Gadis Dewa

Gadis Dewa
bab 13


__ADS_3

Gadis bolak balik mengantarkan makanan yang dipesan Dewa dan keempat temannya tadi dimeja dimana mereka duduk. Satu persatu piring, mangkuk ataupun gelas berisi minuman berbeda rasa itu, ia bawa ke meja Dewa dengan telaten dan juga sabar tentunya.


Wajah Gadis yang nampak kesal itu, diam-diam diperhatikan Dewa. Entah kenapa ada rasa senang tersendiri waktu ia melakukan itu.


"Udah semua kan?! Sekarang aku boleh balik?" tanya Gadis pada Dewa, yang kini mulai meminum minuman yang dibawakan Gadis tadi.


"Kenapa mesti buru-buru? Ikut makan disini juga nggak papa." kata Dewa dengan ekspresi biasa. Bahkan setelah mengatakan itu, ia lantas memakan makanannya dengan santai.


Hal itu membuat keempat temannya yang sedari tadi memperhatikan makin kebingungan dengan sikap Dewa yang seperti ini.


"Gak perlu. Makasih." Gadis sudah akan beranjak pergi, namun kembali terhenti saat Dewa mengatakan sesuatu padanya.


"Inget ya, apa yang gue bilang tadi pagi."


"Soal apa?" tanya Gadis yang memang tidak mengerti maksud dari ucapan Dewa barusan.


Dewa berdecak, akan daya ingat dari otak Gadis yang terlampau rendah. "Masak lo gak inget apa yang gue bilang tadi pagi?!"


Gadis menggeleng.


"Bego banget jadi orang." Maki Dewa, membuat Gadis memberengut kesal. "Soal telfon!" Dewa mengingatkan mengenai panggilan darinya yang tidak boleh diabaikan Gadis sedikitpun.


"Oh, iya. Aku ngerti." Jawab Gadis dengan nada malas. "Udah boleh balik kan, sekarang?" tanya Gadis lagi, yang hanya dijawab Dewa dengan gerakan tangannya.


Selang kepergian Gadis, keempat temannya yang sedari tadi memperhatikan, mulai bergantian menanyakan yang terjadi sebenarnya antara Dewa dengan Gadis. Kenapa gadis bisa sepasrah itu saat Dewa menyuruh-nyuruhnya seperti tadi.


"Gak usah kepo!" kata Dewa mengingatkan.


"Pelit banget lo, Wa. Tinggal ngasih tau doang susah amat." Cetus Bastian. Pasalnya ia sudah sangat penasaran sedari tadi. Begitu juga dengan ketiga temannya yang lain.


"Tau Nih." Sahut Rama.


"Udah! Mending lo makan tuh makanan lo. keburu dingin. Berhubung mood gue lagi bagus, jadi hari ini gue yang traktir." Dewa berucap, dan kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Wahh! Mood lo mendadak bagus gara-gara si Gadis nih?" tanya Gery memastikan.


"Keliatannya sih iya." Edo ikut menyahuti, sembari menuang sambal di makanannya.


"Gak ada hubungannya sama dia!"


Keempat teman Dewa diam-saling berpandangan satu sama lain, lalu kemudian tertawa lepas. Sudah jelas jika Mood Dewa membaik karena Gadis. Masih saja Dewa menyangkalnya.


****


"Loh, Rel? Juna mana?" Gadis baru saja menghampiri mejanya tadi. Dan ia hanya mendapati Aurel yang ada di meja itu. sementara Juna sudah tidak ada di tempat.


"Si Juna udah pergi, sama si Sesil tuh! Lagian elo juga ngapain sih pakek acara bantuin si Dewa sama temen-temennya buat pesen makanan. Kurang kerjaan banget deh."


Tanpa menjawab perkataan Aurel, Gadis kembali bertanya balik. "Kamu tau nggak, mereka pergi kemana?"


Aurel mengedikkan bahu tidak tau. "Mana gue tau." Lalu kemudian memberitahu Gadis mengenai raut wajah Juna saat pergi tadi. "Eh Dis, mending lo cari si Juna buat minta maaf deh. Soalnya tadi dia keliatan marah banget sama lo."


"Iya, aku ngerti. Mangkanya ini juga aku mau minta maaf." Raut wajah Gadis nampak menyesal. Lalu kemudian pamit pada Aurel untuk meninggalkan kantin dan mencari Juna.


****


Setelah tadi Gadis mencari dikelas bahkan diperpus juga, namun ia sama sekali tidak menemukan Juna dimanapun.


Kakinya melangkah ke taman. Tidak disangkanya ia menemukan Juna ditaman bersama Sesil. Duduk hanya berdua di sebuah bangku kayu panjang.


Entah apa yang keduanya bicarakan. Yang jelas, Gadis bisa melihat raut wajah bahagia Sesil saat ini.


Gadis akhirnya memutuskan untuk menghampiri mereka. "Juna, Aku---"


"Eh? Kamu mau ke mana, Jun?" tanya Sesil, saat tiba-tiba mendapati Juna sudah berdiri dari duduknya.


Sesil ini termasuk cewek paling cantik dan populer disekolah tersebut. banyak sekali cowok-cowok disekolah itu yang menyukainya. Namun tidak dengan sikembar, anak dari pemiliki sekolah seperti mereka hanya mengabaikannya. Padahal Sesil berharap bisa mendapatkan salah satu dari mereka. Tapi sepertinya, itu sangatlah sulit.


"Ke kelas. Disini panas." Juna melangkahkan kaki⸺yang kemudian di tahan oleh Gadis, cepat.


"Kamu ngehindarin aku? Aku kan tadi bilang bakalan jelasin." Gadis memegang lengan Juna, namun Juna melepasnya begitu saja.


"Gak denger ya? disini panas!" Juna menaikkan nada bicaranya akibat masih kesal dengan sikap Gadis tadi saat di kantin.


"Gak. Kamu bohong. Kamu emang lagi ngehindarin aku."

__ADS_1


"Terserah!" Juna kembali melangkahkan kakinya pergi. Gadis yang kembali akan menahannya, di hadang oleh Sesil.


"Kamu mau ngapain? Aku gak ada urusan sama kamu ya, Sil. Minggir!" Gadis lalu berusaha melewati Sesil dengan berjalan disisi yang lain, namun Sesil kembali menahannya seperti tadi. Dan kali ini dengan memberi dorongan di bahu kanan Gadis. Sementara Juna terlihat semakin menjauh tanpa menoleh sedikitpun pada Gadis yang masih dibelakang.


"Eh, sadar diri dong! kalau lo tau si Juna ngehindarin lo, ya udah. Gak perlu maksa dia buat bicara!"


"Ini bukan urusan kamu." kata Gadis, dengan kembali melewatinya dan ditahan seperti tadi.


"Jelas ini jadi urusan gue!"


Gadis menghela napas berusaha sabar. "Kayaknya disini yang mesti sadar diri itu, kamu."


Sesil mengerutkan kening.


"Juna itu udah punya pacar, dan pacarnya itu aku. Harusnya kamu sadar dan berhenti deketin dia!"


Sesil yang marah, sudah mengangkat tangan hendak menampar Gadis atas ucapannya barusan. Namun sebelum tamparan itu benar-benar terjadi, Gadis sudah lebih dulu sigap membaca pergerakan tangan Sesil dan menangkapnya.


Apa yang dilakukan Gadis itu kian semakin membuat Sesil geram dan melepaskan kasar cekalan tangan Gadis dari tangannya, sembari memberinya sebuah peringatan.


"Cuman karena lo sekarang pacarnya Juna, bukan berarti gue akan berhenti buat deketin Juna. Gue yakin kok, si Juna cuman main-main doang sama lo. Bentar lagi lo juga bakalan di buang kalau dia udah bosen. Jadi gak usah ngerasa sok di atas angin sekarang."


"Ya udah, kalau gitu terus aja kamu berusaha sebisa kamu. Aku mau liat, kemampuan kamu itu sampai mana buat dapetin Juna."


"Elo tuh ya... " Sesil mengepalkan tangannya kuat-kuat akibat rasa kesal didalam diri akan sikap sok-nya Gadis saat ini.


"Sorry. Aku masih ada urusan lain yang jauh lebih penting, di banding harus ngeladenin omongan kamu yang gak bermutu itu." Kata Gadis, lalu kemudian berlalu pergi meninggalkan Sesil begitu saja dengan hati yang semakin kesal.


"Brengsek!"


****


"Dis, Gimana?" tanya Aurel yang kini tengah berjalan beriringan bersama Gadis keluar koridor sekolah untuk pulang.


"Apanya?"


"Mau gue bantuin baikan sama si Juna?"


"Gak perlu. Aku bisa atasi masalahku sendiri."


"Iya."


Aurel mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.


"Ehem!" deheman suara berat seorang cowok, tiba-tiba muncul disebelah Aurel. Membuat Gadis itu berjingkat kaget.


"Ish! lo tuh udah kayak jelangkung aja ya. Suka banget nongol sesuka hati kayak gini." kesal Aurel, sembari menjaga jarak dari cowok itu dengan cara menggeser diri ke dekat Gadis.


Gery memberengut. "Masak cowok seganteng gue, lo samain kayak jelangkung?! Sedih nih Aa."


"Dih! Najis!" lalu Aurel menarik tangan Gadis---semakin mempercepat langkahnya menjauhi Gery yang menurutnya tengah kumat sarapnya.


"Buruan Napa Dis, jalannya!" Kata Aurel pada Gadis yang menurutnya terlalu lambat dalam berjalan.


"Kenapa mesti buru-buru sih. Kasian kan Aa Gery kamu cuekin Mulu."


"Gak usah ikut-ikutan deh." Ketus Aurel dengan wajah judesnya.


Gadis hanya terkekeh melihat ekspresi marah sahabatnya yang justru nampak lucu itu.


Gery memang sudah lama mendekati Aurel dari kelas 1. Tapi memang dasar nya Aurel ini anaknya cuek banget sama cowok dan terlalu menggilai yang namanya oppa Korea, membuat cowok setampan apapun yang mendekatinya ia anggap sebagai angin lewat alias tidak penting. Termasuk juga Juna dan Dewa yang menurut Aurel ketampanannya sebatas kata standart.


"Rel, kok Aa ditinggalin. Mau Aa anterin pulang gak?" Ucap Gery, saat sudah menyusul dan menyamai langkah kedua cewek itu.


"Ogah! Gue gak mau ganti supir yang tampangnya mesum kayak Lo!"


Seperti biasa, kalimat pedas yang dilayangkan Aurel pada Gery, selalu bisa membuat Gadis bersusah payah menahan tawanya agar tidak pecah begitu saja.


"Ya Ela Rel, sadis amat tuh mulut lama-lama. Tadi dikatain kayak jelangkung. Terus barusan mesum. Besok-besok apa lagi?! Untung aja gue punya stok kesabaran lebih khusus buat Lo."


"Mangkanya, kalau gak mau gue kata-katain lagi, jauh-jauh sono dari gue. Terus bilang tuh sama si Dewa ketua geng preman lo itu. Jangan lagi gangguin Gadis kayak tadi siang! Atau gue bakalan laporin hal ini ke guru dengan alasan pembullyan." kecam Aurel dengan menghentikan langkah memberi peringatan pada Gery.


Menggenggam erat lengan Aurel, Gadis lantas berusaha memperingati dengan berbisik. "Aurel! kenapa jadinya nyambung ke Dewa sih?! Gery kan gak ada sangkut pautnya sama sikap Dewa yang kayak gitu ke aku."


"Ishh! biarin aja napa sih, Dis! Biar dia sebagai temen tuh bisa nasehatin temannya yang resek itu!"

__ADS_1


Terlihat ada raut murung di wajah Gery saat ini. Gadis yang melihat itu merasa tidak enak dan memutuskan untuk meminta maaf.


"Ger, maafin Aurel ya. Mulutnya emang tajam. Tapi sebenarnya hatinya baik kok." Kata Gadis mewakilkan kata maaf untuk sahabatnya, lalu setelah itu menarik pergi Aurel begitu saja dari hadapan Gery yang masih terdiam muram.


Gery tidak berkeinginan mengejar dan hanya diam dengan membatin.


Gue tau kok. Justru mulut tajamnya itu yang bikin gue makin tertarik sama lo, Rel...


"Ih!! Gadis! Kenapa jadinya narik-narik gue sih?! Gue kan belum selesai ngomong tadi." protes Aurel saat sudah menjauh, sembari melepas tarikan tangan Gadis di lengannya.


"Emangnya kamu mau ngomong apa lagi? Kasian loh Gery, mukanya udah murung gitu. Berasa dimarahin sama emaknya."


"Ini perasaan dari tadi lo belain si Gery mulu dari pada gue, temen lo sendiri. Asal lo tau ya, si Gery tuh cuman Akting! Akting! Gue mah udah hafal akal bulusnya. Udah gak mempan lah itu di gue!"


"Akting apanya?! Orang mukanya aja udah ngenes begitu pas kamu omelin."


"Dibilangin juga, gak percayaan banget jadi orang." Lalu tidak sengaja pandangan Aurel terarah pada Sesil yang baru saja menaiki motor milik....


"Dis, i-itu bukannya si Juna kan? Tapi kok, dia ngebonceng si Sesil sih?! Apa maksudnya coba?"


"Mana?"


"Itu tuh, didepan pintu gerbang. Udah mau pergi tuh anaknya."


Gadis mengikuti arah pandang Aurel. Dan benar saja ia mendapati Juna tengah memboceng Sesil. Apa Juna mau mengantarnya pulang?


Tapi kenapa?


Biasanya Juna akan menunggunya terlebih dahulu, dan akan mengajaknya pulang bersama. Tapi sekarang...


"Dis! jangan cuman diem aja. kita samperin mereka sekarang! Terus kita labrak bareng-bareng. Gue bantuin!" ujar Aurel dengan semangat empat lima.


"Ngomong apa sih? pakek acara labrak segala. Emangnya mereka selingkuh?! belum tentu kan."


"Selingkuh gak selingkuh. Tapi kalau mainnya udah jalan dibelakang gitu. Apa bedanya?? Sama aja kan?"


Gadis tersenyum miris sembari membatin.


Bukannya yang aku lakuin selama ini di belakang Juna justru lebih parah ya?! Di tambah lagi, aku udah ngelakuin 'itu' sama Dewa , beberapa hari yang lalu.


"Tuh kan, mereka beneran pergi! Elo sih, kelamaan bengongnya. Jadi pergi deh mereka. Gak jadi ngelabrak kan, gue." Aurel benar-benar tidak mengerti dengan jalan fikiran Gadis yang terkesan santai saat melihat cowok yang masih berstatus pacarnya terlihat berboncengan dengan cewek lain. Menurut Aurel, Gadis harusnya marah. Bukannya malah diam dan hanya menatapi kepergian mereka seperti ini.


"Udah. Biarin aja. Lagian aku percaya kok sama Juna."


mendengar itu, jelas membuat Aurel terperangah tak percaya, "Lo masih bisa bilang gini, setelah apa yang lo liat barusan??" Memberi jeda sejenak. "Duh! berarti bener nih dugaan gue, kalau perasaan cinta lo ke Juna itu udah luntur. Pantesan aja lo mutusin si Juna kemarin."


Gadis mengerutkan kening bingungnya. "Dari mana kamu tau? Juna yang bilang?"


"Duh! keceplosan kan gue." gumam Aurel dengan gerakan menepuk bibirnya pelan. Lalu melihat ke arah luar pintu gerbang sekolah---dimana supirnya itu sudah datang menjemput.


Dengan raut watadosnya, Aurel menggunakan itu sebagai alasan menghindari pertanyaan Gadis barusan. "Eh, Dis. Ka-kalau gitu gue duluan ya. Itu supir gue baru aja dateng buat ngejemput. hehe.. Bye!" Setelah mengatakan itu, barulah Aurel berlari kabur meninggalkan Gadis begitu saja.


Gadis menghela napas beratnya sesaat sembari membatin.


Juna kebiasaan banget sih. Apa-apa di ceritain sama Aurel.


Lalu merogoh saku, saat ponselnya tiba-tiba bergetar.


Dewa kegelapan


pulang sekolah nanti, langsung ke apartemen gue.


Awas aja kalau gak datang!


Gue tunggu!


"Ck! maunya apa sih tuh anak!"


****


[**BERSAMBUNG]


Jangan lupa buat pencet jempol guys.. buat penyemangat update kedepannya.


Makasih❤️**

__ADS_1


__ADS_2