
Jangan lupa like nya ya...
***
Ini sudah pukul satu dinihari. Nyatanya Dewa tidak benar-benar tidur. Cowok itu kini justru tengah sibuk memandangi Gadis yang sudah terlelap di samping kanannya menggunakan bantalan lengan tangan Dewa.
Cukup lama Dewa terjaga dan melakukan hal konyol semacam ini. jujur saja, Dewa begitu kesulitan memejamkan mata apalagi dengan posisi tidur dan wajah yang sengaja ia tenggelamkan di ceruk leher Gadis.
Aroma stroberry yang menguar khas dari kulit leher Gadis, membangkitkan sesuatu hal lain di diri Dewa yang sialnya justru mengusik milik-nya yang terbalut kain di bawah sana⸺mengeras dengan sendirinya.
Dalam hati Dewa membatin frustasi. Apa dirinya memang semesum ini?! tapi.. sejak kapan?
Netra Dewa terarah tepat pada bibir mungil merekah milik Gadis yang diakuinya telah menjadi candu bagi dirinya. Mengusap bibir itu secara lembut dan perlahan⸺seakan tidak ingin jika si pemilik terbangun dan memergokinya.
Jemari Dewa lantas teralih menyibak anak rambut Gadis yang terjatuh menutupi sebagian wajah, untuk kemudian ia kaitkan pada belakang telinga dengan amat sangat pelan.
Satu hal yang disadari Dewa dari Gadis. Jika sudah tidur, Gadis akan sangat lelap. Terbukti dengan sentuhan-sentuhan yang baru saja dilayangkan Dewa, tidak ada sedikitpun yang membuat Gadis terusik gusar karenanya.
Membuat Dewa semakin berani untuk melakukan sentuhan lain yang lebih dari pada ini.
Dewa mendekatkan wajahnya perlahan pada Gadis. Hembusan napas hangat dari keduanya saling bertabrakan. Ciuman seringan kapas di layangkan Dewa berulang kali tanpa henti. Dihidung, dikening, di pipi, dan terakhir di bibir mungil yang kini tengah mengatup rapat.
Tangan kirinya tidak tinggal diam dan justru kini sudah bergerak merayap masuk ke bagian kulit punggung. Ketika jemarinya tidak sengaja menyentuh pengait bra dan melepasnya, disitulah Gadis mulai terusik oleh sentuhan nakal dari tangan Dewa.
Pergerakan Gadis yang hendak merubah posisi, membuat Dewa segera menarik tangan⸺menghentikan apa yang dilakukannya saat ini.
Cowok itu tersenyum kecil ketika mengingat perkataannya sendiri beberapa jam yang lalu pada Gadis, "Aku janji nggak akan ngelakuin hal buruk ke kamu."
Kenyataannya, Dewa sekarang ini lebih terlihat seperti singa yang begitu ingin menerkam mangsanya.
Sial!
Sepertinya Dewa butuh guyuran air dingin untuk menidurkan kembali juniornya yang sempat menegang.
***
Gadis yang masih belum membuka mata, menggeliat seakan mencari posisi ternyamannya di bawah selimut tersebut.
Hangat tubuh Dewa yang dalam keadaan bertelanjang dada, membuat Gadis semakin meringkuk dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Dewa yang kini masih terlelap dalam tidurnya. Terjaga sampai jam tiga pagi, tentu saja membuat Dewa masih membutuhkan jam tidur lebih lama dari biasanya.
Sementara lengan kiri Dewa, masih setia melingkari tubuh kecil Gadis dalam rengkuhan kehangatannya.
Suara alaram dari ponsel Gadis terdengar nyaring. Mengganggu tidur lelap Gadis dan membuatnya mengerjapkan mata. Namun tidak dengan Dewa yang justru masih terlelap menyelami alam mimpi.
"Aaaaaaaakkkkk...!!"
Gadis berteriak kencang dan bangun, saat baru menyadari apa yang sedang terjadi. cowok yang semalam memaksanya tidur satu ranjang dan mengucap janji tidak akan melakukan hal buruk terhadapnya, justru ingkar.
Bagaimana tidak, Gadis ingat betul jika semalam Dewa tidur dengan mengenakan pakaian lengkap. Tapi sekarang kenapa cowok itu justru menanggalkan kaosnya?? Lalu, apa yang sudah dilakukan Dewa, sampai-sampai pengait branya bisa terlepas seperti ini?
Teriakan itu tentu saja membangunkan Dewa. Dalam sekejap netranya terbuka lebar⸺lebih tepatnya ia terkejut dengan teriakan nyaring sosok cewek disampingnya.
"Ada apa? kenapa tiba-tiba teriak kenceng banget??" panik Dewa, dan bangun merubah posisinya menjadi duduk. Telinganya serasa berdengung akibat teriakan kencang Gadis barusan.
Gadis menyilangkan tangan di dadanya. "Semalam, kamu ngapain aku??"
Dewa mengerutkan kening tidak mengerti, sembari mengucek kedua netranya yang masih mengantuk berat. "Apaan sih, gak jelas banget."
"Itu! kenapa kamu tidur gak pakek baju?"
"Lagi pengen. Kenapa emang?" jawabnya santai.
"Enak banget kamu bilang lagi pengen." Gadis menatapnya tak percaya. "Jadi kalau aku nanya, alasan kamu ngelepas pengait braku, kamu juga akan bilang lagi pengen??" tuduhnya yang merasa yakin, jika pelakunya pastilah Dewa. Karena sangat tidak mungkin jika pengait branya itu bisa lepas sendiri.
"Hah?!" Dewa baru menyadari apa yang diperbuatnya semalam. Ia bahkan lupa untuk kembali mengaitkan bra Gadis seperti semula. Sial!
"Ngomong apa sih?! jangan suka nuduh orang sembarangan. Gak baik!" ujar Dewa, memasang wajah tak bersalahnya.
__ADS_1
"Aku nggak nuduh! Tapi aku yakin aja kalau pelakunya pasti kamu. Aku nggak nyangka ya otak kamu tuh mesumnya udah tingkat akut! Bisa-bisanya aku percaya omongan kamu yang bilang nggak akan ngelakuin hal buruk ke aku. Kenyataannya tangan kamu kemana-mana pas aku lagi tidur."
Kesal, lantaran Dewa tidak mengakui perbuatannya, membuat Gadis beranjak turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu bersiap berangkat sekolah.
Dewa terperangah sembari menatap punggung Gadis yang berlalu memasuki pintu kamar mandi.
Sejak kapan Gadis mulai seberani ini terhadapnya??
***
Sesil baru tiba disekolah. Dia berjalan beriringan bersama dua teman dekatnya yakni Cindy dan Mely⸺memasuki pintu gerbang sekolahnya.
Cindy dan Mely terlihat mengobrol santai dengan tawa di bibirnya masing-masing. Sementara Sesil, hanya diam dengan raut wajah cemberut tidak bersemangat.
Mely yang menyadari itu, segera menyikut lengan Cindy⸺memberitahu. "Sstt! Si Sesil tuh!" bisiknya pelan.
Cindy menoleh, lalu bertanya. "Lo kenapa lagi sih Sil? Masih pagi tuh muka lecek amat kayak cucian kering belum disetrika."
"Tau. Ada apaan sih?! soal Juna lagi?" tebak Mely yang seolah tau jika wajah cemberut Sesil pastilah disebabkan oleh Juna. Itu bukan cerita lama lagi bagi dua sahabatnya.
Langkah kaki Sesil terhenti diikuti dua temannya. Alisnya bertaut kesal. "Juna, dia nolak mentah-mentah ajakan gue buat nonton bareng." Sesil menghentak sebal kakinya, "Kenapa sih, Juna nggak bisa sedikit aja bersikap manis ke gue?! Kenapa yang selalu ada di pikirannya cuman cewek murahan itu! kesel gue lama-lama!"
"Ya udah sih, kalau kesel kan tinggal putusin aja. Lagipula, cowok didunia ini kan nggak cuman Juna doang, Sil." Celetuk mely dengan entengnya.
Cindy yang mendengar segera mencubit kencang lengan Mely, saat menyadari kemarahan di wajah Sesil.
"Aduh! Lo ngapain nyubit gue sih, Cin?! Sakit tau!" Mely memprotes tindakan Cindy, sembari mengusap-usap lengannya yang terasa nyeri. melalui raut wajahnya itu, Cindy memberi kode dengan menggerakkan bola matanya pada Sesil yang terlihat marah besar.
"Enak banget lo ngomong, Gue nggak akan putusin Juna. Ngerti?!" Sesil menegaskan dengan netra menajam ke arah Mely. Membuatnya ketakutan.
Cindy berusaha menenangkan dengan merangkul bahu Sesil dan kembali melangkahkan kaki. "Udah Sil, jangan perduliin ocehannya si Mely. Dia kan emang bolot."
"Eh.. tungguin! Gue jangan di tinggal." Mely berlari untuk kemudian menyamakan langkah kakinya bersama Cindy dan Sesil yang begitu saja meninggalkannya. "Maaf deh, maaf. Gue kan cuman⸺"
Ucapan Mely diabaikan Cindy dan Sesil yang kini telah teralih pada seorang pengendara motor sport⸺yang berboncengan melewatinya.
"Itu bukannya Dewa sama Gadis?" cetus Mely, sesaat setelah mengamati sembari menyikut lengan Cindy.
"Tau gue." Cindy menjawab sewot, lantaran Mely menyikutnya cukup kuat. Sementara diwajah Mely masih terlihat kebingungan, "Gimana mereka bisa---"
Sesil menatap sinis. Ia melipat dua tangannya di bawah dada, "Jadi mereka beneran pacaran?!"
****
"Wah, mantep nih." seru salah seorang teman Dewa, saat makanan yang dipesannya baru saja tiba dimeja mereka.
"Entar kalau gue pengen nambah, boleh kan, Wa?" seru seorang temannya yang lain.
"Terserah lo." Dewa menjawab singkat, sembari memainkan ponsel. Ia tengah menunggu kedatangan Gadis yang baru saja di kiriminya pesan. Menyuruhnya untuk datang ke kantin.
Status Dewa yang sudah tidak sendiri lagi, di manfaatkan keempat temannya untuk meminta jatah traktiran dengan alasan supaya hubungan Dewa dan Gadis langgeng tanpa ada masalah yang berarti.
Padahal nyatanya, tanpa ada hal seperti ini pun, keempat temannya itu sudah cukup sering mendapat traktiran dari Dewa.
Memang dasar mereka saja yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
"Belum juga lo habisin makanan lo. udah mau nambah aja. Maruk banget lu jadi orang!" cibir Bastian pada Rama yang duduk tepat disampingnya.
Rama hanya merespon dengan mengangkat satu jari tengahnya.
Dewa memutar bola matanya jengah akan sikap teman-temannya saat ini. Ia berusaha tidak perduli, lalu mulai mencoba menghubungi Gadis. Ini sudah cukup lama Dewa menunggu Gadis yang belum juga mendatanginya.
Keempat temannya yang tengah sibuk mengunyah makanan, terhenti saat mendengar decakan dari kekesalan Dewa. mereka bahkan menoleh hampir bersamaan.
"Lo kenapa, Wa?" Gery mencetuskan tanya.
"Tau. Muka udah engap kayak keteknya si Rama." Cibir Edo sesaat setelah menelan makanan dimulut.
__ADS_1
"Ngapain ketek gue lo bawa-bawa, curut." Rama menjitak kepala Edo menggunakan sendok bekas pakainya.
"Anjrit! Jorok banget lu, pe-ak!" Edo yang tidak terima, balas menjitak balik menggunakan tangannya dan ia melakukannya tidak tanggung-tanggung. Membuat Rama mengumpat sakit berulang kali.
Gery dan Bastian menggeleng-nggelengkan kepala akan sikap kekanakan keduanya.
"Woi! Berisik banget lu berdua, udah kayak bocah!" Bastian meneriaki.
Dewa berdiri, membuat Gerry melontarkan tanya ingin tau. "Mau ke mana, Wa?"
"Nyari Gadis!" Dewa menjawab singkat. Lalu pergi begitu saja menuju perpus. Karena tadi saat dikelas, Gadis bilang akan ke perpus dulu untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya. Baru setelah itu Gadis akan ke kantin menyusulnya.
Tapi sampai sekarang, Gadis tidak kunjung memperlihatkan batang hidungnya didepan Dewa.
Dewa juga sempat bertanya pada Aurel yang tengah mengobrol bersama teman sekelasnya, saat ia tau jika Gadis tidak ada di perpus.
"Lah, bukannya tadi dia di perpus?? Kan tadi dia juga udah bilang ke lo kan?!"
"Iya. Tapi sampai sekarang dia belum juga nyamperin gue ke kantin."
"Mungkin ke toilet. Gue juga nggak tau, Wa. Soalnya ponselnya juga nggak di bawa." Aurel menunjukkan handphone Gadis yang memang tidak dibawa, dan sengaja ditinggal didalam tas.
Raut kesal kian semakin jelas di wajah cowok itu. Lalu tanpa banyak bicara Dewa pergi begitu saja meninggalkan kelas. Aurel dan seorang lagi temannya yang melihat, begidik ngeri akan ekspresi dari raut wajah Dewa barusan.
Lo jangan bikin ulah napa Dis?! udah tau cowok lo nyeremin gitu. Batin Aurel, menatap punggung Dewa yang menghilang di balik pintu.
Aura hitam seakan menyelimuti diri Dewa, sepanjang langkahnya menapak koridor tersebut.
Beberapa anak lain yang menyadari dan berpapasan dengan Dewa, memilih menyingkir minggir⸺seakan tidak ingin terkena imbasnya.
Namun tidak dengan seorang gadis bernama Sesil, yang kini justru mendekat menghampiri.
"Gue denger, lo lagi nyariin Gadis. Apa bener?" Sesil berusaha menyamakan langkah kaki dengan Dewa.
Dewa menghentikan langkah, sembari mengerutkan keningnya curiga. "Darimana lo tau?"
"Ya, gue tadi nggak sengaja denger, pas lo lagi nanya ke anak-anak disekitar sini soal Gadis."
Dewa mengabaikan, dan kembali melangkahkan kaki. Lagipula, Dewa terlalu malas untuk hanya sekedar mendengar ocehan Sesil yang menurutnya tidaklah penting.
Dua langkah kaki Dewa, kembali terhenti lantaran Sesil mencekal lengan cowok itu. "Gue belum selesai ngomong!"
Cekalan tangan Sesil di lengan Dewa, membuat cowok itu menajamkan bola mata sebagai bentuk tidak sukanya.
Sesil yang mengerti segera menurunkan tangan secepat kilat, "Sorry, sorry. Abisnya kan gue belum selesai ngomong. Tapi lo udah pergi aja."
"Lo mau ngomong apa?" Dewa bertanya jengah.
"Gue cuman mau bilang, kalau tadi gue liat... emm.. Gadis, sama satu orang cowok. Mereka dari kelas sebelah kayaknya."
"Lo fikir, gue akan percaya?! Jangan harap!"
"Beneran. Tadi.. gue liat mereka jalan kesana." Sesil menunjuk arah belakang sekolah. "Deket gudang. Mereka kelihatan akrab banget."
"Sil! Ayok! Gue udah laper nih." teriak Cindy di kejauhan.
"Ya udah ya, gue.. cabut dulu. Temen-temen gue udah nungguin." Sesil berlari pergi, meninggalkan Dewa yang terdiam dengan raut wajah sulit diartikan.
Kaki Dewa kembali terayun. Pada akhirnya ia memilih menghampiri dan mencari taunya sendiri. langkah yang tadinya terburu seketika memelan dan terhenti didekat pintu gudang yang terbuka separuh⸺Mendengar seorang cowok berbicara.
"Oke, gue setuju. sesuai harga yang lo minta, Setengah juta kan?! Dan lo akan puasin gue disini."
Rahang Dewa mengetat mendengar itu, kedua tangannya terkepal kuat, dan..
BRAKK!!
***
__ADS_1
BERSAMBUNG