
Klik like sebelum membaca guys...
*****
Saat ini, Dewa dan ketiga temannya tengah berada di sebuah warung nasi Padang yang letaknya diluar tak jauh dari sekolahnya.
Tentu saja mereka sudah sering melakukan ini. Menyelinap diam-diam saat jam istirahat bukanlah hal baru bagi mereka.
Selain mereka dapat menikmati makanan enak yang dijual diluar sekolah, mereka juga dapat menikmati hisapan rokok tanpa takut ketahuan oleh guru disekolah.
"Si Rama ngeboker aja lama banget. Heran. Atau jangan-jangan.. dia cuman alasan lagi, biar gak jadi traktir kita." Celetuk Bastian, saat baru selesai menghabiskan nasi Padang miliknya, dan kini mulai meminum minumannya.
Memang tadi, saat mereka akan menyelinap keluar sekolah bersama, Rama tiba-tiba bermasalah dengan perutnya dan akhirnya menyuruh ke empat temannya itu untuk lebih dulu pergi. Sementara nanti Rama akan menyusul setelah ia menyelesaikan panggilan alamnya.
"Tungguin aja. Entar lagi juga datang tuh anak." Sahut Gerry, tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan dari game di ponselnya.
"Tau. Lo itu sama temen sendiri jangan suudzon gitu. Gak baik." Ujar Edo mengingatkan.
"Noh. Dengerin apa kata pak ustadz selamet." Celetuk Gerry, dengan pandangan yang masih serius mengarah pada game di benda persegi miliknya.
"Kampret! Udah berapa kali gue bilang, jangan panggil nama depan gue selamet!" Kesal Edo, yang memiliki nama panjang Selamet Edo Setiawan. Dia memang tidak suka jika teman-temannya itu mulai melayangkan candaan apalagi sengaja memanggil nama depannya seperti itu.
"Njir! Si tai, gak usah pakek nendang kaki gue juga bego!" Protes Gery, saat Edo dengan sengaja menendang kakinya dari bawah kolong meja. "Lagian, Selamet kan emang nama depan Lo. Emangnya Lo udah ganti nama depan?" Lanjutnya ikut kesal.
Bastian yang sedari tadi memperhatikan terkikik geli. Sementara Dewa menggeleng pelan melihat tingkah dua sahabatnya itu.
"Guys! Ada good news yang cukup menggemparkan di sekolah kita." Rama tiba-tiba datang membawa sebuah berita yang menurutnya seru untuk dibagikan pada teman-temannya yang lain.
"Apaan lo, udah datangnya lama banget. Sekarang mau bikin gosip kayak emak-emak lagi. Tuh! bayarin dulu makanan yang kita makan. Lo kan janji kemarin mau traktir kita." Bastian mengingatkan, kalau saja Rama lupa.
"Ah elah! iya-iya tenang aja. Gue yang bakalan bayar makanan lo semua." katanya mengiyakan. "Tapi sebelum itu, kalian mesti liat ini." Rama mulai mengeluarkan ponsel dan membuka sebuah video yang baru saja diambilnya diam-diam.
"Apaan nyet? lo mau ngasih liat kita video bokep?" cetus Gerry, saat Rama ternyata salah membuka video yang dimaksud, dan malah yang keluar adalah video uh ah, uh ah koleksinya.
"Ya ela... video kek gitu mah, gue udah punya di hape gue. Nggak perlu lo kasih liat juga, gue udah liat berualang kali." kata Edo penuh pengakuan tingkat tinggi. Dan membuat Gery serta Bastian menggeleng pelan.
"Aduh! bukan video ini yang gue maksud!" Rama kembali merebut ponsel yang dipegang teman-temannya itu. Dan kembali membuka video yang dimaksudnya.
Sebuah video keributan kecil yang terjadi di kantin tadi antara Gadis, Aurel, Juna dan juga Sesil.
"Nih! Video ini yang gue mau kasih liat ke kalian." kata Rama memberitahu, lalu mulai menceritakan sedikit yang dilihatnya tadi di kantin. "Jadi Ternyata, si Gadis sama si Juna udah putus!"
Berbeda dengan teman-temannya yang terkejut, Dewa justru sama sekali tidak terkejut, lantaran ia sudah tau lebih dulu mengenai hal itu, ketimbang teman-temannya yang lain.
Jadi Dewa tidak sedikitpun tertarik untuk melihat video yang kini masih di tonton teman-temannya yang lain.
"Buset dah, wa! kembaran lo itu sadis juga. Baru aja putus dari si Gadis, dia udah dapetin yang baru. Yang kayak Sesil lagi." Komentar Gery, tanpa mengalihkan pandangan dari video yang masih terputar itu.
"Apa maksud lo?" Dewa yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya, mendadak beralih fokus saat mendengar perkataan yang dilontarkan Gerry barusan.
"Lo liat aja sendiri." Gerry memperlihatkan video itu pada Dewa. Menyuruh Dewa agar menontonnya sampai habis.
Disitu, Dewa terdiam. Apalagi saat melihat bagaimana ekspresi Gadis, saat Juna mengatakan jika dia dan Sesil sudah jadian.
Entah apa yang di pikirkannya, tidak ada satupun temannya disana yang tau.
****
Sampai pada saat pulang sekolahpun. Gadis masih saja memikirkan hal ini. Mengenai pernyataan Juna yang mengatakan jika dia dan Sesil sudah menjalin hubungan.
"Dis, lo beneran nggak papa, kalau gue pulang duluan?" tegur Aurel, saat melihat Gadis melangkah dengan pandangan kosong kedepan.
"Iya, nggak papa. Kamu duluan aja. Kasian supir kamu, kalau kelamaan nunggu."
Aurel menghela napas berat. Sedikit merasa bersalah juga dengan kejadian saat di kantin tadi. Seharusnya ia tidak mencecar Juna seperti itu. Berkat dirinyalah, sepanjang pelajaran tadi Gadis banyak diam melamun, ketimbang memperhatikan pelajaran yang berlangsung.
"Dis, maafin gue ya. Harusnya gue nggak perlu---"
"Aku nggak papa kok Rel. Beneran." potong Gadis cepat, saat mengerti arah pembicaraan Aurel.
"Tapi kan.. karena gue, lo jadi---"
"Jadi tau soal hubungan Juna dan Sesil??" Lagi-lagi Gadis menyela ucapannya. "Bukannya itu lebih baik?! aku justru makasih ke kamu. Berkat kamu, aku jadi punya motifasi kuat buat lupain Juna."
"Lo nggak perlu bersikap sok kuat didepan gue. Kalau lo butuh temen curhat, gue siap kapanpun buat dengerin."
Gadis mengangguk dengan senyum mengembang paksa. Kalau saja Gadis bisa menceritakan semuanya pada Aurel, mungkin beban hatinya akan sedikit terangkat.
Tapi... bukannya itu hanya akan membuat Aurel membencinya, jika tau seseorang yang ia anggap sahabat selama ini, nyatanya hanyalah seorang perempuan kotor yang biasa di booking om-om hidung belang untuk memuaskan nafsu sesaat.
Gadis tersenyum melambaikan tangan, saat Aurel berlari meninggalkannya dengan terburu.
Juna yang baru saja melewatinya pun, disadari oleh Gadis.
Tanpa berpikir, Gadis menyusul Juna yang sudah beberapa langkah didepannya. Entah kenapa... Gadis masih saja tidak mempercayai pengakuan Juna saat di kantin tadi mengenai dia dan sesil.
Gadis hanya ingin.... memastikanya sendiri. dan ini untuk yang kesekian kali. Gadis juga ingin meminta maaf langsung pada Juna, Karena selama ini sudah membohonginya dengan menyembunyikan siapa dirinya yag sebenarnya.
"Juna!" gadis menghentikan Juna, dengan menahan lengannya. Tapi itu hanya sebentar, karena Juna sudah dengan cepat melepasnya kasar.
"Apa?" Tanya Juna dengan wajah dinginnya.
Sikap Juna yang sekarang, memang begitu berbeda dengan sikapnya yang kemarin-kemarin, saat masih berstatus pacar. Juna terlihat lebih seperti orang lain di mata Gadis. Apalagi dengan sikap Juna yang dingin dan terkesan kasar padanya. Ditambah lagi dengan sorot mata Juna yang selalu memancarkan kebencian saat menatap Gadis.
Benar-benar....
Gadis baru memahami sesuatu, Jika seseorang yang dulunya pernah menyayanginya dengan begitu tulus, nyatanya orang itu bisa juga berubah secepat ini menjadi orang asing. Dan itu semua karena sebuah satu kesalahan yang memang disadari Gadis tingkat kefatalannya.
__ADS_1
"A-aku... cuman mau mastiin sendiri soal hubungan kamu sa-sama Sesil. jadi... apa yang kamu katakan dikantin itu, benar?" sumpah demi apapun, raut wajah Gadis saat ini terlihat begitu menyedihkan.
"Iya."
Netra Gadis tiba-tiba memanas saat mendengar Juna hanya mengatakan satu kata yang cukup membuat hatinya tersayat perih.
Senyum tipis dibibirnya tersungging paksa. "Segitu cepatnya kamu ngelupain aku, Jun.."
"Kenapa enggak?! Bukannya memang harus begitu. Buat apa aku harus lama-lama sakit, cuman karena..." Juna menggantung sejenak kalimatnya. Lalu kembali melanjutkan.
"....Cewek yang menjijikkan kayak kamu." kata Juna, melanjutkan kalimat penuh penekanan.
Luka sayat di hati Gadis kian menganga. Tapi apa yang dikatakan Juna barusan memang benar. Dirinya memang menjijikkan. Sangat amat menjijikkan.
"Maafin aku, Karena udah bikin kamu kecewa, dan---"
"Kata maaf memang gampang buat dikatakan. tapi rasa sakit yang udah kamu buat nggak akan bisa hilang gitu aja, Dis!"
"Aku tau, mangkanya aku minta maaf sama kamu, Jun. Aku... juga terpaksa kerja seperti itu karena---"
"Butuh uang kan??" potong Juna cepat. "Dis, didunia ini masih banyak pekerjaan yang lebih baik dari pada pekerjaan yang menjijikkan seperti itu. Tapi memang dasarnya kamu aja yang maunya enak dan gak mau susah."
"....Aku fikir kamu itu berbeda dari cewek lain yang selama ini aku kenal. Gak taunya, kamu malah lebih buruk dari mereka!"
"..... Bisa-bisanya kamu mau melakukan pekerjaan kotor kayak gitu, hanya untuk beberapa uang yang nilainya gak seberapa. Semua itu buat apa Dis?? buat seneng-seneng doang kan? iya kan?!"
"Kamu salah! uang itu buat---"
"Udahlah! Nggak perlu jelasin apapun. Aku udah cukup tau gimana kamu yang sebenarnya. Dan aku.... benar-benar nyesel udah kenal kamu."
Juna pergi. Meninggalkan lara di hati Gadis, tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.
Kamu salah, Juna. Seandainya kamu tau, uang yang kamu bilang gak seberapa itu, begitu berarti buatku...
Tanpa sadar air mata Gadis menetes jatuh tanpa bisa dicegah.
Kenapa hidupnya harus semenyedihkan ini?
Sementara dari kejauhan, Gadis tidak tau jika sudah ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya cukup lama.
*****
-Minimarket-
Gadis memasuki minimarket yang jaraknya bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki dari sekolahnya.
Entah kenapa, disaat hatinya tengah kacau seperti ini, Gadis teringat akan perkataan ibunya saat ia masih kecil dulu.
Ibunya pernah bilang, jika makan es krim bisa membuat suasana hati yang tadinya kacau bisa menjadi sedikit membaik. Gadis masih mengingat betul hal itu, dan ia selalu memakan es krim saat hatinya dalam suasana yang tidak baik.
Biasanya sih itu berhasil. Gadis berharap kali ini juga begitu.
"Gue juga ambilin satu." suara seorang cowok disampingnya itu, hampir saja membuatnya terlonjak kaget.
"Dewa!" kata Gadis, dengan satu tangan memegangi debaran jantungnya akibat terkejut.
"Apa?? gue bilang, gue juga ambilin satu."
Dengan tangan yang masih memegangi debaran jantungnya, Gadis menjawab kesal. "Ambil aja sendiri." katanya, lalu pergi ke kasir untuk membayar es krim yang diambilnya tadi.
Dewa bernapas kasar. Lalu mengambil es krim secara asal dan bergegas ke kasir.
"Totalnya jadi tujuh ribu." Kata mbak-mbak kasir memberitahu harga es krim yang diambil Gadis.
"Ini harganya juga sama?" Dewa menunjukkan es krim yang diambilnya pada sang kasir, dan mendapat anggukan. "Kalau gitu sekalian sama punyanya dia." kata Dewa, dengan menggerakkan dagu menunjuk Gadis di sampingnya, yang masih terlihat sibuk mengambil uang didalam tas.
sementara Dewa sudah membayarkan es krim yang mereka beli, dan begitu saja pergi meninggalkan minimarket tersebut.
"Ini mbak." Gadis menaruh uang pas tujuh ribu itu diatas meja kasir.
"Tapi tadi udah dibayar sama temannya."
"Hah? teman? siapa ya mbak?"
"Cowok yang tadi pakai seragam sekolah juga."
Gadis yang mengerti, seketika mengambil uang dengan cepat, dan segera menyusul Dewa yang masih terlihat diluar minimarket--tengah memakai helm dan bersiap pergi.
"Dewa! Ini uang kamu. Aku balikin." Gadis menyodorkan uang miliknya yang hendak ia bayarkan tadi, Namun Dewa belum juga menerimanya.
"Ambil! Aku mau bayar sendiri es krimku yang tadi." kata Gadis, berharap Dewa akan mengambil uang tersebut.
"Gak usah." Kata Dewa, sembari memutar balik motornya bersiap menyebrang jalan meninggalkan tempat itu.
"kenapa? lagian aku punya uang kok buat beli. Kamu fikir tadi aku gak ada uang ya?"
"Gue kan gak bilang gitu."
"Tapi aku ngerasanya kayak gitu."
Dewa benar-benar tidak habis fikir dengan Gadis, hanya tinggal menerima pemberiannya saja susah. Lagipula, dia kan memang sengaja membelikan es krim itu buatnya. Kenapa malah sekarang kekeh buat balikin uang es krim padanya?
"Ya udah terserah." Cetus Dewa tidak ingin memperpanjang.
Dengan acuh, Dewa mulai menstater motor, tanpa sedikitpun memperdulikan Gadis yang terus menerus menyuruhnya untuk mengambil uang tersebut.
Lalu didetik itu, Segerombolan motor datang dan berhenti di halaman minimarket--tepat di dekat mereka.
__ADS_1
Salah seorang terlihat membuka helm dan turun mendekati Gadis.
Sementara Dewa yang masih mengenakan pelindung kepala itu, terlihat mencuramkan alis saat mengenali siapa mereka, apalagi dengan sosok Kristian yang kini mendekati Gadis.
Siapa ya? kok kayak pernah kenal.
Batin gadis penuh tanya, lalu ia melebarkan mata saat mengingat siapa cowok itu.
"Hai..." Sapa Kristian, saat tepat berada didepan Gadis.
"Kamu kan... yang waktu itu---"
"Jadi lo masih inget gue? Bagus kalau gitu."
"Ada apa ya, kok kamu nyamperin aku ke sini?" tanya Gadis ragu-ragu.
"Gak. tadi gue gak sengaja lewat. Terus gue liat lo kayak kenal gitu. Ya udah gue samperin. Gak taunya emang beneran elo." Kristian mengembangkan senyum senang di bibirnya.
"Terus, tujuan kamu nyamperin aku?" Tanya Gadis dengan langkah kaki tergerak mundur ke belakang. Sementara Dewa masih memperhatikan dan berdiam diri diatas motornya, sembari kembali mematikan mesin.
Menunggu dan mendengar, apa yang sebenarnya di inginkan musuhnya itu dari Gadis.
"Gue pengen booking lo entar malam. Bisa?"
"Dia udah sama gue." Dewa tiba-tiba menyahut dengan membuka helm dikepalanya. menatapnya nyalang penuh amarah didalam diri.
Kristian menaikkan satu alisnya mengejek ke arah Dewa. "Jadi lo dari tadi nguping disitu?"
Dewa tidak menjawab dan hanya diam dengan meludah kasar tepat di bawah kaki Kristian, lalu kembali menatap nyalang Kristian seperti tadi.
Kristian mengepalkan tangannya kuat-kuat atas sikap Dewa yang secara terang-terangan terlihat jelas ingin mencari gara-gara dengannya.
Masih memiliki sedikit kewarasan dan mengingat jika sekarang ia sedang berada di tempat umum, Kristian memilih menahan diri untuk tidak dengan mudah terpancing emosi.
"Bener apa yang dia bilang barusan?" Tanya Kris, memastikan sendiri pada Gadis.
Gadis menatap Dewa yang kini juga tengah menatapnya tajam. Seolah melalui kedua bola matanya itu, Dewa menyuruh Gadis untuk mengangguki pertanyaan Kristian.
Namun disini, Gadis justru melontarkan tanya, yang membuat Dewa membelalakkan kedua bola matanya marah.
"Kamu berani bayar berapa?"
"Dua kali lipat dari harga biasanya." Jawab Kris, membuat Gadis diam berfikir untuk menerima atau tidak.
"Ya udah, gimana kalau tiga kali lipat untuk dua jaman?? Kalau yang ini, Lo gak bakalan nolak kan?" Ujar Kris tersenyum menyeringai ke arah Gadis. Bola matanya itu bahkan sudah menyapu tubuh berisi Gadis, dari atas sampai bawah. "Tapi sekarang. Bukan nanti malam." Tambahnya.
"Oke, deal." Gadis mengiyakan dengan mudah. Kenyataannya uang yang dijanjikan Kris benar-benar sangat dibutuhkan Gadis saat ini.
"Lo udah gila ya?" Dewa terlihat marah dengan keputusan Gadis.
"Apa?? Kenapa kamu marah begini? Apa kamu lupa kalau ini emang pekerjaanku."
"Tapi ya gak sama dia juga. Lo itu tolol apa bego sih?!"
"Kamu gak berhak ikut campur soal kehidupanku!"
Gadis sudah akan berbalik mengikuti Kristian menaiki motor, namun Dewa dengan cepat mencekal tangannya.
"Lo lupa apa yang gue bilang waktu itu soal Kris?? Dia itu bukan cowok baik-baik!"
"Terus siapa cowok baik-baik disini?? Kamu?" Tanya Gadis, lalu tersenyum mengejek. "Setiap cowok yang ngajakin aku tidur, mereka juga bukan cowok baik-baik, wa. Termasuk kamu." Katanya dengan suara pelan, namun penuh penekanan.
Selanjutnya, Gadis berusaha melepas tangannya dari cekalan Dewa, namun sungguh sulit.
"Lepasin aku, Dewa!"
"Lo butuh uang kan??" Tanya Dewa, membuat kening Gadis mengkerut dalam.
"Gue bisa kasih Lo uang tiga kali lipat itu. Asal Lo gak sama dia."
"Aku gak mau!" Tolak Gadis dengan tegasnya, sembari masih berusaha melepas cekalan tangan Dewa di lengannya.
"Lo harus mau! Gak ada siapapun yang bisa nolak keinginan gue." Dewa menyentak kasar lengan Gadis, serta semakin mencengkramnya kuat. "Termasuk elo."
Tanpa disadari Dewa, apa yang dilakukannya itu telah menyakiti Gadis.
"AW... Sakit Dewa!"
Ringisan Gadis, akhirnya membuat Dewa melepas cekalan tangannya. Ada rasa bersalah didirinya, apalagi saat melihat Gadis mengusap lengan tangannya yang terlihat memerah akibat ulahnya.
Dewa mengetatkan rahangnya. Tanpa berfikir, ia segera menghampiri Kristian yang sudah standby di atas motornya.
"Kenapa lagi??" Tanya Kris dengan raut jengahnya terhadap Dewa.
"Gue mau buat kesepakatan sama Lo."
"Kesepakatan apa??" Tanya Kris dengan nada malas.
"Kita duel satu lawan satu. Pemenangnya yang paling berhak tidur sama dia."
"Cuman itu?? Gue gak tertarik." Kris menolak mentah-mentah usulan Dewa. "Kalau Lo pengen makek dia juga, Lo harus antri setelah gue." Kata Kris, dan seketika membuat teman-temannya tergelak bersamaan.
Dewa mengetatkan rahangnya makin kesal setengah mati. Namun Dewa masih berusaha setenang mungkin. "Kenapa?? Lo takut? Dasar Cemen." Ejeknya.
"Siapa bilang gue takut?? Oke. Gue terima tantangan Lo! Dan kali ini gue pastiin gue yang akan jadi pemenangnya!"
****
__ADS_1
BERSAMBUNG...