
Jangan lupa klik jempolnya sebagai asupan penyemangat update saya ^_^
****
"Ya udah ya Jun, gue balik ke Kelas duluan. Lo juga balik gih. Bentar Lagi kan mau masuk Kelas." Kata Aurel pada Juna, setelah kepergian Gadis yang tiba-tiba pamit ke toilet karena ingin buang air kecil.
"Bentar dulu." Juna mencoba menahannya.
"Apaan lagi?"
"Gue mau ngomong bentar sama Lo soal Gadis."
Aurel mengerutkan kening bingungnya. "Ngomongin apa emang? Kok muka Lo kayak serius gitu."
"Kemarin.. Gadis mutusin gue." Kata Juna tanpa basa-basi.
Jelas saja ucapan Juna barusan membuat Aurel terkejut dengan bola mata yang hampir saja keluar dari tempatnya. "What?? Serius Lo?"
Juna mengangguk membenarkan.
"Jadi, kalian berdua udah putus sekarang?"
"Enggak lah."
"Lah, tadi Lo bilang si Gadis mutusin Lo."
"Ya, tapi gue nya gak mau."
"Ini pasti Lo nya ada apa-apa kan di belakang?? Lo selingkuh kan? Iya kan? Ngaku Lo!" Tuduh Aurel seenak jidat dengan netra menyipit dan telunjuk terarah padanya.
"Gak lah! Buat apa gue selingkuh dari Gadis. Lo tau sendiri perjuangan gue dulu buat dapetin Gadis kayak gimana. Masak iya dengan bodohnya gue selingkuh dari dia. Gak mungkin lah."
"Terus, alasannya apa coba Gadis sampai bilang putus kalau Lo nya gak selingkuh?"
"Justru itu, gue mau nanya sama Lo, apa belakangan ini Lo pernah liat Gadis Deket sama siapa gitu. Maksud gue, cowok." Kata Juna ingin tau.
__ADS_1
"Bentar-bentar. Jadi sekarang lo nuduh Gadis yang selingkuh? Wah! Gue gak terima sahabat gue Lo tuduh sembarangan kayak gini. Gadis tuh bukan orang yang kayak gitu!" Yakin Aurel dengan sedikit kesal pada Juna.
"Gue gak nuduh Rel. Gue nanya. Ya, Lo kan temen deketnya. Gue cuman pengen tau aja apa Gadis diam-diam Deket Sama cowok lain tanpa sepengetahuan gue. Habisnya dia tiba-tiba minta putus pas hubungan kami lagi dalam keadaan baik-baik aja. Siapa yang gak curiga kalau kayak gitu." Jelas Juna panjang lebar.
"Ye.. itu sih namanya sama aja. Lagian nih ya, gue tau banget gimana Gadis, dia gak mungkin kayak gitu lah. Tapi.. kalau elo sih gue percaya. Apalagi fans-fans Lo disekolah ini tuh banyak gila."
"Fans apaan?! Emangnya gue artis."
"Kenyataannya emang gitu. Lo liat aja tuh si Sesil sama gengnya, suka banget ngejar-ngejar lo. Kadang gue juga pernah liat dia caper sama Lo. Sampai sekarang juga masih kan?!"
Juna diam. Karena memang apa yang dikatakan Aurel benar adanya. Sesil memang masih sering mendekatinya. Biarpun Juna berusaha menghindar, Sesil justru terlihat semakin blak-blakan mendekatinya. Padahal satu sekolah sudah banyak yang tau kalau dirinya sudah memiliki pacar, yaitu Gadis.
****
"Aku bilang lepas, Dewa!!" Gadis terpaksa mendorong tubuh Dewa menjauh darinya. Cowok itu benar-benar keras kepala. Gadis sudah mati-matian menolak dan menunjukkan sikap tidak sukanya pada Dewa yang tiba-tiba mencium lehernya, tapi tetap saja Dewa tidak mendengar dan lebih memilih mengacuhkan. Tetap menikmati perbuatannya biarpun Gadis meronta minta dilepaskan. "Kamu udah gila ya? Mau kamu tuh apa sih sebenarnya."
Dewa berdecih sinis. "Gak perlu sok jual mahal. Lo juga suka kan gue perlakuin kayak gini."
Gadis menatapnya nyalang. Benar-benar ingin sekali menamparnya. "Sakit jiwa!" dan pada akhirnya Gadis hanya bisa mengucapkan kata makian itu. Lalu menggerakkan kakinya pergi dengan tangan yang sudah membuka slot kunci.
"Ini udah mau masuk kelas. Minggir!" ucap Gadis berusaha bersikap berani, walaupun sebenarnya ia sangat ketakutan. Gadis tidak mengerti kenapa Dewa selalu saja mengusik kehidupannya seperti ini?!
"Woahh! Udah mulai berani ya lo sama gue." Dewa tersenyum meremehkan. "Kenapa mesti buru-buru. Lo bahkan belum bilang terimakasih sama gue." Dewa melepaskan tangan Gadis. Bersandar di pintu yang masih tertutup itu dengan gaya soknya.
Gadis mengerutkan kening penuh tanya. Karena jujur ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Dewa padanya.
Dewa memasang tampang kecewa yang dibuat-buat. "Aahh.. masak lo gak ngerti. Gue kan udah berbaik hati gak nyebarin mengenai siapa lo yang sebenarnya ke anak-anak satu sekolah. Termasuk ke cowok lo si Juna."
Gadis diam. Membenarkan apa yang dikatakan Dewa barusan. Biarpun begitu, entah kenapa Gadis sangat yakin jika Dewa memilki maksud lain dengan tidak mengatakannya pada Juna ataupun ke anak-anak satu sekolah, mengenai siapa dirinya yang sebenarnya.
"Aku gak perlu bilang terimakasih ke orang seperti kamu. Karena aku tau, kamu pasti punya maksud dan rencana licik lain dibalik itu semua."
"Hmm... ternyata lo pinter juga ya." Dewa tersenyum menyebalkan. Lalu menyinggung soal pergumulan panasnya bersama Gadis malam itu. "Gue gak nyangka, lo bisa semenyenangkan itu di atas ranjang. Gue jadi penasaran, apa si Juna juga udah pernah---"
"Juna, bukan cowok brengsek seperti kamu!"
__ADS_1
Dewa tersenyum, namun kemudian senyum itu sirna dan berubah cepat oleh kemarahan yang begitu jelas terlihat dikedua bola mata yang menajam terarah pada Gadis. Tangan Dewa bahkan sudah mencengkram bahu Gadis cukup kuat sembari mendorongnya ke dinding. Sumpah demi apapun, Dewa sangat tidak menyukai ucapan Gadis yang membanding-bandingkan dirinya dengan Juna. "Lo, gak tau apapun soal gue! Jadi mending lo diem dan jangan sok tau!!"
Tatapan tajam Dewa begitu mengintimidasinya. Membuat Gadis kian takut. ditambah lagi dengan rasa nyeri yang menjalar di bahu akibat mendapat cengkraman dari cowok itu. membuat Gadis sudah tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tidak terjatuh.
Dewa yang melihat itu, lantas mulai meredam amarah dengan melepas cengkramannya di bahu Gadis. Merogoh saku celana untuk mengambil beberapa lembar uang yang kemarin tidak dibawa gadis saat pergi meninggalkan apartemennya. Dewa memaksa Gadis menerima uang pemberiannya, "Buat lo."
Gadis yang terisak, lantas mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi. "Gak perlu." Mengembalikan uang itu lagi pada Dewa, yang kemudian dikembalikan Dewa lagi pada Gadis.
"Ini punya lo! hak lo! bayaran lo buat malam itu."
"Udah aku bilang, gak perlu!" kata Gadis, menaikkan nada bicaranya dan mengembalikan uang itu lagi pada Dewa. "Aku gak akan terima uang itu. Tapi aku mohon, jangan ganggu aku lagi. Anggap malam itu gak pernah terjadi antara kita."
Tersenyum miring, Dewa yang mengerti apa maksud Gadis, lantas berkata, "Jadi ceritanya, lo lagi nyuruh gue tutup mulut dengan ngasih gue pelayanan gratis malam itu?"
Gadis hanya diam tak menjawab dengan hati kesalnya terhadap sikap menyebalkan Dewa saat ini.
Dewa mendekat, membisikkan sesuatu ditelinga Gadis, "Sayangnya, gue ini bukan orang yang pinter jaga rahasia." Lalu menjauhkan diri menjaga jarak dari Gadis dengan satu tangan yang dimasukkan ke saku celana, "Kecuali..."
"Apa?"
"Lo nurutin apapun keinginan gue." kata Dewa, yang seketika membuat ekspresi Gadis berubah kian kesal.
"Jangan harap!" ujar Gadis menolaknya cepat. Karena Gadis tau jika Dewa pasti akan meminta hal yang aneh-aneh padanya.
"Tapi, gue yakin lo gak akan nolak setelah lo ngeliat ini." Dewa merogoh saku. Mengambil ponsel dan menunjukkan beberapa foto telanjang Gadis, tepat didepan matanya dengan senyum iblisnya.
"Kamu....!" Deru napas Gadis mulai memburu akibat amarahnya sendiri. "Bener-bener licik! Aku makin benci sama kamu!"
Dewa tidak perduli denga ucapan Gadis, dia hanya perduli, jika gadis mulai sekarang tidak akan bisa lepas dengan mudah darinya. Dan Dewa, akan menggunakan itu untuk membuat Juna merasa kalah darinya.
Permainannya baru saja dimulai.
****
[BERSAMBUNG]
__ADS_1