Gadis Dewa

Gadis Dewa
bab 12


__ADS_3

jangan lupa tekan jempol biar makin semangat updatenya😘


*****


Tidak butuh waktu lama bagi Dewa untuk merealisasikan keinginannya. Dan Dewa, entah kenapa sangat antusias dengan hal ini. Bukankah akan sangat menyenangkan memiliki anjing penurut yang bisa disuruhnya sesuka hati?!


Siang itu, Dewa datang ke kantin bersama ke empat teman dekatnya tepat dijam istirahat berlangsung.


Suasana kantin yang nampak ramai kian semakin ramai lagi dengan kedatangan Dewa dan keempat temannya dikantin tersebut. Mengingat Dewa dan gengnya cukup jarang mendatangi Kantin lantaran Dewa lebih suka menyelinap pergi keluar lewat belakang sekolah saat istirahat. Menurut Dewa, makanan kantin tidak seenak makanan diluar sekolahnya.


"Eh, Dewa tuh!"


"Wah... ganteng banget ya."


"Makin jatuh cinta gue."


"Eh eh, coba deh lo liat! Tindik ditelinganya nambah lagi ya?"


"Eh, iya bener. Makin keren sumpah!"


Kekaguman para cewek-cewek dikantin mulai terdengar ditelinga Dewa. Hal yang sudah biasa baginya. Biarpun memang tak dipungkiri jika Dewa juga memiliki aura menyeramkan dibalik wajah tampannya, tetap saja sebagian besar dari mereka masih tetap menggilai Dewa. Walaupun memang Juna lebih bersinar dibandingkan Dewa, lantaran sikap Juna yang jauh lebih baik dari kembarannya.


Jika sikap ramah Juna bisa membuat cewek-cewek di sekolah itu terang-terangan menyatakan perasaan suka terhadapnya, berbeda dengan Dewa, tidak akan ada perempuan yang berani menyatakan perasaan pada Dewa, mereka lebih suka memendam dan mengagumi dari jauh. Karena mereka tau, tanggapan Dewa akan jauh diluar ekspektasi mereka.


"Woi! Pindah sono!" Edo dengan tidak sopannya menyuruh adik kelasnya pindah tempat duduk lain. Sementara tempat duduk tersebut akan mereka gunakan. Ini karena Dewa yang menginginkan duduk di meja itu. Meja yang letaknya tidak jauh dari Gadis dan Juna yang juga tengah makan di kantin tersebut.


Tidak butuh waktu lama, ketiga cowok yang merupakan anak kelas dua itu, langsung pergi berpindah tempat duduk sebelum mendapat kemarahan Dewa.


Aurel yang berada satu meja dengan Gadis dan Juna, menatap tidak suka ke arah mereka dengan berbisik, "Liat deh, preman sekolah ini. ugh! Makin kesel tau gak sih gue liatnya. Kenapa ya Jun, si Dewa itu sifatnya beda banget sama lo?! padahal kan, kalian lahir di perut yang sama."


Juna hanya menanggapi dengan kekehan ringan. Sementara Gadis ikut berbisik menasehatinya. "Udah. Makan aja baksonya. Nanti mereka denger."


"Iya, iya." Aurel menurut. Mulai mengabaikan Dewa dan gengnya. Kembali memakan baksonya dalam diam.


"Kayak anak kecil aja kamu makannya." Cetus Juna, sembari mengusap sudut bibir Gadis yang sedikit belepotan oleh saos, lantaran menggigit bakso tanpa memotongnya terlebih dahulu. "Aku potongin dulu sini." Juna merebut garpu dan sendok milik Gadis. Gadis hanya diam pasrah menerima perhatian Juna yang sudah biasa seperti itu.


Hal itu tidak luput dari perhatian Dewa disebrang meja.

__ADS_1


"Wa, lo mau pesen makan apa? gue pesenin sekalian." Kata Bastian yang kini sudah berdiri dari duduknya, hendak memesankan makanan untuk teman-temannya yang lain.


"Gak perlu. Lo duduk aja. Biar orang lain yang mesenin makanan kita. Sekalian ngebawa makanan itu kesini juga. Gue kan.. punya seseorang yang bisa disuruh-suruh sesuka hati."


Gery, Bastian, Rama dan juga Edo, mengerutkan kening bingungnya. Lalu saling berpandangan satu sama lain menanyakan maksud dari ucapan Dewa tadi melalui tatapan matanya masing-masing.


"Maksudnya?" cetus Rama, yang akhirnya melontarkan tanya.


Dewa seketika memanggil Gadis dengan gerakan tangan, tepat disaat Gadis tengah melihat ke arahnya.


Gadis yang menyadari panggilan Dewa itu, mengerutkan kening bingungnya. Lalu tidak lama ponselnya bergetar. sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, ia baca.


Dewa? Batin Gadis terheran. Ah, dia baru ingat jika Dewa memang mengetahui nomor ponselnya. Gadis yakin jika Dewa pasti mendapatkan nomornya saat ia tertidur pulas setelah melakukan pergumulan panasnya bersama Dewa malam itu.


Kesini cepet! Pesenin makanan buat gue sama temen-temen gue juga! (Dewa)


Seketika saja raut ekspresi Gadis berubah kesal dengan cepat setelah membaca pesan tersebut.


Kamu kan, punya kaki. Bisa pesen sendiri kan? Ngapain nyuruh-nyuruh aku. balas Gadis, yang seketika membuat Dewa melayangkan tatapan tajam ke arah Gadis. Gadis yang menyadari itu, segera mengalihkan pandangannya cepat. Berusaha tidak peduli.


"Siapa tadi yang sms?" tanya Juna ingin tau. Apalagi saat melihat perubahan ekspresi Gadis saat ini.


"Yakin?" sahut Aurel.


"Hmm.." Gadis menggangguk. Ia benar-benar tidak lagi melihat ke arah Dewa, lantaran takut akan tatapan tajam cowok itu.


Namun, ketakutanya kian semakin menjadi saat ia mendengar dengan jelas Dewa mengatakan pada teman-teman dekatnya, mengenai foto yang ingin diperlihatkannya.


"Bro, gue punya foto bagus nih. Mau liat?" Dewa bahkan sengaja mengatakannya dengan suara lantang supaya Gadis juga mendengarnya.


"Maksud lo foto cewek?" kata Gery menyahuti, dan mendapat anggukan dari Dewa⸺yang kemudian mulai mengusap layar ponselnya. Membuat Gadis yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka, menoleh dan seketika berdiri menghampiri meja Dewa.


Juna dan Aurel yang melihat, sampai dibuat bertanya heran dengan yang dilakukan Gadis saat ini.


"Ka-kamu mau pesen makanan apa??" kata Gadis dengan nada bergetar. ia sangat ketakutan jika Dewa benar-benar akan memperlihatkan foto telanjangnya pada teman-teman dekatnya yang lain. Jelas itu sangat berbahaya.


"Nah, kan. Gue bilang juga apa. Gue punya seseorang yang bisa disuruh-suruh sesuka hati." Cetus Dewa pada teman-temannya yang masih dalam keadaan bingung bertanya-tanya.

__ADS_1


Apa yang sudah dilakukan Dewa pada Gadis, sampai-sampai dia mau datang untuk disuruh-suruh seperti ini? setidaknya itu yang ada di fikiran semua teman dekat Dewa saat ini.


"Dis, Apa yang kamu lakuin sih?!" Juna menghampiri Gadis. Mencari tahu maksud Gadis yang tiba-tiba menghampiri meja Dewa seperti ini, apalagi dengan menanyakan jenis makanan apa yang ingin mereka pesan.


"A-aku mau bantuin mereka pesen makanan." Kata Gadis memberitahu Juna.


Sementara disana, Aurel nampak masih memperhatikan dengan raut khawatirnya.


"Ngapain kamu ngelakuin itu. Kamu kan bukan pembantu mereka. Biarin mereka pesen sendiri. Punya kaki kan?!" Juna mengucapkan kalimat akhirnya dengan menatap tajam mereka secara bergantian.


Disini Dewa terlihat sangat santai menanggapi kembarannya Juna yang bahkan sudah terlihat menahan kekesalan diraut wajahnya.


"Kenapa lo jadi nyolot ke kita. Lagian, ini juga kemauan cewek lo sendiri. Emangnya kita maksa dia apa. Iya kan guys?" Dewa meminta pembenaran pada teman-temannya yang lain, dan dijawab dengan nada ragu oleh mereka. Karena memang sebenarnya teman-teman Dewa juga masih bingung dengan keadaan ini. Apalagi dengan kedatangan Gadis yang tiba-tiba menawarkan pesanan makanan untuk mereka.


Tanpa memperdulikan kekesalan Juna, Dewa begitu saja menyebutkan beberapa makanan dan juga minuman yang ingin dipesannya pada Gadis.


"Cepetan ya. Gak pakek lama." Ucap Dewa, memperingatkan. Dan mendapat anggukan dari Gadis. "Sekalian nanti bawa kesini juga makanannya."


Juna kian semakin geram melihat itu. Apalagi dengan sikap Gadis yang terkesan sangat penurut pada Dewa. Disaat Gadis sudah akan beranjak pergi untuk memesankan makanan milik Dewa, disitu Juna menahan lengan Gadis dan untuk kesekian kalinya melarangnya pergi melakukan itu.


"Aku bilang, biarin mereka pesen sendiri makanannya!" Kata Juna, mengucapkan kalimat itu dengan penekanan dan juga tatapan seriusnya pada Gadis.


Tatapan sendu Gadis terarah pada Juna. Perlahan melepas cekalan Juna di tangannya. "Aku nggak papa, Juna. Aku emang pengen lakuin ini."


"Buat apa kamu ngelakuin ini, Dis? Kamu mau jadi pesuruh mereka?? Biarin mereka pesen makanannya sendiri! Sekarang kamu balik! Dan habisin makanan kamu!" Perintah Juna dengan tegasnya. Lalu kembali menarik tangan kanan Gadis--mengajaknya kembali ke tempat duduknya tadi. Namun disini, tidak disangka Dewa juga ikut berdiri menahan lengan kiri Gadis, sehingga membuat langkah Gadis tertahan di sana.


Hal itu jelas saja menarik perhatian seluruh siswa siswi penghuni kantin. Apalagi para murid perempuan yang kini sudah saling berbisik membicarakan Gadis yang menurut mereka juga tengah berusaha menarik perhatian Dewa. Padahal jelas sudah memiliki Juna sebagai pacar.


Dewa tersenyum miring. Merasa menang dengan kilatan marah yang terlihat dikedua bola mata Juna saat ini. "Dari tadi, Lo perasaan ikut campur Mulu ya?!" Ujar Dewa, dengan nada menyebalkan. Tanpa sedikitpun melepas cekalan tangannya dari Gadis.


Juna mulai meradang. Sangat tidak suka melihat Dewa menyentuh Gadisnya seperti ini. "Lepasin tangan Lo dari Gadis, sebelum gue kehilangan kesabaran gue buat ngehajar Lo!"


"Kenapa gue yang harus lepas? Kenapa gak biarin cewek Lo milih kemauannya sendiri?! Ah.. atau jangan-jangan Lo ini emang tipe pacar yang suka maksa ya?!"


Juna menggertakkan giginya kesal, lalu menoleh pada Gadis. "Dis??"


"Maaf..." Satu kata itu terucap berbarengan dengan Gadis yang sudah melepas tangan Juna begitu saja. "A-aku janji akan jelasin alasannya nanti ke kamu." Lalu pergi begitu saja meninggalkan Juna yang mematung diam dengan hati kesalnya.

__ADS_1


*****


[BERSAMBUNG]


__ADS_2