
Jangan lupa tekan like guys, ^_^
**kemarin udah ku kasih tau ya... yang gak sabar sama lanjutan ceritanya, bisa baca di wattpad. bab nya udah banyak. aq sering up di sana. kalian juga bisa baca ceritaku yg lainnya.
akun wattpadku : im_kookie**
***
kata maaf yang terlontar berulang kali dari mulut Dewa, sempat diabaikan Gadis dan dianggapnya angin lalu. Namun.. itu hanya sesaat, dan berubah ketika Gadis menatap lekat iris mata Dewa yang tersimpan kesungguhan dan sebuah penyesalan begitu dalam.
Apalagi jika Gadis mengingat perkataan Dewa yang menurutnya cukup mengerikan, "Kalau kamu pergi, aku bersumpah nggak akan segan buat ngasih pelajaran ke mereka⸺yang udah bikin kita jadi kayak gini!"
Saat itu, Dewa mengucapkannya dengan tangan terkepal. Ekspresi wajahnya terlihat serius dan menyeramkan menurut Gadis.
Dengan Dewa⸺yang seperti itu, bagaimana bisa Gadis berpikir dua kali untuk sekedar memaafkannya saja?
Tentu Gadis tidak ingin orang lain terluka karena dirinya. Biarpun orang itu sudah jelas-jelas menjahatinya.
Di sofa panjang itu, Gadis berusaha memfokuskan pandangan pada sebuah buku soal yang berusaha ia kerjakan. Fokusnya terusik, sesekali ia mencuri pandang ke arah Dewa yang kini tengah terbaring nyaman diatas ranjang⸺menatap lurus ke arahnya. satu tangannya menopang kepala, sedang kedua telinganya tersumpal earphone yang terhubung musik melalui smartphone miliknya.
Ini sudah hampir satu jam-an, Dewa menatapnya seperti itu. Dan Gadis, benar-benar merasa tidak nyaman karenannya.
Walaupun Gadis sudah berusaha mengabaikannya sedari tadi, tetap saja tingkah Dewa itu membuatnya tidak fokus mengerjakan soal dan malah semakin membuatnya lama mengerjakan.
Menaruh alat tulisnya kasar, Gadis lantas menegur Dewa, "Bisa nggak kamu berhenti liatin aku kayak gitu?"
"Kenapa? perasaan aku nggak ngelakuin kesalahan apapun."
"Iya, tapi karena kamu dari tadi liatin aku kayak gitu, aku jadi nggak konsen ngerjain tugasnya."
Dewa mengerutkan keningnya heran, "Kok bisa?"
"Bisalah! Pokoknya jangan liatin kayak gitu lagi!" Gadis memperingatinya dengan serius. "Lagian ini udah jam berapa?! Kamu belum juga mandi."
Memang semenjak pulang sekolah tadi hingga sekarang sudah hampir pukul setengah tujuh malam, Dewa sama sekali belum membersihkan diri. Bahkan seragam sekolahnya masih dia pakai dan belum dilepas. Tidak biasanya dia seperti itu.
"Aku akan mandi, setelah kamu tidur." Jawab Dewa, membuat kening Gadis mengerut dalam.
"Setelah aku tidur? Itu berarti sekitar jam sepuluh malam nanti dong?"
Dewa hanya menjawab dengan mengedikkan bahu bersamaan.
"Emang nggak dingin mandi jam segitu?! Udah, nggak usah aneh-aneh. Mending kamu pergi mandi sekarang." Perintah Gadis.
"Kenapa? biar kamu bisa pergi pas aku lagi mandi?"
"Aku nggak akan pergi!" Gadis berusaha meyakinkan. Jadi itu alasan Dewa sedari tadi belum juga berniat pergi mandi.
"Aku nggak percaya."
"Udah aku bilang, aku nggak akan pergi, Dewa!"
"Aku bukan bocah, yang bisa dengan mudah kamu bohongi, Dis." Dewa tetap bersikeras.
Gadis sampai menghela napas sembari memejam rapat kedua bola mata dan kembali membukanya, "Justru sikap kamu sekarang, udah mirip banget kayak bocah, Dewa!"
Gadis segera membungkam mulutnya menggunakan kedua telapak tangan, saat menyadari apa yang barusaja dikatakannya terhadap Dewa. bagaimana bisa dia mengatai Dewa seperti bocah dengan gampangnya?? Apa dia sudah bosan hidup?!
"Wah.." Dewa tersenyum kagum, merubah posisinya menjadi duduk. "Tingkat keberanian kamu, semakin hari semakin ada kemajuan. Aku salut."
Gadis memanyunkan bibir, "Nggak usah ngejek."
"Ngejek dari mananya? Itu pujian!" Dewa lalu turun dari ranjang. tangannya dengan telaten membuka satu persatu kancing bajunya.
Semua itu tidak luput dari perhatian Gadis saat ini. "Kamu mau ngapain?"
"Tadi kamu nyuruh aku mandi kan?" Dewa bertanya balik.
"Buka bajunya bisa didalam kamar mandi aja kan, nggak perlu depan aku."
Dewa menghela napas beratnya, kakinya bergerak mendekati Gadis⸺yang kini tengah menatapnya penuh tanya. "Kenap---"
Belum sempat Gadis menyelesaikan kalimatnya, Dewa sudah dengan cepat menunduk, menempelkan bibirnya tepat ke bibir Gadis yang kini sudah mematung diam, lantaran terkejut.
tiga detik lamanya, barulah Dewa menarik diri dengan sebuah kata cibiran untuk Gadisnya, "Bawel." Kemudian berlalu begitu saja memasuki kamar mandi⸺meninggalkan Gadis yang kini hanya sanggup mengerjapkan bola matanya tanpa sepatah kata yang terlontar dari bibirnya.
setelah kurang lebih sekitar sepuluh menitan berada didalam kamar mandi, Dewa akhirnya keluar dengan hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggangnya.
Netranya langsung memindai ke sekeliling, mencari sosok Gadisnya, yang ternyata sudah berpindah tempat belajar, yakni di balkon.
Tentu saja, Gadis menyadari betul kebiasaan Dewa yang selalu lupa membawa baju ganti saat memasuki kamar mandi, dan berakhir dengan hanya memakai lilitan handuk saat sudah selesai. Ya.. seperti saat ini.
Seusai berpakaian, Dewa menghampiri Gadis dan ikut duduk tepat disampingnya. Otomatis hal itu membuat Gadis menggeser kursinya sedikit menjauh⸺menjaga jarak dari Dewa.
__ADS_1
"Kenapa ngejauh?"
"Karena aku nggak mau ambil resiko, kamu nyium aku tiba-tiba kayak tadi."
"Kenapa? kamu nggak suka, kalau aku tiba-tiba nyium kamu? atau.. aku harus izin dulu sebelum nyium kamu?" tanya Dewa memastikan. Dan Gadis hanya diam menampilkan wajah kesalnya. "Tapi sepertinya, kamu nggak akan kasih, kalaupun aku minta. Jadi buat apa aku izin. Mending langsung, udah pasti dapetnya."
Gadis mendengus mendengar penuturan Dewa barusan yang menurutnya sungguh menyebalkan.
"kamu nggak ngerjain tugas buat besok?" tanya Gadis, mengalihkan pembicaraan. Namun Dewa justru berbicara hal lain, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyaan Gadis tadi.
"Makasih, udah mau maafin aku." Dewa mengapit hidung Gadis. Menggerakkannya pelan ke kiri dan ke kanan, lalu melepasnya.
Gadis mengusap-usap pelan hidungnya yang baru saja di apit oleh Dewa.
"Makasih juga, karena kamu udah dengerin aku buat gak pergi dari sini." Lanjut Dewa. membuat Gadis akhirnya bersuara.
"Tetep aja, nantinya aku akan pergi. Nggak mungkin aku tinggal disini selamanya, kan?!"
Dewa tersenyum, "Masih nanti kan?! Bukan sekarang."
"Kamu bilang, teman-teman kamu mau bantuin aku nyari tempat kos yang murah. Udah dapet?"
"Masih di cari, sayang. Lagian, kamu juga belum dapat kerja lagi kan?!" Dewa mengatakan itu sembari mengusap pipi kiri Gadis⸺yang tadi siang mendapat tamparan dari Dino.
Otomatis Gadis menjauhkan wajah lantaran takut jika usapan Dewa akan menyakitinya. Pasalnya rasa nyeri akibat tamparan Dino, masih dirasakan Gadis di pipi kirinya sampai saat ini.
"Kamu kenapa?" tanya Dewa, saat menyadari raut berbeda di wajah Gadis. "Tadi kamu protes pas aku cium. Apa sekarang aku juga gak boleh pegang kamu?"
"Aku kan nggak bilang gitu."
"Terus, kenapa barusan ngehindar?"
"Bukannya ngehindar, tapi pipiku memang masih sakit gara-gara si Dino."
"Sakit gara-gara Dino? Emang dia ngapain kamu?"
Sadar dengan ucapannya, membuat Gadis menggeleng cepat. "E-enggak! Lupain aja omonganku yang tadi."
"Dia ngapain kamu, Dis??" Dewa bertanya untuk kedua kali.
"Dia nggak ngapa-ngapain aku, " dusta Gadis, berusaha menutupi.
Dewa menarik napas berat berbarengan dengan netranya yang terpejam sejenak. Lalu terbuka dan mulai berbicara, saat dirasa emosinya berhasil ia redam, "Kamu gak perlu bohong ke aku, cuman buat nutupin kesalahan si brengsek itu!"
"Aku nggak bohong. Dia beneran nggak ngapa-ngapain aku!"
Gadis menunduk, berusaha menghindari tatapan Dewa.
"Dia mukul kamu kan, Dis?" tanya Dewa⸺yang entah kenapa merasa sangat yakin. Apalagi dengan diamnya Gadis saat ini.
Tanpa menjawab pertanyaan Dewa tadi, Gadis justru berkata, "Aku nggak mau kamu ribut lagi sama dia."
"Jadi dia beneran mukul kamu?" tebaknya, semakin yakin. Tanpa berniat pertanyaannya yang tadi mendapat jawaban Gadis, Dewa mulai melontarkan tanya untuk kesekian kali. "Berapa kali dia mukul kamu?"
Gadis diam. Masih belum berani menatap Dewa.
"Dua kali, tiga kali??" cecar Dewa.
Gadis menggeleng cepat. Mengangkat wajah menatap Dewa, "Dia cuman nampar aku sekali doang."
"APA?? Dia nampar kamu sekali, dan kamu bilang cuman?!"
***
Esoknya disekolah...
"Ke kiri dikit."
"Yang bener ke kanan, goblok!"
"Kalau ke kanan, airnya gak akan ngenain dia, bego!"
"Justru kalau ke kiri, lo hanya akan ngebuat air comberan ini kebuang sia-sia." Edo tetap bersikeras menggeser ember berisi air bekas mencuci mangkuk-mangkuk bakso yang barusaja didapatkannya dari kantin⸺ke sisi yang menurutnya tepat mengenai sasaran dibawah sana.
Saat ini⸺Edo dan Rama, mereka berdua berada di lantai dua gedung sekolahnya. Tepat dibawah sana⸺dilantai satu, ada tiga orang murid cewek yang tengah duduk sembari bercengkrama dan tertawa lepas.
Ketiga cewek itulah yang menjadi target sasaran dari air comberan yang sebentar lagi akan di tumpahkan Edo dan Rama dari atas sana.
"Anjrit!" tangan Rama menekan kepala Edo, membawanya berjongkok, saat perdebatan yang mereka lakukan justru tidak sengaja membuat air diember yang mereka pegang⸺tumpah sedikit. Air bekas cucian piring itu menyiprat jatuh ke bawah, dan mengenai ketiga cewek tadi.
"Eh, ujan apa ya?" Sesil bertanya heran, sembari menyentuh rambut kepalanya yang sedikit basah.
"Iya, gerimis apa gimana?" Cindy menadahkan tangannya sembari menatap langit-langit, dalam keadaan cerah cenderung panas.
__ADS_1
"Mungkin emang gerimis bentar," Meli ikut mendongak, lantaran bahunya yang juga terciprat air. Lalu berujar pada dua temannya mengenai ucapan neneknya dulu. "Tau nggak, kata nenek gue kalau panas-panas gini terus gerimis tuh, tandanya ada wewe gombel beranak."
"Apaan sih Mel, ngaco banget." sahut Sesil, menanggapi ucapan aneh sahabatnya itu.
"Tau nih! Omongan nenek-nenek dipercaya! Lagian hari gini masih percaya aja sama yang begituan." -Cindy
"Yee... di kasih tau juga. Malah gak percaya," -Meli.
"Abisnya lo aneh-aneh aja. Percaya sama yang begituan. Cupu lo!" Cindy berdiri, "Sil, balik kelas yuk! Panas nih!"
Sesil mengiyakan dan ikut berdiri diikuti Meli. Saat ketiganya mengayunkan kaki...
BYURR...!
Dua orang dari atas sana sudah sigap mengguyurkan air comberan itu tepat mengenai ketiga cewek tersebut.
Ketiganya terperangah akan kondisinya yang sudah basah kuyup seperti ini. Sementara dua cowok tadi, yakni Edo dan Rama, tertawa terpingkal-pingkal dengan perut yang sudah kaku.
Tawa cukup kencang dari keduanya, membuat Sesil dan dua temannya mendongak ke atas. Sesil melotot tak percaya, "KALIAN!!!"
"HAHAHA! Gimana? Enak nggak mandi siang-siang pakek air bekas cucian piring?" Rama mengoloknya dari atas sana.
"Sekali-sekali nggak papa lah ya, biar anti mainstream." Sahut Edo, lalu tertawa dengan kencangnya.
"APA? AIR BEKAS CUCIAN PIRING?!" Sesil melotot marah ke arah mereka, sementara Meli dan Cindy saling berpandangan, lalu tidak lama teriakan melengking keduanya terdengar dipenjuru sekolah.
Sumpah serapah yang dilontarkan Sesil, tidak sedikitpun diperdulikan Rama dan Edo. Keduanya justru makin tertawa kencang dan terpingkal-pingkal. Puas, dengan hasil akhir yang mereka lakukan barusan.
***
BRAKK!
Gadis dan Aurel berjingkat kaget. Obrolan keduanya terhenti ketika mendengar suara Gaduh dari kelas sampingnya.
"Apaan tuh Dis?"
Gadis menggeleng dengan kedua bahu terangkat naik.
Lalu tidak lama dari luar banyak anak-anak entah itu cewek ataupun cowok, berlarian mendatangi kelas sebelah.
"Ada apaan sih? kok mereka pada lari-lari gitu." Gadis bertanya heran pada Aurel.
"Liat yuk! Dari pada mati penasaran disini." Aurel menarik lengan Gadis⸺beranjak dari duduknya untuk keluar kelas. Gadis menurut pasrah. Sejujurnya ia juga cukup penasaran dengan apa yang terjadi sekarang.
"Eh, misi dong, misiii...." Aurel membelah kerumunan para murid lain yang kini sudah bergerombol di depan pintu kelas⸺menyaksikan sesuatu. Gadis mengekor dibelakang Aurel.
Sesampainya mereka dibarisan paling depan, pandangan keduanya membelalak. Menyaksikan seorang cowok dengan wajah yang awalnya sudah penuh lebam, hendak di perparah lagi oleh Gerry⸺sahabat dari Dewa.
Bagaimana tidak, Gerry saat ini sudah bersiap melayangkan bogemnya yang terkepal tepat didepan wajah Dino, sedang tangan kirinya menarik kuat kerah baju Dino. Sementara Dino sendiri tidak berkutik lantaran kedua tangannya dikunci Bastian dari belakang.
Lalu Dewa, cowok itu hanya duduk diam diatas meja dengan satu kaki tertekuk naik. Dewa hanya memperhatikan apa yang diperbuat dua temannya itu. Terkesan tidak ikut-ikut, padahal sebenarnya dialah yang menyuruh dua temannya untuk menghajar Dino.
"BERHENTI!!" teriak Gadis, yang seketika membuat Aurel menoleh padanya.
Aurel hanya tidak menyangka saja jika Gadis akan turut campur dalam keributan yang diperbuat dua teman Dewa itu.
Mata terpejam Dino segera membuka, saat pukulan Gerry belum juga menghantam wajahnya. Rupanya kepalan Gerry terhenti tepat didepan matanya. Membuat Dino menelan salivanya susah payah. Napas leganya berhembus seiring tubuhnya yang terasa lemas didetik itu juga. Ia ingin kabur, sayangnya Bastian masih setia mengunci kedua tangannya dari belakang.
"Dewa! kamu apa-apaan sih?! bukannya kamu udah janji buat nggak ribut lagi sama Dino?" Itu memang benar. Gadis memang meminta Dewa untuk berjanji seperti itu. Dewa menyetujuinya semalam. Tapi kenapa... kenapa sekarang Dewa justru ingkar?
"Aku masih pegang janjiku. Dari tadi aku cuman diem disini Jadi penonton."
"Tapi pasti kamu kan, yang nyuruh dua temen kamu buat mukulin Dino." Yakin Gadis. "Lagian, kenapa kamu cuman diem aja waktu dua temen kamu mukulin Dino? Seharusnya kan kamu suruh mereka berhenti."
"Itu bukan urusanku." Ucapnya acuh. "Yang penting sampai sekarang aku gak ingkar sama janjiku."
"Tapi kamu udah nyuruh dua temen kamu buat gantiin mukul Dino, itu sama aja!"
"Beda!"
"Sama, Dewa!"
Gadis beralih menatap Bastian. Menyuruhnya melepas kuncian tangan Dino.
Bastian melirik Dewa, meminta persetujuan.
Dewa menghela napas berat, lalu berkata, "Kamu balas tampar dia sama kencangnya seperti waktu dia nampar kamu. Baru aku akan suruh Bastian dan Gerry ngelepas dia."
Semuanya terperangah mendengar penuturan Dewa, tak terkecuali Gadis⸺yang langsung menolaknya cepat. "Nggak. Aku nggak mau."
"Kalau kamu gak mau, biar aku yang gantikan!"
Semuanya menoleh ke arah Juna, yang baru saja muncul. Begitu juga dengan Gadis. Bahkan ekspresi Dewa sudah berubah cepat. Datar dan dingin.
__ADS_1
***
BERSAMBUNG