Gadis Dewa

Gadis Dewa
bab 18


__ADS_3

Hai... Aku update lagi nihšŸ˜‹


Jangan lupa hantam jempolnya guys. Biar aku makin semangat update🤣


Luph2 buat kalian semua.....ā¤ļøā¤ļø


HAPPY READING....šŸ˜


*******


"Dewa, stop!!"


Entah ini sudah keberapa kalinya Gadis meminta Dewa menghentikan aktifitasnya saat ini.


Cumbuan demi cumbuan, dilakukan Dewa di seputar leher Gadis.


Gadis bahkan tidak bisa berkutik. Pergerakan untuk menolak apa yang dilakukan Dewa padanya sungguh sulit ia lakukan.


Berontak pun percuma, lantaran Dewa yang sungguh kuat mengunci pergerakan tangan Gadis yang sedari tadi bergerak gusar ingin memukulnya.


"Dewa--" suara Gadis tercekat lantaran Dewa yang kini sudah membungkam bibirnya dengan ciuman dan lumatan yang begitu beringas.


Lidah yang menyeruak masuk itu tidak dapat ditolak Gadis.


Ciuman Dewa dirasakan Gadis sangat menuntut dan penuh dengan amarah yang begitu besar.


Sementara satu tangan Dewa yang lainnya tengah sibuk membuka satu persatu kancing baju Gadis dengan tidak sabarnya.


Terlepas. Satu tangan Gadis berhasil terlepas dari cekalan Dewa dan langsung mendorong tubuh cowok itu sekuat mungkin.


Tubuh Dewa bergerak mundur, Gadis memanfaatkan itu dengan berlari mendekati pintu untuk membuka slot kunci.


Kembali. Dewa menarik lengan Gadis menjauhi pintu, dan kembali menguncinya seperti tadi.


"Mau kemana? kita belum selesai." ujar Dewa dengan nada menyebalkan layaknya cowok brengsek pada umumnya.


"Lepas Dewa! kamu gak bisa perlakuin aku kayak gini!" Pinta Gadis, dengan satu tangan menutup baju seragamnya yang sudah terbuka akibat kancing bajunya yang sudah berhasil dilepas Dewa semua.


"Kenapa enggak?! bukannya kita dari awal sudah sepakat, lo akan nurutin apapun permintaan gue."


"Jadi kamu akan tetep ngelakuin hal bejat disekolah?? apa otak kamu udah bener-bener gak waras, hah?!"


"Mungkin." Cetus Dewa dengan seringaian khasnya. "Saran gue, mending lo diem dan tutup mulut. Sebelum ada anak lain denger apa yang kita lakuin didalam sini."


"Gila! kamu bener-bener gila! Jangan harap aku akan nurutin perkataan kamu!"


Dewa tersenyum meremehkan. Benar-benar terlihat menyebalkan bagi Gadis. "Emangnya lo bisa lakuin apa, hmm?"


"Lo mau teriak minta tolong dan mempermalukan diri lo sendiri?" Tanya Dewa lagi, membuat Gadis hanya diam serta melayangkan tatapan bencinya pada Dewa.


"Udah. Mending lo hari ini jadi cewek penurut buat gue. Bukannya nanti lo juga sama-sama puas?!"


Biarpun Dewa berbicara seperti itu, tetap saja hati gadis berontak meolak keras kegilaan Dewa saat ini.


Netra Gadis teralih pada lengan tangannya yang masih digenggam erat oleh Dewa. Tanpa berfikir, Gadis menundukkan kepala dan memberi sebuah gigitan cukup kuat di pergelangan tangan Dewa.


Cowok itu bahkan sampai mengerang sakit. Saking sakitnya sampai membuat Dewa reflek mendorong tubuh Gadis dengan kasar hingga menghantam dinding.


Tadinya Gadis berencana langsung kabur saat sudah menggigitnya. Tapi nyatanya rasa sakit di punggung akibat dorongan Dewa itu, membuatnya tertahan oleh rasa nyeri yang seketika menjalar hebat.


"Kenapa lo itu selalu menyulitkan apapun keinginan gue?? Padahal lo tinggal nurut, dan semuanya akan cepet selesai."


Dewa mendekati Gadis kembali. memojokkannya ke dinding. Menaikkan kedua tangan Gadis ke atas kepala dan menguncinya menggunakan satu tangan.


Lalu mulai menyingkap baju yang menutupi bahu Gadis. Menciumnya. Lidahnya menyapu turun kebawah--dimana buah dada Gadis masih terbungkus oleh bra biru laut.


Dewa menyingkap satu penutup bra dibagian kanan Gadis. Mengecup bagian tengah yang berwarna kecoklatan. Menghisapnya dengan lembut berulang kali.


Untuk kali ini, Gadis masih bisa mempertahankan diri untuk tidak terbuai oleh nafsu dari rangsangan yang diberikan Dewa padanya.


"Kamu bener-bener brengsek!" Cetus Gadis denga air mata menggenang dipelupuk.


"Aku benci sama kamu!" Gadis benar-benar menyuarakan itu dari dalam hatinya.


Dewa sama sekali tidak perduli dengan lontaran kalimat yang dilayangkan Gadis padanya. Dia masih sibuk menikmati tubuh Gadis yang diakuinya sudah menjadi candu baginya.


Wangi khas dari tubuh Gadis, serta sensasi rasa saat Dewa menyapukan jilatannya, benar-benar membuatnya kehilangan akal dan menjadikannya sulit untuk berhenti.


Dewa kembali menegakkan tubuh. Membungkam kembali bibir mungil Gadis dengan lumatannya.


Tangannya sudah bergerak aktif berusaha membuka pengait bra dibagian belakang punggung Gadis.


Netra Dewa yang tadinya memejam menikmati, terbuka pelan dan seketika membeku diam, saat melihat air mata Gadis yang sudah terjatuh membasahi pipi.


Dewa melepaskan ciuman, menatapi Gadis yang terisak pelan dengan netra yang masih memejam rapat.


Entah kenapa hatinya terasa sesak. Rasa bersalah yang tiba-tiba muncul, membuat Dewa mengurungkan niat awalnya.


Tangannya bergerak menyingkir dari balik punggung Gadis, serta melepas kuncian tangannya yang lain. dan beralih mengancingkan pakaian Gadis satu persatu.

__ADS_1


Gadis membuka mata sembabnya, menatap Dewa dengan pandangan tak mengerti. Apalagi saat cowok itu kembali mengancingkan baju seragamnya seperti semula.


"Sorry..." Hanya kata itu yang terlontar. Sebelum akhirnya Dewa pergi meninggalkan Gadis sendirian didalam sana dengan berjuta tanya dan rasa tak mengerti yang sulit hilang dibenaknya.


*****


"Lama banget sih, Dis? sakit perut lo?" Tanya Aurel, saat baru melihat Gadis kembali dari toilet. "Liat nih makanan gue udah hampir habis. Lo ngapain aja sih?"


Gadis duduk dengan tangan yang mulai mengaduk makanannya agar tercampur dengan sambal yang baru saja diambilnya. "Tadi toiletnya penuh."


"Seriusan?" tanya Aurel setengah tak percaya. Tumben-tumbenan toilet sekolahnya itu penuh sampai membuat Gadis selama itu disana. Rasanya... sedikit tidak masuk akal sih.


"Iya, beneran." Bohong Gadis, tak ingin memperpanjang. Meyuapkan makanan yang sudah dingin itu kemulutnya. "Tadi pas aku tinggal, kalian gak berantem kan? udah baikan kan?" Tanya Gadis, mengalihkan pembicaraan, sembari menatap Aurel dan Juna secara bergantian.


Aurel melirik Juna sekilas, "Yah... berhubung Juna bilang bakalan bayarin makanan gue, Ya udah lah ya... Gue maafin kebodohannya dia kemarin."


Gadis terkekeh mendengar itu. Gadis cukup bersyukur memiliki teman seperti Aurel yang kalau marah memang tidak bisa lama.


Juna yang sedari tadi memperhatikan Gadis, akhirnya melontarkan sebuah tanya yang cukup mengganjal hatinya. "Dis, kenapa mata kamu sembab? Kamu habis nangis?"


Pertanyaan itu seketika membuat senyum lebar dibibir Gadis perlahan menghilang.


"Kamu ngomong apa sih?! Siapa yang nangis."


"Tapi mata kamu sembab, Dis. Tadi sebelum kamu pergi gak kayak gitu kok. Iya kan, Rel?" Juna meminta pembenaran Aurel.


Aurel ikut memperhatikan kedua netra Gadis dengan seksama. "Eh? Iya. Kok gue gak ngeh ya?!" Lalu menanyakan hal yang sama seperti yang baru saja ditanyakan Juna pada Gadis. "Lo beneran habis nangis, Dis?"


Gadis menggeleng cepat. Menyangkalnya. "Enggak. Siapa yang nangis coba?! Ini tadi cuman... Kelilipan debu pas mau kesini."


Aurel mengernyit. Bukannya kalau kelilipan debu tidak akan sembab dan hanya memerah saja dibagian bola matanya?


"Dis, kamu gak lagi nyembunyiin sesuatu dari aku kan?" Juna bertanya masih dengan rasa curiganya.


Gadis menggeleng cepat. "Memangnya aku mau nyembunyiin apa dari kamu, Jun?"


*****


-pulang sekolah-


"Sebelum pulang, ngebakso dulu ya didepan Sono. Laper gue." Rama menyuarakan isi perutnya yang sekarang ini tengah berdemo minta diisi.


Saat ini mereka tengah berada di parkiran. masing-masing dari mereka tengah sibuk mengeluarkan motornya dari parkiran yang kini terlihat sesak oleh murid-murid lain yang juga melakukan hal yang sama.


"Bukannya tadi pas istirahat Lo udah makan tiga mangkuk bakso ya, Ram?! Sekarang udah laper lagi?? Busyet!" Edo menggelengkan kepala tak menyangka. "Itu perut apa gentong?!" Ejeknya, membuat dua temannya yang lain seperti Bastian dan Gery menertawakannya.


Rama berdecak menanggapi ejekan teman-temannya itu. "Mau apa enggak? Gue traktir deh."


Bastian mencibir. "Dasar Lo, muka gratisan."


"Bodo." Jawab Edo tidak perduli. "Lo ikut juga kan, Wa?" Edo melontarkan tanya pada Dewa yang saat ini sudah standby diatas motor dan mulai memasang helmnya.


"Ikut aja Wa. Mumpung ada yang gratisin." ajak Gery pada Dewa. Lalu menuntun motornya mendekat pada Dewa dengan bersuara pelan. "Entar sekalian kita bikin bangkrut si Rama. Kapan lagi dia mau nraktir temen sendiri. Biasanya dia kan pelitnya minta ampun."


"Terserah. Gue ngikut aja." Jawab Dewa yang sebenarnya tanpa minat.


Mereka lalu mengendarai motor keluar parkiran, menuju ke sebuah warung bakso yang letaknya diseberang jalan tepat didepan sekolah mereka.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai ditempat tersebut. Mereka lalu turun memarkir motor dan berjalan masuk.


Bastian, Gerry, Edo dan juga Rama, segera memesan menu bakso pilihan mereka masing-masing. Kebetulan bakso di tempat itu memiliki beragam variasi isi dan juga ukuran. Mereka berempat bahkan terlihat antusias saat memesannya.


Lain halnya dengan Dewa yang justru terkesan acuh dan pasrah saat Rama memesankan menu bakso dan minuman untuknya.


Mereka duduk berbincang sembari menunggu bakso pesanan mereka datang.


Lima gelas es kelapa baru saja terhidang diatas meja. Cuaca yang memang panas, membuat mereka tidak ingin menunggu untuk meminumnya.


Keakraban jelas terlihat, mengingat mereka ini sudah bersahabat cukup lama dari semenjak mereka duduk di bangku SMP. Hinga membuat mereka hafal akan watak dan sifat yang dimiliki masing-masing.


Disaat mereka tengah mengobrol dan Dewa sibuk dengan ponselnya, Bastian tidak sengaja melihat ke arah seberang jalan, tepat didepan sekolahnya. "SStt! Kembaran lo sama ceweknya tuh. Ngapain aja mereka sampai baru keluar sekolah?"


Dewa seketika melihat ke arah yang dituju Bastian. begitu juga dengan yang lainnya.


Nampak dari kejauhan, Juna memberi ciuman singkat di kening Gadis, seusai menerima sebuah telfon.


Senyum Gadis yang mengembang saat Juna menciumnya, membuat kening Dewa mengerut dengan ekspresi yang bisa dibilang....


Kesal?


"Anjir! dicium!" Edo reflek berkomentar. "Sok perhatian banget si Juna." Lalu tertawa lepas.


"Ya.. namanya juga pacaran, Do." celetuk Rama. Lalu mengoper bakso pesanan mereka tadi yang baru datang ke arah Edo. "Nih, bakso lo."


Ke empat teman Dewa nampak antusias dengan bakso yang terhidang didepannya. Siap untuk menyantapnya dengan lahap.


Berbeda dengan Dewa yang justru belum mengalihkan pandangan dari Gadis, apalagi saat melihat Juna meninggalkan Gadis begitu saja disana.


Juna gak nganterin dia pulang? Batinnya.

__ADS_1


"Wa, bengong aja lo. Makan." Rama menegurnya.


Tapi Dewa sama sekali tidak menanggapi. Dan justru semakin mengerutkan kening saat melihat sosok cowok berjaket memperhatikan Gadis dikejauhan.


"Wa! Lo liatin Gadis Ampek gitu banget. Naksir Lo?!" --Gerry.


"Gue kayak kenal sama tuh cowok." Cetus Dewa, masih memperhatikan seorang cowok dengan penutup kepala yang terbuka kacanya.


"Njir! Itu kan temennya si Kristian." Ujar Edo dengan ekspresi terkejutnya. "Ngapain dia disana? Merhatiin Gadis lagi. Dia kenal Gadis??"


"Serius Lo?? Mana?? Jangan sampai dia nyari gara-gara di wilayah sekolah kita." Rama ikut menyahut. Sembari mengarahkan pandangan ke arah yang dimaksud.


Tiba-tiba saja Dewa berdiri dari duduknya.


"Wa, Lo mau kemana?" Tanya Bastian ingin tau.


"Nyamperin Gadis." Jawabnya singkat.


"Ngapain?? Lah ini bakso Lo gimana?? Woi! Anjir!" Gery gregetan sendiri saat Dewa mengabaikan dan begitu saja pergi menaiki. Motornya yang terparkir didepan.


"Kenapa sih tuh anak?!" Tanya Edo keheranan.


"Mana gue tau."


*****


Gadis yang tengah menunggu angkot didepan, terheran saat melihat sebuah motor berhenti tepat didepannya. Pengendara motor itu membuka helm dan membuat Gadis terkejut.


"Dewa?"


"Naik!!"


Gadis mengerutkan kening tidak mengerti atas perintah Dewa yang seenak jidat itu.


"Gue bilang naik!!"


"Apa sih?! Nggak jelas banget." Gumam Gadis, lalu menggeser langkahnya sedikit menjauh dari Dewa.


Tentu saja Gadis masih kesal dengan perlakuan Dewa yang seenaknya saat ditoilet sekolah diwaktu istirahat tadi.


Melihat Gadis yang hanya mengabaikannya, jelas membuat Dewa berdecak. Diapun turun dari motor. Menarik tangan Gadis memaksanya menaiki motornya. "Lo itu budek ya?! Gue nyuruh Lo naik. Ngapain malah ngejauh?"


"Lepas! Lagian kenapa juga aku harus naik motor kamu?!"


"Ini perintah dari gue! Dan Lo harus nurut!"


Gadis menatapnya tak percaya. "Kenapa juga aku harus nurut sama kamu. Kamu bukan siapa-siapa aku."


"Cerewet!!"


Gadis memberontak, saat Dewa justru memaksanya supaya menaiki motornya. Gadis juga berusaha melepas tangannya yang di cengkeram Dewa kuat.


Kenapa Dewa selalu suka memaksanya seperti ini?!


"Kamu gak bisa memaksakan kehendak kamu sesuka hati kayak gini! Aku mau pulang Dewa! Lepas!"


"Gue yang anter!"


"Nggak perlu! Aku bisa pulang naik angkot!"


"Bahaya kalau Lo pulang naik angkot! Lebih aman kalau Lo pulang bareng gue!"


Gadis mengerutkan kening tak mengerti. Apa maksudnya?? Bukannya jelas lebih bahaya kalau dirinya pulang bersama cowok pemaksa ini?!


"Udah! Gak usah masang muka bego! Mending Lo diem dan turutin apa kata gue!" Dewa melepas helm dikepala, menyerahkannya pada Gadis untuk dipakainya. Berhubung dia hanya membawa satu helm, Dewa lebih memilih Gadis yang memakainya. "Nih! Pakai helmnya!"


"Aku kan tadi udah bilang nggak mau."


Dewa berdecak kesal. Kesabarannya sudah hampir habis disini. Tanpa banyak bicara, Dewa segera memasangkan helm ditangannya itu ke kepala Gadis.


"Kenapa kamu maksa banget sih?!"


"Entar gue jelasin!" Tekannya. "Buruan naik!" Suruhnya, saat sudah menaiki motor.


Dipaksa seperti itu, jelas membuat Gadis kalah dan akhirnya dengan berat hati memilih menaiki motor Dewa dengan hati kesal.


"Pegangan, kalau gak mau jatuh!"


"Jangan harap!"


"Terserah!" Balas Dewa, lalu menjalankan motor dengan sengaja menaikkan kecepatan Gas ditangannya. Membuat Gadis berteriak histeris dan reflek memeluk pinggang Dewa karena takut.


Sementara cowok yang adalah teman Kristian sekaligus juga musuh Dewa, terlihat menghubungi seseorang melalui ponselnya.


"Seperti dugaan Lo. Mereka emang saling kenal. Dan yang lebih menariknya lagi, mereka satu sekolah."


*****


[BERSAMBUNG]

__ADS_1


Note: kok aku gak yakin, kalau Dewa bakal nganterin Gadis pulang.


Hmmm..... Mencurigakan.šŸ¤”


__ADS_2