Gadis Idiot Dokter Rangga

Gadis Idiot Dokter Rangga
GIDR 55


__ADS_3

Kepergian keluarga izdi meninggalkan kenangan manis sekali.


Tidak ada sedikit pun hal yang membuat mereka bersedih. Bahkan kedatangan mereka berhasil membuat Flo sedikit mengalami perubahan dalam sikapnya. Gadis itu lebih welcome pada siapapun.


Semenjak hari itu baik Izdi maupun rangga sama-sama melanjutkan aktivitas masing-masing. Rangga pun mencoba menjadi pria yang baik meskipun awalnya masuk karena malas sekali sebenarnya tapi dia harus gentle menghadapi mahasiswinya itu.


Di kampus hari ini ...


Rangga yang di tunjuk sebagai dosen pembimbing tahun ini benar semakin di riwehkan dengan hiruk pikuk kegiatan mahasiswa mahasiswi belum lagi jika dia merindukan si kembar dan Flo. Benar-benar menyiksa dirinya.


Ketika berada di ruangannya ...


" Pak bolehkah saya masuk!" seru seseorang di luar ruangan. Rangga yang sibuk menilai skripsi yang sebagian masuk ke emailnya langsung saja mempersilahkan seseorang di sana untuk masuk.


" Masuklah!" serunya dengan lantang. Ruamgan itu terbuka namun rangga belum menatap siapa yang datang.


" Pak .... " lirihnya. Rangga kemudian menatap asal datangnya suara.


" Kenapa?" tanya Rangga.


" Bolehkah saya bertukar tempat dengan teman saya untuk pembimbing skripsi???" tanya gadis itu dengan menatap rangga tanpa sungkan.


" Apa alasannya ingin pindah pembimbing? Baru saya bisa mempertimbangkannya," jawab rangga tanpa basa basi. Gadis itu samar-samar menjawabnya.


" Saya ingin bapak yang membimbing," ucapnya membuat rangga jadi mendongak menelisik raut kejujuran lewat netra mata berwarna kecoklatan itu.


" Jika ingin bermain-main jangan harap! Keluarlah ... Pintu keluarnya di sebelah sana!" seru rangga dengan dinginnya. Gadis itu jadi mencebik dengan jawaban yang di lontarkan oleh papa 3 anak itu.


" Pak ... Saya serius!" rayunya agar bisa menjadi anggota bimbingannya.


" Akan saya pertimbangkan sekarang keluarlah!" serunya yang sudah sangatlah lelah sekali.


" Baik pak. Permisi!" serunya kemudian menghilang di balik pintu.

__ADS_1


Gadis itu keluar dengan perasaan kesal sekali. Dia benar-benar ingin menghabiskan waktunya bersama pak rangga bukan dosen pembimbing yang lain. Dia sangat sebal selalu mendengar penolakan dari dosennya itu. Nampak teman-temannya mendekat.


" Masih di tolak lagi??" tanya mereka tanpa basa basi sekali. Gadis itu hanya mengangguk lemas. Dia duduk di antara teman-temannya itu.


" Aku semakin frustasi jika dia terus menolakku," jawabnya kesal.


" Kamu sudah kalah di awal sayang .... Secara istri dosen kita itu cantik dia sudah memberikannya anak bahkan dia pebisnis sukses di bidang modelling. Kita mah lewat sayang. Udah deh berhenti suka sama pak rangga gak bakal di lirik. Jangan aneh-aneh deh kamu ini," cevar teman-temannya namum dia nampak tak terima karena di tolak berkali-kali. Karena biasanya pria yang mengejarnya kini malah di tolak secara mentah-mentah dari awal.


" Sudah terlanjur basah jadi sekalian saja," jawabnya keukeuh sekali. Mereka puna angkat tangan bersama.


" Terserah kau saja! Kami sudah mengingatkan mana yang baik bagimu," jawab mereka pada akhirnya.


" Kalian cukup menonton dan menikmati," jawabnya yang membuat mereka ambyar bablas.


" Baiklah jika itu baik bagimu," jawab mereka tanpa rasa bahagia yang ada khawatir merajalela di hati teman-temannya.


...----------------...


" Hai ... Sayangnya mami dan kak Flo. Kalian kangen papi ya? Eleh ... Eleh putra putrinya mami," ujar nasya sambil menggendong putrinya dan flo menggendong adik laki-lakinya.


" Mi? Emangnya mami gak kesal sama papi yang pulang larut berangkat pagi sekali???? Gak khawatir gitu mi?" tanya flo dengan berbagai aspek pertanyaan yang sebenarnya mengarah bahkan terarah.


" Khawatir kenapa sayangnya mami?" tanya nasya mencoba tersenyum pada putri pertamanya itu.


" Secara mi ... Muridnya papi itu udah dewasa dan waktunya punya suami. Bisa ajalah dari mereka ada yang suka sama papi," jawabnya dengan jelas. Nasya kembali tersenyum.


" Sayang ... Mami tahu mungkin kesal saat seperti papi gak ada. Tapi papi kan memberikan ilmunya untuk orang lain. Bukankah itu baik sayang?" tanya nasya mencoba bertanya balik.


" Ah gak gitu juga mi. Papi harusnya udah gak perlu repot-repot. Kasih aja kesempatan pada yang muda-muda. Lihatlah! Kasihan mami sama adik-adik telantar gini. Papi benar-benar gak peka. Was aja kalau sampai ketemu Flo!" kesalnya pada sang papi. Nasyq hanya tersemyum saat flo mulai memikirkan dirinya dan adik-adik.


" Flo sayang ... Pergilah tidur bukankah besok ada olimpiade sains. Istirahatlah!" ujar mami mengingatkan flo yang udah jutek seharian ini.


" Mami gimana kalau Flo tinggal???" pertanyaan yang mengandung pupuk bawang karena gadis muda ini begitu perhatian padanya.

__ADS_1


" Mami sudah biasa sayang .... Udah sana! Flo harus sukses dan meraih mimpi," jawab nasya sambil tersenyum.


Akhirnya gadis itu menaruh adiknya dan pergi tidur ke kamarnya. Nasya kemudian menidurkan putrinya itu dan ikut beristirahat.


Jam malam mulai membuat rangga lelah. Dia harus mengakhiri pekerjaan dan menghentikan aktivitasnya. Dia menyusuri jalanan kampus yang masih banyak di kelilingi mahasiswa dan mahasiswi.


Mereka benar-benar betah tak tidur. Masih muda mungkij energinya masih utuh sekali. Huft. Aku rasanya udah pengen salto dan mengatakan aku ingin berhenti mengajar.


Saat dirinya asik membatin kelelahanya tiba-tiba seseorang dari depan menabraknya. Reflek saja tangan rangga menangkap sosok yang hampir jatuh karena menabrak dirinya itu.


" Sorry ... Pak!" serunya. Rangga yang tahu siapa itu langsung buru-buru membantunya berdiri dan melepaskannya.


" Lain kali hati-hati permisi!" pamit rangga ingin segera berlalu. Namun tangan gadis itu menarik tangan rangga sehingga membuat ayah 3 anak itu terhenti.


" Pak ... Jadikan aku yang kedua! Aku rela jika menemuiku beberapa waktu saja," serunya membuat rangga geram namun dia tahan. Rangga menoleh mencoba untuk menenangkan hatinya yang sudah mulai mengesal sekali.


" Dengarkan saya baik -baik. Kamu kuliah supaya kamu mendapatkan prestasi dan gelar bukan? Maka jangan kecewakan orang tuamu dengan memikirkan hal-hal tidak penting. Fokuslah pada skripsimu!" seru rangga mengingatkan. Namun gadis itu tak melepaskan cekalan tangannya. Rangga menatap dengan tatapan yang menghunus ke jantung.


" Bisa tidak menjaga harga dirimu! Saya suami orang dan Saya juga dosen kamu! Jangan merendahkan diri hanya karena kamu menyukai laki-laki beristri," kata-kata menohok itu menggetarkan dada si gadis namun dia nampak tak gentar. Dia benar-benar sudah sangat kecanduan pada dosennya itu.


" Pak ... Saya serius mau jadi yang kedua!" serunya dengan nada agak melembek supaya rangga kasihan. Namun apa yang terjadi.


Braaakkkk.


" Tapi saya tidak tertarik untuk menikah lagi! Bagi saya istri saya sudah paripurna. Tak adaa yang bisa menggantikan dia dengan siapapun. Dia sudah lebih dari cukup untuk kehidupan saya. Jadi, pikirkan baik-baik ... Jangan pernah menyukai suami orang jika tidak ingin di cap rendahan!" seru rangga dengan sangat kasar dan pergi meninggalkan gadis itu dengan luka menganga di hatinya. Mulut dosennya itu kasar sekali. Tapi rangga sudah mencoba menahannya namun gadis itu sudah di ambang batas. Sehingga dia mengatakan hal yang tak seharusnya.


Kau akan jadi milikku pak! Pekiknya dalam hati ketika melihat kepergian rangga dari sana.


.


.


Likeeeeeeeee komennnnn voteeeee dan dukungan lainnya. Thankyu very much pembaca.

__ADS_1


__ADS_2