
Sempatkan waktu membaca untuk klik likenya sebentar ya guys ^_^
*****
"GUE BILANG TURUN!!" lagi, sang preman yang ditubuhnya terdapat banyak tato itu berteriak, lantaran ucapannya tadi tidak segera digubris Dewa dan Gadis. Nampak dibelakangnya, sang preman botak juga sudah turun setelah menstandart motor yang dinaikinya tadi.
Tampang mereka terlihat begitu sangar. Postur tubuh tinggi gempalnya membuat Gadis kian *** kuat jaket dipinggang Dewa⸺mencari perlindungan dari bahu lebar Dewa.
"Kalian mau apa?" tanya Dewa, tanpa rasa takut sedikitpun.
"Kita cuman pengen lo serahin cewek yang ada dibelakang lo itu!" jawab si preman botak.
"Ya! asal lo tau, bokapnya tuh cewek masih punya banyak hutang sama bos kita! Dan bos pengen supaya dia balik kerja, buat lunasin hutang-hutangnya!" sahut si preman bertato.
Gadis menahan pergerakan Dewa, yang disadarinya akan turun. "Dewa, kamu mau ngapain?" bisik Gadis dengan rasa takut yang masih saja sama.
"Udah, lo nggak perlu khawatir. Gue bisa atasi ini." kata Dewa tetap turun. Ia berkata dengan berbisik juga⸺menenangkan Gadis. Gadis akhirnya ikut turun, melepas helm dan masih berdiri di belakang punggung Dewa untuk berlindung.
"Bos kalian itu gak punya otak ya? apa goblok?! Yang punya hutang bokapnya, ngapain juga anaknya mesti di sangkut pautkan dengan masalah ini." jawab Dewa sengak, membuat dua preman itu murka.
"Jadi lo gak akan serahin cewek itu ke kita?" si preman bertato melontarkan tanya dengan kedua tengan mengepal siap melayangkan tinjunya.
Sementara Dewa, hanya menanggapi dengan tersenyum sinis.
"Kalau begitu, terpaksa kita menggunakan cara kekerasan!" preman botak itu maju diikuti temannya dibelakang.
Dewa menyuruh Gadis mundur menjauh, lalu melepas tas dan memukulkannya pada dua preman tersebut.
Baku hantam tidak terelakkan. Gadis melihat di pinggiran dengan perasaan khawatir. Apalagi mengingat perkelahian ini sangatlah tidak seimbang. Dua lawan satu. Gadis berharap Dewa tidak akan terluka. Tapi sepertinya itu mustahil.
Rasanya begitu ngilu melihat perkelahian semacam ini. apalagi saat melihat Dewa mendapat tendangan karena tidak sempat menghindari serangan dari arah belakang yang menghantam punggungnya.
Untungnya Dewa masih sigap menjaga keseimbangan agar tidak terjungkal. Ia berbalik mengarahkan tinjunya sekuat mungkin ke arah preman yang sudah menendangnya tadi. begitu berulang kali sekaligus tetap waspada dengan preman yang satunya lagi.
Nyatanya Gadis cukup mengakui kehebatan bertarung Dewa, saat menghadapi dua preman itu sekaligus. Berulang kali Dewa bisa mendaratkan tinjunya tepat mengenai wajah kedua preman tersebut, hingga salah satu diantaranya ada yang sampai robek di bagian bibir.
"DEWA AWAS DIBELAKANG KAMU!!" Gadis berteriak mengingatkan Dewa, saat melihat preman botak memukulkan balok kayu di punggung Dewa, ketika Dewa tengah sibuk meghujamkan kepalan tinjunya pada preman satunya.
__ADS_1
Dewa tidak sempat menghindar, ia tersungkur jatuh dan preman botak tadi segera menginjak kuat pergelangan kakinya hingga suara erangan Dewa terdengar nyaring. "Aarrrghh!!"
Hal itu membuat preman bertato tidak ingin hanya diam dan segera memungut sebuah batu berukuran cukup besar, bersiap menghantamkannya tepat di kepala Dewa.
Gadis bergerak cepat. Ia tanpa berfikir memukulkan helm yang sedari tadi dipegangnya tepat mengenai kepala si preman bertato cukup keras, hingga membuat tubuh pria itu jatuh ke samping.
Tanpa menunggu lama, Dewa meraup pasir disekitar dan melemparnya tepat mengenai mata dari si preman botak yang hampir saja mematahkan pergelangan kakinya.
Celah itu segera digunakan Gadis untuk membantu Dewa berdiri. "Dewa, kita lebih baik pergi sekarang!!"
"Tapi, Dis---"
"Aku mohon Dewa, kita lebih baik pergi sekarang!!" teriak Gadis, yang akhirnya membuat Dewa mau tidak mau, mengikuti juga.
Setelah Dewa memungut tas miliknya yang tergeletak di tanah, ia segera menaiki motornya diikuti Gadis dibelakang. Dalam waktu singkat, motor tersebut sudah melesat pergi meninggalkan dua preman tadi yang masih mengerang kesakitan di tempatnya.
****
Pergelangan kaki Dewa mengalami sedikit cedera. Mengharuskan Gadis memapahnya saat memasuki kamar apartemen.
Gadis mendudukkan Dewa di kursi sofa. Menaruh tas dengan asal di atas meja, lalu bergegas kedapur untuk mengambil alat untuk mengompres luka di wajah Dewa, sekaligus sebuah kotak berisikan obat.
Tanpa dibilang pun, tentu saja Gadis mengerti dan dengan perlahan mengompres luka di wajah Dewa, lalu setelah itu baru membersihkannya menggunakan alkohol dan mengolesinya salep.
Gadis juga melakukan hal yang sama di lengan siku Dewa yang tergores. Namun bedanya, luka dilengan itu di balut Gadis menggunakan plester.
Mengalihkan pandangannya pada pergelangan kaki Dewa, Gadis lantas bertanya memastikan, "Apa perlu aku anter kamu ke dokter? Takutnya.. kaki kamu ada yang patah." Apalagi saat mengingat bagaimana Dewa yang sulit berjalan tadi.
"Nggak perlu. Panggil tukang urut aja cukup." Kata Dewa, yang merasa jika kakinya baik-baik saja dan hanya mengalami cedera ringan.
"Tapi kan, lebih baik kita ke dokter buat mastiin keadaan kamu biar gak terjadi hal yang gak diinginkan, Dewa."
Dewa memperhatikan Gadis sejenak. Lalu tersenyum kecil. Tentu saja Gadis menyadari hal tersebut.
"Kenapa malah senyum?" tanya Gadis tidak mengerti.
"Gue seneng kalau lo khawatirin gue kayak gini."
__ADS_1
Mendengar itu, tentu saja membuat Gadis gelagapan sekaligus canggung. Gadis bahkan mengalihkan pandangan dari Dewa, agar tidak beradu mata dengannya. "Apaan sih." Gadis menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Jelas aja aku khawatirin kamu. Apalagi kamu udah rela terluka kayak gini, cuman buat nolongin aku. Makasih.." lirih Gadis di akhir kalimat, tanpa sedikitpun menatap netra Dewa.
Dewa tersenyum. Menurutnya sikap Gadis yang seperti ini, terlihat begitu manis dimatanya. "Lo kan pacar gue, Dis. Gue nggak akan biarin satu orangpun buat nyakitin lo."
DEG!
Kali ini justru Gadis yang merasa jika ucapan Dewa terdengar begitu manis, hingga tanpa sadar membuat wajah Gadis merona malu dibuatnya.
Kenapa? kenapa tiba-tiba Gadis merasakan hal aneh di hatinya, saat Dewa mengucapkan itu semua?
"Aku masih nggak ngerti, kenapa kamu bisa suka sama cewek seperti aku."
Karena menurut Gadis, masih banyak cewek diluar sana yang lebih baik dari pada dirinya. Tapi.. bagaimana bisa Dewa menyukainya?!
"Memangnya kenapa? apa salah kalau gue punya perasaan sama lo?"
"A-aku kan bukan cewek baik-baik. Kamu juga ngerti kan kalau aku ini---"
Dewa menangkup wajah Gadis menggunakan kedua tangan. Membuat netra keduanya saling menatap lekat satu sama lain. "Gue nggak perduli. Apapun dan bagaimanapun kehidupan lo di masa lalu, Dis. Yang jelas... lo harus percaya kalau gue, beneran udah jatuh cinta sama lo."
Gadis terpaku. Sementara tangan kanan Dewa sudah merayap kebelakang tengkuk⸺menariknya. Mengikis jarak untuk semakin mendekati bibir Gadis. Memagutnya lembut.
Sama sekali tidak ada penolakan dari Gadis. Karena Gadis justru memejam rapat menikmati setiap lumatan dan hisapan lembut yang Dewa beri untuknya.
Tangan kiri Dewa beralih turun ke pinggang⸺menelusup masuk memberi usapan lembut di area kulit tersebut. Menimbulkan rasa geli yang justru semakin membuat ciuman keduanya semakin panas.
Suara nyaring dari sebuah panggilan masuk, membuat Gadis menarik diri dengan napas terengah satu sama lain.
Juna, nama itulah yang tertera di layar ponsel Gadis saat ini.
Sebelum Gadis benar-benar mengangkatnya, Dewa sudah lebih dulu mematikan dan melemparnya begitu saja ke atas ranjang.
"Dewa, apa yang kamu---" belum sempat Gadis melontarkan protes, Dewa sudah kembali membungkam bibir Gadis seperti tadi.
Bedanya, kali ini ciuman Dewa terasa begitu bringas dan tidak selembut tadi.
__ADS_1
****
BERSAMBUNG