
Sebenarnya apa yang kamu rasakan ngga. Marahkah padaku atau bagaimana. Kenapa harus menjebak dirimu dengan pernikahan ini. Balas dendam padaku pun tidak akan membuat istrimu itu hidup. Batin nasya saat melihat pintu kamar ganti tertutup.
beberapa saat kemudian nasya yang melamun ke arah luar membuat rangga jengah karena itu tidak baik bagi kesehatannya. Dia pun melemparkan selimut tipis di kursi yang biasanya dia pakai saat di balkon.
" Jangan sering melamun. Kapan sembuhnya jika begitu," ujar rangga.
" Bolehkah aku kembali beraktivitas? Aku rindu identitasku ngga. Kamu boleh melampiaskan kebencianmu padaku saat di rumah tapi ijinkan aku kembali ke butik," pinta nasya pada rangga yang kini sudah berubah status menjadi suaminya.
" Lupakan ... Sampai kapan pun jangan bekerja sebelum aku mengatakan iya. Kamu juga memiliki kewajiban untuk menjaga putriku sebagai hukumannya," jawab rangga dengan ketus.
" Eemmm ... Baiklah. Terserah kamu saja," nasya pun mulai membaringkan tubuhnya yang merasa lemas itu. Akhir-akhir ini dia mulai merasa lelah karena dulunya dia tak memperhatikan durasi istirahatnya.
Saat semuq orang tidur terdengar baby " Zilvana Florensia Khan" terdengar terus menangis. Rangga masih pulas tertidur karena lelah akhirnya nasya bangun dan menggelung rambutnya ke atas segera menuju kamar putri rangga.
" Kenapa mbak?" tanya nasya sambil melihat ke arah si suster.
" Maaf nyonya menganggu tidurnya. Tidak tahu kenapa daritadi nangis," jawab suster agak kerepotan. Nasya pun meminta si kecil Zilva ke gendongannya. Nasya pun mulai menggendongnya.
__ADS_1
" Kenapa sayang? Sudah jangan nangis ini mama di sini ... Cup cup cup. Uh anak pintarnya mama bubuk ya sayang," ucap nasya seperti anak-anak. Bayi itu seperti menemukan kehangatan pada diri nasya. Nasya terpaksa mengatakan mama karena ada suster di sana. Nasya menina bobokan dengan telaten. Dia terus mengayunkan si kecil dalam gendongannya.
" Mbak ... Tidurlah dulu biar zilva saya jaga dulu," ucap nasya dengan lirih.
" Tapi ... Nyonya kan sedang sakit. Saya tidak enak ," jawabnya dengan tanpa basa basi karena takut di marahi oleh tuannya.
" Mbak ... Gapap. Ayo tidurlah! Gantian nanti ... " jawab nasya. Dia tahu jika pengasuh putri rangga ini lelah.
" Makasih nyonya ," jawabnya kemudian menaruh dirinya di ranjang.
Nasya menggendongnya dan menimangnya dengan perasaan bahagia. Dia merasa telah menyakiti gadis kecil ini karena tak bisa menyelamatkan ibunya.
Akhirnya mau tidak mau nansya kembali menggendongnya. Dia pun tidur dalam kondisi duduk. Dia sanggah semua sisi biar si baby zilva bisa menikmati sensasi tidur nyaman dan tidak jatuh.
" Tidurlah nak ... " bisik nasya yang kemudian mencium dahinya dengan bersemangat karena gemes.
Malam ini nasya menghabiskan waktu bersama putri rangga itu. Dia tertidur pulas dalam keadaan duduk. Saat sang pengasuh bangun.
__ADS_1
" Ya Allah ... Nyonya sampe tidur sambil duduk. Maafkan saya," lirih si mbak. Rangga yang baru saja membuka pintu kamar jadi kaget saat mendapati nasya tidur sambil duduk serta sambil memeluk putrinya.
" Tuan ... Maafkan saya semalam baby zilva rewel nyonya kemari dan menidurkannya sendiri. Si kecil rupa-rupanya tak mau di taruh di box sehingga nyonya harus tidur sambil duduk," jelas si mbak pqda rangga yang belum bertanya apa-apa.
" Baiklah ... Keluarlah sebentar. Setelah bersih-bersih kembalilah," jawab rangga.
Flash back on ...
" kemana anak itu ... Selalu saja membuatku pusing. Jangan sampai dia kabur," suudhon rangga padanya.
Akhirnya tanpa berpikir panjang rangga bergegas ke kamar baby-nya untuk melihat si bayi sebelum mencari si nasya itu. Namun pemandangan pagi ini sangat enak di pandang.
" Tidak ... Aku bahkan tak boleh kagum dengannya. Ini hanyalah hal biasa naluri keibuannya lah yang membuat dia seperti saat ini," lirihnya
.
.
__ADS_1
.
Rangga membelai rambut nasya.