Gadis Dewa

Gadis Dewa
bab 09


__ADS_3

**jangan lupa tekan jempolnya ^_^


*****


*****


Pada akhirnya, Dewa membawa Gadis ke sebuah apartemen pemberian almarhum mamanya. Sebuah apartemen yang sering ditinggali Dewa jika ia malas pulang ke rumah.


Dewa melirik Gadis saat sudah membuka pintu. Bermaksud menyuruhnya segera masuk lantaran Gadis hanya diam di tempat dengan tatapan kosong. "Ngapain bengong? Masuk!"


Gadis hanya diam, sedikitpun tak berani menatap Dewa. Lalu melangkah masuk dengan perasaan takut dan ragu yang masih menyelimuti diri.


Bagaimana jika Dewa memberitahu Juna siapa dia yang sebenarnya? Atau lebih parahnya, memberitahu satu sekolah mengenai profesinya yang sekarang?!


Ketakutannya jelas beralasan, mengingat bagaimana sikap Dewa selama ini terhadapnya.


Apa ini akhir dari segalanya??


"Tunggu disini." Dewa menyuruh Gadis menunggunya dikamar itu, sementara Dewa masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.


Gadis duduk diam. Menunggu dengan perasaan tidak tenang. Ini kedua kalinya Gadis merasa setakut ini. Rasa takut yang hampir sama ketika ia pertama kali di bawa ayahnya ke tempat mami dulu untuk melepas keperawanannya.


Terdengar bunyi gemericik air shower dikamar mandi, yang justru membuat jantung Gadis kian berdegup kencang.


Rasanya Gadis benar-benar ingin melarikan diri dari tempat itu. Tapi... bukannya itu hanya percuma dan tidak akan bisa langsung menyelesaikan masalahnya.


Sepertinya saat ini, gadis hanya bisa berharap jika Dewa bisa di ajaknya bicara baik-baik. Ya, walaupun kecil kemungkinan. Tapi Gadis akan mencobanya.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Dewa keluar juga dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Rambut dan tubuhnya nampak masih basah dengan handuk yang melilit pinggang.


Untuk sepersekian detik, Gadis dibuat terpaku diam akan tubuh Dewa yang begitu atletis. Apalagi dengan otot perut yang dimilikinya.


"Kenapa?" tanya Dewa, membuat Gadis tersentak dari kekagumannya. "Lo gak lagi bayangin kalau gue ini Juna kan?!"


Gadis menggeleng cepat dan mengalihkan pandangannya dari Dewa yang mulai mendekat.


"Kenapa lo masih pakai baju?" Tanya Dewa, dengan menyapukan pandangannya ke seluruh tubuh Gadis. Tatapannya itu mendadak terhenti di bagian paha putih Gadis yang terekspose bebas.


Gadis yang menyadari itu, merasa tidak nyaman dan segera menarik turun bajunya dengan paksa. Walaupun sebenarnya itu percuma, karena paha putih Gadis tetap dapat terlihat oleh Dewa.


"Lo malu?" tanya Dewa lagi. Namun Gadis masih tetap bungkam. Sedikit membuat Dewa menjadi kesal. pasalnya ia sangat tidak suka diabaikan seperti itu. "Ngomong dong! Diem aja lo. Bisu?!"


"Ah.. atau lo pengen gue yang bantu lepasin baju lo?" cetus Dewa yang kemudian duduk disamping Gadis⸺bersiap menarik resleting belakang bajunya.


Tentu saja Gadis menolak cepat dengan menggeser duduknya menjauhi Dewa. "Nggak perlu. Aku bisa sendiri."


"Ya udah. Buruan lepas. Gue nggak mau buang-buang waktu berharga gue."


Gadis tak mengindahkan ucapan Dewa, dan masih tetap diam diposisinya.


Dewa berdecak kesal. "Lo mau nguji kesabaran gue?!"


"A-aku mau batalin ini." lirih Gadis dengan terbata akibat rasa takutnya terhadap Dewa.


"Apa? batalin?" Dewa mengulang ucapan Gadis dengan ekspresi tak percayanya.


Gadis mengangguk cepat dan meminta maaf. "Maafin aku. Tapi, aku nggak bisa melakukan i-itu sama kamu, sementara kamu ini adalah---"


"Kembarannya Juna??" sahut Dewa cepat dan mendapat anggukan dari Gadis.


"Lo nolak pelanggan yang jelas-jelas mau bayar lo dua kali lipat, cuman karena alasan tai kayak gini?"


"Dewa, please.. jaga bicara kamu." pinta Gadis.


"Kenapa gue harus jaga bicara didepan cewek murahan kayak lo?!"


Deg!


"Cukup Dewa!" Gadis yang sudah tidak tahan dengan hinaan Dewa. Seketika berdiri dari duduknya. "Aku mau pulang!" Gadis melangkahkan satu kakinya dan tertahan ketika Dewa sudah lebih dulu mencekal tangannya dengan posisi berdiri.


"Lo gak bisa pulang, sebelum lo muasin gue!"


"Udah ku bilang kan, aku mau batalin ini!" kata Gadis, sembari terus berusaha melepas cekalan tangan Dewa ditangannya.

__ADS_1


"Lo nggak bisa asal batalin gitu aja, sementara gue udah kasih uang ke bos lo buat bawa lo ke sini."


"Ya udah, aku ganti uangnya."


"Gue gak mau!" kata Dewa bersikeras.


"Kalau gitu aku telfonin temenku buat gantiin aku disini. Dia lebih cantik dan berpengalaman dari pada aku. Dan.. di-dia lebih penurut."


"Lo budek ya?! gue bilang, gue.Gak.Mau.Titik!!" Dewa mengucapkannya penuh penekanan disetiap kata, berbarengan dengan netranya yang menajam marah sekaligus cekalan tangan yang kian menguat. Membuat Gadis meringis sakit.


"Sebenarnya tujuan kamu ngelakuin ini tuh apa? Aku mohon lepasin aku. Biarin aku pergi dari sini." Air mata Gadis mulai menggenang dipelupuk matanya.


"Lo boleh pergi, kalau Lo udah nurutin kemauan gue."


Gadis menggeleng. "Aku nggak bisa. Aku nggak mau hianatin Juna dengan melakukan itu sama kamu."


Mendengar perkataan konyol Gadis barusan, jelas membuat Dewa tergelak. "Apa? Gue gak salah denger? Lo gak mau ngelakuin itu sama gue karena gak mau hiantin Juna, sementara selama ini profesi Lo itu udah jelas-jelas hianatin dia." Dewa beralih mengapit pipi Gadis dan menarik ke arahnya. "Gue jadi pengen tau, gimana reaksi Juna kalau tau ceweknya ternyata seorang pelacur." Dewa tersenyum miring.


"Jadi itu tujuan kamu?! Kamu akan kasih tau dia yang sebenarnya?" Tanya Gadis dengan pandangan penuh benci terhadap Dewa.


"Tergantung." Jawab Dewa dengan senyum liciknya. "Kalau Lo bisa muasin gue malam ini. Mungkin... Gue akan pertimbangkan buat jadiin ini rahasia kita berdua."


"Kamu pikir aku percaya sama kamu?!"


"Emangnya Lo sekarang ada pilihan lain selain harus percaya sama gue?" Dewa berucap dengan nada menyebalkan.


Gadis menggertakkan giginya akibat kesal dengan Dewa. "Aku benci kamu! Seharusnya waktu itu aku gak nolongin kamu waktu dikeroyok anak-anak dari sekolah lain."


Tersenyum mengejek, "Sayangnya, penyesalan memang selalu datang belakangan." Cetus Dewa. Tangannya yang tadi menekan pipi Gadis, beralih turun memegang kedua bahu Gadis---memutarnya dan seketika mendorong tubuh itu jatuh menghempas ranjang besar di ruangan itu. "Cukup bicaranya. Sekarang waktunya kita senang-senang."


Dewa mengurung tubuh Gadis dibawahnya. Melepas paksa pakaian dengan cara merobeknya.


Gadis yang meronta minta dilepaskan berulangkali tak dihiraukan oleh Dewa.


"Dewa, lepasin aku! Jangan kayak gini! Aku mohon.." lirihnya dengan nada memelas. "Inget! Aku ini pacar kembaran kamu! Gak seharusnya kita kayak gini!" Ucap Gadis, saat Dewa berhasil melepas seluruh pakaian Gadis dan hanya menyisakan pakaian dalam saja.


"Justru karena Lo pacarnya Juna, gue mau lakuin ini."


"A-apa maksud kamu?"


Gadis merasakan hembusan napas Dewa menggelitik daun telinganya. Membuat bulu halus ditubuhnya berdiri akibat rangsangan sensitif yang diterimanya dari cowok itu.


Setidaknya Gadis masih memikirkan ucapan Dewa tadi yang mengatakan akan menjadikan ini rahasia mereka berdua jika ia berhasil memuaskannya malam ini. Dan gadis benar-benar berharap jika Dewa tidak akan ingkar dengan apa yang dikatakannya.


Gadis yang sudah pasrah dengan segala bentuk perlakuan Dewa, hanya diam saat tangan Dewa mulai melepas pengait branya.


Lalu saat sudah berhasil, Dewa membuang begitu saja bra tersebut asal ke lantai. Sejenak memandangi dua bukit indah itu dengan tatapan takjub⸺yang seketika memancing miliknya berdiri.


Dewa melepas handuk yang masih melilit pinggangnya. Menciumi kedua dada Gadis secara bergantian. Memberikan hisapan demi hisapan yang membuat Gadis melenguh mulai menikmati.


Dewa tersenyum miring, saat mendapati desahan Gadis lolos terdengar olehnya. Harus di akui Dewa, Gadis memiliki tubuh yang begitu indah. Bahkan sialnya lagi Dewa juga tidak bisa memungkiri kecantikan Gadis yang kian bertambah saat berada dalam keadaan terangsang seperti ini. membuatnya ikut terbuai oleh apa yang dilihatnya dan menjadikan dirinya begitu menikmati setiap pergerakan tangannya ditubuh Gadis.


Apalagi saat tangannya mulai menyusup dari balik benda berbentuk segitiga. Mengusap area sensitif itu dengan begitu lembut⸺yang lagi-lagi semakin membuat Gadis mendesah nikmat. Biarpun Gadis sudah berusaha menggigit bibir bawahnya, nyatanya desahan itu tetap saja tidak bisa ditahannya.


Dewa berhasil melepas benda segitiga yang menutupi ** Gadis. Ciumannya kian semakin turun ke bawah perut, lalu lebih turun lagi ke bawah dan terhenti, saat Gadis menahannya. "D-Dewa. Jangan! Kamu nggak boleh--- aahsshh.."


Dewa yang penasaran, nyatanya kian menggerakkan ciumannya lebih turun lagi tanpa memperdulikan perkataan Gadis yang melarangnya. Lidahnya menyapu area sensitif milik Gadis yang kini sudah mulai basah. Rasa dan aroma yang dimiliki Gadis menjadi hal baru bagi Dewa.


Semakin Dewa melumat milik Gadis, semakin Gadis mendesah dan melenguh tidak karuan. Apalagi saat Dewa tiba-tiba menyesapnya kuat-kuat. Gerakan Gadis malah kian semakin menjadi dengan punggung yang terangkat naik lalu kembali jatuh dengan napas tersengal naik turun.


"Dewa, udah. Berhenti." Karena Gadis tau dirinya akan menggila jika Dewa terus saja mempermainkannya seperti ini.


Dewa bangkit. Mengusap bibir basahnya oleh cairan milik Gadis. Menindih Gadis dan membuat wajah mereka kian semakin dekat dengan hidung yang sudah saling bersentuhan. "Lo yakin, mau gue berhenti?"


Entah apa yang difikirkan Gadis saat itu, sehingga Gadis hanya diam tak menjawab, saat Dewa melontarkan pertanyaan tersebut. Netra keduanya yang saling beradu, sejenak membuat keduanya kian semakin lupa dan terhanyut kedalam gairah malam yang melumpuhkan akal masing-masing.


Dan Gadis kian semakin dibuat terkejut saat Dewa menciumnya. Melumat bibirnya dengan lembut lalu berubah beringas dengan cepat, berbarengan dengan milik Dewa yang sudah masuk kedalam. Menyalurkan kenikmatan yang membuat keduanya lupa akan segalanya.


Malam itu, Dewa yang awalnya mengira akan bermain cepat, justru tidak menyangka jika ia bisa segila dan sebringas itu, karena berkali-kali melakukannya bahkan sampai membuat Gadis kelelahan.


****


Dewa membuka mata, saat terganggu oleh silau mentari yang mulai masuk dicelah gorden kamar apartemennya.

__ADS_1


Teringat akan kejadian semalam, Dewa seketika mencari-cari Gadis yang sudah tidak ada disana.


Kapan dia pergi? Batinnya heran.


Lalu melihat ke arah nakas, dimana beberapa lembar uang cukup banyak yang ditaruhnya disana masih ada dan tidak diambil Gadis sepeserpun. Padahal Dewa memang sengaja menaruh uang itu disana untuk Gadis. Tapi kenapa gadis malah tidak mengambilnya?


Dewa mengerutkan kening bingungnya. Lalu teringat akan pergumulan panasnya bersama Gadis semalaman penuh.


Benar-benar malam yang mungkin tidak akan bisa dilupakan Dewa begitu saja.


Desahan Gadis yang kian semakin memancing gairahnya dan menyulitkannya untuk berhenti malam itu, bahkan masih terngiang diingatan. Membuat miliknya lagi-lagi terbangun tanpa diminta. "Sial!" umpatnya.


Lalu segera menyibak selimut untuk memasuki kamar mandi.


Dewa berdiri didepan sebuah cermin persegi. Melihat ke arah punggungnya yang terasa perih. Disitu ia baru menyadari, rupanya rasa perih tersebut berasal dari cakaran Gadis yang mengerang ketika mencapai puncak kenikmatan bersamanya.


****


Ini sudah dua hari Gadis tidak masuk sekolah tanpa pemberitahuan. Hal itu jelas membuat Juna khawatir. Apalagi dengan Gadis yang tiba-tiba hilang tanpa kabar karena sulitnya ia menghubungi.


Entah kenapa Gadis sekarang jadi sering seperti ini. tiba-tiba menghilang tanpa kabar dan menjadi sulit untuk dihubungi. Waktu itu juga begitu.


Juna yang sudah berada didepan rumah Gadis, mencoba menghubungi Gadis. Berharap kali ini ponsel pacarnya itu telah aktif kembali.


Senyumnya mengembang, saat nada menyambungkan mulai terdengar. "Halo, Dis."


"Iya, Juna."


"Kamu dua hari ini kemana aja, kenapa sulit banget aku hubungi? Kamu.. sengaja ya matiin hape kamu. Kamu ngehindarin aku?"


Gadis sama sekali tidak menjawab dan hanya diam.


"Dis? Kok diem? Gadis?"


Tut tut tut!


Gadis mematikan panggilannya sepihak. Gadis benar-benar terlihat ketakutan. Ia takut jika Juna telah mengetahui semuanya. Mengenai profesinya selama ini sebagai gadis panggilan dari Dewa.


Entah kenapa Gadis sangat yakin jika Dewa pasti telah mengatakan semuanya pada Juna siapa dia yang sebenarnya.


Sementara Juna justru kebingungan dengan sikap Gadis yang tiba-tiba menjadi seperti ini.


"Kamu kenapa sih Dis, sebenarnya?" gumamnya, sembari kembali menelfon Gadis seperti tadi. Namun kali ini Gadis sama sekali tidak mengangkat dan hanya membiarkan panggilan tersebut.


Juna yang penasaran dengan perubahan sikap Gadis, lantas memutuskan untuk turun dari motor sportnya dan mengetuk pintu rumah Gadis berulang kali.


Ceklek!


Gadis benar-benar terkejut saat mendapati Juna yang mengetuk pintu. "Dis. Kamu---"


Belum sempat Juna berbicara, Gadis sudah lebih dulu menutup pintu rumahnya. Juna tidak membiarkannya begitu saja dan justru mengganjal pintu itu menggunakan kakinya. "Dis, kamu tuh sebenarnya kenapa? kenapa kamu tiba-tiba kayak gini?"


"Minggirin kaki kamu. aku mau nutup pintunya!" kata Gadis sembari masih berusaha agar pintu rumahnya dapat tertutup sempurna.


"Nggak! Sebelum kita bicara empat mata."


"Bicarain apa? gak ada yang perlu dibicarain!"


"Kamu tuh sebenarnya kenapa sih Dis? Kenapa tiba-tiba berubah sikap dan langsung nutup pintu waktu liat aku?! emangnya aku salah apa sama kamu??"


"Pergi, Juna! Pergi!!"


"Gak! Sebelum kamu jelasin ke aku, apa kesalahanku!"


"Kamu gak salah. Aku yang salah! jadi aku mohon kamu pergi sekarang juga dari sini!!" ucap Gadis dengan menahan tangis.


Brakk!!


Pintu berhasil terbuka sempurna. Nyatanya kekuatan Juna jauh lebih besar ketimbang Gadis.


"Aku, gak mau pergi sebelum kamu jelasin apa yang membuat sikap kamu jadi seperti ini ke aku!" ucap Juna penuh penekanan dengan netra menajam dan dada memburu naik turun akibat emosi yang coba ditahannya.


****

__ADS_1


[BERSAMBUNG]


__ADS_2