Gadis Dewa

Gadis Dewa
bab 19


__ADS_3

Happy reading...


*****


Di parkiran apartemen Dewa, Gadis terdiam kesal lantaran Dewa bukannya mengantarkannya pulang, malah membawanya ke tempat ini.


"Lo gak masuk? Mau sampai kapan diem disini?" tegur Dewa, saat sudah menaruh helm di stang motor. langkahnya yang sudah tergerak maju, urung saat melihat Gadis yang hanya diam ditempat tanpa minat mengikutinya.


Gadis meliriknya sinis. "Aku gak ngerti ya sama jalan fikiran kamu. Apa memang watak kamu itu pemaksa seperti ini. Aku kan udah bilang gak mau kesini! Kenapa kamu tetep bawa aku kesini!"


"Lo itu gak denger gue tadi bilang apa pas dijalan? Gue laper." Ujar Dewa, memberitahu Gadis untuk yang kesekian kali. Bahkan kali ini penuh dengan penekanan disetiap kalimatnya.


"Ya terus apa hubungannya sama aku?? kalau kamu laper ya tinggal makan. Ngapain malah ngajakin aku kesini?! Aku gak ada waktu buat main-main. Aku harus pulang cepet." Langkah kaki gadis yang sudah berbalik hendak pergi, tertahan oleh cekalan tangan Dewa dilengannya.


"Apa lagi Dewa?!" kesal Gadis dengan kesabaran diambang batas. Masalahnya Gadis benar-benar ingin sampai rumah. Ini adalah waktu jam makan ibunya. Lagipula, gadis juga tidak ingin meninggalkan ibunya sendirian dirumah terlalu lama. Mengandalkan ayahnya pun juga tidak ada gunanya. Ayahnya bahkan tidak akan perduli ibunya itu makan apa tidak hari ini.


"Rasa laper gue jelas ada hubungannya sama lo."


"Apa maksudnya?"


"Tadi, sebelum gue nyamperin lo, gue itu lagi ditraktir sama si rama makan bakso di warung seberang. Berkat lo, gue gak jadi makan tuh bakso. Dan sekarang, lo harus tanggung jawab."


Pernyataan Dewa yang secara terang-terangan menyalahkannya, jelas tidak bisa diterima Gadis begitu saja. Apa dia lupa siapa tadi yang sudah memaksa-maksanya untuk ikut menaiki motor bersamanya.


Apalagi dengan alasan yang tidak jelas. Dewa bilang jika tadi ada salah seorang musuhnya yang diam-diam memperhatikan Gadis di kejauhan.


Apa-apaan?! Memangnya Gadis bisa percaya cerita konyolnya itu?


Gadis yakin jika Dewa tengah berusaha menakut-nakutinya.


Setidaknya itulah yang ada dipikiran Gadis saat ini.


"Kamu seenaknya nyalahin aku. Padahal jelas-jelas yang maksa-maksa aku kesini itu, kamu."


Dewa berdecak kesal. "Bawel banget sih jadi cewek!"


Lalu Gadis membelalak saat tubuhnya tiba-tiba diangkat Dewa tanpa permisi. Membawa tubuh Gadis layaknya karung beras di bahu kiri.Tanpa perduli teriakan Gadis yang berkali-kali meminta diturunkan.


Membuka pintu apartemen, Dewa berjalan menuju ranjang besar dan begitu saja menjatuhkan tubuh Gadis di ranjang empuk tersebut. Sumpah demi apapun, Biarpun memang tubuh Gadis terbilang kecil, tapi Karena sedari tadi Gadis tidak mau diam dan terus saja meronta meminta dilepaskan, membuat Dewa cukup kesulitan dan kuwalahan saat membawanya memasuki kamar apartemennya.


"Lo itu kenapa sih, susah banget disuruh diem. Hampir aja bahu gue patah gara-gara lo."


Seharusnya disini yang marah itu aku. Bukannya kamu!

__ADS_1


Nyatanya Gadis hanya sanggup menyuarakan itu dari dalam hatinya. Ia tidak punya cukup banyak nyali untuk meneriakkan kalimat itu langsung pada Dewa. Jelas Gadis tidak segila itu.


Gadis yang masih diam merengut itu akhirnya beringsut duduk. "Terus maksud kamu ngajak aku kesini itu apa? ka-kamu~ gak ada niatan buat-"


Dewa yang paham dengan kecurigaan Gadis, seketika menyelanya. Mendekat, menumpukan kedua tangannya pada ranjang diantara tubuh Gadis. Membuat wajah mereka saling berdekatan, bahkan Gadis bisa merasakan hembusan napas Dewa saat cowok itu tengah berbicara dengan jarak sedekat itu. "Kenapa memangnya? Apa lo sedang berharap gue akan melakukan hal yang nantinya bisa bikin lo puas?" Dewa melontarkan tanya dengan tersenyum penuh maksud.


Pipi Gadis bersemu mendengarnya. Rasa malu membuatnya memundurkan wajah menjauh dari Dewa, dengan satu tangan yang reflek mendorong dada bidang Dewa-yang seketika menegap. "Bukan itu maksud aku!" sanggahnya, dengan berteriak salting.


"Tapi intinya begitu kan?!"


Gadis sama sekali tak menjawab dan hanya memanyunkan bibirnya dengan wajah berpaling kesal.


Dewa yang melihat hanya tersenyum tipis. Lalu mulai melepas satu persatu kancing baju seragam yang dikenakannya. Gadis yang menyadari itu dibuat terkejut. Apa yang akan dilakukan Dewa kali ini?? kenapa cowok itu sampai membuka kancing bajunya seperti ini??


"Kenapa ekspresi lo tiba-tiba berubah begitu?!" Dewa sangat yakin jika Gadis sekarang pasti tengah memikirkan hal yang tidak-tidak saat melihat dirinya membuka baju seperti ini. Tapi tetap saja Dewa menanyakan pertanyaan itu dengan tujuan menggoda Gadis.


Tubuh Gadis sedikit bergeser menjauh dari Dewa. Gadis sangat berharap jika Dewa tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak terhadapnya kali ini. Rasa takut membuat Gadis hanya diam tanpa ingin menjawab pertanyaan yang dilayangkan Dewa padanya.


"Gue cuman mau mandi. Badan gue lengket." Ujar Dewa memberitahu. "Oh ya, selama gue mandi, masakin gue sesuatu buat dimakan." Katanya lagi, dengan melepas kaos berlengan pendek yang dipakainya sebagai dalaman baju seragamnya tadi. Sehingga membuat tubuh Dewa benar-benar dalam keadaan setengah telanjang akibat celana sekolah yang masih belum dilepasnya.


Seusai mengatakan itu, Dewa akhirnya melenggang masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Gadis yang kini sudah menjerit dalam hati. Di-dia bilang apa tadi?? Masakin sesuatu katanya? Memangnya dia aggap aku ini apa? pembantu gratis dia gitu?!


*****


Pada akhirnya Gadis hanya bisa pasrah menuruti apa kata Dewa.


Nyatanya didalam kulkas itu hanya ada dua butir telur dan juga beberapa macam jenis minuman dingin berbagai rasa. Yang membuat gadis tercengang adalah, saat dirinya mendapati lima botol minuman yang di yakininya adalah miras.


Kenapa dia harus nyimpen minuman kayak gini di apartemennya sih?! batin Gadis. Lalu menutup kembali kulkas tersebut, setelah tadi ia sudah lebih dulu mengambil dua telur yang dimaksud untuk dibawanya ke dapur.


Tadinya Gadis sempat bingung mau diapakan telur tersebut. Masalahanya Dewa menyuruhnya membuatkan makanan tanpa menyimpan bahan-bahan pendukung lain untuk dimasaknya. Tapi untungnya Gadis tidak sengaja menemukan dua mie instan yang tersimpan di lemari dapur. Ia pun akhirnya mengambil itu dan memasaknya.


Dewa yang sudah selesai mandi dan berpakaian, menghampiri Gadis di dapur.


"Udah jadi?" Tanya Dewa saat baru saja memasuki dapur.


Gadis yang baru saja meletakkan mie berkuah diatas meja, lantas berbalik karena terkejut. "Barusan selesai. Sekarang aku boleh pulang kan?" Kata Gadis, berharap Dewa akan mengizinkan.


Kalau gadis mau, Bisa saja dia pulang diam-diam saat Dewa tengah mandi tadi. Tapi sialnya, disini ternyata Dewa lebih pintar karena lebih dulu mengunci pintu apartemennya dan membuat Gadis kesulitan kabur.


Mengabaikan ucapan Gadis, Dewa lantas mendekati meja dengan kening mengkerut. "Makanan apaan nih?! Lo serius mau nyuruh gue makan mie instan?" Dewa mengangkat sedikit mangkuk besar berisi mie yag diatasnya terdapat dua telur mata sapi dan melepasnya asal. Membuat kuah mie tersebut menjadi sedikit tercecer dimeja. Tatapannya bahkan terkesan meremehkan dan tidak akan mau jika harus memakan itu.


Pada dasarnya Dewa memang tidak begitu suka dengan mie instan. Keberadaan dua bungkus mie instan di salah satu rak lemari dapurnya juga bukan miliknya, melainkan milik Gery yang beberapa hari lalu menginap di apartemen Dewa.

__ADS_1


"Emangnya kenapa kalau mie instan? Yang penting kan bisa dimakan. Aku juga sering makan itu kok kalau dirumah."


"Ya itu kan elo. Bukan gue! Gue gak bisa makan mie instan." Ucap Dewa, membuat Gadis yang melihatnya menjadi kesal setengah mati. "Lo gak bisa masak ya? Pasti gak bisa kan?! Mangkanya lo bikinin gue mie instan kayak gini."


Cukup! Gadis sudah tidak tahan lagi.


"Terus kamu pengennya aku masakin apa?? Ikan? Ayam? Daging?? Atau mungkin pasta? Gimana aku bisa masak itu semua kalau bahannya aja gak ada!"


"Ya, lo kan bisa usaha buat nyari diluar."


Gadis memejam sejenak untuk menarik napas dalam. Berusaha sabar akan sikap Dewa yang memang tidak akan pernah mau mengalah seperti ini. "Dewa, gimana bisa aku keluar kalau pintu apartemenya aja kamu kunci." Kata Gadis mengingatkan.


Dewa yang baru mengingat hal itu, seketika Diam membenarkan-sekaligus kehilangan kata-kata.


Menghela napas berat, Gadis yang sedari tadi berdiri itupun duduk. "Kalau kamu gak mau mienya ya udah, Biar aku yang habisin." Diambilnya garpu yang ada di mangkuk tersebut. Melilitkan mie pada Garpu, lalu memakannya tanpa memperdulikan Dewa sama sekali.


Dewa melongo melihat itu. "Kok mienya malah lo makan?"


Dengan pipi menggelembung berisikan mie, Gadis menjawab malas. "Kan tadi katanya kamu gak bisa makan mie instan."


Dewa duduk. Merebut garpu di tangan Gadis secepat kilat. "Gak bisa, bukan berarti nggak mau." ucapnya menyebalkan, lalu mulai memakan mie tersebut tanpa ragu dan sangat lahap.


Apa dia benar-benar kelaparan? Batin Gadis. Lihat tingkahnya udah kayak bocah SD. Dasar cowok nyebelin! Kesal Gadis dalam hati.


"Habis ini aku udah boleh pulang kan?" tanya Gadis, disela makan Dewa.


"Tergantung." Jawab Dewa singkat-yang seketika membuat gadis mencuramkan alisnya sebal.


"Kok tergantung sih?! Kan aku udah-" Protes yang dilayangkan Gadis terhenti saat ponsel miliknya yang sedari tadi tergeletak dimeja itu berbunyi.


Diam-diam Dewa melirik nama pemanggil di layar ponsel Gadis.


Sebuah panggilan masuk dari Juna. Pacarnya.


Dewa bisa melihat raut bingung di wajah Gadis, antara mau mengangkatnya apa tidak. Tangan Gadis bahkan terlihat berkali-kali ingin mengangkatnya, namun urung. Begitu terus, sampai panggilan itu terputus sendiri, dan Juna kembali menelfonnya seperti tadi. Dan Gadis masih saja terlihat ragu seperti itu.


Disaat Gadis sudah memutuskan akan mengangkatnya, Dewa justru menaruh garpu dan bilang, "Gak usah diangkat."


Gadis menatap Dewa yang kini juga tengah menatapnya serius. "Kamu Nggak ada hak buat larang aku angkat telfon dari Juna."


Lalu gadis berusaha mengabaikan-dengan kembali akan mengangkat panggilan itu.


Tanpa diduga, Dewa membentaknya keras. "Gue bilang, gak usah diangkat!!" perintah Dewa, untuk kesekian kali. Namun kali ini dengan seenaknya merebut ponsel Gadis, dan mematikan panggilan Juna secara sepihak.

__ADS_1


*****


[BERSAMBUNG]


__ADS_2