Gadis Dewa

Gadis Dewa
bab 30


__ADS_3

klik like sebelum membaca guys...


taburan like yang kalian beri, sangat berarti sebagai penyemangat updateku kedepannya.


Happy reading....


****


Raut wajah Gadis seketika berubah terkejut sekaligus takut, saat melihat siapa yang datang dengan netra berkilat merah.


"Juna..."


Dalam keadaan amarah yang sudah naik diatas ubun-ubun. Juna masih diam menatap Gadis. Lalu pandangannya itu menyapu turun⸺menelisik ke arah dua tangan Gadis yang masih mengeratkan baju seragam akibat kancing yang sudah terlepas semua.


Tersenyum miring, Juna seakan masih sulit mempercayai apa yang sedang dilihatnya saat ini. Mantan dan kembarannya tengah berada di satu atap apartemen dengan keadaan yang membuat siapapun melihat berpikir yang tidak-tidak.


"Aku gak nyangka. Kamu ternyata hebat juga ya." Juna berujar dengan raut sinis sekaligus jijik terhadap Gadis. "Demi uang, Kamu rela lakuin apapun. Bahkan kamu juga gak perduli siapapun itu orangnya..."


"DIA ITU KEMBARAN AKU, DIS!! APA OTAK KAMU UDAH GAK WARAS?!" bentak Juna dengan hati memanas akibat emosi yang sudah memuncak.


jelas saja Gadis tersentak mendengar bentakan Juna. Kepalanya teralih turun dan tidak berani menatap sorot mata Juna yang bagaikan pisau bermata tajam.


"Orang seperti kamu, nggak akan pernah bisa mengerti... apa yang aku rasain saat ini." cetus Gadis, dengan netra memanas. Sedetik kemudian, air bening sudah meluncur jatuh membasahi pipi mulusnya.


Juna mengepalkan tangan kuat-kuat. "Justru aku adalah orang yang paling mengerti dan sadar... jika dari awal harusnya aku nggak ngasih hati aku buat.... cewek murahan seperti kamu!!"


"Cukup, Jun! Lebih baik lo sekarang keluar dari apartemen gue!" Dewa yang sedari tadi diam memperhatikan, nyatanya sudah tidak tahan lagi untuk ikut campur. apalagi saat melihat Gadis yang hanya diam menunduk dan menangis, saat Juna menyudutkannya dengan perkataan tajam semacam itu.


Juna beralih menatap Dewa dengan senyum merendahkannya. "Kenapa?? supaya kalian bisa ngelanjutin sesuatu yang tertunda akibat kedatangan gue, iya?"


"Apa yang gue lakuin sama dia, sama sekali nggak ada urusannya sama lo. Inget! Lo udah putus sama dia. Jadi apapun yang Gadis lakukan dibelakang lo, lo gak berhak buat marah ataupun ikut campur kayak gini." Dewa mencoba mengingatkan jikalau Juna melupakan hal penting itu.


Juna tertawa sumbang. "Bacot!" cetusnya saat tawanya itu terhenti dan dengan cepat terganti dengan wajah datar penuh benci terhadap Dewa.


Selanjutnya, sebuah pukulan sudah dengan cepat mendarat di wajah Dewa hingga membuatnya tersungkur jatuh akibat belum siap menerima serangan Juna yang tiba-tiba seperti itu.


Tanpa menunggu lama dan dengan emosi yang masih menguar hebat, Juna sudah menarik kencang kerah seragam baju Dewa, lalu melayangkan lagi beberapa pukulan beruntun berulang kali tanpa jeda.


Tapi itu hanya sebentar. Karena Dewa sudah dengan cepat membalik keadaan untuk membalas pukulan Juna, dengan menendang bagian perut kembarannya begitu kencang, sampai-sampai membuat Juna terpental dan punggungnya membentur tembok apartemen.


Gadis berteriak histeris, saat Dewa dengan langkah cepat menghampiri untuk melayangkan tinju balasan pada Juna yang masih terlihat kesakitan di bagian punggungnya.


"DEWA, STOP!" teriak Gadis, membuat pukulan cowok itu tertahan diudara. "Udah! Jangan berantem lagi. Aku mohon.." pintanya, dengan air mata berlinang. "Aku nggak mau ngeliat kalian berdua berantem cuman karena aku..."


"Please.." mohon Gadis, berharap Dewa mau mendengarkan.


Rahang Dewa mengetat dengan sorot mata menajam ke arah Juna. Lalu perlahan kepalan tinjunya itu bergerak turun, sedang tangan satunya yang masih mencengkram lingkar leher Juna, ia lepas begitu saja.


Napas Dewa masih terlihat memburu akibat menahan amarahnya sendiri.


"Gue peringatin. Biarpun lo itu kembaran gue, tetep aja gue gak akan tinggal diam liat lo ngehina dia kayak tadi. Gadis emang seperti yang lo bilang. Tapi lo juga gak seharusnya ngatain dia murahan ataupun sejenisnya. Apa lo pernah mikir, kalau dia pasti juga punya alasan kuat buat kerja kayak gini..."


"... Gue fikir lo itu beneran mengenal dia. Tapi nyatanya... ego dan amarah lo lebih tinggi untuk bisa berpikir jernih...."


".... pada akhirnya, lo lebih milih buat benci dia."

__ADS_1


****


Tubuh Gadis meluruh jatuh terduduk dilantai, saat Juna membanting pintu⸺keluar dari apartemen tersebut.


Gadis sangat yakin jika Juna pasti kian semakin membencinya.


Biarpun Gadis berusaha menyugesti diri untuk bisa melupakan Juna, karena dirinya memang tidaklah pantas bersanding dengan cowok baik seperti Juna, tetap saja pada akhirnya Gadis masihlah tetap secengeng ini saat Juna melontarkan perkataan buruk terhadapnya.


Perkataan Juna yang sungguh manis dimasa lalu, nyatanya begitu cepat berubah dalam sekejap mata.


Jika saja waktu bisa kembali, Gadis akan memilih untuk tidak menerima cinta Juna dulu, ketimbang harus berakhir dengan kebencian dan luka yang mengendap dan sulit hilang di hati orang yang diakui masih disayanginya itu.


Isakan Gadis yang menjadi, membuat Dewa sempat kebingungan harus melakukan apa. Cowok itu lantas berjongkok⸺mensejajarkan posisi dengan Gadis. Mengusap punggung bergetar akibat tangis yang sulit terhenti.


"Lupain semua perkataan Juna tadi. Karena dengan mengingat, itu hanya akan ngebuat lo semakin terluka."


Dewa lalu memegang dua bahu Gadis untuk membawanya bangkit dan duduk diatas ranjang empuk disana.


"Tapi semua yang dikatakan Juna memang benar. Aku emang murahan. Harusnya Juna nggak ngasih hatinya buat aku. Dan sekarang liat... gara-gara aku, kalian berdua jadi saling pukul. Aku emang racun buat orang-orang disekelilingku." Ucapnya, sembari mengusap air bening yang jatuh membasahi pipi.


"Itu gak bener, Dis." Sergahnya. "Jangan pernah lagi ngomong kayak gitu. Gue yakin lo pasti punya alasan yang kuat, yang ngebuat lo bisa jadi seperti ini. iya kan?!" Entah kenapa Dewa bisa bersikap dan berkata seperti ini. ia hanya tidak bisa melihat Gadis menjatuhkan air mata lebih banyak lagi.


Gadis menunduk dalam kian semakin terisak, saat mengingat bagaimana kondisi bundanya sekarang yang begitu berbeda dengan dulu. Apalagi mengingat keadaan ekonomi dan rentetan kewajiban yang membelitnya.


"Kalau aja bunda sehat. Aku nggak akan nunggu lama buat pergi ninggalin ayah ke tempat yang jauh. Tapi keadaan bunda memaksa aku tetap tinggal, dan kesehatan bunda menuntutku untuk hidup dengan cara seperti ini."


"Bunda lo sakit apa?" tanya Dewa ingin tahu.


"Sakit jiwa."


Jawaban Gadis sempat membuat kening Dewa mengkerut tak percaya. "Serius?"


"Tapi kenapa lo pengen pergi jauh ninggalin bokap lo?"


"Karena dia yang udah bikin masa depanku jadi hancur begini! Dia juga yang udah jual aku saat pertama kali aku menginjak bangku SMA. Semuanya gara-gara ayah, dan aku benar-benar membencinya."


FLASHBACK ON.


Beberapa tahun yang lalu.


"Ayah... kenapa ayah nyuruh aku pakai baju seperti ini? ini buat aku nggak nyaman, Yah..." tanya Gadis, saat baru selesai mengganti baju dengan tanktop super ketat yang memperlihatkan belahan dadanya. Ditambah lagi paha mulusnya yang terekspose, akibat rok super mini yang dikenakannya saat ini, diyakini Arman pasti sanggup membuat para lelaki diluar sana meneteskan liur saat melihatnya.


"Udahlah! Nurut aja apa yang gue bilang. Lagian pakaian itu cocok kok buat lo." kata Arman begitu enteng. "Ayo, kita udah hampir telat." Arman menarik tangan Gadis keluar dari rumah yang kemudian di kuncinya.


Keduanya berjalan sebentar menyusuri gang kecil dengan penerangan minim. Ternyata didepan gang, sudah ada sebuah mobil hitam yang menunggu mereka.


Arman segera membuka pintu mobil, dan menyuruh putrinya untuk masuk kedalam.


"Sebenarnya kita mau kemana sih, yah? Terus ini... i-ini mobil siapa?" tanya Gadis dengan rasa penasaran tingkat tinggi.


"Gak usah banyak nanya. Cukup diem. entar juga lo tau sendiri kita akan kemana."


"Tapi yah..."


Nyatanya Gadis hanya bisa menurut diam. Ia tau bagaimana watak ayahnya jika dirinya melawan dan tidak menurut. Gadis tidak ingin mendapat luka pukulan lagi di badannya.

__ADS_1


Mobil yang mereka naiki akhirnya berhenti disebuah tempat hiburan malam⸺yang sekalipun tidak pernah dimasuki Gadis.


Biarpun begitu Gadis sangat tau tempat apa itu. apalagi saat masuk ke dalam, aroma khas dari alkohol dan asap rokok seketika mengusik indra penciumannya.


Arman mengajak Gadis menaiki tangga menuju atas. Sesampainya diatas sana, Arman menyuruh Gadis duduk menunggu disebuah kursi sofa panjang⸺dengan segala pertanyaan dibenaknya, dan belum terjawab satupun.


"Ini dia, anak saya. Namanya Gadis."


Tiba-tiba ayahnya datang dengan seorang wanita setengah baya dan masih terlihat cantik. Wanita itu menelisik tubuh Gadis dari atas sampai bawah dengan seksama.


Arman terlihat memberi kode pada Gadis, untuk segera berdiri dari duduknya dan memberi salam.


"Sa-saya Gadis, tante." Kata Gadis saat sudah berdiri. Tangannya terulur⸺bermaksud berjabat tangan. Ia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi.


"Jangan panggil saya tante. Panggil saya mami seperti yang lainnya." katanya, mengabaikan tangan Gadis yang terulur itu. Gadis mengangguk walaupun situasinya saat ini masih membingungkannya. Tangannya tergerak turun kembali.


"Jadi benar, kamu masih perawan?"


Pertanyaan itu, membuat Gadis mengerutkan keningnya tidak mengerti. apa maksud dari pertanyaannya barusan??


"A-anak saya masih perawan mi. Saya berani menjamin dengan nyawa saya, kalau seandainya bohong." sahut Arman meyakinkan. Membuat Gadis kian semakin kebingungan sendiri.


Maksud ayah apa ngomong begitu?


"Saya nggak butuh jawaban kamu. Saya hanya butuh dengar itu dari anakmu sendiri."


"....Jadi benar, kamu masih perawan?" tanya mami lagi pada Gadis.


"I-iya, mi." Gadis menjawabnya takut-takut. "Tapi... kenapa anda menanyakan hal seperti ini pada saya?" Gadis memberanikan diri untuk bertanya, namun bukannya sebuah jawaban yang didapat, melainkan mami justru memanggil dua anak buahnya untuk membawa Gadis ke sebuah kamar.


"Bawa dia ke kamar. Sebentar lagi pelanggan terbaik kita akan datang."


Gadis yang mengerti dengan situasinya saat ini, seketika berteriak dan meronta berusaha melepaskan diri dari dua orang cowok berbadan tinggi tegap yang berusaha membawanya pergi.


"Ayah!! Tolongin Gadis. Mereka mau ngapain Gadis yah?! AYAAHH!!"


FLASHBACK OFF.


Air mata Gadis kian terjatuh deras, saat mengingat kenyataan pahit dirinya dua tahun yang lalu.


"Kamu tau? Ayah saat itu sama sekali nggak nolongin aku dan hanya diam melihat. Aku juga mengingat betul gimana ayah tersenyum senang saat menerima uang pemberian mami dari hasil menjual keperawananku."


".... Ayah adalah orang yang paling aku benci didunia ini." ucapnya, penuh kebencian di bola matanya.


"kenapa lo gak laporin hal ini ke polisi?"


"Aku nggak setega itu buat laporin ayah. Gimanapun... dia masih tetap ayahku. Lagipula.. ngelaporin ayah ke polisi bukanlah penyelesaian satu-satunya."


"Maksudnya??" Dewa bertanya tidak mengerti.


"kalaupun ayah masuk penjara, aku juga nggak bisa gitu aja lepas dari pekerjaanku yang sekarang. Aku masih butuh uang banyak untuk donor mata bunda. Aku sadar, pekerjaan biasa nggak akan ngebuat aku dapetin uang banyak."


Dewa diam, tidak tau harus berkata apa.


"Aku nggak perduli, kamu menilai aku seperti apa. kenyataannya untuk saat ini, uang begitu penting buatku."

__ADS_1


****


BERSAMBUNG...


__ADS_2