Gadis Dewa

Gadis Dewa
bab 36


__ADS_3

**Jangan lupa klik likenya ya... maaf baru bisa update 😀


Happy reading**...


***


Tidak hanya Juna yang mematung diam, saat pandangannya mengedar di sekeliling ruangan yang ternyata kosong itu. Dewa juga sama, dia bahkan sempat kebingungan dengan keberadaan Gadis saat ini.


Gadis ke mana? Batin Dewa bertanya-tanya. Namun kemudian hal itu dimanfaatkannya untuk kembali mengusir Juna seperti tadi.


"Liat kan! Gue udah bilang kalau dia gak ada disini."


Juna yang masih belum yakin, akhirnya berjalan masuk begitu saja⸺mengabaikan teriakan dari si pemilik yang sudah melarang dan berkali-kali mengusirnya pergi.


Dewa sempat kesal juga, saat Juna memeriksa seluruh kamar apartemennya. Terutama bagian kamar mandi. Padahal Dewa sempat berfikir jika Gadis tengah berada di dalam kamar mandi, tapi ternyata dugaannya salah besar.


Gadis benar-benar tidak ada dimanapun, dan Dewa mulai khawatir.


"Percaya lo sekarang?!" ucap Dewa penuh kekesalan, saat Juna sudah selesai memeriksa seluruh ruangan.


Juna bernapas berat. "Gue peringatin sama lo ya, Wa. Jangan pernah lagi lo sentuh Gadis dengan uang pemberian papa. Atau gue gak akan segan pengaruhi papa buat blokir kartu ATM yang lo pegang! Lo pasti tau kan, kalau papa gak akan mikir dua kali buat nurutin apapun permintaan gue!"


Dewa berdecih sinis. "Lo pikir gue takut sama ancaman murahan lo itu?!" Dewa tertawa mengejek. Lalu mendekati Juna memberinya peringatan. "Denger ya Juna, seharusnya yang pantas jauhin Gadis itu elo! Bukannya lo udah putusin dia dan lo juga udah punya pacar baru?! Gak sepantasnya lo menjadi semarah ini, apalagi kalau sudah menyangkut soal Gadis. Ingat! Dia sekarang bukan lagi milik lo!" Dewa mengatakan dengan satu jari telunjuk yang mengarah pada dada kiri Juna⸺mendorongnya.


Juna tertawa sumbang, saat dirinya menyadari sesuatu. "Gue tau, kenapa lo bisa ngomong gini ke gue. Sekarang lo mending ngaku! Lo suka kan sama Gadis?? Iya kan?! Jawab!!"


"Kalau iya kenapa? ada masalah?" jawab Dewa dengan nada sengak dan dagu terangkat naik. Dewa juga tidak mengerti kenapa dia harus menjawab iya. Emosi membuatnya tidak bisa mengontrol segala ucapan yang keluar dari bibirnya.


"Brengsek!"


Nyatanya jawaban Dewa benar-benar membuat Juna naik pitam dengan cepat. Tanpa basa - basi lagi, juna mengarahkan sebuah pukulan penuh kemarahan pada kembarannya itu. Dewa yang tidak sempat menghindar, harus rela merasakan nyeri dari pukuan Juna yang lumayan keras hingga membuat sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah segar.


Tidak terima begitu saja, Dewa segera maju dan melayangkan pukulan balasan pada Juna. Saudara kembar itu akhirnya terlibat perkelahian sengit yang tak terelakkan. Hingga... Gadis yang tadinya pergi untuk membeli makanan diluar, masuk dan segera berlari untuk melerai perkelahian keduanya.


Gadis segera menarik Dewa yang tengah berada di atas tubuh Juna, siap melayangkan tinjunya untuk kesekian kali. "Berhenti! Kalian berdua apa-apaan sih?!"


Memang benar Gadis berhasil memisah perkelahian keduanya dengan cara menarik Dewa dan menjauhkannya dari Juna, namun nyatanya, Juna yang masih diselimuti oleh amarah itu, bangkit dan kembali menyerang Dewa, saat mengetahui dugaannya benar dengan kehadiran Gadis saat ini. Tidak mau membiarkan wajah tampannya mendapat banyak lebam, Dewa lantas melakukan perlawanan dan membuat perkelahian keduanya kembali terjadi.


"Dewa, Juna! Udah! aku bilang, berhenti berkelahi!" Gadis berteriak dan lagi-lagi menengahi keduanya. Menatap dua kembar itu secara bergantian dengan sorot mata menajam dan napas memburu naik turun. Rupanya melerai dua lelaki yang tengah berkelahi, cukup menguras energinya.


Dan hal yang sama juga dirasakan oleh Juna dan juga Dewa. Penampilan keduanya sudah terlihat tidak karuan dengan pakaian acak-acakan. Di tambah lagi wajah tampan mereka yang sudah dihiasi dengan luka-luka hasil dari perkelahian sengit antara keduanya.


"Kalian berdua kenapa sih kayak gini?? berantem udah kayak jagoan! Kalian ini saudara! Nggak seharusnya kalian saling pukul kayak gini!!" Gadis berbicara dengan menatap mereka secara bergantian. Bahkan Dewa dan Juna masih saja saling melempar tatapan tajam satu sama lain. Benar-benar tidak bisa dipercaya.


"Dia yang mulai duluan! Kalau dia nggak mukul gue, gue juga gak akan mukul dia!" Dewa berucap membela diri.


"Gue juga gak akan mulai, kalau lo gak ngebacot sembarangan!" balas Juna pada Dewa.


"kenapa? lo cemburu?" sinisnya, dengan tawa mengejek. "Lo takut kalah saing sama gue?"


Juna mengepalkan tangannya kuat⸺menahan diri. Sementara Gadis mengerutkan kening tidak mengerti. mereka ini lagi ngomongin apa sih?!


"Udah!! Bisa gak kalian ngomongnya nggak usah pakek urat? Semua masalah kan bisa diomongin baik-baik. Nggak perlu pakek emosi kayak gini!" Lagi-lagi Gadis memberi nasehat, dan tetap menengahi dua lelaki keras kepala itu.


"Kalau gitu sekarang coba jelasin, kenapa kamu bisa ada di apartemennya Dewa?" Juna melontarkan tanya, yang membuat Gadis diam akibat bingung harus menjelaskan mulai dari mana.


"Aku..."


"Dis, Kamu nggak lagi di sewa Dewa buat muasin nafsu bejat dia, seperti waktu itu kan?!" Juna menyuarakan dugaan yang sedari tadi menghiasi benaknya. Dan pertanyaan Juna yang seperti itu, justru kembali melukai hati Gadis, entah untuk yang keberapa.


"Jaga mulut lo, Juna!" Dewa membentak marah. karena pada kenyataannya tuduhan yang dilayangkan Juna barusan adalah salah.

__ADS_1


Hal itu membuat air mata Gadis lagi-lagi menggenang dipelupuk, siap terjatuh.


Tanpa perduli dengan perasaan Gadis dan juga bentakan Dewa, Juna kembali bersuara melontarkan sebuah tanya yang lagi-lagi menyayat hati Gadis dan memberinya luka menganga yang semakin sulit untuk disembuhkan. "Kali ini, berapa dia bayar tubuh kamu, Dis? Aku bisa menggantinya sekarang juga! Dan kamu... ikut aku pergi dari tempat si brengsek ini!"


"JUNA!! Gue bilang, jaga mulut lo. apa lo tuli?!" Dewa kembali mengingatkan dengan kedua tangan terkepal dan rahang mengetat menahan amarahnya sendiri. Walaupun perkataan yang diucapkan Juna di tujukan pada Gadis, entah kenapa hatinya ikut memanas dan telinganya terasa pengar saat mendengarnya. Kalau saja Dewa tidak ingat jika Juna adalah kembarannya, mungkin Juna akan dibuatnya kehilangan lidah agar tidak bisa lagi berbicara sembarangan mengenai Gadis.


Gadis memegangi lengan Dewa. Menggeleng dan berbicara melalui sorot mata supaya tidak lagi memulai keributan. Lalu beralih pada Juna, menatapnya penuh luka dihati. "Apa penjelasanku akan ngebuat kamu percaya? Juna... pada akhirnya kamu hanya ngebuat hatiku semakin sakit." Ada jeda dikalimatnya, berbarengan dengan air mata Gadis yang sudah mulai terjatuh.


"... aku memang seburuk itu. Tapi tuduhan kamu kali ini, salah! Apa kamu tau, justru Dewa yang nolongin aku buat kabur dari ayah."


"...Ayah mengurungku. Dan Dewa datang buat selamatin aku. Ngasih aku tumpangan tempat tinggal sementara. Selama itu, Dewa sama sekali nggak nyentuh aku sedikitpun! jadi semua yang kamu tuduhkan ke aku dan Dewa itu salah!"


"...Dan aku... nggak akan mau ikut orang yang diotaknya hanya ada prasangka-prasangka buruk seperti kamu!"


"Aku... akan tetap disini! lebih baik kamu pergi sekarang." Gadis mengusap jejak air mata dipipinya. Berusaha bersikap kuat didepan Juna⸺yang masih menatapnya dengan sorot mata bersalah. Penjelasan Gadis membuatnya sadar dan merutuk diri, untuk tidak lagi berbicara ngawur semacam itu. Dan sialnya Juna juga baru menyadari jika ucapannya tadi benar-benar keterlaluan. Dia merasa... seperti lelaki brengsek yang tidak memiliki hati sama sekali.


"Dis, aku⸺"


"Lo tuli? Dia nyuruh lo pergi!" Dewa menepis tangan Juna yang sudah akan menggenggam tangan Gadis.


"Lo gak usah ikut campur!!" balas Juna dengan tatapan menghunus bagai pedang. "Biarin gue selesaikan masalah gue sama Gadis!"


"Nggak ada masalah yang perlu diselesaikan lagi, Juna." Sahut Gadis, "Semuanya sudah berakhir. Antara kamu dan aku, kita udah nggak ada hubungan apapun lagi. jadi tolong... jangan lagi bersikap seperti ini. Sekali lagi... aku nggak mau bikin Sesil salah faham."


"Dis, aku gak bener-bener cinta sama Sesil. Semua itu aku lakukan karena---"


"Cukup! Lo udah terlalu banyak ngomong!" Dewa menyela cepat. Seakan ia tidak ingin jika Juna mengatakan semuanya. Dewa tentunya tau alasan Juna bisa menjalin hubungan dengan Sesil. Karena memang waktu itu Dewa mendengar kesepakatan yang mereka buat ketika diruang tamu rumahnya. Kesepakatan mengenai Sesil yang tidak akan membuka mulut pada anak satu sekolah mengenai siapa Gadis yang sebenarnya, asalkan Juna mau menjadi pacarnya.


Rupanya ada rasa takut didiri Dewa, jika sampai Gadis mengetahuinya. Entah... Dia hanya tidak ingin jika hati Gadis kembali meluruh pada Juna. Tapi... kenapa? kenapa sampai dirinya merasa ketakutan seperti ini?


Apa... gue beneran sesuka ini sama Gadis? Batin Dewa, disela dorongan tangan untuk mengusir keluar Juna dari apartemennya.


Dewa membanting pintu dan menguncinya. Menghalangi Juna yang mungkin saja akan menerobos masuk lagi.


Sempat terdengar gedoran berulang kali dari luar, diiringi suara teriakan Juna yang menginginkan pintu itu terbuka.


Dewa mengacuhkannya. Dan saat dirinya berbalik, ia sudah mendapati tubuh Gadis meluruh jatuh terduduk di lantai. Entah kenapa Gadis merasa kepalanya lagi-lagi berdenyut. Padahal tadi pusing dikepalanya itu sudah hilang dan demamnya juga tidak separah pagi tadi.


"Dis! lo kenapa? kepala lo pusing lagi?" tanya Dewa, dengan kekhawatiran tinggi.


Gadis mengangguk. "Sedikit."


Dewa langsung menaruh tangan kirinya di punggung, sementara tangan kanannya ia selipkan di belakang kaki Gadis. Mengangkat dan membawa tubuh itu ke atas ranjang empuk miliknya.


Gedoran dipintu sudah mulai tak terdengar lagi. Sepertinya Juna sudah pergi dari sana.


Dewa menarik bantal, memposisikan bantal itu tepat di bawah kepala Gadis, lalu membaringkannya.


"Lagian lo juga ngapain pakek acara kelayapan pas lagi sakit gini?! bukannya tadi gue udah bilang buat nunggu gue. Emang tadi lo kemana pas gue lagi gak ada?" tanya Dewa, terdengar bawel di telinga Gadis.


"Nyari makan deket sini."


"kan gue udah bilang mau pulang buat bawain lo bubur. Kenapa lo malah nyari makan diluar?"


"Pengen aja makan nasi. Lagian tadi keadaanku udah sedikit membaik, jadi⸺"


"Kayak gini lo bilang membaik??" Sela Dewa, membuat Gadis hanya bisa diam tak ingin memperpanjang. Nyatanya memang keadaannya belum pulih sepenuhnya.


"Maaf..." hanya kata itu yang terucap di bibir Gadis. "Tapi.. Tadi kenapa Juna bisa ada disini dan berantem sama kamu?"


Dewa mengedikkan kedua bahu bersamaan. "Kayaknya dia curiga karena lo dan gue bolos barengan. Mungkin karena itu dia ngikutin gue kesini."

__ADS_1


Dewa mengusap bibirnya yang terasa nyeri, dan mengaduh, saat ternyata jemarinya mengenai luka robek di sudut bibirnya.


"Itu... kayaknya perlu diobatin. A-apa kamu mau aku bantuin buat oles salepnya?" tanya Gadis menawarkan.


"Gak perlu, gue bisa sendiri. lebih baik lo minum obat lo sekarang. Lo bilang tadi udah makan kan?"


Gadis mengangguk. Menuruti apa kata Dewa untuk meminum obat yang baru saja dipersiapkan Dewa untuknya.


****


Pukul 21.39


Gadis baru akan menyelami alam mimpi,Tapi suara Dewa yang mengaduh sakit membuatnya kembali membuka mata untuk mencari tahu.


Gadis menyibak selimut dan turun dari ranjang, saat melihat Dewa yang sedikit kesulitan mengobati lukanya sendiri dengan bantuan cermin kecil ditangannya. Gadis memutuskan mendekati sofa panjang tersebut dan ikut duduk bersisian dengan Dewa.


"Mau aku bantu?"


Dewa berjingkat terkejut. Hampir saja cermin yang dipegangnya itu terjatuh, lantaran Gadis yang datang tanpa disadarinya. "Kaget gue. Bukannya tadi lo udah tidur ya?" herannya.


"Aku nggak bisa tidur sambil dengerin kamu yang lagi ngerengek sakit. Sini salepnya, biar aku bantu olesin." Gadis mengambil alih salep dari tangan Dewa.


"Nggak usah! Gue bisa sendiri."


"Kamu nggak mungkin bisa. Udah, nggak usah keras kepala deh. Buruan hadap sini!" titah Gadis, membuat Dewa hanya diam dan akhirnya menghadapkan diri pada Gadis. Mengikis jarak antara keduanya.


Tangan Gadis mulai bergerak⸺mengoleskan salep di seputar wajah Dewa yang terluka. Gadis terlihat begitu fokus, sementara Dewa diam-diam mengagumi paras Gadis yang begitu diakuinya sangat....


"Ehem," Gadis berdehem. Saat menyadari Dewa menatapnya intens. Hal itu membuatnya menjadi gugup. "kamu kenapa liatin aku kayak gitu?"


Dewa mengalihkan pandangan ke segala arah. Salting. Dan hal itu membuat Dewa nampak seperti orang bodoh. "Nggak. Siapa yang liatin."


Tiba-tiba keadaan menjadi canggung. Gadis cepat-cepat menyelesaikan apa yang dilakukannya saat ini.


"Udah." Gadis lalu berdiri. Menjauh dari Dewa yang masih terlihat kikuk.


Dibukanya pintu balkon, dan seketika pemandangan malam dari kerlip lampu ibu kota membuatnya takjub.


Dewa ikut berdiri mengikuti. Memposisikan dirinya disamping Gadis.


"Aku baru tau, kalau pemandangan malam dari sini kelihatan bagus banget." Celetuk Gadis dengan segala kekagumannya.


"Lebih bagus lagi kalau lo ngelihat dari atas rooftop apartemen ini. pemandangan dari atas sana nggak kalah bagusnya." Dewa memberitahu.


"Oh ya? kamu pasti sering main ke sana kan?"


"Lumayan sering." Dewa menjawab singkat. Dan Gadis kembali sibuk mengagumi pemandangan malam yang disuguhkan dari ketinggian lantai apartemen tersebut.


Diam-diam Dewa memperhatikan, Lalu kembali bersuara, "Gue.. boleh nanya sesuatu?"


"Boleh. Soal apa?" respon Gadis tanpa menoleh ke arah Dewa.


"Juna."


Gadis menoleh cepat, saat mendengar Dewa menyebut nama Juna.


"Gue penasaran, gimana perasaan lo sama Juna untuk sekarang ini. Apa.. lo masih nyimpen perasaan sayang buat dia?"


****


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2