Gadis Dewa

Gadis Dewa
25 | kita putus


__ADS_3

Klik like sebelum membaca ya guys😘


Happy reading...


****


Beberapa saat yang lalu....


Sesil dan dua teman dekatnya saat ini baru keluar dari sebuah toko handphone yang ada di sebuah mall tersebut.


Benda persegi miliknya yang sengaja dibanting dan diinjak Dewa hingga rusak, membuat Sesil terpaksa harus membeli kembali handphone yang baru.


"Sil, berarti Lo jadi beli hape pakai duit Lo sendiri dong? Secara kemarin Lo habis nolak uang ganti ruginya si Dewa." Ujar Cindy mempertanyakan, sembari melangkahkan kaki beriringan dengan Sesil dan juga Melly.


"Iya. Kenapa waktu itu Lo gak terima uang ganti rugi yang Dewa kasih sih?" Melly ikut menyahut. Pasalnya memang kedua teman dekat Sesil itu melihat sendiri bagaimana Sesil menolak mentah-mentah uang ganti rugi yang Dewa kasih ke dia.


"Siapa bilang? Gue emang nolak uang pemberian Dewa. Tapi gue gak bisa nolak waktu bokapnya Dewa maksa gue buat Nerima uang ganti rugi beli hape baru."


"Bokapnya Dewa?? Tunggu-tunggu." Melly menghentikan langkah kakinya memastikan sesuatu. "Jangan bilang kalau Lo ngadu ke bokapnya Dewa, soal kelakuan anaknya?"


"Ya..... Gitu deh." Cetus Sesil tanpa rasa bersalah dan malah menunjukkan rasa puas di wajahnya.


"Ih! Lo tega banget sih Sil. Kan kasian Dewanya. Pasti Dewa dimarahi bokapnya habis-habisan. Lo tau sendiri gimana hubungan Dewa dan bokapnya yang sama sekali nggak baik itu." Kata Melly memprotes tindakan Sesil.


Pada dasarnya, Melly memang sudah cukup lama mengagumi Dewa. Biarpun Dewa banyak ditakuti teman satu sekolah lantaran sifatnya yang kejam terhadap orang yang tidak ia suka terlebih pada musuhnya, tetap saja itu tidak mengurangi rasa kagum para gadis disekolah tersebut mengenai Dewa yang memang tampan.


"Emangnya gue peduli?! Siapa suruh dia sengeselin itu." Kata Sesil tak perduli.


Melly hanya mendengus kesal. Ketiganya lalu kembali melangkahkan kaki dan berniat mengisi perut yang mulai keroncongan.


Di detik itu Cindy melihat Gadis bersama om-om memasuki toko sepatu. Entah kenapa pandangannya begitu jeli saat mengenali orang.


"Guys - guys, coba liat! Itu bukannya Gadis kan?!"


"Hah?! Mana mana??"


Melly dan juga Sesil mengikuti arah pandang Cindy. Dan benar saja, mereka melihat Gadis bersama seorang om-om. Keduanya nampak seperti sepasang kekasih. Pria itu juga tanpa sungkan melingkari pinggang Gadis menggunakan satu tangan, dan mendaratkan satu ciuman di pipi Gadis.


Gadis sedikitpun tidak menolak dan hanya diam. Membuat Sesil dan dua temannya itu semakin yakin jika Gadis adalah cewek murahan yang sering dibooking om-om hidung belang, atau lebih tepatnya... Pelacur?


"Anjir! Jijik banget gue liatnya." Sesil mencibir dengan pandangan jijiknya. Begitu juga dengan Cindy dan Melly.


"Gimana Sil, kalau Lo sekarang kasih tau Juna buat datang kesini?" Cindy menyalurkan ide licik dikepalanya.


"Gue setuju." -Melly.


"Emangnya Juna bakalan percaya?" Sesil sedikit tidak yakin dengan ide Cindy, mengingat bagaimana Juna masih tidak mempercayai ucapannya biarpun ia sudah meyakinkan dengan susah payah soal foto yang ditunjukkannya waktu itu.


"Percaya gak percaya, pokoknya dicoba dulu. Tapi sebelum itu, kita ambil fotonya Gadis diam-diam sama tuh om-om. Terus Lo kirim ke si Juna. Nah.. baru setelah itu Lo yakinin dia buat datang kesini cepet-cepet." Jawab Cindy, menginterupsi.


Sesil terlihat berpikir. Keraguan masih menyelimuti, ia hanya takut jika Juna kian semakin membencinya karena sudah terlalu bersikap buruk terhadap Gadis.


"Duh Sil, Lo mikirin apa lagi sih?! Kita gak punya banyak waktu." Kata Cindy geregetan.


"Tau nih. Keburu mereka pergi entar." Sahut Melly ikut geregetan seperti Cindy.


"CK! Iya, iya." Sesil akhirnya melakukan apa yang dibilang Cindy, yakni memfoto diam-diam Gadis bersama om-om itu, lalu mengirimnya ke Juna.


*****


Sebenarnya Juna sangat malas meladeni ucapan Sesil yang menyuruhnya percaya dan segera datang ke tempat mall yang dimaksud ini.

__ADS_1


Itu memang awalnya.


Tapi... Semuanya berubah saat Sesil tidak hanya mengirimkan foto, melainkan video Gadis yang tengah bersama om-om di mall tersebut.


Di video itu, Gadis nampak tidak risih sama sekali dan hanya menurut diam, walaupun tangan Om-om itu merangkul Gadis sesuka hati. Bahkan mereka berdua terlihat mesra Dimata Juna, layaknya sepasang kekasih pada umumnya.


Hal itulah yang menyulut rasa penasaran Juna hingga akhirnya memutuskan untuk mendatangi tempat mall yang dimaksud Sesil.


Membuktikan semua ucapan Sesil dengan mata kepalanya sendiri. Hingga semuanya akan jelas dan tidak akan menjadi simpang siur.


Walaupun kenyataan jika hal itu sama saja seperti dia tidak mempercayai Gadis, tapi memang inilah jalan satu-satunya.


"Mana Gadis? Lo bilang dia disini. Sekarang dia mana? Sama om-om itu juga mana?" Cecar Juna, saat baru saja mendatangi Sesil dan dua temannya di mall yang di maksud.


"Ck! Nggak sabaran banget jadi orang. Lagian aku emang bicara jujur kok. Gadis emang ada di mall ini, sama om-om. Mereka juga keliatan mesra kan di video itu?!"


Juna memijit pangkal hidungnya frustasi. "Ya udah, sekarang dia mana?? Gue gak butuh katanya. Gue butuh bukti."


Sesil menunjuk Gadis yang kini tengah berjalan keluar dari mall itu bersama pria paruh baya yang dimaksud. "Nah itu, tuh anaknya udah mau pergi. Kamu sih kelama---"


Belum sempat Sesil menyelesaikan kalimatnya, Juna sudah lebih dulu melangkahkan cepat kakinya menyusul Gadis dan juga lelaki itu dengan tergesa.


"Eh? Juna!" Bahkan teriakan Sesil tidak dipedulikan Juna sedikitpun.


"Kok Juna main pergi gitu aja sih?! Ngeselin banget. Dia bahkan belum bilang makasih ke gue." Sesil melipat tangannya dibawah dada dengan raut kesal.


"Udah Sil, biarin aja. Yang penting kan si Juna tau kalau kita gak bohongin dia." Cindy menepuk punggung Sesil, mencoba menenangkan.


"Bener tuh. Udah biarin aja. Paling juga habis ini mereka putus. Kalau misalkan mereka putus kan elo bisa deketin si Juna dengan bebas. Gue yakin Juna gak bakalan nolak." Kata Melly dengan keyakinan tingkat tinggi.


Membuat Sesil yang mendengar tersenyum senang.


****


Jalanan yang terlampau padat, cukup menyulitkan Juna menyusul mobil didepannya biarpun dirinya kini menaiki kendaraan roda dua.


Tiinn... Tiinn....


Bunyi klakson terdengar bersahutan. Beberapa kendaraan di jalanan itu terjebak macet yang cukup parah. Juna mengumpat sejadinya. Kenapa disaat genting seperti ini, dirinya harus terjebak macet?!


Sial!


Ia pun akhirnya memutuskan turun melepas helm dan meninggalkan motor untuk berjalan menghampiri mobil hitam tadi--yang jaraknya mencapai sekitar sepuluh kaki dari tempat motornya berada.


Langkah kaki Juna terhenti setelah empat langkah perjalanan. Tubuhnya membungkuk untuk mengambil sebuah balok kayu yang berada di pinggiran jalan. Membawanya mendekati mobil yang di maksud.


Emosinya meninggi cepat. Dibawah guyuran hujan yang begitu deras, serta dinginnya angin malam yang menusuk kulit, Juna sedikitpun tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ketika dirinya berusaha melihat lebih jelas dari balik kaca mobil tersebut.


Mendapati lelaki tua itu mencumbu Gadis tepat didepan matanya, jelas membuat amarah Juna meradang. Rasanya begitu sesak dan menyakitkan. Seakan ada pisau yang tak kasat mata menikam tepat di ulu hatinya berkali-kali.


Tidak tahan melihat itu semua, Juna lanatas menggebrak kaca jendela mobil menggunakan tangan berulang kali. Menyuruh keduanya keluar.


"Keluar dari mobil sekarang juga!!" teriaknya garang dengan deru napas tersengal menahan ledakan amarah didalam dirinya.


Benar-benar...


Ini sangat keterlaluan!


"Gue bilang, keluar!! Brengsek!" marah Juna, yang tidak sabar, lantaran Gadis dan lelaki tua itu tak bergeming dan masih diam ditempatnya.


Tentunya gadis sangat terkejut dengan kedatangan Juna saat ini.

__ADS_1


"Nggak. Ini pasti cuman mimpi kan?! Nggak mungkin Juna---" Gadis menggumamkan hal yang tidak jelas dan sedikitpun tidak dimengerti Rian.


"Kamu kenal dia?"


Pertanyaan Rian, sedikitpun tak dihiraukan Gadis.


Keringat dingin bercampur rasa takut, membuat Gadis kesulitan berkata-kata. Kedua tangannya mencengkram kuat bawah Dress minimnya dengan memalingkan pandangannya dari Juna yang tengah menatapnya penuh amarah yang meletup-letup.


Rian akhirnya membuka kaca jendela disisi Gadis, "Kamu siapa? Datang-datang gak ada sopan santunnya sama sekali."


"Bacot! Keluar gak lo!" Juna yang marah, akhirnya memasukkan satu tangannya. Berusaha meraih lingkar leher baju Rian--memaksanya keluar mobil.


Saat sudah dapat, terjadilah insiden tarik menarik antara Juna dan Rian yang mencoba melepas cengkraman tangan Juna di kerah bajunya.


Gadis terlihat makin bingung sekaligus takut dengan kemarahan Juna saat ini.


"Juna, udah! jangan kayak gini. Lepasin om Rian dulu!" Gadis mencoba memberanikan diri untuk melerai.


Dan yang dilakukannya itu malah makin membuat Juna hilang kendali.


Cowok itu melepas cengraman tangannya, dan beralih mengayunkan balok kayu tadi ke bagian kap depan mobil Rian denga membabi buta.


Berkali-kali Juna melakukan itu. Juna bahkan memukul kaca depan mobil hingga retak parah.


Tidak ada seorangpun yang berani ikut campur. Mereka hanya melihat dari kendaraannya masing-masing.


Rian tentu saja kesal mobilnya dirusak seperti itu. Sementara Gadis yang melihat Juna mengamuk seperti itu, memutuskan turun--menghentikannya.


"Juna. udah! Stop!"


Juna menyentak kasar tangan gadis yang menyentuh bahunya. Membuang balok kayu, Lalu beralih menatapnya tajam penuh amarah, kebencian dan juga sakit hati.


"Juna, aku---"


"Apa?? Pembelaan apa lagi yang coba mau kamu jelaskan, hah?! Aku bener-bener gak nyangka kamu seburuk ini."


"Jadi selama ini, kamu udah bohongin aku, Dis?" tanya Juna melirih. Ia merasa dirinya begitu bodoh karena bisa begitu mudah dibohongi oleh orang yang dia sayang. "Perasaan tulus yang selama ini aku kasih ke kamu, nyatanya cuman kamu anggap sebagai lelucon. Iya kan?!"


Kilatan petir di langit seakan menjadi cambuk atas kemarahan Juna saat ini.


Gadis menggeleng cepat dengan tangis yang bercampur air hujan. "Enggak Juna, itu sama sekali nggak bener. Aku nggak pernah anggap perasaan kamu sebagai lelucon. Aku beneran sayang sama kamu, tapi---"


"Bulshit!"


"Juna, Please.. dengerin aku dulu." Gadis mencoba menggenggam tangan Juna, namun Juna menepisnya kasar. "Aku tau aku salah, tapi aku punya alasan sendiri kenapa aku bisa... Bi-bisa bekerja se-sebagai----"


"Pelacur!!"


Satu kata itu membuat Gadis menatap Juna tak percaya, atas apa yang didengarnya barusan. "A-apa?"


"Aku bilang, kamu PELACUR!!"


PLAKK!!


Gadis reflek mengangkat tangan memberi satu tamparan di pipi Juna hingga membuat wajah Juna berpaling menyamping.


Juna mengusap nyeri pipinya yang berdenyut. Ia lantas menatap tajam ke arah Gadis sembari mengucapkan satu kalimat yang membuat hubungan mereka berakhir selamanya.


"Kita putus!"


****

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2