Gadis Dewa

Gadis Dewa
bab 22


__ADS_3

Tinggalkan jejak sebagai penyemangat update cerita dengan cara klik like dan komennya😉


Terimakasih...


Happy reading....


*****


"Makasih ya, sayang. Kamu benar-benar luar biasa." Beni mengecup kening Gadis sebagai tanda terimakasih atas rasa nikmat dan juga puas dengan pelayanan yang baru saja Gadis beri padanya. "Lain kali om akan pakai kamu lagi. Om bener-bener puas. Om gak nyangka tubuh kamu senikmat ini."


Bahkan Beni masih belum mengenakan pakaiannya dan masih dalam keadaan bertelanjang dengan kejantanannya yang masih basah oleh cairan pelumas miliknya dan juga Gadis.


"Oh ya.." Beni nampak meraih dompetnya yang sengaja ditaruh diatas nakas tepat disampingnya. Mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan memberikannya pada Gadis. Berikut dengan bonusnya. "Buat kamu. Sengaja om kasih lebih, buat bonus. Lain kali kalau om senggang, kita main lagi."


Gadis menatap nanar uang yang menurutnya memiliki jumlah yang cukup banyak. Lalu menerima uang tersebut dengan perasaan terluka. "Makasih, om." lirihnya dengan netra memanas.


"Kamu pantes dapetin itu." Cetus Beni, sembari meremas kedua payudara Gadis cukup kencang. Dan gadis hanya sanggup menahan rasa nyerinya sebisa mungkin, tanpa ingin memperlihatkan ringisan diwajahnya. Tidak mau membuat lelaki itu kecewa.


Beni berdiri, saat sudah pamit untuk pergi ke kamar mandi⸺membersihkan diri.


Gadis menatap nanar uang ditangannya, lalu mengusap area seputar bibirnya yang masih basah oleh cairan milik Beni yang sengaja ditumpahkan didalam mulutnya. Rasa dan baunya benar-benar membuatnya mual. Namun Gadis berusaha menahannya sebisa mungkin.


Gadis tidak menyangka jika ternyata Beni sangat menyukai yang namanya oral seks. Rasa kesal mati-matian ditahan Gadis, saat dimana Beni menyuruhnya untuk mengoral kejantanannya didalam mulut dengan rentang waktu yang cukup lama, hingga membuat tulang pipinya terasa nyeri akibat kelelahan.


Walaupun hal itu sudah biasa ia lakukan, tetap saja Gadis sebenarnya tidak begitu menyukai saat dimana ia mengoral alat kelamin dari para pelanggannya. Selain rasa dan juga baunya yang membuat mual, jujur saja hal itu menurutnya sangat menjijikkan. Dan Gadis hanya bisa pasrah saat diperintah untuk melakukan itu.


Setidaknya ia tau, jika banyak lelaki yang memang menyukai saat kejantanan mereka di oral dengan mulut ataupun lidah, sebelum mereka melakukan seks yang sebenarnya.


****


Sekitar beberapa menit yang lalu, Beni sudah pergi meninggalkan kamar hotel, dan kini hanya tinggal dirinya disana.


Didalam kamar mandi, Gadis tidak henti-hentinya memuntahkan isi perutnya lantaran Beni yang menyuruh dan memaksa menelan semua cairan lelaki itu, disaat mencapai puncak.


Gadis yang saat itu menolak, kalah oleh paksaan Beni yang seketika memegangi kepalanya hingga mendongak menatap langit-langit, dan membuat cairan kental itu benar-benar tertelan kedalam kerongkongannya. Sebagian juga ada yang meluber keluar lantaran Gadis yang sempat menolaknya.


Lalu selanjutnya, Gadis segera menyikat giginya dan mengulangnya sebanyak tiga kali. Begitu juga saat berkumur. Ia bahkan bisa melakukannya berkali-kali.


Saat sudah selesai, ia menempatkan posisi tubuhnya dibawah guyuran air shower, berbarengan dengan air mata yang sudah terjatuh deras. Jemarinya menyisir rambut basahnya ke belakang dengan isakan yang semakin keras terdengar. Meratapi nasib buruknya yang entah sampai kapan akan berakhir.


Bahkan Gadis baru keluar dari kamar mandi, setelah satu jam kemudian.


Tubuh basahnya yang masih terlilit handuk itu, berjalan lunglai ke arah ranjang. Duduk, dan lagi-lagi air matanya kembali terjatuh entah untuk yang keberapa.


****


Ini masih pukul empat pagi, dan Gadis baru pulang kerumah seusai melayani tiga pria hidung belang dalam semalam.


Untungnya tadi dia sempat mengistirahatkan diri dengan tidur sebentar sekitar dua jaman.


Tubuh lelahnya ia paksa untuk pulang, karena ingat jika ia masih harus sekolah hari ini.


Tepat didepan pintu rumah, langkahnya terhenti. Ia merogoh tas jinjing miliknya untuk mengambil kunci cadangan rumahnya. Disaat ia sibuk mencari, netranya tertuju ke arah lantai tidak jauh dari pintu. Dimana disana sudah ada sepasang sepatu wanita yang tentunya bukan milik Gadis.


"Ayah..." lirihnya dengan netra memanas. Gadis berharap apa yang dipikirkannya saat ini tidaklah benar. Tapi....


Gadis segera memasuki rumah saat sudah membuka pintu. Langkahnya bahkan nampak tergesa, dan langsung menuju ke arah kamar ayahnya.


Tanpa berfikir, ia dengan lancang membuka pintu kamar ayahnya kasar. Tidak menyangka, jika ayahnya didalam sana tengah tidur pulas bersama seorang cewek yang begitu dikenalnya dalam keadaan telanjang dibawah selimut.


"Ayah!! apa yang kalian berdua lakukan??" teriaknya berapi-api dengan amarah di ubun-ubun.


Teriakan Gadis, jelas membuat dua orang yang tadinya terlelap itu seketika bangun dengan mata mengerjap akibat merasa terganggu.


"Berisik banget lo! dateng-dateng main teriak. Ganggu orang tidur! Ngerti gak?!" Arman yang merasa terganggu itu, balik meneriaki Gadis tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Ada apa mas?" Wanita disisi Arman itu bersuara dengan tangan mengucek kedua matanya. Mengarahkan pandangan ke arah Gadis dengan raut pucat. "Ga-Gadis?" Ah.. kenapa ia bisa tertidur dan membuat Gadis akhirnya tau dengan semua ini?!


Gadis menatap sahabatnya itu dengan raut kecewa, "Aku nggak nyangka ya Ris, kenapa kamu bisa tega ngelakuin ini sama aku?! Bukannya kamu itu sahabat aku! Ayah juga! Ayah benar-benar keterlaluan!" Teriak Gadis masih tidak menerima.


Riska, cewek yang berusia lima tahun lebih tua dari Gadis ini, memang adalah sahabat dekat Gadis yang juga bekerja ditempat mami sebagai gadis panggilan.


Gadis benar-benar tidak menyangka jika Riska akan mengkhianatinya dengan cara seperti ini. Tidur bersama ayahnya di ranjang yang seharusnya bundanya lah yang berhak ada di sana. Tapi sekarang?? Apa mereka berdua sudah benar-benar kehilangan akal?


"Dis, gue--" pembelaan yang hendak dilontarkan sahabatnya itu, seketika dipotong Gadis.


"Aku nggak mau denger apapun alasan kamu. Sekarang juga, kamu pakai kembali baju kamu, dan keluar dari rumahku!"


"Heh! Lo gak berhak ngusir Riska ya. Apa Lo udah benar-benar bosan hidup, hah?!" Bentak Arman mulai geram, akan tingkah anak sialannya ini.


"Mas. Udah! Jangan marahin Gadis!" Peringat Riska. Ia tentunya sangat tau bagaimana watak Arman, karena memang Riska cukup sering mendengar curhatan Gadis mengenai sikap kasar Arman terhadap sahabatnya. "Iya, gue akan pergi. Lo tenang aja." Kata Riska pada Gadis.


Riska meraih bajunya dilantai dan memakainya secepat mungkin.


"Dis, gue bener-bener minta maaf sama Lo." Ucap Riska, saat sudah keluar kamar. Berbicara pada Gadis yang berdiri memunggunginya. Berharap Gadis akan memaafkan.


"Keluar!! Aku gak mau denger apapun penjelasan dari kamu!" Katanya, dengan dada memburu naik turun akibat amarahnya sendiri.

__ADS_1


Riska benar-benar menyesal. Ia tau jika dirinya salah. Ia akhirnya berjalan keluar meninggalkan rumah tersebut.


Gadis menghela napas panjang berulang kali. Netranya memejam lalu kemudian terbuka. Hatinya seakan tersayat oleh pisau yang tak kasat mata.


Tangan kirinya terangkat naik mengusap kening. Kenyataan ini membuat kepalanya menjadi pusing.


Disaat ia bekerja banting tulang sampai pulang pagi, ayahnya justru bermain gila dengan sahabatnya sendiri. Benar-benar mengesalkan. Keterlaluan.


Dari arah belakang, Gadis merasa ada yang menarik bahunya. Lalu seketika sebuah tamparan nan kencang sudah mendarat mulus di pipi kirinya.


Plak!


Sakit! Pipinya seketika memanas akibat rasa sakit dan nyeri yang mendera.


"Itu hukuman sekaligus peringatan buat Lo, agar lain kali Lo gak ikut campur dengan apapun yang menjadi urusan gue!" Kata Arman memperingatinya penuh penekanan.


"Ayah bener-bener keterlaluan!" Kata Gadis berbicara dengan masih memegangi pipinya nyeri. "Nggak sepantasnya ayah bawa perempuan lain kerumah, apalagi sampai ngajak tidur di kamar ayah sama Bunda! Apa ayah sama sekali gak mikirin gimana perasaan bunda??"


"Heh.." Arman menekan kedua pipi Gadis menggunakan tangan. "Lo lupa, kalau nyokap Lo itu udah gak bisa ngejalanin kewajibannya sebagai istri?! Apa salah, kalau gue nyari kesenangan diluar hah?!" Arman melepas tangan yang menekan pipi Gadis dengan kasar.


"Jelas itu salah, yah! Bukannya ayah pernah bilang, kalau ayah akan usahain buat biaya operasi mata bunda. Tapi kenapa ayah justru pakai uang hasil kerja keras Gadis buat tidur sama perempuan lain?!"


"Oh.. jadi Lo sekarang udah berani itung-itungan sama gue?! Dasar anak gak tau diri!"


Plak!


Lagi, tamparan dari tangan ayahnya kembali mendarat di pipi kirinya. Namun kali ini Arman tidak tanggung-tanggung memukul dan bahkan mengerahkan seluruh tenaga hingga membuat Gadis tersungkur jatuh dan menangis.


"Lo denger ya baik-baik, gue paling gak suka ada orang yang sok nasehatin gue. Ngelarang gue ini itu! Apalagi yang melakukannya cuman bocah ingusan kayak Lo! Ingat itu baik-baik!" Kecamnya, sembari melangkah kembali memasuki kamarnya. Melanjutkan tidur yang tadinya sempat terganggu akibat anak sialannya itu.


Terkadang Gadis sering berharap jika ayahnya itu akan berubah suatu saat nanti. Tapi sepertinya itu tidaklah mungkin.


****


-Esoknya di sekolah-


Gadis dan Aurel yang baru saja datang, nampak berjalan beriringan di koridor sekolah.


"Duh! Kesel banget gue sama adek gue yang satu itu! Pagi-pagi dia udah teriak sambil gedor-gedor pintu kamar gue berkali-kali. Padahal waktu itu, gue lagi mimpiin si tetet lagi ngelamar gue di atas panggung! Ngeselin kan?!"


"Argh! Pokoknya gue sebel banget sama adek gue! Padahal dimimpi gue waktu itu, oppa lagi ngelamar gue sambil berlutut ngasih gue cincin. Tapi berkat adek gue, semuanya jadi berantakan!"


"Emang ya, tuh setan cilik. Gak bisa apa biarin gue bahagia bentar aja. Ish! Kesel-kesel!" Aurel menghentakkan kaki, yang sama sekali tidak ditanggapi Gadis sedikitpun. Bagaimana Gadis menanggapi jika sekarang saja Gadis malah melamun dengan tatapan kosong mengarah depan.


Keterdiaman Gadis itu, nyatanya disadari juga oleh Aurel. "Ihh! Gadis! Kenapa Lo malah diem nyuekin gue sih?! Padahal kan gue lagi serius curhat sama Lo! Malah Dikacangin!"


"Gak ada siaran ulang!" cetusnya dengan wajah kesal dan juga bibir yang mencebik.


"Pagi cantik...." sapa Gery tiba-tiba, yang kini sudah berada tepat disamping Aurel--mensejajarkan langkah.


Aurel memutar dua bola matanya malas. "Duh! Apaan sih. Masih pagi udah bikin mood gue makin jelek aja lo."


"Kenapa Pagi-pagi udah marah-marah gitu?? Entar cepet tua loh."


"Justru kerutan gue akan makin bertambah, kalau lo terus-terusan deketin gue kayak gini." Aurel melangkahkan cepat kakinya mendahului Gadis untuk menghindari Gery.


Melihat kepergian Aurel, justru membuat Gery berdecak dan menggeleng takjub. "Kenapa tiap kali Aurel bersikap kayak gitu, tingkat kecantikannya justru makin terlihat dan ngebuat gue makin pengen dapetin dia." Gery berbicara sendiri yang membuat Gadis disampingnya menoleh menatapnya aneh.


Gery yang juga melihat ke arah Gadis, seketika ingat dengan kejadian kemarin dan langsung menanyakannya sendiri, mengenai bagaimana Gadis bisa berada di apartemen Dewa. Masalahnya kemarin Dewa terus saja menghindar saat ditanya. Walaupun Dewa sempat mengatakan jika ia dan Gadis tidak ada apa-apa, tetap saja keempat temannya itu tidak bisa mempercayainya begitu saja.


"A-apa maksud kamu nanyain itu? Tentu aja aku sama Dewa gak ada hubungan apa-apa." Gadis menjawab gugup, yang semakin menambah rasa curiga didiri Gery.


"Aku beneran gak ada apa-apa sama Dewa!" Katanya meyakinkan.


"Yakin?? Kok gue tetep ngerasa ada yang gak beres sama kalian berdua." Ujar Gery dengan tatapan menyipit curiga.


"Ngapain sih Lo! Buruan masuk kelas!" Dewa tiba-tiba saja datang dari arah belakang.


"Entar! Gue masih belum selesai ngobrol sama Gadis soal kema---"


"Lama!"


Belum sempat Gery menyelesaikan ucapannya, Dewa sudah lebih dulu menarik kerah belakang seragam Gery agar berjalan mengikutinya dan berhenti memojokkan Gadis dengan pertanyaan bodohnya itu.


Dewa sempat melempar pandangan pada Gadis sesaat. Sebelum akhirnya cowok itu menarik Gery pergi memasuki kelas.


Gadis merasa lega dengan itu. Setidaknya dia tidak perlu repot-repot memikirkan alasan yang pas untuk membela dirinya didepan Gery.


"Wah! Liat guys! Siapa yang Dateng ke sekolah setelah semalaman habis ngedate sama om-om di diskotik!" Sesil datang dengan sindiran pedas yang memang sengaja dilayangkan untuk Gadis.


Gadis sempat terkejut mendengarnya. Namun Gadis berusaha bersikap setenang mungkin. "Maksud kamu apa?"


Pertanyaan Gadis seketika membuat Sesil dan dua teman dekatnya itu menertawakannya.


"Pinter banget sih aktingnya." Melly memuji dengan penuh ejekan.


"Sok polos, tapi gak taunya doyannya sama om-om. Ngerti sih, secara orang seperti mereka itu kan banyak duit." Cindy ikut menyahut sinis dengan kedua tangan bersendekap angkuh.

__ADS_1


Sesil menatap jijik ke arah Gadis dengan senyum merendahkan. Berjalan mendekat dengan sengaja menyenggol sebelah bahu Gadis. "Bitch!"


Langkah Gadis bahkan sampai tergerak mundur selangkah.


Apa yang dilakukan Sesil itu nyatanya diketahui Juna yang baru saja datang. Ia akhirnya sedikit berlari untuk menghampiri keempat cewek yang menurutnya tengah bersitegang.


"Dis? Kenapa disini dan gak langsung masuk?" Tanya Juna, saat sudah berhadapan dengan gadis itu.


"I-ini juga mau masuk."


"Kenapa mesti buru-buru?" sahut Sesil yang tidak ingin mengakhiri ini begitu saja. "Juna, Apa kamu nggak pengen bertanya langsung ke Gadis, mengenai alasan dia yang kemarin bisa pulang bareng sama kembaran kamu?"


Deg!


Gimana bisa Sesil tau soal itu? Batin Gadis dengan raut pucatnya.


"Emm... Juna, a-aku bisa jelasin semuanya. Jadi, sebenarnya kemarin itu--"


Ucapan Gadis terhenti saat Juna memotongnya. "Gak ada yang perlu dijelasin. Aku percaya sama kamu." kata Juna, dengan tangan mengelus pipi sang pacar penuh sayang.


Gadis terdiam. Ia tidak menyangka jika Juna akan mengatakan itu dan memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut.


Tapi...


Apa Juna benar-benar mempercayainya? Entah kenapa saat ini Juna justru lebih terlihat tengah berusaha mempercayainya, ketimbang benar-benar mempercayainya.


Apa yang dikatakan Juna itu, jelas membuat Sesil tertawa miris. "Aku nggak salah denger?? kamu bilang, kamu percaya sama dia? Jadi maksud kamu, disini yang berbohong itu aku?"


"Sil! Udah! gue gak mau lagi memperpanjang ini. Kalaupun emang beneran Gadis pulang bareng sama Dewa, terus kenapa? Mereka cuman sekedar pulang bareng kan?! gue sama sekali gak mempermasalahkan hal kecil kayak gitu."


"Justru hal kecil itu yang seharusnya patut kamu waspadai." Ujar Sesil, mengingatkan. Netranya lantas melirik sinis ke arah Gadis yang hanya menunduk diam.


"Apa kamu nggak merasa aneh, selama ini bukannya Gadis dan Dewa itu nggak dekat? Kamu juga bahkan mengetahuinya. Terus... Gimana bisa dua orang yang awalnya nggak saling dekat malah tiba-tiba bisa pulang bareng?"


"Maksud kamu apa? Aku sama Dewa beneran nggak ada apa-apa." Ujar Gadis berusaha meyakinkan sekaligus membela diri. "Sil, apa kamu nggak capek jadi orang ketiga diantara hubunganku sama Juna?!"


"Lo itu bener-bener..." Sesil mengepalkan kedua tangan.


Raut wajah Sesil seketika berubah cepat menjadi kesal. Lancang sekali perkataan Gadis barusan. Rasanya Sesil ingin sekali melayangkan satu tamparan di pipi Gadis sekarang juga.


Kekesalan yang sama juga dirasakan dua teman Sesil yang masih berada di sana menyaksikan. Bahkan mereka berdua benar-benar ingin turun tangan langsung untuk membungkam mulut menyebalkan Gadis saat ini.


Namun pada akhirnya, Sesil lebih memilih menahan diri. "Tajam juga ya mulut Lo."


Lalu mengeluarkan sebuah ponselnya dari saku baju.


"Tapi nggak papa, pertanyaan lo akan gue jawab." Sesil mulai berjalan pelan memutari tubuh Gadis dengan gaya angkuhnya. "Enggak! Gue nggak capek sama sekali. Karena gue tau, elo itu nggak pantes buat Juna!" Katanya, saat langkah kakinya berhenti tepat disisi Gadis.


"Sil! Cukup!" Kata Juna memperingatkan. Lalu menggandeng tangan Gadis mengajaknya pergi. "Ayo Dis, aku akan antar kamu sampai di pintu kelas. Kita gak perlu tanggapin dia terlalu lama."


Tentu saja, Sesil tidak akan membiarkannya begitu saja. "Kamu nggak bisa pergi, sebelum liat sesuatu yang nantinya akan membuat kamu sadar, kalau Gadis ini emang bukan cewek yang baik buat kamu." Cetus Sesil, dengan memegang erat lengan Juna. Menahannya pergi.


Apa maksudnya? Batin Gadis dengan kening mengkerut bingung.


"Sil, gue bilang cukup! Lepasin tangan gue sebelum gue berbuat kasar sama Lo." Juna berucap penuh keseriusan diwajahnya.


"Enggak! Sebelum kamu melihat ini." Sesil sudah dengan cepat membuka gallery dan menunjukkan beberapa foto Gadis, yang diambilnya diam-diam saat tengah bersama om-om disebuah diskotik.


Pakaian Gadis yang terlampau minim dan sexy, dapat dilihat Juna dengan sangat jelas walaupun di tengah keremangan.


Semakin Sesil menggulir foto-foto itu, semakin Juna tau, apa saja yang dilakukan Gadis bersama lelaki yang ia perkirakan memiliki usia sama seperti ayahnya.


Dari mulai memeluk, mencium, bahkan disaat tangan lelaki itu menjamah tubuh Gadis. Hatinya benar-benar sakit saat melihatnya. Dan itu benar-benar membuat Sesil tersenyum puas.


"Cukup sil! Kamu benar-benar keterlaluan!" Gadis berusaha merebut ponsel Sesil untuk menghapus foto-foto dirinya. Sumpah demi apapun, Gadis benar-benar ketakutan untuk hanya sekedar melihat bagaimana ekspresi Juna saat ini.


"Eh, nggak tau malu banget sih Lo. Ini tuh hapenya Sesil. Gimana bisa Lo main asal rebut sesuatu yang jelas-jelas bukan milik Lo." Melly menegurnya sinis. Ikut menghalangi apa yang dilakukan Gadis saat ini. Begitu juga dengan Cindy yang juga melakukan hal yang sama.


"Kenapa? Lo takut Juna bakalan tau mengenai siapa Lo yang sebenarnya? Dasar murahan!" Maki Sesil dengan lidah tajamnya, sembari sedikit memberi dorongan di tubuh Gadis.


Juna yang sedari tadi diam mengetatkan rahang, seketika bersuara menyuruh mereka semua diam.


Lalu beralih menatap Gadis dengan perasaan kecewa dan juga terluka.


Biarpun begitu, Juna masih sangat berharap jika apa yang dilihatnya saat ini tidaklah benar. Karena yang ia tahu selama ini, Gadis adalah sosok yang baik dimatanya.


Jangankan ke tempat hiburan malam seperti itu, bahkan cara berpakaian Gadis selama ini yang ia tau tidaklah seminim dan se sexy itu.


Jadi.....


"Dis... Bilang kalau yang difoto itu bukan kamu."


Gadis hanya diam dengan menatap Juna takut-takut.


"Jawab, Dis! Bilang kalau yang difoto itu bukan kamu!" Bentak Juna mengulang ucapan, yang justru membuat Gadis tersentak takut. Selama mereka berpacaran, tidak pernah sekalipun Juna membentaknya seperti ini.


*****

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2