
Emang enak mau marah gak bisa. Mau panggil nasya eh belok panggil sayang. Hahahahah. Kasihan. Batin nasya senang.
Rangga menoleh pada istrinya yang sedang senyam senyum sendiri.
Dia ini mengerikan. Sandiwaranya luar biasa. Dia sebenarnya kuliah desain apa drama. Gila, cerdas cari jalan. Pasti saat ini dia mengumpati diriku yang kalah telak. Batin rangga yang kesal sekali.
" Jangan terlalu di pikirkan mas. Si mbak juga udah lupa," gadis itu berulah lagi. Memecah keheningan di perjalanan. Rangga tak menghiraukan istrinya itu. Bisa-bisa semakin malu dirinya di buat seperti ini.
" Mbak ... Tadi flo merepotkan tidak?" tanya rangga mengalihkan pembicaraan. Si mbak tersenyum mungkin majikannya itu malu.
" Tidak tuan ... Nona flo benar-benar mengerti keadaan maminya," jawab si mbak.
Sedangkan nasya diam saja. Dia nampak memegangi kepalanya.
" Kenapa sayang?" tanya rangga.
" Mas ... Bisa gak cepat sampai rumah ini rasanya benar-benar gak enak," jawabnya dengan menahan sesuatu.
" Ini sudah sampai parkiran. Mbak ... Flo-nya di bawa dulu ya kami menyusul," ucap Rangga bingung. Untung si mbak paham.
Rangga membuka sabuk pengaman nasya. Gadis membisikkan sesuatu yang membuat rangga terkejut bukan main.
" Ngga ... Please bantu aku ke kamar mandi. Badanku panas semua. Aku tidak bisa berada di dekatmu seperti ini," ucap nasya seperti orang mabuk.
" Kamu minum obat perangsang sya?" tanya rangga menatap istrinya itu.
" Jangan banyak tanya ngga cepetan dong bawa aku ke kamar," rengek nasya. Rangga pun paham efek obat itu. Dia segera membawa istrinya ke dalam.
Ketika di kamar mandi nasya menghidupkan showernya di duduk di bawah guyuran air. Rangga yang melihat jadi kasihan. Nasya masih nampak gusar dia mencoba melepaskan pakaiannya. Rangga membulatkan mata dan berlari ke arah nasya.
" Sya ... apa yang kamu lakukan!" teriak rangga.
" Panas sekali ngga masian," keluhnya gusar.
" Kenapa kamu mengosumsi obat itu?" tanya rangga sekali lagi.
" Aku tidak mengosumsi apapun ngga. Tadi Dion datang ke ruanganku setelah dapat ijin, aku keluar sebentar untuk mengambil berkas setelah itu masuk ke sana lagi dan minum air putih itu saja," jawab nasya dengan membasuh tubuhnya.
__ADS_1
" Bedebah ... Laki-laki itu sya!" teriak rangga dengan marah.
" Ada obat lain tidak ngga ... Aku seperti cacing kepanasan saat ini. Ada hal yang membuatku ingin menggodamu tapi aku tahan. Please ngga bantu aku kamu kan seorang dokter," pintanya.
" Hanya ada satu cara menyembuhkannya," jawab rangga lesu.
" Apa?" tanya nasya sudah menggeliat tidak tahan.
" Bersetubuh denganku," jawabnya membuat nasya menggeleng.
" Ngga ... Jangan yang itu. Bahkan kamu tidak mencintaiku mana mungkin aku melakukannya. Gak ngga jangan itu," nasya terus menggosok badannya yang panas itu.
" Maka tetaplah guyur badanmu pakai air dingin. Aku akan keluar!" jawab rangga. Nasya mengangguk.
" Tentu lebih baik seperti ini," lirihnya meskipun tersiksa. Rangga juga belum berminat untuk menyentuhnya. Dia pun keluar dari kamar mandi.
" Brengsek laki-laki itu. Dia benar-benar ingin merusak nasya. Aku harus berhati-hati dengan pemuda itu. Nasya harus berada dalam pengawasanku," monolognya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah berjam-jam nasya merendam dirinya. Dia keluar dengan wajah pucat. Rangga membantunya.
" Sudah tidak panas tapi badanku menggigil," nasya menjawabnya dengan lemah. Saat jalannya tak seimbang rangga segera berlari dan menangkap tubuh nasya.
Benar adanya bahwa badannya saat ini demam. Bagaimana tidak dia di kamar mandi berjam-jam. Saat ini nasya pingsan dalam pelukannya.
" Hmmm .... Merepotkan. Kenapa selalu ada hal yang membuatnya sakit setiap hari. Tidak di rumah tidak di butik," lirih rangga yang membopongnya ke ranjang. Dia segera mengobati nasya supaya demamnya tak terlalu tinggi.
Rangga pun merawat istrinya dengan telaten. Meskipun sebenarnya dia lelah seharian bekerja. Rangga mungkin tak menyukai Nasya tapi dia adalah seorang dokter yang mau tidak mau jiwa penolongnya masih ada. Seusai merawat nasya dia ingin rebahan namun ada telpon masuk dari seseorang.
" Ya ... Dengan dokter rangga di sini? Ada yang Bisa di bantu?" tanya rangga tanpa melihat ponselnya.
" Disya kak ... " jawab seseorang di seberang sana.
" Iya Dis ... Ada apa?" tanya rangga sambil menaruh ponselnya dengan mode hp memakai pengeras.
" Kak ... Bolehkah lain waktu Disya belajar di luar jam praktek kita?" tanya Disya.
__ADS_1
" Boleh ... Asalkan saya tidak ada jadwal ya," jawab rangga santai
" Terima kasih kak," ucap Disya dengan bahagia.
" Oke," jawab rangga sambil menutup telponnya.
Tak ada curiga apaapun dalam hati rangga. Dia hanya seseorang yang tulus membantu. Demi apapun itu apalagi kemajuan dokter di rumah sakitnya dia pasti akan membantunya sampai sukses. Sebab jika dokter di rumah sakitnya kapasitasnya bagus maka itu akan berpengaruh pada layanan di rumah sakit.
Namun beda dengan Disya. Dia memiliki seberkas cahaya cinta dalam bilik hatinya untuk dokter rangga. Dia berharap masih ada cinta untuknya dari dokter rangga meskipun dia memikili suami.
" Kak angga ... Kenapa kamu sudah menikah? Bahkan aku saja tidak bisa lupa pernah menyukaimu. Caramu melindungi perempuan dan memperlakukannya itu membuat diriku baper," lirih Disya menghela nafas di kamarnya.
Rangga kembali mengecek suhu badan Nasya. Rangga mulai lega karena suhu badannya sudah turun. Kemudian dia mengompres kembali dahi istrinya.
" Maafkan aku sya ... Aku belum bisa membantumu. Mungkin hal tadi menyiksamu tapi aku benar-benar tak ingin melakukannya sebelum aku jatuh cinta padamu. Pernikahan kita hanyalah untuk Flo karena kamu harus bertanggung jawab atas semuanya," lirih Rangga pada istrinya.
Rangga mengutarakan hal demikian bukan berarti dia akan berselingkuh dari Nasya. Tapi dia hanya ingin membuat keluarganya lengkap dengan adanya nasya. Dia tak ingin putri semata wayangnya tak memiliki ibu.
Hari ini sungguh melelahkan bagi rangga. Jadwal full dan istrinya terkena obat perangsang dari pemuda bedebah itu. Yang harus membuatnya riweh karena ulahnya. Dia rebahkan tubuh di dekat nasya lalu memejamkan mata dengan rasa kantuk yang mulai melanda kelopak matanya.
Keesokan harinya ...
Nasya yang sudah merasa lebih baik dia memutuskan untuk bangun. Dia nampak terharu saat rangga tertidur karena menunggunya. Dia memindahkan tangan rangga yang memeluknya. Dia mengusap rambut rangga dengan lembut.
" Mas ... Tidak tahu sampai kapan kita akan seperti ini, tapi terima kasih atas semua perhatianmu selama mengenalku. Aku tak bisa membalas apapun selain merawat putrimu dan putri mbak rubi," lirih nasya suaminya suaminya tak bangun.
Cup.
Deg. Degup jantung Rangga serasa berhenti saat itu.
Nasya kembali mencium suaminya. Rangga yang ternyata sedari bangun. Jadi terkejut dengan sikap nasya yang hangat tapi dia lagi-lagi mencuru kecupan pada rangga. Hatu rangga jadi semakin berdegup kencang. Nasya pun pergi ke kamar mandi.
" Ya ... Allah Nasya. Kamu selalu membuatku gelagapan," lirih rangga sambil memegang dadanya.
.
.
__ADS_1
jangan lupa like ya...