Gadis Dewa

Gadis Dewa
bab 31


__ADS_3

sempetin waktu sebentar untuk klik jempolnya😘


Happy reading....


Pukul 22.00


Dewa duduk di sebuah kursi kayu yang terdapat di balkon apartemennya. Dinginnya udara malam yang menusuk kulitpun diabaikannya.


Sembari menikmati sekaleng minuman soda dingin dan sebatang rokok, pandangannya menerawang jauh kedepan saat mengingat semua perkataan Gadis sore tadi.


Dia sama sekali tidak menyangka jika kehidupan Gadis begitu berat. Apalagi diusianya yang masih sangatlah muda.


Nyatanya semua yang diceritakan Gadis tadi sore mengenai dirinya, membuat Dewa berpikir... betapa kehidupannya jauh lebih baik ketimbang Gadis. Dimana diusia Gadis yang sangatlah muda itu, harus sudah bergelut dengan tanggung jawab yang tiada habisnya.


Sedangkan dirinya saja, masih sering mengeluh dengan masalah kecil seperti saat ia bertengkar dengan sang ayah dan membuat Dewa sampai sekarang malas pulang kerumah.


Padahal biarpun ayahnya itu sering marah - marah karena kenakalan yang dibuatnya, tetap saja ayahnya tidak pernah lupa memberinya jatah uang bulanan yang bisa dibilang lebih dari cukup melalui kartu ATM yang pegangnya.


Sehingga tidak pernah sekalipun Dewa kekurangan uang biarpun ia tidak tinggal dirumah besarnya bersama Juna.


Bukankah itu berarti... ayahnya masih sangat perduli biarpun ayahnya itu seringkali memarahinya habis-habisan??


Drtt... drrtt...


Suara getar dari ponsel yang berada di atas meja bundar itu, membuat Dewa tersadar dan segera mengangkat saat tau jika si penelfon adalah salah seorang sahabatnya.


"kenapa Ger?" seketika Dewa bisa mendengar suara musik DJ yang menyeruak indra pendengarannya. Bisa ditebak, jika sahabatnya itu pasti tengah berada di sebuah tempat hiburan malam seperti biasanya.


Dewa mengira jika Gery menelfon pasti untuk mengajaknya pergi juga.


"Wa, lo bisa kesini sekarang gak?? Di tempat biasa kita nongkrong."


Tuh kan...


"Mager gue. Lo ajak yang lain aja."


"Gak bisa. Gue butuhnya elo."


"Emang ada apaan?? Penting banget?"


"Itu.. kembaran lo si Juna. Dia minum sampai teler. Hampir aja dia digebukin gara-gara bikin ulah sama pengunjung lain. Buruan lo kesini. Gue sendirian nih!"


"Apa?? iya-iya, gue kesana sekarang!"


Dewa mematikan telfon sambil membatin, sejak kapan si Juna minum-minum? Jangankan minum, ke diskotik aja dia gak pernah.


Lalu mematikan rokoknya tadi yang masih menyala. Berjalan masuk⸺mengambil jaket dan segera buru-buru pergi menyusul Gery.


******


⸺Diskotik⸺


"Dewa!" seru Gery, saat melihat Dewa yang baru saja datang dari arah pintu masuk diskotik.


Mendengar namanya di panggil, Ia segera menghampiri Gery yang duduk di salah satu meja bersama Juna⸺kembarannya.


"Gimana keadaannya?" tanya Dewa. Ia memperhatikan Juna yang sepertinya sudah mabuk berat dan setengah tidak sadar.


"Seperti yang lo liat sekarang. Dia teler berat." Jelasnya.


"Gimana ceritanya? Kok bisa si Juna mabuk ditempat kayak gini? Setau gue, dia itu gak pernah minum-minum apalagi main ke tempat seperti ini."


"Gue juga gak ngerti. Gue aja baru dateng. Terus pas liat ribut-ribut ya gue samperin kan. Eh.. gak taunya si Juna. Ya udah gue tolongin." Jelas Gery memberitahu. "Lagian kembaran lo aneh banget. Gak kuat minum kok nekat minum. Goblok emang."


Dewa menggaruk tengkuk belakang yang tak gatal. raut wajahnya sedikit bingung harus melakukan apa. Kalaupun Dewa membawa Juna pulang dalam keadaan seperti ini, bagaimana reaksi ayahnya nanti?? Tapi jika Dewa tidak membawanya pulang juga tidak mungkin.


"Wa? Malah bengong lo. Gimana sih." tegur Gery, saat melihat Dewa hanya diam menatap Juna.


"Ya udah, bantuin gue bawa dia keluar."


Dewa dan Gery akhirnya memapah Juna keluar dari diskotik tersebut.


Tidak butuh waktu lama, taksi yang sempat mereka pesan pun akhrinya datang. Gery membantu Dewa membawa masuk Juna ke dalam mobil tersebut.


"Ger, titip motor gue ya." Dewa berbicara dari balik kaca mobil yang terbuka.


"Beres. Entar gue suruh temen-temen buat bawa motor lo ke rumah."


"Thanks."


"Ok."


Keduanya berjabat tangan layaknya anak cowok. Lalu tidak lama, taksi yang dinaiki Dewa sudah melesat pergi meninggalkan Gery disana.


Selama perjalanan, Dewa masih kebingungan harus memberi alasan apa nanti pada ayahnya mengenai kondisi Juna yang seperti ini.


"Nyusain gue aja lo." gerutunya, sembari menatap kesal Juna yang masih setengah sadar.

__ADS_1


Tiba-tiba kepala Juna beralih sandaran pada bahu kiri Dewa. Merasa tidak nyaman, Dewa menyingkirkan kepala Juna perlahan ke posisinya semula. Tapi sialnya lagi-lagi kepala Juna terantuk di bahu Dewa seperti tadi.


"Ck!" Dewa berdecak kesal dan hanya mendiamkan.


Sepertinya Juna benar-benar mabuk berat. Terbukti dengan beberapa racauan tidak jelas yang mulai keluar dari mulutnya. Juna bahkan menyanyikan lagu tentang penghianatan cinta yang ditujukan untuk Gadis dengan gaya khas orang mabuk. Tentu saja lirik dan nadanya terdengar tak karuan. Dewa saja bahkan mulai jengah mendengarnya.


Untung lo kembaran gue. Kalau bukan, gak sudi lah gue bawa lo pulang. Ck! Mana berat banget lagi. Anjir!


Dewa membatin, saat memapah keluar tubuh Juna dari mobil dengan susah payah.


Kebisingan yang ditimbulkan dari pagar besi, saat Dewa membukanya, membuat satpam dirumah itu bergegas menghampiri.


"Loh, den Juna kenapa den?" tanya satpam tersebut, sembari membantu Dewa memapah tubuh Juna disisi kiri.


"Gak papa pak. Cuman mabuk doang." Jawab Dewa memberitahu. "Oh ya pak, papa lagi dirumah gak?" tanya Dewa ingin tau. Ia sangat berharap jika ayahnya sedang tidak ada dirumah. Mengingat ia membawa pulang Juna dalam keadaan seperti ini, jelas Dewa tidak ingin menimbulkan kesalah pahaman antara dirinya dan ayahnya.


"Ada den."


Mampus!


"Tapi sepertinya lagi tidur." Sambung sang satpam rumah memberitahu.


Dewa bernapas lega. Setidaknya ayahnya tidak akan melihat dirinya membawa pulang Juna dalam keadaan seperti ini.


Langkahnya lalu terhenti. "ya udah pak, kalau gitu biar saya saja yang bawa Juna masuk kedalam. Bapak gak perlu bantu."


"Beneran gak papa den?" tanyanya, dengan melepas rangkulan di bahu Juna.


Dewa mengangguk. Lalu kembali melangkah masuk membuka pintu.


Tiba-tiba saja Juna tertawa, saat baru menyadari siapa yang memapah tubuhnya saat ini. "Udah berapa kali lo nidurin Gadis?" tanyanya dengan nada khas mabuknya.


Langkah Dewa sampai terhenti didepan pintu. memperhatikan Juna dengan hati kesal dan menjawab. "Bukan urusan lo."


"Gimana rasanya tidur sama dia?" Juna bertanya lagi, yang membuat langkah Dewa terhenti kembali. "Aahh... biar gue tebak, pasti menyenangkan ya."


"Ck! Lo bisa diem gak?!" sentaknya jengah sekaligus kesal. Tapi sepertinya Juna tidak mendengarkan dan malah terus berbicara menyinggung tentang hubungan Dewa dan Gadis.


Juna terkekeh. "Lo tau, apa yang sempet gue fikirin? Gak tau kenapa, feeling gue bilang kalau kalian udah ngelakuin itu sebelum gue sama cewek sialan itu putus..." Ada jeda dikalimatnya. "Iya kan??" tanya Juna merasa yakin. Hal itulah yang terus menerus dipikirkan Juna, hingga membuat kepalanya hampir pecah.


Dewa tersenyum miring. "Kenapa lo masih pengen tau tentang Gadis? Lo masih cinta kan sama dia?!"


Juna tidak langsung menjawab. Ia diam beberapa detik, dan mulai bersuara...


"Gue cinta, tapi juga benci sama dia."


******


Malam semakin larut, tidak menyurutkan niat Aurel untuk pergi ke tempat yang dipijaknya saat ini. sebuah tempat hiburan malam, kian semakin ramai dan padat oleh pengunjung yang sengaja mencari kesenangan dimalam hari.


Tunggu. Jangan kalian salah paham dulu. Aurel ke tempat itu bukannya untuk mencari kesenangan karena suntuk oleh suatu masalah ataupun sejenisnya. Justru Aurel tengah penasaran dan ingin membuktikan sendiri mengenai ucapan Sesil saat ditelfon tadi mengenai sahabatnya, Gadis.


"Gue mau kasih tau mengenai kebobrokan temen deket lo si Gadis. Asal lo tau aja, temen lo itu perek. Tiap malam kerjaannya nyari duit sambil ngangkang didepan om-om mesum yang haus belaian. Kalau lo gak percaya, lo datengin aja dia ke tempatnya langsung. Gue jamin lo pasti nemuin dia disana."


Aurel tersenyum tak percaya, bagaimana bisa dia semudah ini mempercayai perkataan Sesil yang diyakininya pasti berbohong.


"Bego banget sih gue. Ngapain juga gue percaya omongan dia." gumamnya. Saat sudah menginjakkan kaki di tempat yang di maksud Sesil.


Bau alkohol, asap rokok, parfum yang menyengat, serta tingkah dari beberapa pengunjung yang sedang mabuk berat, sungguh membuatnya risih setengah mati.


Pasalnya, ini pertama kalinya Aurel menginjakan kaki di tempat hiburan malam seperti ini. kalau dia tau tempatnya seburuk ini, ia tidak akan memaksakan diri untuk datang, apalagi hanya karena omong kosong Sesil yang diyakini Aurel kebohongannya.


Ck! Balik aja lah. Lagian si Gadis juga gak mungkin banget pergi-pergi ke tempat beginian.


Langkahnya yang sudah akan berbalik itu, urung saat mendapati sosok Gadis yang tengah asyik berciuman bersama seseorang yang usianya lebih jauh darinya. Apalagi dengan posisi yang tak lazim seperti itu. Dimana Gadis telihat sangat nyaman dipangkuan om-om bertubuh tambun tersebut. sementara tangan kanan lelaki itu terlihat bergerak menyelipkan beberapa lembar uang di belahan dada Gadis yang terlihat menyembul akibat pakaian super ketat yang dikenakannya.


"Dis..."


Panggilan dari suara yang cukup dikenalnya itu, jelas membuat Gadis menoleh cepat. Mendapati sosok Aurel yang sudah berdiri tepat didepannya dengan sorot mata masih tak percaya.


"A-aurel!"


Segera saja Gadis bangkit. Beranjak dari pangkuan lelaki tadi. Gadis juga segera mengambil lembaran uang yang terselip di belahan dadanya⸺hal yang sedari tadi terus menerus ditatap Aurel tanpa henti.


"Rel, aku... a-aku..."


"Lo beneran Gadis, temen gue?!"


****


Sementara itu di waktu yang sama, di rumah Gadis...


"Ahh.....eehmmm... ouhh..."


Desahan nan erotis itu, berasal dari kamar Arman, yang kini tengah merengguk nikmatnya surga dunia bersama seorang wanita malam yang sengaja di bawanya pulang untuk memuaskan hasrat seksualnya.


Arman begitu bersemangat memacu ritme kejantanannya, hingga ia berhasil mencapai puncak klimaks yang diakuinya sungguh luar biasa nikmat.

__ADS_1


Beginilah kelakuan Arman setiap harinya. Selain mabuk dan main judi, ia juga suka membawa pulang pelacur lain disaat anak perempuannya tengah sibuk menjajahkan diri demi sesuap nasi dan kebutuhan hidup lainnya. bahkan uang yang dipakai Arman untuk menyewa pelacur malam ini adalah uang jatah pemberian Gadis yang memang diberikan rutin padanya tiap hari.


"Sayang, aku tinggal kekamar mandi dulu ya?" ujar Arman, berniat membersihkan diri dari pergumulan panas yang dilakukannya barusan.


"Tapi mas, kamu nggak lupa kan? Kan katanya kamu mau kasih aku uang lebih malam ini." kata si perempuan, dengan nada yang dibuat-buat manja sedikit mendesah.


Sebenarnya mereka berdua ini bisa dibilang memiliki hubungan lebih. Bisa dibilang mereka ini pacaran, tapi si perempuan juga tidak mau rugi. Biarpun berstatus pacar, bukan berarti ia menggratiskan Arman saat ingin melakukan hubungan badan seperti ini. kenyataannya Arman masih harus mengeluarkan uang untuk yang satu ini, biarpun begitu Arman tidak keberatan dan malah sudah menyatakan niatnya untuk mempersunting si perempuan ke jenjang yang serius.


Gila mamang. Tapi itulah kenyataannya. Ia bahkan tidak membutuhkan persetujuan Gadis sama sekali. Setuju atau tidak, suatu saat nanti Arman akan tetap menikahi wanita yang berstatus pacarnya saat ini.


"Gak lupa dong. tenang aja, uangnya udah aku siapin khusus buat kamu yang cantik ini." Arman mencubit kecil dagu perempuan itu. membuatnya tersenyum malu-malu. "Mas bisa aja sih."


Setelah Arman pergi meninggalkan ruangan, si perempuan itu segera beringsut dan turun dari ranjang. Saat sudah memakai bajunya dengan asal, ia keluar kamar untuk menghindari udara pengap dari dalam.


Netranya menatap lurus kesebuah pintu yang terletak tidak jauh dari kamar yang dimasukinya tadi. terdapat gembok di pintu itu, membuatnya penasaran. Diambilnya kunci yang tergantung di sisi pintu. ia cukup yakin jika kunci itu memang diperuntukkan untuk membuka gembok tersebut.


Walaupun terdapat banyak kunci di satu ikatan, tetap saja perempuan itu masih berusaha membuka gembok karena rasa penasaran yang cukup tinggi mengenai sosok istri Arman yang katanya gila diruangan tersebut.


Ceklek!


Pintu berhasil ia buka. Seketika bau yang lumayan menyengat tercium menusuk hidung. Pantas saja baunya begitu tidak enak. Rupanya ada beberapa kotoran yang tercecer dan belum dibersihkan di lantai tersebut.


"Ck! Bau banget sih. Gila!"


Lalu pandangannya tertuju pada seorang wanita dengan surai panjang namun berantakan. Biarpun Gadis sudah tiap hari menyisir rambut ibunya, entah kenapa rambut ibunya itu selalu saja berantakan setiap harinya.


"kamu ngapain masuk sini??" suara Arman mengagetkan perempuan tersebut.


"Eh, Mas Arman. Enggak, aku cuman penasaran aja sama istri kamu yang katanya gila itu."


"Ngapain kamu penasaran sama hal yang gak penting kayak gini?"


"Ya... mas, namanya juga penasaran." Wanita itu mengerucutkan bibirnya. "Kayaknya mas masih cinta banget ya sama istrinya? Buktinya aja sampai sekarang mas masih serumah sama dia."


"Ngaco kamu. gimana bisa aku mencintai wanita yang gila dan buta seperti dia. Lihat saja penampilannya itu. Menjijikkan." Arman memandang rendah istrinya yang terlelap itu penuh rasa jijik.


"Kalau mas, udah gak cinta, ngapain masih pertahanin dia dirumah ini? aku gak mau loh mas, serumah sama dia pas kita udah menikah nanti."


"Terus mau kamu apa??"


"Buang dia, kejalanan."


"Aku gak mungkin lakuin itu."


"kenapa enggak mas?"


"Anakku itu terlalu sayang sama ibunya. Kalau aku buang dia, anakku pasti marah nanti."


"Yaela mas, bilang aja mas gak tau apa-apa. Emangnya mas mau seumur hidup serumah sama orang gila yang baunya bikin pengen muntah begini? Kalau aku sih ogah!" kata perempuan itu dengan mengapit ujung hidung menggunakan tangan. "Lagian, mas ini aneh banget. Masak sama bocah aja takut." cibirnya. "Pokoknya denger ya mas, aku nggak akan mau nikah sama mas, kalau nih perempuan masih tinggal disini."


"Loh, kok kamu jadi ngancem gitu."


"Ya udah, mas tinggal pilih. Aku atau perempuan gila itu!"


*****


Sepertinya Arman sudah benar-benar dibutakan mata hatinya, sehingga dengan mudahnya ia bisa mengambil keputusan untuk membuang istrinya ke jalanan, seperti yang diinginkan kekasihnya tadi.


Arman sama sekali tidak memikirkan dampak terburuk dari akibat yang dilakukannya. Apalagi dengan kondisi isrinya yang buta dan menderita gangguan jiwa seperti ini.


Dengan sebuah mobil pinjaman, Arman membuang begitu saja istrinya itu kejalanan sepi berpenerangan minim.


BRUKK!


Tubuh lemah itu, jatuh dari mobil karena dorongan yang sengaja dilakukan Arman.


Sedetik kemudian, Arman sudah tancap gas⸺pergi meninggalkan perempuan yang sudah memberinya seorang putri, tanpa perasaan bersalah sama sekali.


Hantaman aspal, membuat perempuan berumur yang sudah melahirkan Gadis, meringis akibat goresan disiku dan bagian lututnya. Rasanya perih dan meyakitkan baginya.


kedua tangannya meraba-raba jalanan beraspal, dan tanpa sadar ia merangkak semakin ketengah jalan.


Tepat dari arah depan, sebuah truk pengangkut kayu, melaju dengan kencangnya. Si supir truk nampak menguap lebar tanda mengantuk.


Sementara penglihatan yang buta, membuat ibunda Gadis tidak bisa melihat sorot lampu didepannya yang menyala terang.


Tiinn........


Bunyi klakson terdengar cukup nyaring, sama sekali tidak membuat wanita itu menyingkir. Ia justru hanya tetap diam di posisi. Membuat tabrakan itu tak terelakkan.


BRAKK!!


Tubuh lemah itu tergilas ban mobil. Ia tewas seketika.


****


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2