Gadis Dewa

Gadis Dewa
bab 15


__ADS_3

klik like 😘


****


Minggu pagi, Selalu dimanfaatkan Juna dengan berolah raga. Lari mengelilingi kompleks beberapa putaran, dan membuat tubuhnya berkeringat benar-benar hal yang sudah biasa untuknya.


Tak heran jika Juna memiliki tubuh atletis diusia remajanya. Otot perut dan kaki yang terbentuk sempurna, sanggup membuat para wanita yang melihatnya kesulitan untuk berkedip dan sesak napas disaat itu juga.


Biasanya Juna hanya menghabiskan waktu lari paginya sekitar satu jam-an saja dengan ditemani earphone yang tertancap di kedua telinganya. Namun kali ini, sudah dua jam-an Juna masih saja berlari dan belum berniat untuk menyudahi.


Keringat yang sudah mengucur deras diabaikannya. Pikirannya melayang jauh akan sosok Gadis yang semalaman sungguh sulit dihubunginya. Sampai-sampai Juna mendatangi rumahnya dan bertatap muka langsung dengan ayah Gadis yang mengusirnya dan bilang jika Gadis tidak dirumah dan tengah bekerja.


Kerja?


Juna bahkan tidak tau jika gadis bekerja.


Separah itukah perekonomian mereka??


Semalaman Juna tidak bisa tidur memikirkan itu semua. Apalagi Juna juga menyesal karena waktu itu dia tidak mendengar penjelasan Gadis dan lebih memilih untuk pergi mengabaikannya layaknya anak kecil.


Kemarin saat pulang sekolah, Juna sudah berniat meminta maaf pada Gadis akan sikapnya yang kekanakan itu. Juna juga menunggunya sepulang sekolah seperti biasa. Namun saat sedang menunggu, Sesil datang dan bilang jika ia melihat Gadis sudah pulang lebih dulu bersama teman dekatnya Aurel.


Juna percaya begitu saja dan sudah berniat pulang lebih dulu. Tapi waktu itu, Sesil tiba-tiba menahan dan meminta bantuannya untuk mengantarkannya pulang ke rumah dengan alasan supir yang biasa ditugaskan untuk menjemputnya tengah bermasalah dengan mobil yang dikendarainya. Sehingga membuatnya akan telat untuk menjemput.


Dengan setengah terpaksa, Juna akhirnya mengiyakan dan benar-benar mengantarkannya pulang ke rumah.


Dan sesampainya dirumah, Juna yang tidak ingin terlalu lama marahan dengan Gadis, akhirnya menghubungi sang pacar dan harus menelan kekecewaan lantaran panggilannya itu hanya di jawab oleh suara operator.


Juna menghela napas berat. Dia benar-benar merindukan Gadis dan berharap saat ini bisa mendengar suaranya.


Sebuah panggilan masuk membuatnya menghentikan langkah larinya.


"Halo, Dis?" Juna menjawab telfon tanpa melihat sang pemilik nama. Dia berfikir Gadislah yang telah menelfonnya. Tapi ternyata bukan.


"Dis? Ini papa. Kamu dimana Jun?" kata sang ayah di seberang telfon. Menanyakan keberadaan Juna yang tidak berada dirumah pagi-pagi.


Nampak jelas raut kecewa Juna saat tau jika bukan Gadisnya yang menelfon. "Oh, papa. Juna lagi lari pagi di sekitaran kompleks rumah."


"Ini sudah jam berapa? Buruan pulang, bibik sudah siapin makanan buat kamu. papa tunggu."


"Iya pah. Juna pulang sekarang." Tut. Juna mematikan panggilan. Lalu dengan berat hati menuruti apa kata ayahnya itu.


Sesampainya dirumah, Juna lebih dulu membersihkan dirinya dari keringat dengan cara mandi dan barulah setelah itu makan.


Dia makan bersama ayahnya dimeja tersebut.


Biasanya jika hari Minggu begini, ayahnya lebih sering menghabiskan waktunya dirumah seharian.


Juna makan dalam diam. Hanya terdengar dentingan piring dan garpu yang saling berbenturan dimeja itu.


Lalu tiba-tiba sang ayah memulai perbincangan, menanyakan tentang kembarannya.


Dewa.


"Dewa semalam tidak pulang lagi?"


"Setau Juna. Enggak pah..."


Krisna menghela napas lelah akan sikap Dewa yang makin hari makin tidak bisa diatur. "Anak itu, selalu saja seperti ini. Padahal papa sudah bilang berulang kali buat tidur dirumah. Ini punya apartemen sendiri malah tambah gak bisa diatur."


"Jadi Dewa tidur di apartemen pah?" Tanya Juna ingin tau.


"Ya. Seperti biasa. Papa gak habis pikir sama Dewa. Kalau dia seperti ini terus, papa gak yakin dia bakalan lulus tahun ini." Krisna bermonolog.

__ADS_1


"Walaupun papa pemilik sekolah itu, bukan berarti dia bisa sesantai ini dengan nilai-nilainya disekolah." Helaan napas berat itu kembali dilakukan Krisna akibat terlalu lelah dengan sikap Dewa yang sungguh sulit diatur itu. "Sebenarnya apa yang dilakukan Dewa diluar sana? Pengeluaran uang yang dilakukannya akhir-akhir ini bahkan jauh lebih besar dari biasanya."


"Apa perlu Juna nyamperin dia di apartemennya sekarang, Pah?"


Krisna bertanya balik. "Kamu gak keberatan?"


"Kalau itu bisa buat papa tenang. Nanti Juna akan usahain bawa dia pulang."


"Yah.. Kalau gitu sehabis makan kamu kesana. Bilang sama Dewa, papa mau bicara dengannya empat mata."


Karena memang ponsel Dewa sangat sulit untuk dihubungi. Itu bukan hal baru lagi bagi Krisna. Dewa memang selalu seperti itu. Dan itu adalah kebiasana buruk Dewa yang paling tidak disukai krisna.


Juna mengangguk faham. "Iya pah." Lalu segera menghabiskan makanannya untuk kemudian pergi menemui Dewa di apartemennya.


****


Gadis yang terlelap. akhirnya membuka mata akibat silau cahaya yang masuk dari balik celah gorden apartemen tersebut.


Merenggangkan otot-otot tubuhnya, ia lantas terdiam--berusaha mengenali dimana dia berada saat ini.


Gadis baru ingat, jika dirinya tengah berada di apartemen Dewa dari semalaman.


Saat Gadis menggerakkan tubuhnya untuk beranjak dari ranjang dan berniat pergi, ia mendapati kesulitan lantaran ada sebuah tangan yang masih setia melingkar di perutnya dengan begitu erat dari belakang.


Berusaha melepaskan diri, Gadis terlihat kesulitan melakukan itu. Dewa benar-benar erat memeluk sampai membuatnya kesulitan untuk bergerak.


"Mau kabur?"


Gadis yang tadinya bergerak-gerak berusaha melepaskan tangan Dewa diperutnya, mendadak terhenti saat mendengar suara cowok itu.


"Aku mau pulang. lepasin aku, Dewa." Pinta Gadis dengan kembali melakukan hal yang sama yakni berusaha melepaskan pelukan tangan Dewa di perutnya.


Bukannya melakukan apa yang dimintanya, Dewa justru semakin erat memeluk, bahkan cowok itu juga mendekat dan menenggelamkan wajahnya diceruk leher Gadis dengan berucap, "Tunggu satu jam lagi. Gue masih ngantuk."


Gadis berusaha mengabaikan hal itu, dan kembali berkata, "Kamu bisa lanjutin tidur kalau memang masih ngantuk. Tapi tolong lepaskan aku, Dewa. Aku mau pulang kerumahku."


Dewa berusaha tidak perduli dengan cara tidak menaggapi ucapan Gadis barusan dan tetap memejamkan matanya rapat--berusaha kembali meneruskan tidurnya yang sempat terusik.


Tubuh telanjang mereka terasa hangat dibawah selimut itu. Bahkan Gadis bisa merasakan milik Dewa yang tiba-tiba mengeras menyentuh kulit area belakangnya.


"Dewa! kamu dengerin aku gak sih?! lepasin aku!" Gadis berkata dengan nada mulai meninggi. "Aku harus pulang!"


"Berisik!!" bentak Dewa mulai kesal, namun tetap diposisi yang masih sama. "Gue bilang kan bentar. Tunggu satu jam lagi!"


"Kamu gak bisa seenaknya kayak gini. Lagian waktu kamu sama aku juga udah habis. Jadi, lepasin aku! Biarin aku pergi!" teriak Gadis, masih tetap meminta hal yang sama pada Dewa.


"Lo gak perlu khawatir soal uang. Gue bakal kasih lo lebih hari ini."


Mendengar itu, membuat Gadis menggertakkan giginya kesal akan ucapan yang menurutnya terdengar sombong. Lalu berusaha meredam amarah dan menolaknya cepat. "Nggak perlu. Aku bukan cewek yang gila akan uang."


"Gue kan gak ngatain lo gila uang." Cetus Dewa, sembari mulai melonggarkan pelukannya di pinggang Gadis.


Tersentak. Gadis benar-benar dibuat terkejut saat tangan Dewa mendadak naik dan memberikan sebuah remasan pelan di dada kirinya yang menggantung bebas.


Tidak hanya itu, gadis yang belum sempat melayangkan protesnya, kembali kaget saat Dewa menggigit telinga kirinya dan membuat bulu halus di seluruh tubuhnya terbangun akibat rangsangan kecil yang diberikan Dewa padanya. "Lagian, kenapa lo harus buru-buru pulang? Apa lo gak pengen ngulang kejadian semalam, hmm?"


Dewa mencium bawah telinga Gadis dengan begitu lembut. Lalu berucap sesuatu di dekat daun telinganya, "Apa lo inget? semalaman kita ngelakuin itu, dan lo berkali-kali neriakin nama gue. Minta supaya gue gak berhenti."


Gadis terdiam mendengar itu. Sumpah demi apapun, Gadis hanya bisa mengingat kejadian semalam dengan samar-samar.


Tapi yang harus diakui Gadis, Dewa memang sangat luar biasa saat sedang diatas ranjang. Dewa bukan tipikal cowok egois dan hanya memikirkan kenikmatan diri sendiri saja.


Dewa berbeda dari kebanyakan pelanggannya yang lain.

__ADS_1


"Kenapa diem??" Tanya Dewa, akan keterdiamn Gadis yang tiba-tiba seperti ini. "Jangan bilang, lo beneran lupa dengan kejadian semalam??"


Gadis yang malu, seketika menyingkirkan tangan Dewa di perutnya, "Aku gak inget." Jawabnya ketus, sembari merubah posisinya menjadi duduk tanpa melepas selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya.


Dewa tak percaya mendengar itu. Bagaimana mungkin Gadis tidak ingat sedikitpun dengan pergumulan panas yang keduanya lakukan semalaman penuh?! Dewa sendiri bahkan bisa mengingat dengan jelas bagaimana Gadis meneriakkan namanya saat sedang mencapai puncak kenikmatan.


Dan entah kenapa, Dewa sangat menyukai itu.


Gadis melirik Dewa, mendapati raut kesal diwajah cowok itu. Berusaha tidak perduli, Gadis lantas mengamati sekeliling--mencari dimana Dewa membuang bajunya.


Lalu ia terperangah, saat melihat bajunya yang sudah teronggok dengan keadaan robek disana sini.


"Kamu ngerobek baju aku lagi??" tanya Gadis dengan raut kesal yang jelas terlihat diwajahnya. Gadis benar-benar tidak habis fikir dengan Dewa. Apa cowok itu tidak bisa dengan sabar membuka pakaiannya, saat tengah melakukan itu.


Ini bahkan sudah kedua kalinya Dewa merobek bajunya. Waktu itu juga begitu, membuat Gadis terpaksa harus pulang dengan mengenakan pakaian Dewa yang terdapat dilemarinya.


"Terpaksa." Jawab Dewa singkat.


"Apa? Terpaksa kamu bilang?!" Ulang Gadis, tak percaya dengan wajah marahnya.


"Cuman baju doang. Bisa gue ganti sepuluh macam model baju yang sama kalau lo mau."


"Ini bukan masalah gantinya. Tapi gimana nanti aku pulangnya, Dewa? Masak aku mesti pakai baju kamu lagi!"


"Ya... kalau lo mau telanjang, juga gak papa. Gue gak bakalan repot ngelarang kok." Jawab Dewa, dengan raut watadosnya. Membuat Gadis kian semakin kesal dibuatnya.


Gadis hanya mengepalkan tangannya kesal. Lalu menarik selimut yang sebagian tertindih oleh tubuh Dewa. Bermaksud menggunakan selimut itu sebagai penutup tubuhnya saat ia berjalan mengambil pakaian dilemari Dewa. "Selimutnya, Dewa!"


"Apa?"


Gadis memutar bola mata. "Aku mau ambil baju."


"Ya udah, ambil aja."


"Tapi selimutnya mau aku pakai buat nutupin tubuhku. Aku gak mau telanjang didepan kamu."


Dewa tersenyum. Senyum yang jelas sekali tengah mengejeknya. "Bukannya semalaman kita udah telanjang dan saling liat punya masing-masing ya?! Kenapa lo sekarang mendadak jadi malu-malu meong begini?!"


Pipi Gadis bersemu, mengingat itu. Namun juga bercampur rasa kesal bersamaan. "Gak lucu!"


"Memangnya siapa yang lagi ngelawak?!" Balas Dewa dengan nada menyebalkan menurut Gadis.


Gadis berusaha tidak perduli dan kembali menarik selimut yang masih ditindih Dewa. Memintanya menyingkir dan membiarkan selimut itu ia gunakan.


Untungnya kali ini Dewa tidak mendebat ucapannya dan menuruti apa yang dikatakannya.


Saat keduanya sudah ama-sama berpakaian, Dewa mendekati Gadis yang tengah sibuk mengikat rambutnya menjadi ekor kuda. Memeluk tubuh Gadis yang berdiri di depan cermin dengan tangan terselip di saku hoodie yang dikenakan Gadis saat ini. "Jangan lupa bawa uangnya." Bisik Dewa didekat telinga Gadis. rupanya Dewa tengah menaruh beberapa lembar uang di saku tersebut. "Gue Yakin, lo pasti ngebutuhin banget uang ini."


Gadis sama sekali tak menjawab dan hanya diam. Menatap Dewa yang tengah memeluknya dari pantulan cermin didepannya. Ada rasa risih dan nyaman yang terselip bersamaan di pelukan Dewa saat ini.


Lalu kemudian, suara ketukan pintu sekaligus panggilan nama dari suara yang cukup femiliar oleh keduanya, membuat pelukan Dewa terlepas dan pandangan keduanya saling bertumbuk menjadi satu.


"Dewa! ini gue Juna, buka pintunya dan biarin gue masuk kedalam!"


DEG!


Dewa dengan cepat menangkap raut pucat diwajah Gadis saat ini.


Raut pucat yang menyiratkan sebuah ketakutan yang entah kenapa justru membuat hati Dewa terasa sesak didetik itu juga.


****


[BERSAMBUNG]

__ADS_1


__ADS_2