihat jelas oleh Aurel.


Apalagi kedua netra Gadis yang memerah. Aurel bisa memastikan, jika sahabatnya itu pastilah habis menangis. Dan ia tau betul siapa pelakunya.


Gadis melihat Dewa yang baru saja memasuki kelas⸺tepat ketika bel berakhirnya istirahat berbunyi. Dewa menoleh bangku Gadis, hampir saja membuat netra mereka saling bertemu, saat Gadis justru lebih memilih menghindar memalingkan wajahnya ke arah lain.


Dan Dewa menyadari betul hal itu.


Saat pulang sekolah, Gadis lebih memilih pulang sendiri. Ia berusaha keras menghindari Dewa, tidak mau jika sampai bertatap muka dengan cowok itu.


Dewa sempat melihat Gadis keluar kelas dengan terburu, namun Dewa sekalipun tidak ingin berniat mengejar Gadis⸺menahannya, atau hanya untuk sekedar meminta maaf.


"Tumben lo gak ngajak bareng cewek lo pulang, bro?" tanya Gerry, saat melihat Gadis dan Aurel yang barusaja keluar kelas.


"Iya, biasanya kan kalian pulangnya barengan." Sahut Bastian menimpali. Mereka berlima kini barusaja beranjak keluar kelas.


Dewa sama sekali tidak berniat menjawab. Langkah Dewa justru mendadak terhenti saat melihat Dino dengan sebuah tas di punggungnya itu, memasuki kelasnya Sesil.


"Kenapa, Wa? Kok tiba-tiba berhenti?" tanya salah seorang temannya yang melihatnya terheran.


"Kalian jangan berisik! Gue mau mastiin sesuatu." Dewa memperingati teman-temannya yang kini justru saling berpandangan satu sama lain. Sama sekali tidak mengerti apa maksud Dewa menyuruh mereka seperti itu.


Dewa kembali melangkah. Mendekat ke arah pintu kelas Sesil yang terbuka separuh itu. dibelakangnya sudah ada keempat temannya tadi yang juga melakukan hal yang sama.


Edo menyikut lengan Dewa, "Njir! Lo liatin apaan?!"


"Gue bilang diem!" perintah Dewa dengan nada lirih tentunya.


Keempat temannya menurut diam. Tidak lagi bertanya.


Dewa membuka sedikit pintu, untuk memperjelas penglihatannya. Nampak Sesil bersama dua sahabat dekatnya yakni Cindy dan Meli⸺berdiri disisi kiri kanan Sesil.


"Gue mau minta uang yang lo janjiin buat gue." Ujar Dino, sembari mendekati Sesil.


"Ya ela, gak sabaran banget sih lo. Gue udah siapain uangnya. Tenang aja." Sesil berujar enteng. Ia dan dua temannya memperhatikan sejenak luka-luka di wajah Dino, lalu tertawa. "Gue fikir lo udah mampus." Cibir Sesil, yang sama sekali tidak merasa bersimpati sedikitpun mengenai luka-luka di wajah Dino.


"Gak usah banyak bacot! Buruan, mana uangnya! Gue butuh uangnya sekarang!!"


Sesil melepas tas yang sedari tadi sudah di sandangnya, ia mengambil uang didalam tas tersebut dan memberikannya pada Dino.


"Eits!" tepat saat tangan Dino akan menyentuh amplop berwarna coklat itu, Sesil justru menarik tangannya dengan cepat. "Gue harus pastiin, kalau lo udah beneran bikin Dewa percaya dan ngebenci Gadis."


Dino berdecak. Ia merebut amplop berisikan uang itu dari tangan Sesil, "Apa mata lo buta?? Lo gak liat gimana keadaan muka gue sekarang hah?!"

__ADS_1


Lalu Dino membuka amplop berisikan uang cukup banyak itu, untuk memastikan Sesil tidak akan menipunya. Senyum Dino mengembang lebar, ia tertawa sembari mencium aroma lembaran uang tersebut begitu dalam.


BRAKK!


Dewa yang sudah tidak tahan, akhirnya membuka pintu itu secara kasar. Membuat empat orang didalam sana menoleh terkejut ke arah pintu.


"De-Dewa," Sesil bahkan menyebut nama Dewa dengan nada bergetar akibat takut.


***


Gadis duduk ditepi ranjang. Pandangannya memindai ke sekekliling ruangan. Ingatan mengenai pertengkarannya di rooftop siang tadi bersama Dewa, mendadak memenuhi kepalanya.


Gadis menunduk, air matanya terjatuh tanpa diminta. "Kalau Dewa aja nggak percaya sama aku, buat apa lagi aku masih tinggal disini."


Gadis mengusap pipi basahnya, "Lebih baik aku pergi dari sini sekarang." Ujarnya, lalu bangkit membuka lemari untuk mengambil tas besar miliknya yang memang tersimpan disana. Selanjutnya, Gadis mulai memasukkan satu persatu baju-baju miliknya ke dalam tas tersebut.


Pintu apartemen terbuka, Dewa masuk dengan napas tersengal akibat berlari saat memasuki gedung apartemennya.


Kalau saja tadi keempat teman Dewa tidak menahan dirinya, mungkin Dewa sudah hilang kendali terhadap Sesil.


Melihat Gadis yang tengah sibuk memasukkan satu persatu pakaiannya ke dalam sebuah tas besar, membuat Dewa mendekat dan bertanya, "Dis, kenapa kamu masukin semua baju-baju kamu kedalam tas?"


Gadis bungkam. Ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Dewa. jangankan menjawab, melihat saja Gadis enggan. Hatinya sudah terlanjur kecewa.


"Jawab, Dis! kenapa kamu mengemasi semua pakaian kamu?" Dewa menaikkan nada bicara, saat Gadis tetap melakukan hal sama, yakni mengacuhkannya.


"Dis!"


Dewa yang sudah tidak tahan, akhirnya mengeluarkan paksa baju-baju yang sudah di masukkan Gadis kedalam tas besarnya itu.


"Dewa! apa yang kamu lakukan?! berhenti!" Gadis meminta Dewa untuk berhenti mengeluarkan baju-baju miliknya dari dalam tas dengan cara memegangi lengannya. "Aku bilang berhenti, Dewa!"


Dewa menyentak lengannya yang di pegangi Gadis. "Apa kamu mau pergi dari sini, Dis??"


"Bukan urusan kamu." Gadis menjawab sinis. Lalu kembali memasukkan lagi baju-baju yang tadi sempat dikeluarkan Dewa, dan kembali membereskan sisa bajunya yang masih ada didalam lemari.


Menghela napas frustasi, Dewa lantas kembali melakukan hal tadi. mengeluarkan lagi baju-baju milik Gadis dari dalam tasnya dan mengembalikannya asal kedalam lemari pakaian seperti semula.


Gadis menjerit frustasi, "Dewa! berhenti! Kamu tuh kenapa sih?!"


"Aku nggak akan biarin kamu keluar dari sini tanpa seizinku!"


"Buat apa lagi aku tinggal disini, kalau kamu aja nggak percaya sama aku!" jerit Gadis, dengan napas memburu naik turun, lalu kembali sibuk dengan pakaiannya seperti tadi.


Air mata Gadis lagi-lagi terjatuh. Disaat Gadis mengambil sisa pakaian terakhir didalam lemari tersebut, tubuhnya terdiam kaku⸺saat menyadari lengan tangan Dewa sudah melingkari perutnya erat dari belakang.


"Maafin aku, Dis. Aku mohon maafin aku..." Dewa mengatakan sembari menenggelamkan wajahnya di ceruk leher bagian kanan Gadis.


"Semudah itu kamu minta maaf, Dewa."


"Aku tau aku salah, kamu boleh marah, tapi aku mohon.. jangan pergi dalam keadaan seperti ini. Please.. maafin aku."


***


BERSAMBUNG


Dimaafin nggak nih???

__ADS_1


__ADS_2