
jangan lupa klik like ya ^_^
****
"Gue penasaran, gimana perasaan lo sama Juna untuk sekarang ini. Apa.. lo masih sayang dia?"
Gadis tercenung sesaat, "Ke-kenapa tiba-tiba kamu nanyain itu?"
Dewa malah balik bertanya, "Kenapa? ada yang salah sama pertanyaan gue?"
"Ya, enggak ada sih." jawab Gadis. "Aku cuman nggak nyangka aja kamu bakalan bahas Juna. Padahal aku lagi coba buat lupain dia."
"Oh.. Jadi lo masih sayang sama dia." ucap Dewa, menyimpulkan.
"Enggak. Bukannya masih sayang, tapi⸺"
"Tadi lo bilang lagi coba buat lupain dia, itu berarti lo masih punya perasaan buat Juna." Walaupun ada sedikit rasa kesal dihati, saat Dewa mengucapkan itu, tetap saja ia berusaha keras menutupinya dari Gadis. Memasang wajah biasanya.
Gadis bernapas berat. Menatap lurus kedepan, "Sebenarnya ngelupain Juna cukup sulit buat aku lakuin. Apalagi.. Juna itu cinta pertamaku. Tapi setelah semua yang terjadi, aku semakin sadar kalau.. aku emang nggak pantes buat Juna." Gadis tertawa miris, menundukkan kepalanya sebentar, lalu menoleh ke arah Dewa dengan memasang senyuman sok tegar, "Bahkan untuk cowok terburuk sekalipun didunia ini. Cewek kayak aku.. nggak sepantasnya mengharapkan cinta yang akan berakhir indah. Karena pada akhirnya.. aku hanya akan ngebuat orang yang menyayangiku menjadi kecewa dan terluka."
****
Minggu pagi.
Lari pagi, seakan menjadi rutinitas Dewa dihari libur sekolah. Biasanya Dewa akan lari beberapa putaran di sebuah taman yang tidak jauh dari apartemennya. Tentu saja ditemani musik yang ia dengar melalui earphone ditelinganya. Membiarkan keringat membanjiri tubuh atletisnya.
Selain tampan, Dewa memang memiliki tubuh yang bisa dibilang atletis untuk ukuran anak remaja seusianya. Bahkan Dewa juga sudah memiliki otot perut yang berhasil ia bentuk di waktu senggangnya. karena pada dasarnya, Dewa cukup menyukai yang namanya olah raga.
Drrtt... Drrtt!
Dewa memelankan langkah lari dan berhenti sejenak, untuk mengangkat panggilan diponselnya.
Keningnya terlipat sebentar, saat mengetahui sang pemilik nama yang memanggilnya.
"kenapa, Dis?"
"........"
"Apa? lo serius?" Dewa membelalak terkejut.
"........."
"Ya udah, gue pulang sekarang."
Dewa buru-buru pulang menuju apartemennya. Saat sudah sampai, betapa terkejutnya dia saat membuka pintu. Keempat temannya sudah berada didalam apartemen. Gery dan bastian tersenyum tanpa dosa ke arahnya, dengan tubuh terbaring asal di atas ranjang. Sementara Rama dan Edo yang duduk dikursi sofa, melambai menampilkan deretan giginya pada Dewa. Di sampingnya, nampak Gadis yang duduk dengan wajah tertekuk dan tangan memilin jari antara khawatir dan juga malu. Mendapati teman-teman dekat Dewa menagkap basah dirinya didalam apartemen Dewa, untuk yang kedua kalinya.
"Kanapa kalian pagi-pagi udah ada disini?" Dewa melangkah masuk, bertanya dengan raut wajah tidak sukanya.
Gery yang sedari tadi terbaring, akhirnya beringsut duduk. "Kita itu punya feeling yang cukup kuat, soal gak masuknya lo berdua kemarin."
Tidak masuknya Dewa dan Gadis yang bisa bersamaan seperti itu, jelas saja mengundang tanda tanya dan kecurigaan besar dari keempat teman Dewa. Apalagi setelah mereka baru-baru ini mengetahui siapa Gadis, dan memergoki keduanya berada diapartemen seperti saat ini.
Bastian yang masih terbaring miring dengan menopang kepala menggunakan tangan kanan itu, lantas melihat ke arah Gadis. Baginya cukup menyenangkan melihat wajah Gadis yang sedang ketakutan seperti itu. "Dis, jadi gimana ceritanya? Tadi lo bilang bakal jelasin kalau si Dewa udah balik."
__ADS_1
"Nah, betul tuh. kita-kita kan juga penasaran. Tapi.. kali ini lo sama Dewa nggak lagi ehem kan? Kayak yang waktu itu." Rama berucap, dan saling melempar pandangan pada Edo, dengan alis bergerak naik turun.
"Ck! Ngomong apa sih kalian!" kesal, Dewa akhirnya mendekati Gadis dan menarik tangannya agar berdiri. "Lo tadi katanya mau masakin gue sesuatu kan?!"
Gadis mengangguk takut-takut.
"Ya udah, lo ke dapur. Biar gue yang jelasin ke mereka."
Lima menit kemudian...
"Serius lo Wa??" Edo bertanya setengah tidak percaya, saat Dewa menceritakan semuanya, apalagi saat bercerita soal bagaimana sosok Arman, yang akhirnya membuat Gadis memutuskan untuk tidak tinggal serumah lagi dengan ayahnya itu.
"Kok ada ya, bokap kayak gitu?" celetuk rama.
"Terus lo bakal ngizinin dia tinggal disini sampai kapan?" Gery melontarkan tanya pada Dewa.
"Iya wa, sampai kapan? Gak mungkin banget kan lo biarin dia tinggal lama disini." Bastian menimpali.
"Ketahuan bokap lo baru tau rasa!" kata Edo menyumpahi.
"Mangkanya jangan sampai tau! Kalian bantuin gue ya, nyari kos-kosan deket sini buat Gadis." ucap Dewa, disaat mengingat apa yang dikatakan Gadis kemarin, yang katanya akan coba mencari tempat kos secepatnya.
Bukan maksud Dewa tidak menyukai Gadis tinggal bersamanya. Tapi apa yang dibilang teman-temannya itu memang benar soal ayahnya. Jangan sampai ayahnya tau jika ia sudah menyimpan cewek di apartemen. Urusannya bisa runyam.
Keempat teman Dewa saling menatap satu sama lain⸺sepemikiran. Lalu keempatnya sama-sama beralih menatap Dewa dengan senyum curiga menghiasi bibirnya.
"Kenapa lo pada?" tanya Dewa, mengerutkan keningnya heran.
"Jangan-jangan, cewek yang lo maksud waktu itu si Gadis ya?! lo suka sama dia?"
****
-Sekolah-
Gadis dan Aurel nampak berjalan beriringan menuju kantin. Saat sudah sampai, mereka berdua segera memesan. Membawa nampan berisi makanan tersebut ke sebuah meja kosong.
Selama itu, keduanya mengobrol. Mengenai Gadis yang tinggal sementara di apartemen Dewa, Aurel sudah mengetahuinya dari Gadis yang bercerita di telfon semalam.
"Gue masih nggak percaya lo tinggal di apartemennya Dewa, Dis. pasti lo gak bisa tidur nyenyak kan?! Apalagi seruangan sama Dewa kegelapan kayak dia."
Gadis menahan tawa, "Dia nggak seburuk yang kamu fikir kok, Rel."
"Serius??"
Gadis mengangguk.
"Ah, bukan berarti karena lo bilang ke gue si Dewa yang udah selametin lo, pandangan gue tentang Dewa berubah gitu aja. Yang namanya Dewa kegelapan, tetap aja Dewa kegelapan!"
"Awas loh, nanti orangnya denger."
Segera saja Aurel menutup mulutnya rapat dan merutuk diri. Melihat sekeliling kantin yang untungnya tidak menampakkan tanda-tanda adanya Dewa di manapun.
"Hah~~ untung aja yang diomongin nggak lagi disini. bisa mampus beneran gue, kalau sampai dia denger." Ucap Aurel, lalu ia memutuskan memakan makanannya dengan tenang, tanpa menggosipkan Dewa lagi.
__ADS_1
Dan Gadis, hanya tersenyum dan menggeleng, melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Dis, aku pengen bicara sama kamu berdua."Juna tiba-tiba datang, disaat Gadis baru saja menyuapkan sesendok makanan ke mulut.
"Lo mau ngapain lagi sih, Jun? Nggak bosen-bosen lo gangguin Gadis mulu." Aurel bersuara, lantaran ikut terganggu dengan kedatangan cowok tersebut.
"Gue nggak lagi ngomong sama lo ya Rel. Gue lagi ngomong sama Gadis. Jadi lo gak perlu ikut campur."
"Dih! Apaan sih. ngeselin banget lo jadi cowok!" Cibir Aurel pada Juna.
Gadis berusaha menenangkan sahabatnya, lalu berbicara pada Juna. "kamu kalau ngomong, ngomong aja disini. aku akan dengerin."
Juna melihat kesekeliling⸺dimana anak-anak kantin yang lain sudah memperhatikan. Bagaimana mungkin Juna bicara dengan kondisi sekitar yang menjuruskan pandangan ke arahnya, sementara Juna saat ini saja ingin membahas mengenai Gadis yang tinggal di apartemen Dewa. sudah jelas jika Juna tidak ingin jika murid satu sekolah mengetahui mengenai hal tersebut.
"Aku pengennya kita bicara di tempat lain. Bukannya disini, Dis!"
"Maaf. Kalau itu, aku nggak bisa." Gadis menolak mentah-mentah keinginan Juna.
"Dis!"
"Juna, aku kan udah bilang ke kamu buat jauhi aku. Aku nggak mau dituduh jadi perusak hubungan antara kamu dan Sesil." Gadis mengatakan dengan suara sedikit memelan namun dengan penuh penekanan disetiap kalimatnya.
Juna mengacak rambutnya frustasi. "Sesil lagi, Sesil lagi. bisa gak kamu gak usah sebut nama dia, waktu aku lagi bicara sama kamu?!"
Gadis hanya diam, tidak berniat untuk menjawab. Ia bahkan memalingkan wajahnya cepat untuk kembali menyantap makanannya.
Namun...
Juna mendadak menarik kuat tangan Gadis, hingga sendok yang di pegang Gadis terjatuh dan menimbulkan dentingan keras dipiring. Juna berniat memaksa Gadis agar mengikutinya pergi.
"Lo apa-apaan sih, Jun? Gadis kan udah bilang nggak mau! kasar banget sih jadi cowok!" Aurel sudah berdiri dari kursi dengan satu tangan memegangi lengan Gadis. Nyatanya ia sudah tidak bisa tinggal diam lagi saat tau Juna bersikap kasar seperti ini pada Gadis.
"Lepas tanganku, Juna!" Pinta Gadis dengan menggerak-nggerakkan lengan tangannya supaya terlepas dari cekalan Juna yang cukup erat.
"Aku akan lepas, setelah kamu turuti apa mauku!"
"Akh!" Gadis mengaduh, saat dirasa cekalan juna semakin mengerat di pergelangan tangannya. "Sakiiit Juna. Lepas!"
"Juna! Lepasin Nggak! Atau gue akan lapor guru!" ancam Aurel, terdengar tidak main-main.
"Gue gak takut!" ucap Juna. Lalu menoleh, saat seseorang menarik tangannya kuat agar terlepas dari Gadis.
"Lo buta?? Gadis udah kesakitan!"
Kedatangan Dewa, membuat keadaan kantin yang tadinya sudah heboh. Kian semakin bertambah heboh.
"Lo nggak usah ikut campur ya, Wa! Gue lagi gak pengen berdebat sama lo." Juna mengingatkan Dewa dengan jari telunjuk terarah padanya. "Lagi pula, lo itu siapa?" Juna mendorong tubuh Dewa, membuat langkah Dewa tergerak beberapa langkah kebelakang. "Tiba-tiba masuk di kehidupan Gadis dan sok ikut campur sama apapun yang berkaitan dengan dia. apa lo gak punya malu??"
Dewa tersenyum miring, dan suasana dirasakan Gadis begitu tegang. "Bukannya disini yang gak punya malu itu elo!" Dewa mendekat dua langkah ke arah Juna, menajamkan netra sekaligus memberinya peringatan. "Buka telinga lo lebar-lebar. Jangan lagi lo ganggu Gadis, karena mulai sekarang..." Dewa sesaat menggantung kalimat untuk menarik Gadis, lalu melingkarkan satu tangannya ke belakang punggung Gadis⸺mendekapnya erat. "Dia, Gadisnya Dewa. Bukan Juna."
****
BERSAMBUNG
__ADS_1