Gadis Dewa

Gadis Dewa
bab 17


__ADS_3

"Kenapa lo. Wa? Datang-datang muka kusut kek belum disetrika gitu." Celetuk Edo, saat melihat kedatangan Dewa--yang kini mulai menaruh tas di kursinya.


"Muka lo tuh, belum disetrika!" Balas Dewa, lalu duduk berusaha mengabaikan teman-temannya.


Tadinya saat Dewa baru tiba disekolah, dia tidak langsung masuk ke kelas, melainkan ke taman belakang sekolah untuk merokok sebentar disana.


Siapa yang menyangka, jika ditaman itu Dewa malah melihat Juna dan Gadis yang tengah bersama.


Awalnya Dewa melihat mereka hanya ngobrol biasa, namun setelah cukup lama memperhatikan dari kejauhan, dia malah melihat hal yang sama sekali tak disangkanya--dimana Juna mencium bibir Gadis cukup lama. Dan entah kenapa hal itu membuat hatinya menjadi kesal.


Dewa sampai sekarang tidak mengerti, kenapa dia bisa merasakan demikian. Waktu itu juga begitu. Saat dimana Gadis menangis terisak di apartemennya akibat rasa takut akan kedatangan Juna yang tiba-tiba. Dewa tidak kuasa melihat tangis Gadis dan dengan reflek memeluknya erat--menenangkannya.


Sampai sekarang pun Dewa masih bingung, kenapa dia bisa seperti itu.


"Bro, lo liat tuh si Gery. Kumat lagi dia." Cetus Bastian memberitahu beberapa teman dekatnya disana.


Rama menggeleng jengah. "Tuh anak dari dulu gak nyerah juga buat dapetin si Aurel."


"Kayak gak ada cewek lain aja." Imbuh Bastian menambahkan. "Padahal dia udah berkali-kali di jutekin sama si Aurel. Ternyata pantang menyerah juga tuh anak."


"Hadeh.. Cinta sih boleh. Bego jangan. Masak udah di tolak berkali-kali masih juga keras kepala. Setebel apa coba muka temen lo itu. Heran gue." Edo ikut berkomentar dengan menggelengkan kepalanya miris.


pletak!


Rama melayangkan jitakan di kepala Edo. "Temen lo juga kali woy!"


"Mampus lu!" Cetus Bastian yang kemudian tertawa melihat raut kesakitan di wajah Edo. Sementara Dewa, sama sekali tidak memperdulikan kegaduhan teman-teman dekatnya itu. Dia terlalu badmood saat ini.


"Duh! lo bisa gak sih pindah tempat sekarang juga?! Gue enek tau gak, liat muka lo lama-lama." Entah ini sudah keberapa kalinya Aurel mengusir Gery. namun Gery tidak juga berpindah tempat dan malah masih tetap betah berada di samping bangkunya.


Aurel berharap Gadis akan cepat datang. Atau setidaknya bel masuk sekolah segera berbunyi. Sumpah demi apapun, ia sudah tidak betah mendengar ocehan Gery yang sedari tadi merayunya dengan beberapa kalimat gombal yang membuatnya ingin muntah sekarang juga.


"Ya ela Rel. Harus berapa kali mesti gue ingetin. Kalau lagi ngomong sama Aa, nadanya yang lembutan dikit lah. Jangan galak-galak gitu."


"Gue gak mungkin bisa ngomong lembut sama lo. Liat tampang lo aja darah tinggi gue langsung naik. Udah deh! Jangan gangguin gue mulu! Pergi sana, pergiiiiii!!" teriak Aurel mengusirnya pergi sembari mendorong tubuh Gery menggunakan kedua tangan. Berharap cowok itu akan beranjak dari tempat duduknya Gadis.


Tawa seketika memenuhi seisi kelas. Melihat Aurel dan Gery yang seperti itu, entah kenapa menjadi hiburan tersendiri bagi beberapa anak dikelas itu.


Kedatangan Gadis yang baru saja memasuki kelas, membuat senyum di bibir Aurel terbit begitu saja. "Gadiiiiisss....!!" teriaknya girang dengan berdiri cepat.


Gadis hanya memasnag wajah bingungnya, lantaran ia tidak mengerti kenapa Aurel bisa sesenang ini saat melihatnya. Bukannya tadi Aurel sedang kesal terhadapnya lantaran Gadis tidak mengikuti keinginan Aurel dan lebih memilih mengobrol dengan Juna sebentar.


Tapi lihat sekarang! Apa mood Aurel semurahan ini? bisa berubah dalam waktu yang sangat cepat, bahkan disaat Gadis belum meminta maaf padanya.


Aurel menarik tangan Gadis cepat, saat temannya itu sudah mendekat. Lalu kembali mengusir Gery seperti tadi. "Eh! minggir sono. Yang punya tenpat duduk udah datang."


Gery berdecak. "Lo kenapa datangnya cepet banget sih, Dis."


Gadis masih terlihat bingung.


"Eh, Gery chocolatos! Temen gue datangnya cepet atau enggak, ya terserah dia lah. Kenapa jadi lo yang ribet sih. Buruan minggir!"


"Tukeran tempat duduk aja lah hari ini. Ya, ya. Please.." Pinta Gery memelas. Menyatukan kedua tangan berharap Aurel akan mengizinkan.


"Enggak! amit-amit deh satu tempat duduk sama lo!" Aurel menolak mentah-mentah.


Dari seberang meja sana, beberapa teman dekat Gery berseru, "Udah Ger, pindah sini buru! Udah diusir juga."


lalu mereka tertawa lepas begitu saja. Gery mendengus melihat itu. Lalu kemudian beranjak pergi ketempat bangkunya berada.


Gadis akhirnya bisa duduk. Aurel seketika mengeluhkan kedatangan Gadis yang cukup lama. "Lo sama Juna ngomongin apa aja sih?! lama banget datangnya. Gue kan udah nungguin dari tadi, Dis!"


Gadis hanya meringis menanggapinya. Netranya terarah pada Dewa dan membuat pandangan mereka tidak sengaja bertemu.


Entah kenapa Gadis merasa jika saat ini Dewa tengah menatapnya dengan sebuah tatapan kesal.


Dewa kenapa liatinnya gitu banget sih?! Dia lagi marah sama aku ya? Tapi.. aku salah apa?


*****


Gadis, Juna dan Aurel, kini berada di satu meja kantin yang sama.


Raut muka Aurel masih terlihat kesal dengan Juna karena masalah kemarin. Saat dimana Juna pulang sekolah membonceng Sesil.


Padahal Gadis sudah menjelaskan pada Aurel, alasan Juna melakukan itu.

__ADS_1


"Udah Rel. Ngapain masih BT gitu sih?! kan aku udah jelasin. Kenapa kemarin Juna bisa pulang bareng sama Sesil." Kata Gadis menegurnya.


"Tetep aja, Dis. Gue masih kesel sama si Juna. Kok bisa-bisanya dia semudah itu dibohongin ulet bulu itu. Seharusnya kan dia mastiin sendiri, lo udah pulang apa belum. Bukannya main asal percaya sama omongannya si Sesil!" Aurel berpendapat.


"Ya kan, gue gak tau kalau waktu itu si Sesil bohongin gue. Kalau gue tau dia bohong, gak mungkin lah gue mau gitu aja pas dia minta tolong buat anter pulang." kata Juna Jujur.


"Alahh! alesan aja lo." Kata Aurel tak percaya.


"Ya udah kalau gak percaya. Buat gue, asal cewek gue percaya, itu udah cukup." Juna menggenggam jemari Gadis yang berada bebas diatas meja. Memberinya usapan di punggung tangannya. Gadis hanya menanggapi dengan tersenyum manis.


Sementara Aurel hanya memutar bola matanya jengah dengan keromantisan mereka berdua. "Dih! Najis." cetusnya kesal. Bukankah seharusnya mereka tidak melakukan hal itu saat ada dirinya disana?!


Beberapa menit setelah makanan yang mereka pesan datang, Gadis yang kebelet pipis, berpamitan pada mereka untuk ke toilet sebentar.


"Mau gue temenin nggak?" kata Aurel menawarkan.


"Nggak usah. Kayak bocah aja." Jawab Gadis menolak. Lalu melangkah pergi meninggalkan kantin.


****


Sesil dan dua temannya yang baru saja beberapa langkah keluar dari toilet, mendapati Gadis berjalan sendirian berpapasan arah dengannya.


"Eh Sil, si Gadis tuh." Cewek berambut sebahu yang bernama Melly itu, memberitahu kehadiran Gadis.


"Mana?" Cindy menyahut. Mengarahkan pandangannya kedepan. Begitu juga dengan Sesil yang juga melakukan hal yang sama.


Tiba-tiba saja Cindy nyeletuk, "kerjain aja Sil. Bukannya Lo tadi pagi bilang si Juna nyuekin Lo gara-gara dia?!"


"Aah.. bener tuh kata si Cindy. Kalau perlu kasih pelajaran sekalian. Biar dia gak makin sok didepan Lo." Ujar Melly berpendapat.


"Hmm... Boleh juga." Sesil tersenyum penuh maksud. Dia yang tadinya berada ditengah, sengaja bertukar posisi agar bisa merealisasikan fikiran jahatnya.


Benar saja, saat Gadis sudah semakin dekat dengannya dan tepat disampingnya. Sesil tiba-tiba dengan sengaja mencekal kaki Gadis hingga membuatnya jatuh tersungkur.


Kedua teman Sesil terlihat cekikikan. Lucu saja melihat Gadis terjatuh seperti itu.


"Ups! Sorry... Gue gak sengaja." Sesil berkata dengan nada yang dibuat-buat. Bahkan permintaan maafnya terdengar tidak tulus.


Gadis berusaha berdiri, Sesil yang melihat itu tiba-tiba saja mengulurkan tangan--menawarkan bantuan. "Biar gue bantu."


"Kok malah bengong?! Gak baik loh nolak kebaikan seseorang yang udah berniat nolongin Lo." Ujarnya---masih tetap dengan tangan yang terulur pada Gadis. "Ayo. Biar gue bantuin berdiri."


Tidak ingin memperpanjang hal ini, Gadis akhirnya menerima uluran tangan Sesil untuk membantunya berdiri.


Memang benar Sesil membantunya berdiri, namun tidak disangka, saat Gadis sudah berdiri, Sesil justru mendorongnya kencang hingga membuatnya kembali terjatuh seperti tadi.


"Tapi bohong. Hahaha..." Sesil tertawa lepas. Begitu juga dengan Melly dan Cindy.


Gadis menatap mereka penuh benci.


"Apa Lo liat-liat!" Cetus Sesil dengan gaya menantangnya.


"Hahaha kasian banget sih!" Cetus Cindy menatapnya penuh ejekan.


Gadis mendengus kasar sembari membatin.


Sabar Gadis, sabar... Gak perlu ngeladenin orang gak penting kayak mereka. Percuma. Gak bakal ada habisnya.


Lalu dia berusaha bangkit. berusaha tidak memperdulikan mereka dan berniat pergi begitu saja.


"Mau kemana lo?" Sesil menghadang langkahnya dengan cara berdiri tepat didepannya.


"Aku gak minat ribut sama kalian. Minggir!" Gadis berjalan ke sisi yang lain. Namun lagi-lagi Sesil menggeser langkahnya kembali menghadang Gadis seperti tadi.


"Kalau gue yang berminat gimana?"


Cindy dan Melly tersenyum miring pada Gadis. Seolah mereka bertiga ini sudah sangat siap untuk mengeroyoknya ramai-ramai.


"Lo tuh gak capek apa, gangguin gue Mulu, Sil?!"


"Sebelum hubungan Lo sama Juna berakhir, gue gak akan berhenti buat gangguin Lo."


"Kenapa kamu segitu ngototnya pengen aku putus sama Juna?! Apa kamu gak capek terus menerus ngejar Juna yang bahkan sama sekali gak ada rasa ketertarikan sedikitpun sama kamu."


"Lo...." Sesil mengangkat tangannya naik hendak menampar Gadis. Namun tangannya itu terhenti saat ada seseorang yang tiba-tiba menahannya kuat.

__ADS_1


"D-d-Dewa?!" Bibir Melly sampai bergetar saat mendapati Dewa sudah berada tepat didepannya.


Bagaimana bisa??


"Kalian ngapain, hah?" Dewa bertanya, tanpa melepas tangan Sesil dan malah semakin erat mencengkeramnya.


Sesil meringis. "I-ini bukan urusan Lo. Dewa."


Kedua teman Sesil nampak khawatir. Apalagi saat mendengar perkataan Sesil yang terkesan berani itu.


Keduanya merutuki kebodohan Sesil dalam hati. Tidak seharusnya Sesil berkata seperti itu sama Dewa. Nyari mati itu namanya.


"Wah! Nyali Lo gede juga ya ternyata. Lo berani sama gue??" Semakin kuat cengkraman tangan Dewa di pergelangan tangan Sesil. Semakin terlihat jelas ringisan rasa sakit yang tercetak di raut wajah Sesil saat ini.


"Aw.. sakit, Dewa! Lepas!" Pinta Sesil berharap Dewa mendengarkannya.


"Setelah tangan Lo patah. Baru gue akan lepas."


Sontak saja kedua teman Sesil melebarkan matanya kian takut. Begitu juga dengan Gadis. Melihat Sesil yang kesakitan seperti itu, entah kenapa membuatnya iba.


"Dewa! Lepas! Sesil udah kesakitan!" Gadis mengingatkan.


"Bodo amat!" Kata Dewa tidak perduli.


"Dewa!!" Teriak Gadis kian semakin khawatir. Apalagi saat Sesil semakin menampakkan raut kesakitannya.


Dewa berdecak. Melepas tangan Sesil begitu saja. Tanpa menunggu lama, Sesil dan kedua temannya tadi segera angkat kaki dari sana dengan tergesa.


"Kamu gila ya?! Kamu beneran mau matahin tangan dia??" Ujar Gadis tak percaya.


"Kenapa enggak?!"


"Sesil itu cewek. Gak seharusnya kamu perlakukan dia kayak gitu."


Gadis akhirnya berbalik memasuki kamar mandi, saat Dewa hanya diam menatapnya dengan ekspresi sedatar papan triplek.


Dia gila ya?! Masak dia beneran mau matahin tangannya Sesil?!


Ya, walaupun Gadis tau jika Dewa sudah menolongnya. Tetap saja dia tidak suka dengan cara Dewa yang kelewatan seperti itu.


Tunggu.


Dewa menolongnya??


Padahal tadi saat dikelas, Gadis sangat jelas melihat ada raut kesal dan marah Dimata Dewa, saat kedua netra mereka saling bertemu satu sama lain.


Dewa memang sulit ditebak.


Bilik pintu salah satu toilet itu terbuka. Gadis yang sudah selesai buang air kecil, nampak merapikan baju bagian bawahnya seperti semula.


Saat sudah selesai, Gadis mendongakkan kepala dan terkejut saat mendapati Dewa sudah berada didalam toilet itu. Bahkan menutup pintu utama toilet. Menguncinya dari dalam.


Seperti dejavu. Gadis teringat akan waktu itu. Dimana Dewa memasuki toilet tersebut dan tiba-tiba mencium lehernya tanpa permisi.


"Kamu ngapain disini? Jangan macam-macam ya?" Gadis mencoba memperingatinya. "Aku mau keluar."


"Kenapa buru-buru? Lo gak pengen ngucapin terimakasih Sama gue? Kan, gue udah nolongin Lo tadi."


"Aku gak minta kamu nolongin aku, ya."


"Jadi begini sikap Lo, sama orang yang udah nolongin Lo."


"Kamu gak denger?! Aku kan tadi gak minta kamu tolongin! Biarpun kamu gak datang, aku juga bisa hadepin mereka sendiri."


Dengan satu tangan yang Dimasukkan kedalam saku celana, Dewa melangkah mendekati Gadis perlahan. "Tapi kenyataannya Lo gak bisa ngadepin mereka sendiri, dan akhirnya yang datang nyelametin Lo itu gue." Tekannya di setiap kalimat. "Sekarang, gue minta bayaran gue."


Gadis mengernyit. "Maksudnya??"


Dewa mengaitkan anak rambut Gadis kebelakang telinga. Mendekatkan bibirnya ke daun telinga Gadis, "Gue pengen, tubuh Lo sekarang juga. Disini!"


****


BERSAMBUNG...


Jangan lupa klik jempolnya ya guys..

__ADS_1


Biasa... Buat penyemangat update 🤣


__ADS_2